Beranda Belajar Islam Teladan Faedah Sirah Nabi: Bukti Penjagaan Allah pada Muhammad Sebelum Menjadi Nabi

Faedah Sirah Nabi: Bukti Penjagaan Allah pada Muhammad Sebelum Menjadi Nabi

504
0

Kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum masa kenabian adalah mulia dan gemilang. Beliau semenjak masa kecil hidup dalam akidah yang benar, tidak terpengaruh dengan akidah dan moral jahiliyah, walaupun dikelilingi oleh agama dan budaya.

Berikut di antara beberapa bukti penjagaan Allah sebelum beliau diangkat menjadi seorang Nabi.

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Tidak Pernah Menyentuh Patung Berhala

Beliau tidak menyetujui patung-patung yang disembah oleh kaumnya. Beliau mengetahui bahwa patung-patung tersebut tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat. Suatu hari, dia bersama bekas budaknya, Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, dan ada patung bernama Isaf dan Nailah. Patung-patung itu diusap oleh orang-orang musyrik ketika mereka thawaf. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan thawaf, Zaid berkata, “Saya pun thawaf bersamanya. Setelah saya melewatinya, maka saya pun mengusap patung itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jangan menyentuhnya!” Saya berkata pada diri saya, “Saya akan tetap menyentuhnya hingga saya lihat apa yang akan terjadi.” Kemudian saya tetap mengusapnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah aku telah melarangmu?” Demi Allah yang telah memuliakan beliau dan menurunkan risalahnya kepadanya, dia tidak pernah menyentuh patung hingga Allah memuliakannya dan menurunkan Al-Qur’an (Al-Kitab) kepadanya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah, 2:34; Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 3:447-448)

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Tidak Pernah Minum Khamar dan Main Judi

Beliau sama sekali belum pernah meminum khamar dan tidak pernah mendekati kemaksiatan, dan tidak terlibat dalam permainan judi, atau permainan tidak berguna, walaupun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa bergaul bersama masyarakatnya, hidup dengan mereka, dan menemani mereka dalam aktivitas keseharian yang dibolehkan.

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Dijaga dari Kesalahan Moral Termasuk dari Mendengar Musik

Ada ke-ma’shum-an yang menjaganya dari kesalahan-kesalahan moral. Dalam Shahih Al-Bukhari, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Tatkala Ka’bah dibangun oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu bersama ‘Abbas memindahkan batu, kemudian ‘Abbas berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Letakkan sarungmu di atas pundakmu agar menjaga kamu dari batu.’ Kemudian tiba-tiba beliau terjatuh ke tanah dan matanya memandang ke langit kemudian setelah tersadar, beliau berkata, ‘Sarungku, sarungku.’ Kemudian sarungnya itu ditutupkan kembali kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 3829, Fath Al-Bari, 7:145, pada Bab “Pembangunan Ka’bah”)

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku tidak pernah berniat melakukan sesuatu pada zaman jahiliyah dari keinginan untuk mendengarkan hiburan nyanyian kecuali pada dua malam saja yang kedua-duanya Allah menjagaku dari menyaksikannya. Suatu malam, aku berkata kepada temanku sesama penggembala kambing, ‘Tolong jaga kambing-kambingku, aku ingin masuk ke Kota Makkah untuk menyaksikan hiburan seperti yang disaksikan oleh anak-anak muda lainnya.’ Kawanku itu berkata, ‘Silakan.’ Maka aku masuk kota Makkah, hingga ketika aku sampai di rumah pertama dari rumah-rumah yang ada di Makkah, aku mendengar suara ‘azfan—yaitu suara nyanyian dan musik–. Aku lantas bertanya, ‘Ada acara apa ini?’ Maka ada yang mengatakan kepadaku saat itu, ‘Ada acara nikah si fulan dengan fulanah.’ Akhirnya aku duduk, maka Allah pun menutup pendengaranku dan membuatku tertidur, kemudian aku baru terbangun ketika mentari pagi bersinar dan mengenaiku. Kemudian aku kembali kepada kawanku. Dia bertanya kepadaku, ‘Apa yang engkau saksikan semalam?’ Aku jawaba, ‘Aku tidak melakukan apa-apa.’ Kemudian aku ceritakan kejadian semalam.

Pada malam berikutnya, aku berkata lagi kepadanya, ‘Tolong jaga kambingku, aku akan menyaksikan hiburan nyanyian di kota Makkah. Setelah aku tiba di Makkah, aku mendengar seperti apa yang kudengar pada malam sebelumnya, lalu aku bertanya seperti sebelumnya. Lalu ada yang menjawab, ‘Ada pernikahan lagi si fulan dengan fulanah.’ Akhirnya aku duduk melihat dan Allah pun menutup pendengaranku. Demi Allah, aku tidak terbangun dari tidur kecuali setelah mentari pagi bersinar dan menyengat badanku. Kemudian aku kembali kepada kawanku, dia bertanya lagi, ‘Apa yang telah engkau saksikan semalam?’ Aku jawab, ‘Aku tidak melakukan apa-apa.’ Kemudian aku ceritakan kejadian sebenarnya yang terjadi semalam. Demi Allah, setelah itu aku tidak pernah lagi menyaksikan pertunjukkan (nyanyian seperti itu) dan aku tidak pernah lagi mengulanginya hingga Allah memuliakanku dengan kenabian.” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah, 2:33-34 dan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 3:446-447)

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Wukuf di Arafah Sedangkan Orang Quraisy Wukuf di Muzdalifah

Jubair bin Muth’im berkata,

أَضْلَلْتُ بَعِيرًا لِى ، فَذَهَبْتُ أَطْلُبُهُ يَوْمَ عَرَفَةَ ، فَرَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَاقِفًا بِعَرَفَةَ ، فَقُلْتُ هَذَا وَاللَّهِ مِنَ الْحُمْسِ فَمَا شَأْنُهُ هَا هُنَا

“(Pada hari Arafah), aku kehilangan unta dan aku mencarinya. Ketika itu aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan wukuf di Arafah. Demi Allah ini dari kelompok Hums (Quraisy), mengapa beliau berkumpul di sini (yaitu di Arafah), sedangkan orang Quraisy malah wukuf di Muzdalifah.” (HR. Bukhari, no. 1664).

Orang-orang Quraisy kala itu enggan melakukan wukuf di Arafah karena Arafah sudah keluar dari tanah haram (tanah suci dan mulia). Kejadian itu menunjukkan bimbingan Allah kepada Nabi-Nya dengan memberinya taufik untuk berdiri di tempat yang benar sebelum masa kenabian.

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Dikenal Sangat Jujur

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى صَعِدَ الصَّفَا فَهَتَفَ « يَا صَبَاحَاهْ » . فَقَالُوا مَنْ هَذَا ، فَاجْتَمَعُوا إِلَيْهِ . فَقَالَ « أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلاً تَخْرُجُ مِنْ سَفْحِ هَذَا الْجَبَلِ أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِىَّ » . قَالُوا مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ كَذِبًا . قَالَ « فَإِنِّى نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَىْ عَذَابٍ شَدِيدٍ » . قَالَ أَبُو لَهَبٍ تَبًّا لَكَ مَا جَمَعْتَنَا إِلاَّ لِهَذَا ثُمَّ قَامَ فَنَزَلَتْ ( تَبَّتْ يَدَا أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ ) وَقَدْ تَبَّ هَكَذَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar lantas beliau naik ke bukit Shafa kemudian memanggil manusia, ‘Wahai orang-orang berkumpullah!’ Mereka pun berkata, ‘Siapa yang memanggil seperti itu?’ Lantas orang-orang berkumpul di hadapan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun berkata, ‘Bagaimana pandangan kalian kalau aku kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda muncul dari lereng gunung, apakah kalian akan membenarkanku?’ Mereka semua berkata, ‘Kami belum pernah menemukan engkau berbohong.’ Beliau berkata, ‘Kalau begitu, aku ingatkan kalian bahwa aku adalah pemberi peringatan yang diutus kepada kalian sebelum datang hari pembalasan yang pedih.’ Lantas Abu Lahab berkata, ‘Celaka engkau, kenapa engkau mengumpulkan kami hanya bertujuan untuk menjelaskan seperti itu?’ Hingga turunlah ayat ‘tabbat yadaa abii lahabiwwatab’. Dan benar-benar Abu Lahab jadinya binasa.” (HR. Bukhari, no. 4971)

Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua dan semakin yakin akan benarnya kenabian Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Referensi:

  1. Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turky. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub.
  2. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan keempat, Tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah.

Referensi Terjemahan:

Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah.

Disusun di Perpus Rumaysho, 21 Jumadats Tsaniyyah 1439 H (9 Maret 2018), Jumat pagi

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini