(Rumaysho) Ayah, Janganlah Nangis!


Ayah, janganlah nangis!

karena engkau selalu ada untukku

Aku juga pernah banyak menetaskan air mata

yang mungkin saja tak kau lihat

 

Ayah, sungguh aku menyayangimu

simpan baik-baik kata-kata ini dalam hatimu

Aku tahu jika engkau pasti menyayangiku

meskipun saat ini kita berjauhan

 

Ayah, ibu pun menyayangimu

meskipun ia menyembunyikan kesedihannya

Aku sungguh pernah melihatnya duduk melamun seorang diri

dan air matanya pun menetes dari pipinya

 

Ayah, suatu hari nanti, engkau akan kembali

dan kita akan kembali berkumpul bersama lagi

Aku masih menyimpan kenangan kita saat berpisah

dan terus menatapnya sampai kita pun bersua

 

Ayah, ketika engkau tidur

mimpikanlah ibu dan aku

Aku akan tunjukkan senyum manis di wajah mungilku

aku pun berharap engkau bisa menyaksikannya

Ayah, lengan kecilku sekarang membentang

aku tahu tanganmu pun demikian, membentang ingin memelukku

Ini adalah satu pelukan untukmu.

Adapted from “A letter of love to a father away”: Daddy Don’t Cry

© April M. Alcocer

 

Written tonight while be alone in student house of KSU on 25th Dzulqo’dah 1431 H, Riyadh, KSA

www.rumaysho.com

 



Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.


22 thoughts on “(Rumaysho) Ayah, Janganlah Nangis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *