Home / Teladan / Faedah Sirah Nabi: Kegagalan Abrahah Menyerang Kabah, Tanda Mulianya Quraisy

Faedah Sirah Nabi: Kegagalan Abrahah Menyerang Kabah, Tanda Mulianya Quraisy

Bagaimana kisah selengkapnya mengenai penyerangan Abrahah pada Ka’bah? Apakah berhasil?

Abrahah mempersiapkan pasukannya untuk melanjutkan perjalanan menuju Mekkah. Tatkala pasukan memerintahkan gajah yang bernama Mahmud itu untuk berjalan menuju Mekkah, ternyata gajah tersebut duduk (tidak mau jalan). Mereka akhirnya memaksanya dengan memukulinya, tetapi Mahmud enggan untuk berjalan. Namun, ketika mereka mengarahkan ke arah selain Mekkah, ternyata gajah itu mau berjalan. Tidak lama kemudian datang pasukan burung Ababil (burung yang datang berkelompok) yang membawa batu-batu di moncong mereka. Batu-batu itu lantas dijatuhkan dan pasukan Abrahah akhirnya binasa. Inilah yang disebutkan dalam surat Al-fiil,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al-Fiil: 1-5).

Peristiwa pasukan bergajah terjadi pada bulan Muharram bertepatan dengan akhir Februari atau awal bulan Maret tahun 571 Miladiyah atau sekitar 1,5 bulan sebelum kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Burung yang didatangkan adalah burung yang terpencar-pencar, artinya datang kelompok demi kelompok. Itulah yang dimaksud “thoiron ababil” sebagaimana kata Ibnu Taimiyah. Burung-burung tersebut membawa batu untuk mempertahankan Ka’bah. Batu itu berasal dari lumpur (thin) yang dibentuk jadi batu, seperti tafsiran Ibnu ‘Abbas. Ada juga yang menafsirkan bahwa batu tersebut adalah batu yang dibakar (matbukh). Batu tersebut digunakan untuk melempar pasukan gajah tersebut. Lantas mereka hancur seperti daun-daun yang dimakan dan diinjak-injak oleh hewan. Allah memberi pertolongan dari kejahatan pasukan gajah tersebut. Tipu daya mereka pun akhirnya sirna.

Dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Kisah ini adalah dari kisah raja Abrahah yang membangun kanisah (gereja) di negeri Yaman. Ia ingin agar haji yang ada di Arab dipindahkan ke sana. Abrahah ini adalah raja dari negeri Habasyah (berpenduduk Nashrani kala itu) yang telah menguasai Yaman. Kala itu diceritakan ada orang Arab yang menjelek-jelekkan kanisah (gereja) orang Nashrani sehingga membuat raja Abrahah marah. Lalu ia pun berniat menghancurkan Ka’bah.” (Lihat Majmu’ah Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 27: 355-356).

 

Beberapa faedah dari kisah Abrahah yang akan menyerang Ka’bah di atas:

1- Quraisy adalah kabilah yang mendapat perlindungan dari kabilah lain yang ada di Arab. Sedangkan kabilah lain yang dilewati berhasil dikuasai oleh Abrahah. Hal ini menunjukkan kedudukan yang mulia dari bangsa Quraisy, dan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam akan dilahirkan dari kabilah yang mulia ini.

2- Dalam kisah sebelumnya disebutkan mengenai seseorang dari Bani Kinanah yang menjaga kehormatan Ka’bah. Dia mengorbankan segalanya demi ideologinya hingga jauh-jauh datang sampai ke Yaman. Ini jadi contoh, kita harus berjuang demi agama kita.

3- Kisah penyerangan Pasukan Abrahah menunjukkan bahwa bangsa Arab dahulu bukan bangsa yang bersatu. Ketika Abrahah dan pasukannya melewati suku-suku yang ada, bisa ditaklukkan dengan mudah. Hal ini berbeda ketika Islam itu hadir yang menginginkan persatuan di antara mereka dan ingin menjauhkan sifat fanatisme golongan dan kesukuan.

4- Islam menginginkan persatuan seluruh umatnya, bukan hanya bangsa Arab. Sehingga seruan dalam Al-Qur’an tidak dengan seruan “Wahai orang-orang Arab” namun dengan seruan “Wahai orang-orang beriman” atau “Wahai manusia”.

5- Peristiwa pasukan bergajah dapat memberikan kemantapan iman bagi setiap mukmin yang berjuang untuk melawan makar musuh Allah. Karena kalau Allah menjaga dan menyelamatkan Baitullah Ka’bah, maka pastilah Allah akan menjaga dan menyelamatkan orang yang berjuang untuk agama-Nya, membela Rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang beriman, karena martabah seorang mukmin tentu lebih besar dari martabat Ka’bah.

Ibnu ‘Umar pernah berkata, “Alangkah agungnya kehormatanmu dan alangkah agungnya kesucianmu, tetapi kehormatan dan harga diri seorang muslim lebih besar di sisi Allah daripada kamu.” (HR. Tirmidzi, no. 1755. Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

6- Dalam kisah ini, Allah menghendaki pasukan Gajah tidak bisa bergerak, sehingga tidak bisa menyerang Ka’bah dan pasukan Abrahah hancur dengan batu yang dilemparkan burung Ababil, sehingga mereka bagaikan daun yang diinjak-injak hewan. Siapa pun tidak bisa melawan kehendak Allah, apa pun usaha keras manusia.

7- Kalau Allah menjaga Ka’bah berarti jika ada Nabi yang lahir dari tempat tersebut, akan senantiasa dimuliakan oleh Allah.

8- Jika kabilah Quraisy dari ayat ini dimuliakan, berarti Rasul yang lahir dari kabilah tersebut adalah Rasul yang mulia.

Semoga kisah penyerangan pasukan Abrahah ini jadi pelajaran berharga dan semakin menguatkan  iman.

 

Referensi:

Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah.

Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Iyad bin ‘Abdul Lathif bin Ibrahim Al Qomisi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 7: 186-188.

Disusun @ Concordia, Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, 10 Syawal 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Faedah Sirah Nabi: Hikmah Nabi Muhammad Lahir dalam Keadaan Yatim

Nabi kita lahir dalam keadaan yatim, apa hikmahnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *