Aqidah

Syarhus Sunnah: Basmalah, Doa Takwa dan Petunjuk

 

Melanjutkan kembali Syarhus Sunnah karya Imam Al-Muzani, berisi muqaddimah. Kali ini membahas muqaddimah basmalah, lalu doa takwa dan petunjuk dari beliau.

 

بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم

عَصَمَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِالتَّقْوَى وَوَفَقَنَا وَإِيَّاكُمْ لِمُوَافَقَةِ الْهُدَى

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Semoga Allah menjaga kita dengan takwa dan memberikan taufik kepada kita untuk (berjalan) sesuai petunjuk.

Alasan Memulai dengan Basmalah

 

Al-Muzani rahimahullah memulai tulisannya dengan bacaan basmalah (Bismillahirrohmaanir rohiim). Para penulis biasa memulai tulisannya dengan bacaan ini karena beberapa alasan:

  1. Mengikuti Kitabullah dan kebiasaan para Nabi ‘alaihimus salam.
  2. Mengikuti ulama sebelumnya dan kebiasaan para salaf dalam menulis buku atau kitab biasa memulai dengan basmalah.
  3. Untuk tabarruk atau mengambil berkah dengan menyebut nama Allah.

 

Arti Basmalah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَن الرَّحِيم

 

Arti “بِسْمِ اللهِ”: dengan nama Allah (aku menulis kitab ini).

Arti lafaz jalalah “اللهِ”: di antara nama Allah yang khusus bagi Allah, yang punya arti “al-ma’luh” yaitu Dzat yang disembah dengan penuh kecintaan dan keagungan.

Arti “الرَّحْمَن”: termasuk nama Allah yang khusus bagi-Nya, yang punya arti Yang Maha memberikan rahmat yang luas.

Arti “الرَّحِيم”: termasuk di antara nama Allah, yang punya arti Yang menyampaikan rahmat kepada siapa saja yang dikehendaki.

Dinukil dari sebagian ulama, bahwa maksud bismillah adalah “aku memulai dengan pertolongan, petunjuk, dan keberkahan dari Allah”. Ini adalah bentuk pengajaran dari Allah kepada hamba-Nya  supaya mengingat Allah ketika mulai membaca atau memulai aktivitas lainnya. Sehingga awalnya dimulai dengan memohon berkah dari Allah Ta’ala.

 

Apakah Bismillah Merupakan Bagian dari Al-Fatihah dan Bagian dari Surah Lainnya?

 

Pertama: Sepakat ulama bahwa bismillahirrohmaanirrohiim merupakan bagian dari surah An-Naml ayat 30.

Kedua: Bismillahirrohmaanirrohiim bukan merupakan bagian dari surah At-Taubah (surah Al-Bara’ah).

Ketiga: Bismillahirrohmaanirrohiim merupakan bagian dari surah Al-Fatihah ataukah bukan, para ulama memiliki dua pendapat. Ada yang menganggap sebagai bagian dari Al-Fatihah dan ada yang tidak.

Keempat: Bismillahirrohmaanirrohiim merupakan bagian dari surah lainnya dalam Al-Qur’an juga ada dua pendapat. Ada yang menganggap ia merupakan bagian dari surah lainnya seperti ketika turun surah Al-Kautsar dimulai dengan bismillahirrohmaanirrohiim. Namun ada yang menganggapnya bukan bagian dari surah apa pun. Dalil pendapat kedua ini adalah karena surah Al-‘Alaq ayat 1-5 ketika turun tidak diawali dengan bismillahirrohmaanirrohiim. (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah Al-Baqarah fii Sual wa Jawab, hlm. 24-25)

 

Kapan Dianjurkan Membaca Bismillah?

 

Pertama: Ketika mau memulai makan.

Dari Hudzaifah, ia berkata, “Jika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiri jamuan makanan, maka tidak ada seorang pun di antara kami yang meletakkan tangannya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulainya. Dan kami pernah bersama beliau menghadiri jamuan makan, lalu seorang Arab badui datang yang seolah-oleh ia terdorong, lalu ia meletakkan tangannya pada makanan, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya. Kemudian seorang budak wanita datang sepertinya ia terdorong hendak meletakkan tangannya pada makanan, namun beliau memegang tangannya dan berkata, “Sungguh, setan menghalalkan makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya. Setan datang bersama orang badui ini, dengannya setan ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Dan setan tersebut juga datang bersama budak wanita ini, dengannya ia ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan tersebut ada di tanganku bersama tangan mereka berdua.” (HR. Abu Daud, no. 3766. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)

 

Kedua: Lupa membaca bismillah pada awal makan.

Dari Umayyah bin Mihshan–seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam–, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah duduk dan saat itu ada seseorang yang makan tanpa membaca bismillah hingga makanannya tersisa satu suapan. Ketika ia mengangkat suapan tersebut ke mulutnya, ia mengucapkan, “BISMILLAH AWWALAHU WA AKHIROHU (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa dan beliau bersabda,

مَا زَالَ الشَّيْطَانُ يَأْكُلُ مَعَهُ فَلَمَّا ذَكَرَ اسْمَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اسْتَقَاءَ مَا فِى بَطْنِهِ

Setan terus makan bersamanya hingga. Ketika ia menyebut nama Allah (bismillah), setan memuntahkan apa yang ada di perutnya.” (HR. Abu Daud, no. 3768, Ahmad, 4:336 dan An-Nasai dalam Al-Kubra, 10113. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

 

Ketiga: Ketika menyembelih qurban.

Dalil hal ini di antaranya,

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ada suatu kaum yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab,

سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ

“Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari, no. 2057).

 

Keempat: Ketika memasuki rumah.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لاَ مَبِيتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ. وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ. وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

Jika seseorang memasuki rumahnya lantas ia menyebut nama Allah saat memasukinya, begitu pula saat ia makan, maka setan pun berkata (pada teman-temannya), “Kalian tidak ada tempat untuk bermalam dan tidak ada jatah makan.” Ketika ia memasuki rumahnya tanpa menyebut nama Allah ketika memasukinya, setan pun mengatakan (pada teman-temannya), “Saat ini kalian mendapatkan tempat untuk bermalam.” Ketika ia lupa menyebut nama Allah saat makan, maka setan pun berkata, “Kalian mendapat tempat bermalam dan jatah makan malam.” (HR. Muslim, no. 2018).

 

Kelima: Ketika menulis tulisan.

Contohnya adalah surat yang dikirim oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Heraklius pembesar Romawi sebagai berikut.

BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIM. Dari Muhammad Rasulullah kepada Heraklius, pembesar Romawi. Semoga keselamatan untuk (orang-orang) yang mengikuti petunjuk. Amma Ba’du. Sesungguhnya aku mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau selamat. Allah akan memberikan pahala dua kali kepadamu. Jika engkau berpaling, engkau juga akan menanggung dosa Al-Arisiyyin (rakyat jelata yang mengikutimu). Wahai Ahli Kitab, marilah kita bersatu pada kalimat yang sama di antara kita, yaitu agar kita tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah saja dan kita tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun, dan janganlah kita menjadikan di antara kita sebagai Tuhan selain Allah. Jika kalian berpaling, ucapkanlah, ‘Persaksikanlah bahwa kami adalah kaum muslimin.’” (HR. Bukhari, no. 4188 dan Muslim, no. 3322)

 

Imam Al-Muzani Mendoakan Takwa dan Berada di Atas Petunjuk

 

Doa beliau di awal adalah, “Semoga Allah menjaga kita dengan takwa dan memberikan taufik kepada kita untuk (berjalan) sesuai petunjuk.

Kandungan doa beliau ini sama dengan doa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan berikut ini.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

‘ALLAHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDA WAT TUQO WAL ‘AFAF WAL GHINA’ (Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, menjauhkan diri dari yang haram, dan hati yang selalu merasa cukup).” (HR. Muslim, no. 2721)

Imam Nawawi rahimahullahmengatakan, “’Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al-ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” (Syarh Shahih Muslim, 17:41)

Nantikan bahasan selanjutnya.  Semoga bermanfaat.

 

Referensi Utama:

  1. At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah Al-Baqarah fii Sual wa Jawab. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah.
  2. Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul.Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd.
  3. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.
  4. Syarh Tsalatsah Al-Ushul wa Adillatuhaa wa Al-Qawa’id Al-Arba’. Haytsam bin Muhammad Jamil Sarhan. Penerbit At-Taseel Al-Ilmi.

Diselesaikan pada perjalanan Jakarta – Jogja (Batik Air), 11 Dzulqa’dah 1439 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button