Home / Teladan / Faedah Sirah Nabi: Hari Senin dan Bulan Ramadhan, Turunnya Wahyu Pertama

Faedah Sirah Nabi: Hari Senin dan Bulan Ramadhan, Turunnya Wahyu Pertama

Hukum Wanita Sholat Dirumah Doa Istighosah Cinta Kepada Allah Arisan Apakah Makmum Mengucapkan Aamiin Bersamaan Dengan Imam ?

 

Pelajaran lagi dari turunnya wahyu pertama, ketika itu jatuh pada hari Senin dan bertepatan pada bulan Ramadhan.

Wahyu pertama itu turun pada hari Senin, tanggal 21 Ramadhan, pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berusia 40 tahun. Demikian telah disebutkan dalam penjelasan sebelumnya.

 

Keutamaan Hari Senin

Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku. (HR. Muslim, no. 1162)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi, no. 747 dan An-Nasa’i, no. 2360. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Asal hadits ini ada di Shahih Muslim, no. 2565)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR. An-Nasa’i, no. 2362 dan Ibnu Majah, no. 1739. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

 

Bulan Ramadhan, Bulan Al-Qur’an

Karena saat itu diturunkannya wahyu pertama. Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an” (QS. Al-Baqarah: 185).

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (QS. Al-Qadar: 1).

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhon: 3).

 

Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika berada pada bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.”  (HR. Bukhari, no. 3554 dan Muslim, no. 2307)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa kaum muslimin dianjurkan untuk banyak mempelajari Al-Qur’an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk mempelajarinya. Hafalan Al-Qur’an pun bisa disetorkan pada orang yang lebih hafal darinya. Dalil tersebut juga menunjukkan dianjurkan banyak melakukan tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 302)

 

Khatam Al-Qur’an Supaya Bisa Mendengar Al-Qur’an Sebulan Penuh

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dalam shalat Tarawih disunnahkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Inilah yang disepakati oleh para ulama bahkan itulah bagian dari maksud shalat Tarawih. Tujuannya adalah supaya kaum muslimin bisa mendengarkan Al-Qur’an seluruhnya di bulan Ramadhan. Karena bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Ketahuilah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang begitu semangat melakukan kebaikan. Beliau lebih bertambah semangat lagi di bulan Ramadhan. Di antara buktinya, saat bulan Ramadhan Jibril secara khusus mengajarkan beliau Al-Qur’an.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 23: 122-123).

 

Khatamkanlah yang Mudah

Abu Sa’id Al Khudri ketika ditanya firman Allah,

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآَنِ

Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an ” (QS. Al Muzammil: 20). Jawab beliau, “Iya betul. Bacalah walau hanya lima ayat.” (Disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:414).

Dalam riwayat Ath Thabari disebutkan dengan sanad yang shahih, dijawab oleh Abu Sa’id, “Walau hanya lima puluh ayat.” (Diriwayatkan oleh AthThabari, 29:170).

Dari As-Sudi, ditanya mengenai ayat di atas, maka beliau jawab, “Walau 100 ayat.” (Diriwayatkan oleh Ath- Thabari, 29:170).

 

Membaca Al-Qur’an Saat Shalat Malam Sambil Melihat Mushaf

Imam Bukhari membawakan dalam kitab shahihnya,

وَكَانَتْ عَائِشَةُ يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنَ الْمُصْحَفِ

“Aisyah pernah diimami oleh budaknya Dzakwan dan ketika ia membaca langsung dari mushaf.”

 

Ibnu Nashr mengeluarkan hadits-hadits tentang masalah qiyamul lail (shalat malam) dan Ibnu Abu Daud dalam al Mashahif dari Az Zuhri rahimahullah, ia berkata ketika ditanya mengenai hukum shalat sambil membaca dari mushaf, “Kaum muslimin terus menerus melakukan seperti itu sejak zaman Islam dahulu.” Dalam perkataan lain disebutkan, “Orang-orang terbaik di antara kami biasa membaca Al Quran dari mushaf saat shalat.”

 

Imam Ahmad berkata, “Tidak mengapa mengimami jamaah dan melihat mushaf langsung ketika itu.” Beliau ditanya, “Bagaimana dengan shalat wajib?” Jawab beliau, “Aku tidak pernah melihat untuk shalat wajib seperti itu.”

 

Apakah Mengkhatamkan Al-Qur’an itu Wajib?

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa seperti itu berbeda tergantung pada kemampuan orang masing-masing. Orang yang sibuk pikirannya, ia tetap berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama atau urusan khalayak ramai, berusahalah untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi (yang tidak penuh kesibukan), hendaknya bisa memperbanyak membaca Al-Qur’an. Jangan sampai menjadi orang yang lalai. (Lihat At-Tibyan, hlm. 72)

 

Jangan Hanya Dibaca, Mentadabburi Juga Penting

Allah Ta’ala berfirman,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29).

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

وَاللهِ مَا تَدَبُّرهُ بِحِفْظِ حُرُوْفِهِ وَإِضَاعَةِ حُدُوْدِهِ، حَتَّى إِنَّ أَحَدَهُمْ لَيَقُوْلُ: قَرَأْتُ القُرْآنَ كُلَّهُ مَا يَرَى لَهُ القُرْآنُ فِي خُلُقٍ وَلاَ عَمَلٍ

“Demi Allah, Al-Qur’an direnungkan bukanlah dengan sekedar menghafalkan huruf-hurufnya lalu melalaikan hukum-hukumnya. Hingga ada yang berkata, “Aku telah membaca Al-Qur’an seluruhnya.” Padahal nyatanya, pengamalan Al-Qur’an tidak nampak pada akhlak dan amalnya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:418-419).

Moga kita mendapatkan manfaat dari Al-Qur’an

 

Referensi:

  1. At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an. Cetakan pertama, tahun 1426 H. Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi. Tahqiq: Abu ‘Abdillah Ahmad bin Ibrahim Abul ‘Ainain. Penerbit Maktabah Ibnu ‘Abbas;
  2. Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah;
  3. Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wili Ay Al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Penerbit Dar Ibnul Jauzi;
  4. Lathaif Al-Ma’arif fii Maa Limawasim Al-‘Aam min Al-Wazhoif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami;
  5. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan Keempat Tahun 1432 H. Ahmad bin ‘Abdul Halim Al-Harrani (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah). Penerbit Dar Ibnu Hazm-Darul Wafa’;
  6. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

 

Artikel Kajian Masjid Al-Azhar Karangrejek Wonosari Gunungkidul, 19 Sya’ban 1439 H, 4 Mei 2018

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Turunnya Wahyu Pertama

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Faedah Sirah Nabi: Wahyu Terhenti Sementara Waktu

Kali ini kita pelajari lagi Sirah Nabawiyyah mengenai wahyu terhenti sementara waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *