Beranda Belajar Islam Teladan Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Menawarkan Islam kepada Tokoh dan Kabilah

Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Menawarkan Islam kepada Tokoh dan Kabilah

141
0

Apa saja pelajaran yang bisa dipetik dari menawarkan Islam kepada Tokoh dan Kabilah?

 

Pertama:

Kita lihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak manusia dengan cara membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Seperti yang dilakukan terhadap Suwaid bin Shamit dan Thufail bin Amr Ad-Dausi yang kemudian masuk Islam seketika itu juga. Begitu pula dakwah beliau kepada beberapa kabilah. Begitu pula Mush’ab bin ‘Umair ketika berdakwah di Madinah—sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah—beliau banyak membacakan Al-Qur’an ketika berdakwah.

Al-Qur’an sungguh memberikan pengaruh yang sangat luar biasa bagi jiwa.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Jubair bin Muth’im, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Ath-Thur pada shalat Maghrib. Ketika sampai pada ayat berikut,

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُسَيْطِرُونَ (37) أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (38)

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata.”(QS. Ath-Thur: 35-38). Jubair menyatakan,

كَادَ قَلْبِى أَنْ يَطِيرَ

Hampir-hampir saja hatiku terbang.” (HR. Bukhari, no. 4854). Ketika itu, Jubair masih dalam keadaan musyrik. Selain itu, peristiwa inilah yang mengantarkannya masuk Islam.

Selain itu, kisah Umar pada bagian terdahulu, ketika ia mendengar awal surah Thaha dibacakan, beliau tertegun dan beriman setelah memukul adik dan iparnya sendiri. Berdasarkan penjelasan di atas, kita melihat bahwa orang-orang Quraisy sangat takut kepada Al-Qur’an. Mereka memperingatkan setiap orang yang datang ke Makkah agar tidak mendengarkannya seperti pada kisah Thufail dan yang lainnya. Karena mereka mengetahui kekuatan Al-Qur’an terhadap jiwa.

Oleh karena itu, manhaj (metodologi) yang benar dalam berdakwah adalah fokus memperbanyak membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menjadikan sandaran dalam ceramah dan khutbah, lalu menghindar dari ucapan-ucapan yang kosong dari kalamullah dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun itu bagus, tetapi kebaikannya sangat minim dan pengaruhnya juga sedikit.

 

Kedua:

Kita lihat juga di antara manusia yang sangat mudah dan cepatnya mereka menerima ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka hanya perlu mendengarkan beberapa ayat Al-Qur’an dibacakan kepada mereka dan melupakan semua perkataaan untuk tidak mendengar Al-Qur’an (yang disampaikan oleh orang-orang kafir Quraisy), sekalipun diungkapkan dengan bahasa yang lembut, tetap pada hakikatnya adalah palsu dan batil. Allah Ta’ala berfirman,

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Israa’: 81).

 

Ketiga:

Kita telah melihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeliling menemui beberapa kabilah pada musim haji sambil berkata, “Wahai manusia, ucapkanlah laa ilaha illallah, niscaya kalian akan selamat.” Kata yang pertama kali diserukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kalimat tauhid. Ini adalah kalimat yang sangat agung, penting, dan harus menjadi prioritas utama. Siapa saja yang memiliki kalimat ini pada hari kiamat nanti, ia akan masuk surga. Siapa saja yang tidak beriman dengan kalimat ini, maka ia termasuk penghuni neraka, sehebat apa pun amalnya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Allah akan mengampuni segala dosa di bawah kesyirikan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 48)

Hal ini juga menunjukkan bahwa tema tauhid haruslah yang pertama kali didakwahkan, tak bisa ditunda-tunda karena tauhid itu menyangkut hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan kewajiban yang menjanjikan pahala dan balasan yang besar dari sisi Allah Ta’ala.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari, no. 25 dan Muslim, no. 21)

 

Keempat:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menawarkan dirinya kepada para kabilah sambil mengajak mereka kepada Allah dengan hikmah dan berdialog dengan lembut, seraya berkata, “Adakah orang yang membawaku kepada kaumnya. Karena orang-orang Quraisy menghalang-halangiku untuk menyampaikan risalah Rabbku.” Hal ini memberikan pengaruh ke dalam jiwa sehingga hal ini menjadi perhatian dan sambutan yang segera.

 

Kelima:

Sekalipun para kabilah menolak tawaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu menawarkan dirinya selama beberapa tahun, beliau tidak pernah putus asa untuk menawarkan terus kepada kabilah dalam berbagai musim, pertemuan atau tempat. Ini dilakukan hampir setiap tahun sampai kemudian Allah Ta’ala menetapkan pendukung baginya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak seharusnya berputus asa dalam menasihati seseorang atau berdakwah. Selain itu, terdapat peringatan untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Dalam ayat disebutkan,

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.” (QS. Yusuf: 87).

Dalam Tafsir Al-Muyassar (hlm. 246) disebutkan bahwa yang putus asa dari rahmat Allah hanyalah orang yang menentang ketentuan Allah, itulah yang kufur kepada Allah.

 

Keenam:

Berdasarkan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para kabilah dapat kita pahami bahwa beliau tengah mencari tempat yang memungkinkan beliau untuk menyampaikan risalah Rabbnya dan mengajak ke jalan Allah dengan aman. Beribadah kepada Allah dengan aman dari berbagai gangguan. Hal ini menyadarkan kita betapa pentingnya situasi aman dalam melakukan dakwah ke jalan Allah. Siapa saja yang memperoleh nikmat ini, hendaknya ia banyak bersyukur kepada Allah dan menjaga suasana itu serta memanfaatkannya untuk kepentingan agama Allah.

Dua dalil berikut menunjukkan kenikmatan rasa aman. Yang pertama, firman Allah Ta’ala,

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4)

Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Al Quraisy: 1-4).

Tentang ayat terakhir dari surah ini, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan dalam kitab tafsirnya, “Lapangnya rezeki dan diberikannya rasa aman dari gangguan adalah nikmat dunia yang paling besar yang patut kita bersyukur kepada Allah ketika memperolehnya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 982)

Yang kedua adalah hadits dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).

 

Ketujuh:

Sambutan terhadap apa yang diserukan aktivis dakwah terkadang lambat. Sambutan yang tidak segera ini, bukan berarti tidak adanya pengaruh dalam jiwa orang yang diajak. Seperti ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dakwahnya kepada Bani Syaiban, ternyata mereka menolaknya termasuk adalah Al-Mutsanna bin Al-Haritsah. Namun, di kemudian hari ternyata dakwahnya tetap memberikan pengaruh yaitu akhirnya Al-Mutsanna bin Al-Haritsah masuk Islam, bahkan ia menjadi salah satu panglima besar bagi kaum muslimin sehingga di tangannyalah, Irak dan Persia jatuh ke pangkuan Islam.

 

Kedelapan:

Abu Lahab yang selalu menguntit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setiap kali beliau berkata, Abu Lahab selalu mengingatkan para kabilah untuk tidak menerima ajakannya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak mempedulikannya, tidak mendebatnya, dan tidak menyanggahnya. Beliau tetap saja menawarkan dakwahnya kepada para kabilah dengan tidak menggubris apa yang dilakukan Abu Lahab.

Hal ini barangkali adalah untuk menyepelekannya. Karena ia tidak pantas untuk ditanggapi. Waktu yang dimiliki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahi para kabilah lebih berharga dari sekadar menanggapi penyebar kebatilan. Namun, bukan berarti ini adalah metodologi yang sudah baku dalam menghadapi setiap individu seperti ini. Kadang dalam situasi dan kondisi yang lain, perlu menanggapi dan menyanggahnya. Seperti ketika beliau menghadapi sebagian tuntunan-tuntunan orang-orang kafir. Situasi yang tengah dihadapi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu memang tidak perlu menanggapi. Kondisi dan situasi seperti ini dapat dinilai langsung oleh aktivis dakwah sesuai kemaslahatan yang diperlukan. Kalau memang maslahatnya adalah tidak perlu menanggapi, maka tidak usah ditanggapi. Akan tetapi, kalau kemaslahatannya diperlukan tanggapan, maka harus ditanggapi.

 

Kesembilan:

Menawarkan dakwah kepada manusia pasti akan menghadapi risiko. Namun, bagi seorang aktivis dakwah harus bersabar dan hanya mengharap balasan dari Allah Ta’ala, tidak perlu menanggapi dan menimpali kata-kata yang menyakiti dengan hal yang serupa. Bersabar dan tabah dalam menghadapi risiko. Siapa saja yang menerima seruannya, ia dapat memberikan penjelasan yang lebih banyak. Siapa saja yang berpaling, menghina, dan melecehkannya cukup disikapi dengan berdiam dan berpaling darinya.

Dalam ayat disebutkan,

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)

Dalam ayat di atas diajarkan dua sifat yaitu tawadhu’ dan lemah lembut.

Kata Ibnu Katsir rahimahullah, “Adapun mereka berjalan tidak dengan sifat angkuh dan sombong.”

Yang dimaksud berjalan dalam keadaan ‘hawnan’ menurut Mujahid adalah, “Berjalan dengan penuh kewibawaan dan ketenangan.” Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Mereka ‘ibadurrahman tidak menjahili (berbuat nakal pada orang lain). Jika dijahili, mereka malah membalasnya dengan sikap lemah lembut.”

 

Kesepuluh:

Penawaran dakwah kepada para kabilah yang datang ke Makkah dari berbagai wilayah menunjukkan dakwah yang bersifat internasional. Hal ini merupakan bukti yang jelas bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“.” (QS. Al-A’raf: 158)

Juga dalam ayat disebutkan,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Sekalipun ada tuduhan bahwa risalah beliau hanyalah untuk masyarakat Arab saja. Sesungguhnya kenabiannya telah diakui, dan kebohongan adalah mustahil bagi para Nabi, dan hal ini diakui oleh seluruh ulama.

Selesai, semoga jadi pelajaran berharga.

 

Baca juga: Menawarkan Islam kepada Beberapa Tokoh dan Kabilah

 

Referensi:

  1. At-Tafsir Al-Muyassar. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Penerbit Ad-Darul ‘Alamiyyah.
  2. Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.
  3. Tafsir As-Sa’di.Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  4. https://rumaysho.com/1863-sifat-ibadurrahman-1-tawadhu-a-lemah-lembut.html

 


 

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini