Beranda Belajar Islam Teladan Faedah Sirah Nabi: Gelombang Pertama yang Masuk Islam

Faedah Sirah Nabi: Gelombang Pertama yang Masuk Islam

92
0

 

Siapa saja gelombang pertama yang masuk Islam?

 

Tahapan Dakwah Sirriyyah (Secara Rahasia) Selama Tiga Tahun

 

Sebagaimana diketahui, kota Makkah merupakan pusat agama bagi bangsa Arab. Di sana terdapat para pengabdi Ka’bah dan pengurus berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab. Sehingga untuk mencapai tujuan, yaitu melakukan perubahan di kota Makkah, akan lebih sulit dan sukar jika dibandingkan apabila hal tersebut jauh darinya. Karenanya, dakwah membutuhkan tekad baja yang tak mudah tergoyahkan oleh beruntunnya musibah dan bencana yang menimpa. Maka, adalah bijaksana dalam menghadapi hal itu, memulai dakwah secara sirri (sembunyi-sembunyi) agar penduduk Makkah tidak dikagetkan dengan hal yang (bisa saja) memancing emosi mereka.

 

As-Sabiqun Al-Awwalun

 

Merupakan hal yang wajar bila yang pertama-tama dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menawarkan Islam kepada orang-orang yang hubungannya dekat dengan beliau, keluarga, serta sahabat-sahabat karib beliau. Mereka semua didakwahi oleh beliau untuk memeluk Islam. Beliau juga mendakwahi setiap orang yang memiliki sifat baik dari mereka yang beliau kenal dan mereka yang sudah mengenal beliau. Beliau mengenal mereka sebagai orang-orang yang mencintai Allah dan mencintai kebaikan, sedang mereka yang mengenal beliau sebagai sosok yang selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran dan keshalihan. Hasilnya, banyak di antara mereka–yang tidak sedikit pun ragu terhadap keagungan, kebesaran jiwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kebenaran berita yang dibawanya—merespons dengan baik dakwah beliau. Dalam sejarah Islam mereka ini dikenal sebagai As-Sabiqun Al-Awwalun (orang yang paling dahulu dan pertama masuk Islam).

Siapa saja As-Sabiqun Al-Awwalun tadi?

  1. Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid.
  2. Zaid bin Haritsah bin Syarahil Al-Kalbi, bekas budak beliau.
  3. Ali bin Abi Thalib, sepupu beliau yang masih kanak-kanak, di bawah asuhan beliau
  4. Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat karib beliau.

Sebagaimana diterangkan sebelumnya, Abu Bakar sangat giat mengajak orang-orang kepada agama Islam. Berkat dakwah Abu Bakar, ketika itu masuk Islamlah:

  1. Utsman bin Affan Al-Umawi.
  2. Az-Zubair bin Al-Awwam Al-Asadi.
  3. Abdurrahman bin Auf Az-Zuhri.
  4. Sa’ad bin Abi Waqqash Az-Zuhri.
  5. Thalhah bin ‘Ubaidillah At-Taimi.

Selain mereka di atas ada lagi mereka-mereka yang pertama kali masuk Islam:

  1. Bilal bin Rabah Al-Habasyi.
  2. Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah.
  3. Abu Salamah bin Abdul Asad.
  4. Al-Arqam bin Abil Arqam.
  5. Utsman bin Mazh’un dan kedua saudaranya yaitu Qudamah dan ‘Abdullah.
  6. Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muthallib bin Abdu Manaf.
  7. Sa’id bin Zaid Al-Adawi dan istrinya.
  8. Fathimah binti Al-Khattab Al-Adawiyah, saudara perempuan Umar bin Al-Khattab.
  9. Khabbab bin Al-Arat.
  10. ‘Abdullah bin Mas’ud Al-Huzali.

Itulah yang disebut dengan As-Sabiqun Al-Awwalun. Ibnu Hisyam sendiri menyebut lebih dari 40 orang.

Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi dan cara yang sama pun dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pertemuan dan pengarahan agama yang beliau berikan, karena dakwah ketika itu masih bersifat individu dan sembunyi-sembunyi. Sementara wahyu sudah turun secara berkesinambungan dan memuncak setelah turunnya permulaan surat Al-Mudatstsir. Ayat-ayat dan penggalan-penggalan surat yang turun pada fase ini merupakan ayat-ayat pendek; yang berakhiran indah dan kokoh, berintonasi menyejukkan dan memikat, tertata bersama suasana yang begitu lembut dan halus. Ayat-ayat tersebut berbicara tentang memperbaiki penyucian diri (tazkiyatun nufus), mencela pengotorannya dengan gemerlap duniawi serta melukiskan surga dan neraka dengan begitu jelas, seakan-akan terlihat di depan mata. Di samping, menggiring kaum mukminin ke dalam suasana yang lain dari kondisi komunitas sosial kala itu.

 

Perintah Shalat

 

Termasuk wahyu pertama yang turun adalah perintah mendirikan shalat. Ibnu Hajar berkata, “Sebelum Isra’ terjadi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan riwayat yang qath’i (pasti) pernah melakukan shalat, demikian pula para sahabat beliau. Akan tetapi yang diperselisihkan, apakah ada shalat lain yang telah diwajibkan sebelum (diwajibkannya) shalat lima waktu ataukah tidak? Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang telah diwajibkan itu adalah shalat sebelum terbit dan terbenamnya matahari.” Demikian penuturan Ibnu Hajar rahimahullah.

Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa bila waktu shalat telah masuk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pergi ke lereng-lereng perbukitan dan menjalankan shalat di sana secara sembunyi-sembunyi jauh dari pandangan kaum mereka. Abu Thalib pernah sekali waktu melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ali melakukan shalat, lantas menegur keduanya namun manakala dia mengetahui bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang serius, dia memerintahkan keduanya untuk berketetapan hati (tsabat).

 

Kaum Quraisy Mendengar Perihal Dakwah Secara Global

 

Meskipun dakwah pada tahapan ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan bersifat individu, namun akhirnya, perihal beritanya sampai juga ke telinga kaum Quraisy. Hanya saja, mereka belum mempermasalahkannya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyinggung agama mereka atau pun tuhan-tuhan mereka.

Tiga tahun pun berlalu sementara dakwah masih berjalan secara sembunyi-sembunyi dan baru mengenai individu-individu. Dalam tempo waktu ini, terbentuklah suatu kelompok kaum Mukminin yang dibangun atas pondasi ukhuwwah (persaudaraan) dan ta’awun (solidaritas) serta penyampaian risalah dan pemantapan posisinya. Kemudian turunlah wahyu yang menugaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menyampaikan dakwah kepada kaumnya secara terang-terangan (jahriyyah), dan menentang kebatilan mereka serta menyerang berhala-berhala mereka.

Semoga bermanfaat, semoga semakin menguatkan kita untuk berislam.

 

 

Referensi:

  1. Ar-Rahiq Al-Makhtum. Cetakan kedua, Tahun 1420 H. Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Wafa’ – Dar At-Tadmuriyyah.
  2. Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, Tahun 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah.
  3. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah. Cetekan kesebelas, Tahun 1436 H. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi. Penerbit Darus Salam.

Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Syawal 1439 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini