Beranda Belajar Islam Teladan Faedah Sirah Nabi: Dizalimi, Malah Nabi Balas dengan Doa Baik pada Penduduk...

Faedah Sirah Nabi: Dizalimi, Malah Nabi Balas dengan Doa Baik pada Penduduk Thaif

361
0

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dizalimi, malah beliau balas dengan doa baik pada penduduk Thaif. Lihat kisahnya berikut ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya pada ‘Addas, dari negeri manakah engkau berasal dan apakah agamamu? ‘Addas menjawab, “Aku seorang Nashrani dari negeri Naynawa.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Dari perkampungan laki-laki yang saleh, Yunus bin Matta.” ‘Addas bertanya, “Kenapa engkau bisa mengetahui Yunus bin Matta?” Rasul menjawab, “Dia adalah saudaraku, dia seorang Nabi dan aku pun seorang Nabi.” Maka seketika itu juga ‘Addas merangkul kepala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menciuminya serta mencium kedua tangan dan kaki beliau.”

Ketika menyaksikan hal tersebut, kedua putra Rabi’ah itu, masing-masing berkata kepada saudaranya, “Ketahuilah bahwa budakmu itu telah dibuat rusak oleh laki-laki itu.” Ketika ‘Addas kembali menemui mereka, mereka berkata, “Celaka kamu, apa yang kamu lakukan?” ‘Addas berkata, “Tuanku, tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih baik daripada laki-laki itu karena dia memberitahukan kepadaku tentang suatu perkara yang tidak diketahui, kecuali oleh seorang Nabi.” Mereka berkata, “Celaka kamu wahai ‘Addas, jangan sampai laki-laki itu membuat kamu meninggalkan agamamu, karena agamamu itu lebih baik untukmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kembali ke Makkah. Ketika beliau sampai di tempat bernama Qarn Ats-Tsa’alib, malaikat Jibril ‘alaihis salam dan malaikat penjaga gunung datang kepada beliau. Malaikat penjaga gunung menawarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menumpahkan Al-Akhsyabain kepada penduduk Makkah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ عَلَيْكَ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Apakah engkau pernah mengalami satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarn Ats-Tsa’alib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril ‘alaihis salam, lalu ia memanggilku dan berseru, ‘Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah ‘azza wa jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka.’ Malaikat penjaga gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata, ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Al-Akhsyabain (dua gunung besar yang ada di kanan kiri Masjidil Haram).

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua.” (HR. Bukhari, no. 3231 dan Muslim, no. 1795)

Berlanjut lagi insya Allah kisah dakwah ke Thaif ini. Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.

Diselesaikan di #darushsholihin, 24 Jumadats Tsaniyyah 1440 H (1 Maret 2019, Kamis pagi)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini