Beranda Belajar Islam Amalan Meminta Perlindungan dari Bahaya pada Pagi dan Petang Hari

Meminta Perlindungan dari Bahaya pada Pagi dan Petang Hari

375
0

 

Ini bacaan bagus untuk melindungi dari bahaya dibaca setiap pagi dan petang.

 

Hadits #1457

وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، إِلاَّ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ )) . رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ ))

Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dari setiap harinya dan setiap petang dari setiap malamnya kalimat: BISMILLAHILLADZI LAA YADHURRU MA’ASMIHI SYAI-UN FIL ARDHI WA LAA FIS SAMAA’ WA HUWAS SAMII’UL ‘ALIIM (dengan nama Allah Yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit, dan Dialah Yang Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak aka nada apa pun yang membahayakannya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). [HR. Abu Daud, no. 5088; Tirmidzi, no. 3388; Ibnu Majah, no. 3388. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan].

 

Jangan Lupa Membaca Dzikir Di Atas

 

Dalam akhir hadits di atas disebutkan bahwa Aban bin ‘Utsman menderita lumpuh sebagian. Lantas ada seseorang yang mendengar hadits dari Aban lalu memperhatikan dirinya. Aban berkata,

مَا لَكَ تَنْظُرُ إِلَيَّ ؟ فَوَاللَّهِ مَا كَذَبْتُ عَلَى عُثْمَانَ وَلاَ كَذَبَ عُثْمَانُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ ولَكِنَّ اليَوْمَ الَّذِي أَصَابَني فِيْهِ مَا أَصَابَنِي غَضِبْتُ فنَسِيْتُ أَنْ أَقُوْلَهَا

“Demi Allah, kenapa engkau terus memperhatikan aku seperti itu? Aku tidaklah mendustakan hadits dari ‘Utsman, ‘Utsman pun tidak mungkin berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi hari ini terjadi apa yang sudah terjadi. Aku sedang marah, lantas aku lupa membaca dzikir di atas.” (HR. Abu Daud, no. 5088; Tirmidzi, no. 3388).

 

Faedah Hadits

 

  1. Hendaklah seorang muslim meminta perlindungan kepada Allah dan menjadikan nama Allah untuk memudahkan aktivitasnya.
  2. Dengan nama Allah akan melindungi kita dari kejelekan secara makna, kejelekan ‘ain, terlindung dari hewan jahat, terlindung dari jin, terlindung dari setan, karena Allah Maha Mendengar keadaan hamba dan Maha Mengetahui segala kondisinya pada setiap waktunya. Tidaklah suatu kejelekan menimpa kita melainkan dengan izin Allah.
  3. Disunnahkan membaca dzikir ini untuk mendapatkan perlindungan dengan ketetapan Allah dari segala bentuk mudarat dan bahaya.
  4. Marah dapat membuat kita luput dari kebaikan.
  5. Jika Allah berkehendak untuk menjalankan ketetapan-Nya, maka hamba tidak bisa mencegah apa yang sudah menjadi ketetapan tersebut.
  6. Doa dapat menolak takdir.
  7. Perawi hadits sangat memperhatikan hadits dari segi penerimaan dan penyampaian.
  8. Para salaf begitu yakinnya kepada Allah dan begitu yakin dengan apa yang disampaikan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  9. Ini jadi dalil bahwa waktu dzikir petang dimulai dari masuknya waktu malam yaitu tenggelamnya matahari (waktu Maghrib) hingga waktu Isya berakhir. Dalam hadits disebutkan, “Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dari setiap harinya dan setiap petang (masaa’) dari setiap malamnya.”

 

Baca di sini tentang “Akhir Waktu Dzikir Petang”:

Akhir Waktu Dzikir Petang

Referensi:

  1. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  2. Jami’ At-Tirmidzi. Cetakan Shafar, Tahun 1430 H. Al-Hafizh Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzi. Tahqiq: Al-Hafizh Abu Thahir Zubair ‘Ali Zai. Penerbit Dar As-Salam.
  3. Sunan Abi Daud. Cetakan Shafar, Tahun 1430 H. Al-Hafizh Abu Daud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sajistani. Tahqiq: Al-Hafizh Abu Thahir Zubair ‘Ali Zai. Penerbit Dar As-Salam.
  4. Tabshiroh Al-A’masy bi Wakti Adzkar Ash-Shabaah wa Al-Masaa’. Cetakan pertama, tahun 1432 H, hlm. 33-35. Abu ’Abdil Baari Al-’Ied bin Sa’ad Sarifiy. Penerbit Maktabah Al-Ghuroba’ Al-Atsariyyah.

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini