Beranda Belajar Islam Teladan Faedah Sirah Nabi: Cemoohan Orang Quraisy

Faedah Sirah Nabi: Cemoohan Orang Quraisy

159
0

 

Kali ini cerita tentang cemoohan Quraisy kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya.

Quraisy mengira bahwa dakwah Nabi adalah sama dengan dakwah lainnya yang muncul di Makkah, yang tidak lama kemudian akan hilang dan punah, seperti perkataan Zaid bin Amr bin Nufail, Umayyah bin Abi Ash-Shalt, Qais bin Sa’idah, dan lainnya. Namun, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan dakwah secara terang-terangan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai menjelaskan tentang bahaya kesyirikan dan pelakunya, dan menjelaskan hakikat sesembahan selain Allah yang tidak dapat memberikan manfaat pada dirinya maupun pada lainnya. Akhirnya orang Quraisy memahami bahwa dakwah tersebut tidaklah sama dengan sebelumnya. Orang Quraisy pun bangkit menentang karena mereka memahami arti dari dakwah tauhid dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Orang-orang Quraisy berkata kepada paman Nabi, yaitu Abu Thalib, “Wahai Abu Thalib, sesungguhnya anak saudaramu telah menghina tuhan-tuhan kami. Dia mencemooh agama kami. Dia menganggap kami tidak berakal dan menganggap nenek moyang kami sesat. Oleh karena itu, kami mohon agar kamu menghentikannya atau membiarkan kami menghadapinya sesuai dengan kebijakan kami. Karena kamu juga berada pada pihak kami, tidak mengikuti ajarannya. Maka biarkanlah kami membebaskan kamu dari perbedaannya.”

Abu Thalib menjawab permintaan mereka dengan baik dan kata-kata yang lembut, hingga akhirnya mereka meninggalkan Abu Thalib. (Asy-Syami, Subulul Huda wa Ar-Rasyad, 2:437)

Itulah pertentangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan masyarakat Quraisy. Intinya, ajaran agama yang beliau bawa bukanlah budaya yang dapat berubah dan berkembang sesuai dengan pandangan manusia. Karena itu bisa saja orang-orang yang datang setelahnya mengubah budaya dan kebiasaan yang telah ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin pertahankan wahyu yang murni dari Allah yang berisi ajaran tauhid walau itu nantinya bertentangan dengan budaya setempat.

Karena dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ada pembicaraan beliau dengan orang Quraisy yang tidak dihiraukan dan juga berbagai tawaran lainnya, maka akhirnya mereka mengambil cara lain dalam menghadapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara cara yang mereka tempuh adalah cemoohan dan olok-olokan pada beliau.

 

Cemoohan Orang Quraisy

 

Yang dimaksud dengan metode cemoohan dan olok-olokan adalah mengucilkan dan menghina umat Islam dengan perang psikis dan perang urat saraf yang bertujuan menjatuhkan jiwa dan mental mereka.

Dari Urwah, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Saya bertanya kepada Abdillah tentang apa yang sering dia saksikan tentang apa yang dilakukan Quraisy  dalam mencomooh atau mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Dia berkata, “Suatu saat, saya menyaksikan para pembesar Quraisy berkumpul di Hijr (Isma’il), kemudian mereka menyebut nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, “Kita belum pernah bersabar seperti kita bersabar dalam menghadapi orang itu. Walaupun dia menganggap kita bodoh, mencemooh nenek moyang kita, menghina agama kita, memecah kekompakan kita, mencaci tuhan-tuhan kita. Kita telah bersabar walaupun dia datang membawa masalah yang besar”,  atau begitulah yang dia katakan.

Tidak lama kemudian, datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berjalan hingga memegang sudut Ka’bah yang dikenal dengan rukun Ka’bah, sambil berthawaf mengelilingi Ka’bah dan melewati mereka. Begitu beliau melewati mereka, mereka pun saling berkomentar hingga saya melihat kebencian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat pada wajahnya. Kemudian beliau berlalu hingga melewati mereka dan kembali mereka melakukan cemoohan itu dan saya pun melihat  perubahan pada wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau melanjutkan thawaf dan melewati mereka kembali untuk yang ketiga kalinya dan kembali mereka melakukan seperti sebelumnya. Beliau berkata, “Dengarkan wahai kaum Quraisy, demi Allah, saya telah datang dengan berita adz-dzabh (sembelihan, kebinasaan).” Mendengar ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba tidak ada satu pun di antara mereka, kecuali seakan-akan di atas kepalanya telah bertengger seekor burung dan yang paling banyak bercemooh sebelumnya dialah yang kembali berkata dengan ucapan yang paling baik yang dia temukan.” (HR. Ahmad dalam kitab musnadnya, Al-Bann, Al-Fathu Ar-Rabbani fi Tartibi Musnad Imam Ahmad, 20:219)

 

Sikap Kaum Muslimin dalam Menghadapi Cemoohan, Penghinaan, Cercaan

 

Pertama: Menjadikan para nabi sebagai contoh terbaik.

Allah Ta’ala berfirman,

وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ,وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az-Zukhruf: 6-7)

 

Kedua: Memperbanyak melakukan anjuran untuk bersabar.

Allah Ta’ala berfirman,

اصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ ۖإِنَّهُ أَوَّابٌ

Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Allah).” (QS. Shaad: 17)

 

Lima Kiat untuk Bisa Sabar, Ridha, Hingga Bersyukur

 

Pertama: Melihat kepada pilihan Allah, pasti Allah memilih yang terbaik untuk kita.

Dari Shuhaib, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Kedua: Mengingat bahwa dengan adanya musibah itu akan menghapuskan dosa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Ujian akan selalu bersama dengan orang beriman lelaki maupun perempuan, baik pada dalam diri, anak, dan hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai satu kesalahan pun.” (HR.Tirmidzi, no. 2399; Shahih Ibnu Hibban, 2924. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Ketiga: Kalau kita memandang musibah yang menimpa kita masih lebih ringan dan Allah masih menyayangi kita, sedangkan musibah yang menimpa lainnya lebih berat.

Keempat: Hendaklah melihat pada akibat dari musibah, karena musibah tersebut membuat kita rajin berdzikir, berdoa, dan semakin kepada Allah.

Kelima: Mengingat pada balasan sabar dan ridha begitu besar.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jallaberkata kepada penghuni surga, “Wahai penghuni surga.” Mereka berkata, “Kami memenuhi panggilan-Mu, kami mentaati-Mu.” Allah berfirman, “Apakah kalian ridha (puas)?” Mereka menjawab, “Kenapa kami tidak ridha (puas) sementara Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari ciptaan-Mu.” Maka Allah berfirman, “Maukah Aku berikan kepada kalian yang lebih baik dari ini?” Mereka berkata, “Adakah yang lebih baik dari ini?” Allah berfirman, “Aku telah menurunkan kepada kalian keridhaan-Ku, maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah ini selama-lamanya.” (HR. Bukhari, no. 6549, 7518 dan Muslim, no. 2829)

Lima kiat di atas dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatawanya.

Semoga bermanfaat. Kelanjutan mengenai bagaimana menyikapi cemoohan orang Quraisy insya Allah berlanjut pada edisi berikutnya.

 

Referensi:

  1. Fikih Sirah Nabawiyah. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Darus Sunnah.
  2. Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, 219462, https://islamqa.info/ar/219462

Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Dzulqa’dah 1439 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini