Ada masa ketika kita masih kecil dan ingin sekali cepat menjadi dewasa.
Kita membayangkan, menjadi dewasa berarti bebas. Bisa menentukan pilihan sendiri. Punya uang sendiri. Bisa pergi ke mana saja. Tidak lagi disuruh belajar oleh orang tua.
Namun setelah benar-benar dewasa, ternyata ceritanya berbeda.
Ada yang berkata: “Ternyata hidup begini, ya?”
Kuliah capek.
Mencari kerja capek.
Sudah kerja juga capek.
Belum punya uang kepikiran.
Sudah punya penghasilan, muncul kebutuhan lain.
Belum menikah ditanya kapan menikah.
Sudah menikah ternyata muncul masalah rumah tangga.
Kemudian kita melihat orang tua yang dahulu tampak begitu kuat, sekarang rambutnya mulai memutih dan tubuhnya tidak sekuat dahulu.
Di titik tertentu seseorang akhirnya berkata,
“Aku capek jadi dewasa.”
Namun pertanyaannya:
Apakah ada yang salah dengan hidup kita karena kita merasa capek?
1. ALLAH SUDAH MEMBERI TAHU: HIDUP MEMANG PENUH PERJUANGAN
Allah Ta‘ala berfirman,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Kata الْكَبَدُ menunjukkan kesulitan, kepayahan, dan perjuangan.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:
وَرَوَى مِنْ طَرِيقِ أَبِي مَوْدُودٍ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ﴾، قَالَ: يُكَابِدُ أَمْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا، وَأَمْرًا مِنْ أَمْرِ الْآخِرَةِ. وَفِي رِوَايَةٍ: يُكَابِدُ مَضَايِقَ الدُّنْيَا وَشَدَائِدَ الْآخِرَةِ.
“Diriwayatkan melalui jalur Abu Maudud, ia berkata, ‘Aku mendengar Al-Hasan membaca ayat ini, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah” (QS. Al-Balad: 4). Al-Hasan berkata, ‘Manusia menghadapi berbagai kesulitan dalam urusan dunia dan berbagai kesulitan dalam urusan akhirat.’ Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Manusia menghadapi berbagai kesempitan dunia dan berbagai kesulitan akhirat.’”
Manusia sejak awal kehidupannya sudah melewati berbagai kesulitan. Lahir dengan susah payah, belajar berjalan, belajar berbicara, mencari ilmu, mencari nafkah, membangun keluarga, menghadapi penyakit, menua, lalu akhirnya menghadapi kematian.
Maka jangan membayangkan bahwa hidup yang benar adalah hidup yang tidak memiliki masalah. Hidup tanpa masalah bukan janji Allah di dunia.
Tabiat kehidupan dunia memang merupakan tempat ujian. Jika seorang mukmin tidak mempersiapkan dirinya untuk menerima kenyataan tersebut dan tidak menjadikan sabar sebagai bekalnya, ia justru akan membuat kehidupannya semakin berat dan kehilangan pahala dari ujian tersebut.
Para ulama berkata,
الدُّنْيَا دَارُ ابْتِلَاءٍ
“Dunia adalah negeri ujian.”
Allah Ta’ala berfirman,
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka.” (QS. Al-‘Ankabut: 2–3)
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata,
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِمْ، فَمَنْ ثَخُنَ دِينُهُ اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَمَنْ ضَعُفَ دِينُهُ ضَعُفَ بَلَاؤُهُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُصِيبُهُ الْبَلَاءُ حَتَّى يَمْشِيَ فِي النَّاسِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang yang paling utama setelah mereka, kemudian yang paling utama setelah mereka. Manusia diuji sesuai kadar agamanya. Siapa yang kuat agamanya, semakin berat pula ujiannya. Siapa yang lemah agamanya, ujiannya pun sesuai dengan kelemahannya. Sungguh, seseorang terus ditimpa ujian hingga ia berjalan di tengah-tengah manusia dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Hibban, no. 578; Tirmidzi, no. 2398; Ibnu Majah, no. 4023; dan Ahmad, no. 1494. Lafaz hadis ini adalah lafaz Ibnu Hibban. Syaikh Al-Albani menilai hadis ini sahih dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 3402).
Ketaatan bukan jaminan hidup tanpa ujian. Bahkan keimanan itu sendiri akan diuji. Bahkan para nabi, manusia-manusia terbaik, tidak terbebas dari ujian.
Maka: Jangan mengukur cinta Allah kepada kita dari sedikit atau banyaknya masalah yang kita hadapi.
2. DUNIA MEMANG BUKAN TEMPAT ISTIRAHAT TERAKHIR
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ »
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)
Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan, “Orang mukmin terpenjara di dunia karena mesti menahan diri dari berbagai syahwat yang diharamkan dan dimakruhkan. Orang mukmin juga diperintah untuk melakukan ketaatan. Ketika ia mati, barulah ia rehat dari hal itu. Kemudian ia akan memperoleh apa yang telah Allah janjikan dengan kenikmatan dunia yang kekal, mendapati peristirahatan yang jauh dari sifat kurang.
Adapun orang kafir, dunia yang ia peroleh sedikit atau pun banyak, ketika ia meninggal dunia, ia akan mendapatkan azab (siksa) yang kekal abadi.”
Bukan berarti seorang muslim harus selalu sengsara.
Namun seorang mukmin menyadari bahwa dunia bukan tempat mendapatkan seluruh yang diinginkannya.
Ada keinginan yang tidak tercapai.
Ada doa yang belum dikabulkan sesuai harapan kita.
Ada orang yang kita cintai tetapi akhirnya pergi.
Ada cita-cita yang ternyata tidak menjadi kenyataan.
Ada sesuatu yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun, tetapi akhirnya bukan menjadi milik kita.
Mengapa?
Karena dunia bukan surga.
Kalau semua keinginan harus terpenuhi, semua orang harus menyukai kita, tubuh tidak pernah sakit, orang tua tidak pernah meninggal, pekerjaan selalu berjalan sesuai rencana, dan semua doa langsung terkabul sesuai keinginan, lalu apa bedanya dunia dengan surga?
Allah Ta‘ala berfirman,
وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
“Di dalamnya (surga) kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh pula apa yang kalian minta.” (QS. Fussilat: 31)
Maka salah satu sebab kita lelah adalah kita menuntut dunia memberikan sesuatu yang baru Allah janjikan secara sempurna di surga.
3. UJIAN BUKAN HANYA KETIKA HIDUP SUSAH
Allah Ta‘ala berfirman,
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)
IslamWeb menjelaskan bahwa الِابْتِلَاءُ bermakna ujian dan cobaan, dan ujian tersebut dapat berbentuk keburukan maupun kebaikan.
Berarti:
Tidak punya uang adalah ujian.
Punya banyak uang juga ujian.
Belum mendapatkan pekerjaan adalah ujian.
Mendapat jabatan juga ujian.
Belum menikah adalah ujian.
Sudah menikah juga ujian.
Tidak terkenal adalah ujian.
Punya banyak followers juga ujian.
Mengenai surah Al-Anbiya’ ayat 35, Imam Ibnu Katsir menyebutkan:
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengenai firman Allah, “Dan Kami menguji kalian,” beliau berkata “Maksudnya, Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan; dengan kesulitan dan kelapangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, yang halal dan yang haram, ketaatan dan kemaksiatan, serta petunjuk dan kesesatan.”
Maka pertanyaan seorang mukmin bukan sekadar:
“Kenapa hidupku susah?”
Namun:
“Dalam keadaan hidupku sekarang, Allah ingin melihat aku berbuat apa?”
4. KENAPA SEMAKIN DEWASA HIDUP TERASA SEMAKIN BERAT?
Karena ketika dewasa, kita mulai memikul sesuatu yang dahulu dipikul oleh orang lain.
Ketika kecil, kita lapar tinggal mengatakan lapar.
Ketika dewasa, kita harus berpikir:
“Besok makan dari mana?”
Dahulu sakit, orang tua yang panik.
Sekarang orang tua sakit, kita yang panik.
Dahulu kita meminta uang kepada orang tua.
Suatu hari keadaan berbalik:
orang tua mungkin membutuhkan uang dari kita.
Inilah kedewasaan.
Bukan sekadar bertambah umur, tetapi bertambah amanah.
Dahulu orang tua merawat kita ketika kecil, kemudian mereka mencapai usia tua di sisi kita dan giliran kita yang merawat mereka. Allah Ta‘ala mengingatkan keadaan orang tua dulu yang memiliki beban berat membesarkan kita,
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, janganlah membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku ketika kecil.’” (QS. Al-Isra’: 23–24)
Dahulu kita adalah beban yang mereka pikul dengan cinta. Ketika mereka menua, jangan sampai kita memandang mereka hanya sebagai beban.
5. GEN Z DAN PENYAKIT “AKU KETINGGALAN”
Salah satu yang membuat hidup hari ini semakin melelahkan bukan hanya beratnya kehidupan kita.
Namun kita dapat melihat kehidupan ribuan orang setiap hari.
Buka Instagram:
teman menikah.
Scroll lagi:
teman wisuda.
Scroll lagi:
teman pergi ke luar negeri.
Scroll lagi:
teman membeli mobil.
Scroll lagi:
teman membangun rumah.
Lalu kita menutup handphone dan melihat kehidupan sendiri.
“Kok aku masih begini?”
Padahal kita sedang melakukan sesuatu yang tidak adil:
Membandingkan seluruh kehidupan kita dengan beberapa detik terbaik kehidupan orang lain.
Allah Ta‘ala berfirman,
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ
“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya.” (QS. Thaha: 131)
Perhatikan:
Yang kita lihat sebagai achievement, oleh Allah disebut bisa menjadi fitnah—ujian.
Karena kita hanya melihat apa yang dimiliki seseorang.
Kita tidak tahu apa yang sedang Allah ujikan kepadanya.
Belajar dari keadaan dunia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Ketika ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika ‘Umar naik menemui beliau di sebuah kamar atas, pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menjauh dari istri-istri beliau—‘Umar melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas tikar yang meninggalkan bekas pada sisi tubuh beliau.
Melihat keadaan tersebut, kedua mata ‘Umar spontan meneteskan air mata.
‘Umar berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا كِسْرَى وَقَيْصَرُ فِيمَا هُمَا فِيهِ، وَأَنْتَ صَفْوَةُ اللَّهِ مِنْ خَلْقِهِ.
“Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar hidup dalam berbagai kenikmatan yang mereka nikmati, sedangkan engkau adalah manusia pilihan Allah di antara makhluk-Nya.”
Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersandar. Beliau kemudian duduk dan bersabda,
أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟
“Apakah engkau masih berada dalam keraguan, wahai Ibnul Khaththab?”
Kemudian beliau bersabda,
أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي حَيَاتِهِمُ الدُّنْيَا
“Mereka adalah kaum yang kenikmatan-kenikmatan mereka telah disegerakan untuk mereka dalam kehidupan dunia.”
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟
“Tidakkah engkau ridha bahwa dunia menjadi bagian mereka, sedangkan akhirat menjadi bagian kita?”
Lihat Tafsir Ibnu Katsir, penjelasan Surah Az-Zukhruf ayat 35.
6. JANGAN MEMAKSA HIDUP MENGIKUTI TIMELINE ORANG LAIN
Umur 22 harus lulus.
Umur 25 harus menikah.
Umur 30 harus punya rumah.
Umur sekian harus punya anak.
Umur sekian harus mapan.
Pertanyaannya:
Siapa yang membuat timeline tersebut?
Syariat tidak pernah mengatakan semua manusia harus mendapatkan kenikmatan dunia pada umur yang sama.
Ada Nabi Yusuf ‘alaihis salam yang harus melewati sumur dan penjara sebelum mendapatkan kedudukan.
Ada Nabi Ayyub ‘alaihis salam yang diuji dengan penyakit.
Ada Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam yang bertahun-tahun kehilangan Yusuf.
Artinya:
Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.
Jangan sampai kita membenci takdir Allah hanya karena kehidupan kita tidak bergerak secepat kehidupan teman kita.
Allah Ta’ala berfirman,
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216)
7. ADA CAPEK YANG TIDAK SELESAI DENGAN TIDUR
Ini yang perlu disadari anak muda.
Tubuh memang membutuhkan istirahat.
Namun tidak semua kelelahan berasal dari tubuh.
Ada capeknya hati.
Tidur delapan jam, bangun masih merasa kosong.
Healing sudah.
Nongkrong sudah.
Main game sudah.
Nonton sudah.
Scrolling sampai tengah malam sudah.
Tetapi ketika handphone diletakkan dan kamar kembali sunyi, hati kembali gelisah.
Mengapa?
Karena kebutuhan hati berbeda dengan kebutuhan badan.
Allah Ta‘ala berfirman,
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)
Maka ada kalimat yang penting ditanamkan:
Tidak semua rasa capek membutuhkan liburan. Ada rasa capek yang membutuhkan sujud.
8. IRONISNYA: SAAT HIDUP SEMAKIN BERAT, SHALAT JUSTRU MULAI DITINGGALKAN
Saat tugas menumpuk:
shalat terlambat.
Saat pekerjaan banyak:
shalat terburu-buru.
Saat masalah semakin berat:
Al-Qur’an semakin jarang dibuka.
Padahal Allah justru berfirman,
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah: 45)
Sabar dan shalat adalah dua penolong utama seorang muslim ketika menghadapi ujian kehidupan.
Jadi logikanya jangan dibalik.
Bukan:
“Nanti kalau masalahku sudah selesai, aku akan kembali memperbaiki ibadah.”
Namun:
“Karena masalahku belum selesai, aku semakin membutuhkan Allah.”
9. KITA TIDAK HARUS MENYELESAIKAN MASALAH SEPULUH TAHUN KE DEPAN HARI INI
Salah satu penyebab manusia lelah adalah pikirannya hidup terlalu jauh di masa depan.
“Bagaimana kalau aku tidak dapat pekerjaan?”
“Bagaimana kalau tidak menikah?”
“Bagaimana kalau usahaku gagal?”
“Bagaimana kalau nanti orang tuaku meninggal?”
“Bagaimana kalau…?”
Padahal semua itu belum terjadi.
Allah berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Tawakal bukan berarti tidak membuat rencana.
Kita tetap belajar.
Kita tetap bekerja.
Kita tetap mencari jodoh.
Kita tetap menabung.
Kita tetap berobat ketika sakit.
Namun setelah melakukan sebab, hati tidak bergantung kepada sebab.
Hati bergantung kepada Allah.
10. JANGAN SAMPAI CAPEK DENGAN DUNIA MEMBUAT KITA MENINGGALKAN ALLAH
Inilah bahaya yang paling besar.
Musibah terbesar bukan musibah dunia, tetapi musibah yang menimpa agama seseorang.
Kehilangan pekerjaan memang berat.
Tetapi kehilangan shalat jauh lebih berat.
Putus cinta memang menyakitkan.
Tetapi karena putus cinta kemudian terjerumus dalam maksiat adalah musibah yang lebih besar.
Tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan memang mengecewakan.
Tetapi kehilangan husnuzan kepada Allah jauh lebih berbahaya.
Maka:
Capek kuliah, jangan tinggalkan shalat.
Capek bekerja, jangan mencari penghasilan haram.
Capek menunggu jodoh, jangan mengambil jalan zina.
Capek menghadapi orang tua, jangan durhaka.
Capek menghadapi pasangan, jangan zalim.
Capek menghadapi hidup, jangan meninggalkan Allah.
11. ORANG BERIMAN JUGA BISA SEDIH
Jangan membuat anak muda merasa bahwa kalau beriman berarti tidak boleh menangis.
Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam menangis karena kehilangan Yusuf.
Allah berfirman,
وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
“Kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia menahan amarahnya.” (QS. Yusuf: 84)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis ketika putranya Ibrahim meninggal.
Beliau bersabda,
إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا
“Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali sesuatu yang diridhai Rabb kami.” (HR. Bukhari)
Jadi Islam tidak menyuruh kita berpura-pura kuat.
Sedih boleh. Menangis boleh. Merasa lelah boleh.
Yang dijaga adalah jangan sampai kesedihan membuat lisan dan perbuatan kita keluar dari sesuatu yang Allah ridhai.
12. BISA JADI UJIAN YANG MEMBUATMU MENANGIS JUSTRU SEDANG MENYELAMATKANMU
Tidak setiap ujian berarti Allah sedang menghukum.
Beberapa hikmah di balik ujian:
- menggugurkan kesalahan,
- menghapus dosa,
- meninggikan derajat,
- menambah pahala,
- menguji dan menampakkan keimanan seseorang.
Ujian yang dihadapi seorang mukmin dengan sabar dapat menjadi jalan menuju tingkatan orang-orang yang sabar dan pahala yang besar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik.”
Kemudian beliau menjelaskan bahwa ketika mendapatkan kesenangan ia bersyukur, dan ketika mendapatkan kesusahan ia bersabar. (HR. Muslim, no. 2999)
Maka boleh jadi sesuatu yang hari ini kita tanyakan,
“Ya Allah, kenapa harus aku?”
kelak justru membuat kita berkata,
“Alhamdulillah dahulu Allah tidak memberikan semua yang aku inginkan.”
13. SEMAKIN DEWASA, KITA AKAN BELAJAR KEHILANGAN
Ini salah satu bagian paling berat dari kedewasaan.
Semakin bertambah umur, lingkaran kehidupan kita berubah.
Teman yang dahulu setiap hari bersama, sekarang sibuk dengan keluarganya.
Guru-guru kita menua.
Orang tua kita menua.
Kakek dan nenek mulai pergi.
Suatu saat orang yang biasanya kita telepon mungkin tidak bisa lagi mengangkat telepon kita.
Allah berfirman,
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26–27)
Kedewasaan akhirnya mengajari kita:
Jangan menggantungkan seluruh hati kepada sesuatu yang akan pergi.
Semua manusia akan pergi.
Semua harta akan ditinggalkan.
Semua jabatan akan selesai.
Semua popularitas akan hilang.
Yang tidak pernah meninggalkan kita adalah Allah.
14. CAPEK BOLEH, MENYERAH DARI KETAATAN JANGAN
Allah Ta‘ala berfirman,
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bersungguh-sungguh. Dan hanya kepada Rabbmu berharaplah.” (QS. Asy-Syarh: 7–8)
Seorang muslim boleh berhenti sebentar untuk beristirahat.
Tetapi ia tidak berhenti menjadi hamba Allah.
Hari ini gagal?
Coba lagi.
Hari ini kecewa?
Perbaiki lagi.
Hari ini menangis?
Besok bangun lagi.
Hari ini merasa jauh dari Allah?
Malam ini pulanglah kepada Allah.
Karena masalah terbesar bukan ketika kita jatuh.
Masalah terbesar adalah ketika jatuh lalu tidak mau kembali kepada Allah.
15. JANGAN HANYA BERTANYA: “KAPAN HIDUPKU AKAN ENAK?”
Pertanyaan yang lebih penting:
“Apakah semua yang sedang aku alami membuatku semakin dekat kepada Allah?”
Karena ada orang hidupnya nyaman tetapi jauh dari Allah.
Ada orang penghasilannya bertambah tetapi shalatnya berkurang.
Ada orang followers-nya bertambah tetapi keikhlasannya berkurang.
Ada orang kariernya naik tetapi akhiratnya justru turun.
Maka standar keberhasilan seorang mukmin bukan:
“Apakah hidupku selalu mudah?”
Namun:
“Apakah dalam keadaan mudah maupun sulit aku tetap menjadi hamba Allah?”
PENUTUP: TERNYATA KITA TIDAK BUTUH KEMBALI MENJADI ANAK-ANAK
Mungkin hari ini kita berkata,
“Ya Allah, aku capek jadi dewasa.”
Sebenarnya kita tidak membutuhkan mesin waktu untuk kembali menjadi anak kecil.
Yang kita butuhkan adalah hati yang kembali kepada Allah.
Karena dahulu ketika kecil kita tenang karena percaya bahwa ada ayah dan ibu yang mengurus kita.
Ketika dewasa kita seharusnya memiliki keyakinan yang jauh lebih besar:
Ada Allah yang mengatur hidup kita.
Kita tidak mengetahui bagaimana kehidupan kita lima tahun mendatang.
Kita tidak mengetahui dengan siapa kita menikah.
Kita tidak mengetahui berapa rezeki kita.
Kita tidak mengetahui berapa lama orang tua masih bersama kita.
Bahkan kita tidak mengetahui apakah besok masih hidup.
Namun ada satu hal yang kita ketahui:
Allah tidak pernah kehilangan kendali atas kehidupan kita.
Maka kalau hari ini capek:
istirahatlah.
Kalau sedih:
menangislah.
Kalau bingung:
mintalah nasihat.
Kalau memiliki masalah:
carilah jalan keluarnya.
Tetapi apa pun yang terjadi,
JANGAN PERNAH BERHENTI KEMBALI KEPADA ALLAH.
Karena dunia bukan tempat kita beristirahat selamanya.
Ada suatu hari ketika seluruh kelelahan seorang mukmin akan berakhir.
Allah Ta‘ala berfirman,
ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ
“Masuklah ke dalamnya dengan selamat dan aman.” (QS. Al-Hijr: 46)
Semoga setelah lelah menjalani kehidupan dunia, tempat istirahat terakhir kita adalah surga Allah.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
Allāhumma innā nas’alukal-jannah, wa na‘ūdzu bika minan-nār.
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu surga dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka.”
Āmīn.
–
@ Darush Sholihin I Jumat, 28 Agustus 2026
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



