Beranda Belajar Islam Teladan Faedah Sirah Nabi: Pelajaran #04 dari Peristiwa Isra dan Mikraj

Faedah Sirah Nabi: Pelajaran #04 dari Peristiwa Isra dan Mikraj

103
0

Ini kelanjutan dari pelajaran Isra dan Mikraj. Semoga bisa meraih pelajaran dari postingan terakhir ini tentang Isra Mikraj.

Kedua belas:

Peristiwa Isra dan Mikraj adalah ujian bagi seorang muslim, Ujian yang selalu dikemukakan oleh musuh-musuh Islam. Selain itu, setiap kali musuh-musuh Islam memunculkan ujian ini selalu saja ada yang termakan oleh propagandanya. Begitulah musuh selalu memunculkan syubhat-syubhat semacam ini terhadap kaum muslimin dalam rangka menggoyang keyakinan kaum muslimin dan menghalangi manusia untuk menerima Islam. Untuk menyanggahnya ilmu syar’i yang mematahkan argumentasi dan sekaligus menjadi bumerang bagi mereka. 

Ketiga belas: 

Peristiwa Isra dan Mikraj adalah proses penyeleksian. Siapa saja yang beriman, pasti akan membenarkannya dan semakin mantap karena iman dan keyakinannya semakin bertambah. Siapa saja yang ragu-ragu dan lemah iman, maka ia akan menjauh dan murtad.

Ini membuktikan kepada kita bahwa agama itu bukan dengan akal, melainkan dengan wahyu. Adalah sumber kesalahan ketika mendahulukan akal daripada wahyu atau hawa nafsu daripada syariat. Siapa saja yang hatinya mendapatkan limpahan cahaya dari Allah, maka ia akan berpandangan bahwa apa yang terdapat pada wahyu dan syariat adalah yang benar dan terbaik, dan ia wajib tunduk kepada wahyu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariatnya, bukan menentangnya dengan akal dan hawa nafsunya. Akal tidak akan mampu mengenal kemaslahatan tanpa bimbingan wahyu. Siapa saja yang menggunakan akal dalam peristiwa Isra dan Mikraj, lalu mengabaikan wahyu, maka ia akan sesat. Siapa saja yang menerima wahyu dan tunduk kepadanya, maka ia mendapatkan petunjuk dan restu.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang langsung membenarkan cerita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada keraguan sedikit pun. Hal yang penting adalah kebenaran mengaitkan cerita itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila benar dalam mengaitkan dan dapat dipastikan bahwa itu adalah ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak ada pilihan kecuali membenarkan dan mendukungnya. Oleh karena itu, dengan sikapnya tersebut, beliau sangat pantas untuk mendapatkan gelar yang agung “Ash-Shiddiq” dan sangat pantas untuk dijadikan teladan dalam menghadapi kasus yang sama.

Mendudukkan Akal dalam Beberapa Kasus

Di antara penggunaan akal yang keliru adalah penggunaannya dalam memikirkan perkara-perkara ghaib seperti memikirkan sifat-sifat Allah dan keadaan hari kiamat. 

Contoh pertama

Hadits tentang nuzul yaitu turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaraka wa ta’ala setiap malamnya turun ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir. Rabb mengatakan, ‘Barangsiapa yang berdoa kepadaKu, maka akan Aku kabulkan. Barangsiapa meminta padaKu, maka akan Aku berikan. Barangsiapa meminta ampun padaKu, Aku akan mengampuninya’.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758)

Sebagian orang menanyakan, “Bagaimana mungkin Allah turun ke langit dunia? Ini berarti ‘Arsy-Nya kosong. ” Atau mungkin ada yang menyatakan, “Kalau begitu Allah akan terus turun ke langit dunia karena jika di daerah A adalah sepertiga malam terakhir, bagian bumi yang lain beberapa saat akan mengalami sepertiga malam juga. Ini akan berlangsung terus menerus.”

Inilah akal-akalan yang muncul dari sebagian orang. Jawabannya sebenarnya cukup mudah. Ingatlah dalam masalah ini, kita harus bersikap pasrah, tunduk dan menerima dalil. Tugas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah menyampaikan wahyu, sedangkan tugas kita adalah menerima secara lahir dan batin. Kalau kita tidak memahami hal ini, itu mungkin saja logika atau akal kita yang tidak memahaminya dengan sempurna. Jadi, sama sekali logika kita tidak bertentangan dengan dalil tersebut. Hanya saja kita kurang sempurna dalam memahaminya. 

Lalu jika ada yang mengemukakan kerancuan di atas, cukup kita katakan, “Hal semacam ini tidaklah pernah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu pula para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak pernah mendapatkan tafsiran mengenai hal ini. Jadi, dalam masalah menanyakan hakikat (kaifiyah) turunnya Allah, kita hendaknya stop dan tidak angkat bicara. Kita meyakini dan memahami adanya sifat nuzul (turunnya Allah ke langit dunia), namun mengenai hakikatnya kita katakan wallahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui).” 

Jadi pertanyaan semacam di atas tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat, sehingga dalam hal ini kita seharusnya tidak menanyakannya pula. 

Mungkin yang kita bayangkan tadi: “Bagaimana Allah bisa turun ke langit dunia? Berarti ‘Arsy-Nya kosong”; yang kita bayangkan sebenarnya adalah keadaan yang ada pada makhluk. Dan ingatlah bahwa Allah itu jauh berbeda dengan keadaan makhluk, janganlah kita samakan. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuraa: 11). Jika sesuatu tidak mungkin terjadi pada makhluk, maka ini belum tentu tidak bisa terjadi pada Allah yang Maha Besar. 

Contoh kedua

Disebutkan dalam suatu hadits bahwa pada hari kiamat nanti posisi matahari akan begitu dekat dengan manusia. 

Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ

Matahari akan didekatkan pada makhluk pada hari kiamat nanti hingga mencapai jarak sekitar satu mil.” Sulaiman bin ‘Amir, salah seorang perawi hadits ini mengatakan bahwa dia belum jelas mengenai apa yang dimaksud dengan satu mil di sini. Boleh jadi satu mil tersebut adalah seperti jarak satu mil di dunia dan boleh jadi jaraknya adalah satu celak mata. (HR. Muslim no. 7385)

Jadi, intinya matahari ketika itu akan didekatkan dengan jarak yang begitu dekat. 

Ada mungkin yang mengatakan, “Saat ini jika matahari didekatkan ke bumi dengan jarak satu mil –padahal suhu matahari begitu tinggi (suhu permukaannya sekitar 6000 derajat celcius)-, tentu saja bumi akan hangus terbakar. Lalu apa yang terjadi jika matahari didekatkan ke kepala dengan jarak yang begitu dekatnya?!”

Dalam hadits riwayat muslim di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِى الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا

“Keringat manusia ketika itu sesuai dengan kondisi amalannya. Ada di antara mereka yang keringatnya sampai di mata kaki. Ada pula yang keringatnya sampai di paha. Ada yang lain sampai di pinggang. Bahkan ada yang tenggelam dengan keringatnya.”

Jika kita memperhatikan, hadits ini terasa bertentangan dengan logika kita. Namun sebenarnya dapat kita katakan, “Kekuatan manusia ketika hari kiamat berbeda dengan kekuatannya ketika sekarang di dunia. Namun manusia ketika hari kiamat memiliki kekuatan yang luar biasa. Mungkin saja jika manusia saat ini berdiam selama 50 hari di bawah terik matahari, tanpa adanya naungan, tanpa makan dan minum, pasti dia akan mati. Akan tetapi, sangat jauh berbeda dengan keadaan di dunia. Bahkan di hari kiamat, mereka akan berdiam selama 50 ribu tahun, tanpa ada naungan, tanpa makan dan minuman.” (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, hlm. 370)

Keempat belas: 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ucapan malaikat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, marhaban bih (selamat datang) adalah asal usul penggunaan kalimat ini.” (Badai’ Al-Fawaid, 3:205)

Referensi:

Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.

Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Daarul ‘Aqidah.


Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini