Beranda Belajar Islam Teladan Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Hijrah ke Habasyah #02

Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Hijrah ke Habasyah #02

91
0

 

Bagaimana pelajaran lainnya dari hijrah ke negeri Habasyah? Yuk pelajari lagi dari Faedah Sirah Nabi berikut ini.

 

Keempat: Permusuhan dengan non-muslim karena alasan akidah.

 

Pada peristiwa pengejaran yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy kepada para sahabat hingga ke negeri Habasyah dan upaya mereka untuk mengembalikan kaum muslimin ke Makkah lagi, hal tersebut menjadi indikasi yang sangat jelas bahwa pertentangan antara orang-orang kafir terhadap kaum muslimin tidaklah hanya bersifat pribadi, tetapi merupakan permusuhan yang didasari oleh keyakinan agama mereka. Karena seandainya permusuhan ini hanya bersifat pribadi, pastilah kaum kafir tersebut akan merasa senang dengan kepergian kaum muslimin dan jauh dari pandangan mereka. Jadi, benarlah bahwa permusuhan mereka itu berlatar belakang keyakinan agama. Ini menunjukkan bahwa orang yang berbeda agama dengan kita, ia tidak menginginkan kita hidup dengan aman dan tenteram untuk selamanya, di mana pun kita berada. Sedangkan orang yang bermusuhan secara pribadi dengan kita, maka ia berharap agar kita menjauh dari pandangannya, lalu ia melupakan kita.

Allah Ta’ala berfirman tentang orang Yahudi dan Nashrani,

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Allah mengabarkan kepada Rasul-Nya, orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha sampai kita mengikuti ajaran mereka. Karena mereka akan terus mengajak untuk mengikuti ajaran mereka dan mereka anggap itulah sebagai al-huda(petunjuk). Jadi, petunjuk Allah adalah ajaran yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, itulah petunjuk yang sebenarnya.

Perlu dipahami, ajaran Yahudi dan Nashrani hanyalah mengikuti hawa nafsu semata sehingga disebutkan dalam ayat (yang artinya), “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Maka ayat di atas menunjukkan larangan mengikuti hawa nafsu Yahudi dan Nashrani. Juga dalam ayat itu terdapat larangan untuk tasyabbuh dengan Yahudi dan Nashrani (meniru-niru mereka, pen.), begitu pula secara khusus tidak boleh meniru ajaran mereka.

Walau larangan di atas ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun umatnya pun tetap termasuk di dalamnya. Karena yang kita lihat adalah makna, bukan melihat siapa yang ditujukan pembicaraan tersebut. Sebagaimana ada kaedah, “Al-‘ibrah bi ‘umumil lafzhi, laa bi khushushis sabaab(dari lafazh umum itu yang diambil pelajaran, bukan semata-mata dilihat dari kekhususan sebab semata).” Demikian penjelasan dari Syaikh As-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 53.

 

Kelima: Masuk Islamnya Raja Najasyi karena penjelasan akidah dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 

Utsman bin Hasan mengatakan, generasi salaf dahulu ketika ditanya tentang suatu masalah akidah, maka mereka menjawab dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal itu pula yang dilakukan oleh Ja’far bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu di hadapan raja Habasyah, An-Najasyi, ketika ia menanyakan tentang hakikat Nabi Isa ‘alaihis salam. Maka Ja’far menjawabnya dengan ayat-ayat yang disebutkan dalam surah Maryam, sehingga Najasyi pun menangis hingga janggutnya basah, lantas ia memahami hakikat Isa sebenarnya, yang membuat ia kemudian masuk Islam.

Misal yang disebutkan dalam surah Maryam tentang Nabi Isa ‘alaihis salam,

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا

    1. Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

      1. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

        1. dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

          1. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

ذَٰلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚقَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ

            1. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.

مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ ۖسُبْحَانَهُ ۚإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

              1. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.

وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚهَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

                1. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. (QS. Maryam: 30-36)

 

Keenam: Kaum muslimin masih dibolehkan meminta bantuan (suaka) kepada non-muslim.

 

Sebagaimana pelajaran dari kisah hijrah ke Habasyah ini, boleh bagi kaum muslimin meminta pertolongan kepada orang kafir dengan memenuhi dua syarat:

                1. Ini adalah keadaan darurat sehingga terpaksa meminta tolong pada orang kafir.
                2. Orang kafir tidak membuat bahaya dan makar pada kaum muslimin yang dibantu.

 

Masih berlanjut insya Allah pada pelajaran lainnya dari hijrah ke negeri Habasyah. Semoga Allah mudahkan.

 

Referensi:

  1. As-Sirah An-Nabawiyyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashliyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Prof. Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad. Penerbit Dar Zidniy.
  2. Fikih Sirah Nabawiyah. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Darus Sunnah.
  3. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  4. Tahdzib Tashil Al-‘Aqidah Al-Islamiyah. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin. hlm. 232-234.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini