Home / Aqidah / Dakwahi Tauhid, Shalat, lalu Zakat

Dakwahi Tauhid, Shalat, lalu Zakat

 

Bagaimanakah dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau dakwahnya bertahap. Mulai dari mengingatkan masalah tauhid, shalat lalu zakat. Juga beliau ingatkan tentang pentingnya shalat dan bahaya meninggalkan shalat.

 

Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Fadhail, Bab 193. Perintah Menjaga Shalat Wajib dan larangan serta Ancaman yang Sangat Keras bagi yang Meninggalkannya

Hadits #1077

Mu’adz radhiyallahu ‘anhu berkata,

بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِلَى اليَمَنِ ، فَقَالَ : (( إنَّكَ تَأْتِي قَوْماً مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ ، فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ ، وأَنِّي رَسُولُ اللهِ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذلِكَ ، فَأعْلِمْهُمْ أنَّ اللهَ تَعَالَى افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَومٍ وَلَيلَةٍ ، فَإنْ هُمْ أطَاعُوا لِذَلِكَ ، فَأعْلِمْهُمْ أنَّ اللهَ تَعَالَى افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤخَذُ مِنْ أغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ ، فَإنْ هُمْ أطَاعُوا لِذلِكَ ، فَإيَّاكَ وَكَرَائِمَ أمْوَالهِمْ ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ المظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَينَهَا وبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku ke Yaman, maka beliau berkata, ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Jika mereka menaati itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam setiap harinya. Jika mereka menaati itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan kepada mereka sedekah (zakat)  yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan kepada orang-orang fakir (miskin) di tengah-tengah mereka. Jika mereka menaati itu, maka jauhilah harta berharga mereka. Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi karena tidak ada hijab (penghalang) antara doanya dan Allah (artinya: mudah terkabul, pen.).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1496 dan Muslim, no. 19]

 

Faedah:

  1. Disyari’atkan mengutus dai untuk mendakwahkan tauhid dan ushulud-diin (pokok-pokok agama).
  2. Yang dijadikan prioritas wajib dan utama dalam dakwah adalah mendakwahkan kalimat laa ilaha illallah (kalimat tauhid).
  3. Makna syahadat laa ilaha illallah adalah mentauhidkan (mengesakan) Allah dalam ibadah dan meninggalkan peribadahan pada selain Allah.
  4. Seorang muslim harus mengakui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah. Siapa yang tidak beriman kepada beliau, maka ia kafir termasuk penduduk neraka.
  5. Islamnya orang kafir barulah terbukti dengan mengucapkan dan bersaksi dengan dua kalimat syahadat.
  6. Sebagaimana Ahli Kitab, maka seseorang bisa saja membaca dan mengetahui namun tidak paham akan makna laa ilaha illallah atau tahu tetapi tidak mau mengamalkannya.
  7. Mendakwahi orang yang berilmu seperti Ahli Kitab berbeda dengan mendakwahi orang jahil–jauh dari ilmu–seperti orang musyrik.
  8. Sebelum berdakwah, dai hendaknya punya persiapan dan bekal dengan mengetahui kondisi umat yang akan didakwahi, termasuk juga mempelajari berbagai syubhat (pemikiran menyimpang). Kalau seseorang membekali diri dengan baik, tentu ia akan berdebat dengan cara yang baik.
  9. Orang kafir didakwahi dahulu, tidak langsung diperangi.
  10. Berdakwah itu secara tadarruj (bertahap) yaitu mendahulukan hal yang terpenting, baru hal penting lainnya.
  11. Shalat lima waktu merupakan amalan yang utama setelah dua kalimat syahadat.
  12. Shalat yang diperintahkan wajib adalah shalat lima waktu sehari semalam, selain itu dihukumi sunnah seperti shalat Witir.
  13. Zakat merupakan amalan yang utama setelah shalat.
  14. Zakat disebut sedekah karena berasal dari kata shidiq (jujur) di mana zakat ini dikeluarkan untuk membuktikan jujurnya orang yang mengeluarkan.
  15. Zakat diambil dari orang kaya (ghani). Ghani yang dimaksud di sini adalah yang memenuhi nishab dan haul. Nishab adalah kadar minimal suatu harta terkena zakat. Sedangkan haul berarti harta tersebut sudah bertahan selama setahun hijriyah. Yang tidak memenuhi syarat ini tidaklah disebut ghani dalam perihal zakat.
  16. Di antara penerima zakat adalah orang fakir. Hadits di atas menjadi dalil bolehnya mencukupkan penyaluran zakat pada orang fakir saja tidak pada delapan ashnaf semuanya (seperti dalam surah At-Taubah ayat 60).
  17. Zakat disalurkan pada orang fakir (miskin) setempat dan mereka lebih berhak dibanding menyalurkannya ke tempat yang jauh. Orang setempat jika diberi zakat pasti akan meredam kebencian dan permusuhan mereka pada orang-orang kaya.
  18. Tidak boleh mengambil zakat dari harta yang berharga–yang dituntut adalah yang pertengahan–kecuali dengan ridha pemiliknya.
  19. Doa orang yang terzalimi mudah diijabahi (terkabul), baik yang terzalimi muslim atau kafir.
  20. Kezaliman itu diharamkan karena dalam hadits disebutkan bahwa penarik zakat tidak boleh mengambil harta lebih dari kewajiban.
  21. Khabar (berita) dari satu orang diterima dan boleh diamalkan.

Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

  1. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 1:183.
  2. Al-Mulakhash fii Syarh Kitab At-Tauhid. Cetakan pertama, Tahun 1422 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan, Penerbit Darul ‘Ashimah. Hlm. 56.
  3. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 1:274.
  4. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliyyah. 4:258.
  5. Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan. 2:499-508.

 

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Hadits Arbain #02: Ihsan dan Tanda Kiamat

Sekarang kita masuk bahasan terakhir dari hadits kedua Arbain An-Nawawiyah tentang ihsan dan tanda kiamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *