Teladan

Seperti Apa Fisik Rasulullah ﷺ? Kesaksian Ummu Ma‘bad yang Hanya Bertemu Sesaat

Salah satu cara kita mengenal bagaimana penampilan Rasulullah ﷺ adalah melalui riwayat orang-orang yang pernah melihat beliau secara langsung. Di antara gambaran paling detail dan indah datang dari Ummu Ma‘bad, seorang wanita yang justru hanya bertemu Rasulullah ﷺ dalam waktu singkat ketika beliau sedang berhijrah menuju Madinah.

 

 

Rasulullah ﷺ Singgah di Kemah Ummu Ma‘bad

Ketika Rasulullah ﷺ keluar dari Makkah dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, beliau ditemani oleh Abu Bakar, mantan budak Abu Bakar yaitu ‘Amir bin Fuhairah, dan seorang penunjuk jalan dari Bani Laits bernama ‘Abdullah bin Uraiqith.

Dalam perjalanan, mereka melewati dua kemah milik Ummu Ma‘bad Al-Khuza‘iyyah.

Ummu Ma‘bad adalah seorang wanita yang tangguh dan terbuka dalam berinteraksi. Ia biasa duduk di halaman kemahnya, memberi minum dan makanan kepada siapa saja yang singgah.

Rombongan Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya apakah ia memiliki daging atau kurma yang bisa mereka beli. Namun, mereka tidak mendapatkan apa pun darinya. Saat itu mereka memang sedang mengalami kesulitan bekal, sedangkan daerah tersebut pun sedang dilanda musim paceklik.

Rasulullah ﷺ kemudian melihat seekor kambing di salah satu sudut kemah.

Beliau bertanya,

مَا هَذِهِ الشَّاةُ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ؟

“Wahai Ummu Ma‘bad, kambing apakah ini?”

Ummu Ma‘bad menjawab, “Ini kambing yang tertinggal dari kawanan karena sudah terlalu lemah.”

Rasulullah ﷺ bertanya,

هَلْ بِهَا مِنْ لَبَنٍ؟

“Apakah kambing ini masih memiliki susu?”

Ummu Ma‘bad menjawab, “Keadaannya bahkan lebih lemah daripada sekadar bisa menghasilkan susu.”

Rasulullah ﷺ kemudian bertanya,

أَتَأْذَنِينَ لِي أَنْ أَحْلُبَهَا؟

“Apakah engkau mengizinkanku untuk memerahnya?”

Ummu Ma‘bad menjawab, “Ya. Ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Jika engkau memang melihat ada susu padanya, maka perahlah.”

Lalu kambing itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ.

Beliau mengusap ambingnya dengan tangan beliau, menyebut nama Allah Ta‘ala, lalu berdoa memohon keberkahan untuk kambing Ummu Ma‘bad tersebut.

Tiba-tiba kambing itu merenggangkan kedua kakinya, ambingnya pun penuh dan susu mengalir deras. Kambing itu bahkan mulai memamah kembali makanannya dengan tenang.

Rasulullah ﷺ kemudian meminta sebuah wadah yang cukup besar untuk membuat satu rombongan kenyang apabila meminumnya.

Beliau memerah kambing tersebut.

Susu mengalir begitu deras memenuhi wadah hingga muncul buih di atasnya.

Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan susu itu terlebih dahulu kepada Ummu Ma‘bad hingga ia minum sampai puas. Setelah itu, beliau memberikan minum kepada para sahabatnya hingga mereka semua merasa puas. Dan Rasulullah ﷺ menjadi orang terakhir yang minum.

Setelah itu mereka beristirahat sejenak.

Kemudian Rasulullah ﷺ kembali memerah kambing tersebut untuk kedua kalinya hingga memenuhi wadah.

Beliau meninggalkan susu itu untuk Ummu Ma‘bad.

Setelah melakukan transaksi dengannya, rombongan Rasulullah ﷺ pun melanjutkan perjalanan.

 

Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan Terkejut

Tidak lama setelah rombongan itu pergi, suami Ummu Ma‘bad, yaitu Abu Ma‘bad, pulang.

Ia sedang menggiring beberapa ekor kambing yang kurus kering. Karena begitu kurusnya, kambing-kambing itu berjalan dengan sangat lemah. Saking buruk kondisi dan kurangnya makanan, sumsum pada tulang kambing-kambing itu pun tinggal sedikit.

Ketika Abu Ma‘bad melihat adanya susu, ia terkejut.

Ia berkata, “Dari mana engkau mendapatkan susu ini, wahai Ummu Ma‘bad? Padahal kambing-kambing sedang jauh dari tempat kita, tidak ada kambing yang baru melahirkan, dan di rumah pun tidak ada kambing yang bisa diperah.”

Ummu Ma‘bad menjawab,

لَا وَاللَّهِ، إِلَّا أَنَّهُ مَرَّ بِنَا رَجُلٌ مُبَارَكٌ، مِنْ حَالِهِ كَذَا وَكَذَا.

“Tidak, demi Allah. Hanya saja, tadi ada seorang lelaki yang penuh keberkahan melewati tempat kita. Keadaannya begini dan begini.”

Abu Ma‘bad berkata,

صِفِيهِ لِي يَا أُمَّ مَعْبَدٍ

“Coba gambarkan orang itu kepadaku, wahai Ummu Ma‘bad.”

 

Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘bad

Ummu Ma‘bad menjelaskan rinci,

رَأَيْتُ رَجُلًا ظَاهِرَ الْوَضَاءَةِ، أَبْلَجَ الْوَجْهِ، لَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌ، وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌ، وَسِيمٌ قَسِيمٌ، فِي عَيْنِهِ دَعَجٌ، وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌ، وَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌ، وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌ، وَفِي لِحْيَتِهِ كَثَاثَةٌ، أَزَجُّ أَقْرَنُ.

“Aku melihat seorang lelaki yang sangat nyata keelokan dan kecerahan penampilannya. Wajahnya berseri dan bercahaya. Tubuhnya tidak terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya, dan tidak pula bentuk pinggang atau sisi tubuhnya mengurangi keserasian penampilannya. Ia seorang yang rupawan, tampan, dan serasi.
Pada matanya terdapat warna hitam yang pekat dan indah. Bulu matanya panjang. Pada suaranya terdapat ketegasan dan kekuatan. Lehernya jenjang dan tegak. Janggutnya lebat. Alisnya panjang, melengkung indah, dan kedua alisnya bertemu.

إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَا وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ، أَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍ، وَأَجْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍ.

Apabila ia diam, tampak kewibawaan pada dirinya. Apabila berbicara, ia tampak semakin luhur dan kemuliaan serta keelokannya semakin terpancar. Dari kejauhan, ia adalah manusia yang paling indah dan paling memesona; ketika dilihat dari dekat, ia tampak semakin jelas keelokannya dan semakin indah.

حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ، كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَ.

Tutur katanya manis dan menyenangkan. Ucapannya jelas dan terpilah; tidak terlalu sedikit dan tidak pula berlebihan atau bertele-tele. Seakan-akan kata-katanya adalah butiran-butiran mutiara yang tersusun rapi lalu bergulir satu demi satu.

رَبْعَةٌ، لَا يَأْسَ مِنْ طُولٍ، وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍ، غُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِ، فَهُوَ أَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًا، وَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًا.

Tinggi badannya sedang, cenderung kepada tinggi tetapi tidak berlebihan, dan ia tidak pendek sehingga mata memandangnya rendah atau meremehkannya. Di antara dua orang yang menyertainya, ia bagaikan sebuah dahan yang indah di antara dua dahan lainnya. Dialah yang paling segar dan elok dipandang di antara ketiganya serta yang paling tinggi kedudukan dan wibawanya.

لَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِ، إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِ، مَحْشُودٌ مَحْفُودٌ، لَا عَابِسٌ وَلَا مُفَنَّدٌ.

Ia mempunyai para sahabat yang mengelilinginya. Jika ia berbicara, mereka diam dan menyimak perkataannya. Jika ia memberi perintah, mereka segera berlomba melaksanakan perintahnya. Orang-orang berkumpul di sekelilingnya, melayani dan sigap membantunya. Ia bukan orang yang bermuka masam dan bukan pula orang yang perkataannya tidak bernilai atau kehilangan kejernihan pikiran.”

 

Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang Itu

Setelah mendengar penjelasan istrinya, Abu Ma‘bad berkata,

هُوَ وَاللَّهِ صَاحِبُ قُرَيْشٍ الَّذِي ذُكِرَ لَنَا مِنْ أَمْرِهِ مَا ذُكِرَ بِمَكَّةَ، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا.

“Demi Allah, orang itu pasti orang Quraisy yang selama ini telah kita dengar berita tentang dirinya di Makkah. Sungguh, sebelumnya aku sudah berkeinginan untuk menjadi sahabat dan mengikutinya. Dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya apabila aku mendapatkan jalan untuk itu.”

 

Suara Misterius Terdengar di Makkah

وَأَصْبَحَ صَوْتٌ بِمَكَّةَ عَالِيًا، يَسْمَعُونَ الصَّوْتَ، وَلَا يَدْرُونَ مَنْ صَاحِبُهُ، وَهُوَ يَقُولُ:
جَزَى اللَّهُ رَبُّ النَّاسِ خَيْرَ جَزَائِهِ
رَفِيقَيْنِ قَالَا خَيْمَتَيْ أُمِّ مَعْبَدِ
هُمَا نَزَلَاهَا بِالْهُدَى وَاهْتَدَتْ بِهِ
فَقَدْ فَازَ مَنْ أَمْسَى رَفِيقَ مُحَمَّدِ
فَيَا لِقُصَيٍّ مَا زَوَى اللَّهُ عَنْكُمْ
بِهِ مِنْ فَعَالٍ لَا يُجَازَى وَسُؤْدُدِ
لِيَهْنِ بَنِي كَعْبٍ مَقَامُ فَتَاتِهِمْ
وَمَقْعَدُهَا لِلْمُؤْمِنِينَ بِمَرْصَدِ
سَلُوا أُخْتَكُمْ عَنْ شَاتِهَا وَإِنَائِهَا
فَإِنَّكُمْ إِنْ تَسْأَلُوا الشَّاةَ تَشْهَدِ
دَعَاهَا بِشَاةٍ حَائِلٍ فَتَحَلَّبَتْ
عَلَيْهِ صَرِيحًا ضَرَّةُ الشَّاةِ مُزْبِدِ
فَغَادَرَهَا رَهْنًا لَدَيْهَا لِحَالِبٍ
يُرَدِّدُهَا فِي مَصْدَرٍ ثُمَّ مَوْرِدِ

Kemudian pada pagi harinya terdengar sebuah suara keras di Makkah. Mereka mendengar suara itu, tetapi tidak mengetahui siapa pemiliknya. Suara itu berkata:

“Semoga Allah, Rabb seluruh manusia, memberikan sebaik-baik balasan-Nya
kepada dua orang sahabat yang singgah di kemah Ummu Ma‘bad.

Keduanya singgah di sana dengan membawa petunjuk, dan dengannya ia memperoleh petunjuk.
Sungguh beruntung orang yang pada petang hari menjadi sahabat Muhammad.

Wahai keturunan Qushay, betapa banyak kebaikan yang Allah jauhkan dari kalian
melalui dirinya, berupa berbagai perbuatan mulia yang tak tertandingi dan kemuliaan yang tinggi.

Berbahagialah Bani Ka‘b karena tempat tinggal wanita mereka,
dan tempat duduknya yang menjadi tempat singgah dan pengamatan bagi kaum beriman.

Tanyakanlah kepada saudari kalian tentang kambingnya dan wadahnya.
Jika kalian bertanya kepada kambing itu, niscaya kambing itu akan menjadi saksi.

Beliau mendatangi seekor kambing betina yang tidak sedang bunting, lalu kambing itu mengeluarkan susu untuk beliau.
Ambing kambing itu mengalirkan susu murni yang berbuih.

Lalu beliau meninggalkannya di tempat wanita itu sebagai jaminan bagi orang yang memerahnya,
yang akan terus memerahnya berulang kali, pada waktu pergi maupun kembali.”

 

Penjelasan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits Ummu Ma’bad

Wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Berseri

Perkataan Ummu Ma‘bad:

أَبْلَجَ الْوَجْهِ

Maksudnya, wajah Rasulullah ﷺ berseri-seri dan bercahaya.

Dalam bahasa Arab dikatakan:

تَبَلَّجَ الصُّبْحُ وَانْبَلَجَ

ketika cahaya pagi mulai terang.

Ummu Ma‘bad tidak bermaksud dengan kata balaj bahwa kedua alis Nabi ﷺ terpisah. Hal itu terlihat karena setelahnya ia justru menggambarkan beliau dengan sifat:

أَقْرَنُ

yakni kedua alis beliau bertemu atau hampir bersambung.

 

Tubuh Nabi ﷺ Tidak Terlalu Kurus

Dalam satu riwayat disebutkan:

لَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌ

Artinya, beliau tidak memiliki tubuh yang terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya.

النَّحْلَةُ di sini berarti kekurusan atau kecilnya tubuh.

Namun terdapat riwayat lain:

ثُجْلَةٌ

dengan huruf tsa dan jim.

Kata tersebut berarti perut yang besar.

Dikatakan:

رَجُلٌ أَثْجَلُ

yakni seorang lelaki yang berperut besar.

Demikian pula kata العَثْجَل memiliki makna serupa.

 

Tidak Terlalu Kurus dan Tidak Pula Membuncit

Perkataan:

وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌ

Maksudnya adalah tubuh yang terlalu kecil atau terlalu ramping.

Ada yang menjelaskan bahwa maksud Ummu Ma‘bad ialah:

Rasulullah ﷺ tidak mempunyai pinggang yang sangat membesar, dan tidak pula terlalu kurus. Tubuh beliau berada dalam keadaan yang kuat dan serasi.

الصَّقْلَةُ berarti bagian pinggang atau sisi tubuh.

Dikatakan:

فَرَسٌ صَقِلٌ

untuk kuda yang bagian tersebut terlalu panjang, dan ini dianggap sebagai suatu kekurangan.

Jadi Ummu Ma‘bad ingin menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak kurus berlebihan dan tidak pula terlalu membesar tubuhnya.

Dalam riwayat lain berbunyi:

لَمْ تُزْرِ بِهِ صَعْلَةٌ

dengan huruf ‘ain.

الصَّعْلَةُ berarti kepala yang kecil.

Burung unta jantan disebut:

صَعْلٌ

karena kepalanya kecil.

 

“Wasīm Qasīm”

Perkataannya:

وَسِيمٌ قَسِيمٌ

الْوَسِيمُ berarti orang yang bagus, rupawan, dan bercahaya wajahnya.

Dikatakan:

وَسِيمٌ بَيِّنُ الْوَسَامَةِ

yakni seseorang yang jelas ketampanannya.

Sedangkan:

الْقَسِيمُ

juga berarti orang yang elok atau tampan.

الْقَسَامَةُ berarti keelokan dan ketampanan.

Jadi ungkapan ini menggambarkan Nabi ﷺ sebagai seorang yang rupawan, elok, dan serasi penampilannya.

 

“Da‘aj” pada Kedua Mata

الدَّعَجُ

berarti warna hitam yang pekat pada mata atau pada sesuatu yang lain.

Dalam konteks ini, maksudnya adalah bagian hitam kedua mata Nabi ﷺ tampak hitam pekat, yang merupakan salah satu sifat keelokan mata.

 

Bulu Mata yang Panjang

Perkataan:

وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌ

Artinya, bulu mata beliau panjang.

Dikatakan:

وَطِفَ فَهُوَ أَوْطَفُ

apabila bulu mata seseorang panjang.

Ada pula riwayat dengan kata:

عَطَفٌ

atau:

غَطَفٌ

Keduanya juga dimaksudkan untuk menggambarkan panjangnya bulu mata.

 

Suara Nabi ﷺ

Dalam satu riwayat disebutkan:

وَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌ

Artinya, pada suara beliau terdapat kekuatan dan ketegasan.

Kata tersebut berkaitan dengan:

صَهِيلُ الْخَيْلِ

yaitu ringkikan kuda.

Dalam riwayat lain disebutkan:

صَحَلٌ

Artinya, terdapat sedikit kesan serak pada suara.

Maksudnya, suara beliau tidak terlalu tinggi dan tajam.

Suara seperti ini dianggap indah selama kesan seraknya tidak berlebihan.

 

Leher Nabi ﷺ

Perkataan:

وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌ

Artinya, leher beliau panjang dan jenjang.

Dikatakan:

رَجُلٌ أَسْطَعُ

yaitu lelaki yang berleher jenjang.

Dan:

عُنُقٌ سَطْعَاءُ

yaitu leher yang tegak.

Dari akar kata inilah digunakan ungkapan untuk fajar ketika pertama kali cahayanya muncul memanjang:

سَطَعَ يَسْطَعُ

 

Alis Rasulullah ﷺ

Perkataan:

أَزَجُّ أَقْرَنُ

الزَّجَجُ pada alis berarti alis yang melengkung dengan indah, panjang pada ujung-ujungnya, dan sempurna pertumbuhannya.

Sedangkan:

الْقَرَنُ

berarti bertemunya kedua alis.

Namun terdapat riwayat lain mengenai sifat Rasulullah ﷺ dari Hind bin Abi Halah yang menyebutkan:

أَزَجُّ الْحَوَاجِبِ، سَوَابِغُ مِنْ غَيْرِ قَرَنٍ

“Alis beliau melengkung dan panjang sempurna, tetapi tidak bersambung.”

Jadi, memang terdapat perbedaan lafaz riwayat mengenai apakah kedua alis beliau bersambung atau tidak.

 

Ketika Berbicara, Nabi ﷺ Tampak Semakin Luhur

Perkataan:

إِنْ تَكَلَّمَ سَمَا

Maksudnya, ketika Rasulullah ﷺ berbicara, beliau mengangkat kepalanya dan tampak semakin luhur di antara orang-orang yang duduk bersama beliau.

 

Penjelasan Cara Bicara Rasulullah ﷺ

Perkataan Ummu Ma‘bad mengenai cara bicara beliau:

فَصْلٌ

Artinya:

بَيِّنٌ

yakni jelas dan mudah dibedakan maksudnya.

Ucapan Rasulullah ﷺ tidak rancu dan tidak bercampur-aduk.

 

Tidak Terlalu Sedikit dan Tidak Berlebihan

Perkataan:

لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ

Maksudnya, perkataan Rasulullah ﷺ berada di tengah: tidak terlalu sedikit dan tidak pula terlalu banyak.

النَّزْرُ

berarti sedikit.

Sedangkan:

الْهَذَرُ

berarti terlalu banyak berbicara.

Inilah makna yang juga terdapat dalam hadis Hind bin Abi Halah:

يَتَكَلَّمُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ، فَصْلٌ، لَا فُضُولٌ وَلَا تَقْصِيرٌ

“Beliau berbicara dengan kalimat-kalimat yang ringkas namun sarat makna. Ucapannya jelas; tidak berlebihan dan tidak pula kurang.”

 

Tinggi Badan Rasulullah ﷺ

Perkataan Ummu Ma‘bad:

لَا بَأْسَ مِنْ طُولٍ

Maksudnya, postur tubuh beliau tidak membuat orang merasa bahwa beliau terlalu tinggi. Sebab Rasulullah ﷺ memang lebih mendekati postur tinggi. Namun beliau bukanlah orang yang sangat tinggi sehingga orang lain seakan tidak mungkin menyamai tinggi beliau karena tinggi yang berlebihan.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas:

لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلَا بِالْقَصِيرِ

“Beliau bukan orang yang sangat tinggi menjulang dan bukan pula orang yang pendek.”

 

Tidak Pendek sehingga Dipandang Remeh

Perkataan:

وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍ

Artinya, beliau tidak pendek sehingga mata orang meremehkan atau memandang rendah beliau lalu beralih melihat orang lain.

Dalam bahasa Arab dikatakan:

اقْتَحَمَتْ فُلَانًا عَيْنِي

yakni: “Mataku memandang orang itu rendah dan kecil.”

Jadi maksudnya, tidak ada kekurangan pada tinggi badan Nabi ﷺ yang membuat orang menganggap beliau remeh.

 

Hubungan Rasulullah ﷺ dengan Para Sahabat

Perkataan:

مَحْشُودٌ مَحْفُودٌ

Maksudnya, para sahabat berkumpul mengelilingi beliau, melayani beliau, dan segera menaati beliau.

Dikatakan:

رَجُلٌ مَحْشُودٌ

yakni seseorang yang banyak manusia berkumpul di sekelilingnya.

الْمَحْفُودُ

artinya orang yang dilayani.

Sedangkan:

الْحَفَدَةُ

berarti para pelayan.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,

وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً

“Dan Dia menjadikan untuk kalian dari pasangan-pasangan kalian anak-anak dan cucu-cucu/para pembantu.”(QS. An-Nahl: 72)

Maksudnya, mereka adalah anak-anak sekaligus orang-orang yang membantu.

Ada pula yang mengatakan bahwa:

الْحَفَدَةُ

berarti para penolong.

Asal katanya dari:

حَفَدَ يَحْفِدُ

yakni bersegera dalam berjalan atau bergerak.

 

Nabi ﷺ Tidak Bermuka Masam

Perkataan:

لَا عَابِسٌ

Artinya: Beliau bukan orang yang bermuka masam.

 

Makna “Wa Lā Mufannad”

Perkataan:

وَلَا مُفَنَّدٌ

Mufannad adalah orang yang perkataannya tidak lagi mempunyai banyak manfaat karena telah terkena kelemahan akal akibat usia lanjut.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala menceritakan perkataan Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam:

لَوْلَا أَنْ تُفَنِّدُونِ

“Sekiranya kalian tidak menuduhku sudah pikun.” (QS. Yusuf: 94)

Artinya: “Seandainya kalian tidak menganggapku telah pikun dan berkata bahwa aku sudah lemah akal karena usia.”

Dalam hadis juga disebutkan:

مَا يَنْتَظِرُ أَحَدُكُمْ إِلَّا هَرَمًا مُفَنِّدًا

“Tidaklah salah seorang di antara kalian menunggu kecuali usia tua yang melemahkan akal.”

Dalam riwayat lain berbunyi:

وَلَا مُعْتَدٍ

“Dan beliau bukan orang yang melampaui batas.”

Kata tersebut berasal dari:

الِاعْتِدَاءُ

yang berarti kezaliman dan tindakan melampaui batas.

 

Ringkasan Deskripsi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ummu Ma’bad

 

BagianLafaz HadisGambaran Rasulullah ﷺ
Wajahأَبْلَجَ الْوَجْهِWajah beliau cerah, berseri, dan bercahaya.
Postur tubuhلَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌTubuh beliau tidak terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya.
Keserasian tubuhوَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌTubuh beliau proporsional; tidak terlalu kurus dan tidak pula membesar secara tidak serasi.
Riwayat lain tentang perutثُجْلَةٌBeliau tidak memiliki perut yang terlalu besar sehingga merusak keserasian tubuh.
Riwayat lain tentang kepalaصَعْلَةٌKepala beliau tidak terlalu kecil sehingga mengurangi keelokan penampilan.
Ketampananوَسِيمٌ قَسِيمٌBeliau rupawan, tampan, elok, dan serasi penampilannya.
Mataفِي عَيْنِهِ دَعَجٌBagian hitam mata beliau hitam pekat dan indah.
Bulu mataوَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌBulu mata beliau panjang.
Suaraوَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌSuara beliau memiliki kekuatan dan ketegasan.
Riwayat lain tentang suaraصَحَلٌSuara beliau memiliki sedikit kesan serak yang lembut, tidak melengking tajam.
Leherوَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌLeher beliau jenjang dan tegak.
Janggutوَفِي لِحْيَتِهِ كَثَاثَةٌJanggut beliau lebat.
Alisأَزَجُّ أَقْرَنُAlis beliau panjang, melengkung indah, dan dalam riwayat ini disebut bertemu/bersambung. Ada riwayat lain yang menyebut tidak bersambung.
Ketika diamإِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُKetika diam, terpancar ketenangan dan kewibawaan.
Ketika berbicaraوَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَا وَعَلَاهُ الْبَهَاءُKetika berbicara, beliau tampak semakin luhur, berwibawa, dan memesona.
Dilihat dari jauhأَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍDari kejauhan, beliau tampak sangat indah dan berwibawa.
Dilihat dari dekatوَأَجْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍDari dekat, keelokan beliau semakin jelas dan semakin menawan.
Tutur kataحُلْوُ الْمَنْطِقِTutur kata beliau indah dan menyenangkan didengar.
Cara berbicaraفَصْلٌUcapan beliau jelas, teratur, dan mudah dipahami.
Tidak bertele-teleلَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌTidak terlalu sedikit hingga sulit dipahami dan tidak berlebihan atau bertele-tele.
Susunan perkataanكَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَKata-kata beliau tersusun rapi, seakan-akan untaian mutiara yang bergulir satu demi satu.
Tinggi badanرَبْعَةٌTinggi beliau sedang dan proporsional, cenderung tinggi tetapi tidak berlebihan.
Tidak terlalu pendekوَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍBeliau tidak pendek sehingga orang memandang remeh kepadanya.
Di tengah sahabatغُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِDi antara dua sahabatnya, beliau bagaikan dahan paling indah di antara dua dahan.
Penampilan di antara tiga orangأَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًاBeliau yang paling segar dan indah dipandang di antara ketiganya.
Wibawaوَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًاBeliau tampak paling tinggi kedudukan dan wibawanya.
Dicintai sahabatلَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِPara sahabat senang berada dan berkumpul di sekeliling beliau.
Saat berbicaraإِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِKetika beliau berbicara, para sahabat diam dan menyimak dengan penuh perhatian.
Saat memerintahوَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِKetika beliau memerintah, mereka segera berlomba melaksanakannya.
Hubungan dengan sahabatمَحْشُودٌ مَحْفُودٌPara sahabat berkumpul, membantu, melayani, dan sigap menaati beliau.
Ekspresi wajahلَا عَابِسٌBeliau bukan orang yang suka bermuka masam.
Kejernihan perkataanوَلَا مُفَنَّدٌBeliau bukan orang yang ucapannya kacau, lemah, atau tidak bernilai. Dalam riwayat lain: وَلَا مُعْتَدٍ, bukan orang yang melampaui batas.

 

Kesimpulan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

  1. Indah fisiknya: wajah berseri, rupawan, mata indah, bulu mata panjang, janggut lebat, dan tubuh proporsional.
  2. Berwibawa kepribadiannya: ketika diam beliau berwibawa; ketika berbicara semakin tampak kemuliaannya.
  3. Indah komunikasinya: tutur katanya menyenangkan, jelas, tidak terlalu sedikit, dan tidak bertele-tele.
  4. Dicintai pengikutnya: sahabat mengelilingi beliau, serius mendengarkan, dan bersegera menjalankan perintahnya.
  5. Mulia akhlaknya: tidak bermuka masam, tidak kasar, dan perkataannya bernilai.

 

Pertemuan Singkat, tetapi Membekas Begitu Dalam

Ummu Ma‘bad bukanlah orang yang bertahun-tahun membersamai Rasulullah ﷺ. Pertemuannya dengan beliau sangat singkat, hanya ketika Rasulullah ﷺ singgah di kemahnya dalam perjalanan hijrah. Namun lihatlah bagaimana ia mampu menceritakan Rasulullah ﷺ dengan begitu detail.

Ia mengingat wajah beliau, mata, bulu mata, suara, janggut, postur tubuh, cara diam, cara berbicara, pilihan kata, kewibawaan, bahkan bagaimana para sahabat bersikap ketika Rasulullah ﷺ berbicara dan memberikan perintah.

Dari sini ada beberapa pelajaran menarik:

1. Pribadi yang agung tidak membutuhkan waktu lama untuk meninggalkan kesan.

Ummu Ma‘bad hanya bertemu sebentar, tetapi perjumpaan itu begitu kuat membekas dalam ingatannya.

2. Dakwah Rasulullah ﷺ bukan hanya melalui kata-kata.

Sebelum seseorang memahami panjang lebar ajaran beliau, ia bisa terlebih dahulu tersentuh oleh akhlak, ketenangan, keramahan, kewibawaan, dan cara beliau memperlakukan manusia.

3. Yang diperhatikan Ummu Ma‘bad bukan hanya fisik.

Deskripsinya bergerak dari penampilan menuju kepribadian:

إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ

“Ketika beliau diam, tampak kewibawaan pada dirinya.”

Lalu menuju cara berkomunikasi:

حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ

“Tutur katanya indah dan jelas; tidak terlalu sedikit dan tidak pula berlebihan.”

Bahkan sampai kepada kepemimpinan beliau:

إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِ

“Jika beliau berbicara, para sahabat menyimaknya. Jika beliau memerintah, mereka segera melaksanakannya.”

4. Orang lain sering mengenal agama kita melalui perilaku kita terlebih dahulu.

Seseorang mungkin belum sempat mendengar kajian kita, membaca tulisan kita, atau mengetahui dalil yang kita sampaikan. Namun ia sudah bisa menilai Islam dari wajah, ucapan, keramahan, kejujuran, adab, dan cara kita memperlakukannya.

5. Pertemuan singkat bisa menjadi dakwah yang sangat panjang pengaruhnya.

Rasulullah ﷺ hanya singgah. Tetapi setelah beliau pergi, Ummu Ma‘bad masih menceritakan beliau kepada suaminya. Bahkan Abu Ma‘bad sampai mengatakan:

وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا

“Sungguh aku ingin menyertainya, dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya jika aku mendapatkan jalan untuk itu.”

Rasulullah ﷺ hanya singgah sebentar di kemah Ummu Ma‘bad, tetapi akhlaknya tinggal lama dalam ingatannya.

 

Referensi: Al-Mu’jam Al-Kabir Ath-Thabrani Islamweb, Syarhus Sunnah Al-Baghawi Islamweb

 

—-

 

Diselesaikan Selasa pagi @ Pondok Pesantren Darush Sholihin, 6 Rabiul Awwal 1448 H, 18 Agustus 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 4   +   3   =  

Back to top button