Khutbah Jumat: Jangan Wariskan Permusuhan, Teladan Rasulullah kepada Anak Tokoh Munafik
Sering kali permusuhan tidak berhenti pada satu orang. Dendam diwariskan kepada anak, keluarga, bahkan keturunan, seolah-olah semua harus ikut menanggung kesalahan orang tuanya. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan sesuatu yang sangat berbeda: tetap adil kepada anak seorang musuh, membalas kebaikan dengan kebaikan, dan tidak membiarkan kebencian mengalahkan akhlak mulia.
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،
صَلَّى اللَّهُ عَلَي مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
(آل عمران: ١٠٢)
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ،
إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا جَاءَ بِهِ الْإِسْلَامُ تَحْقِيقُ الْعَدْلِ، وَإِقَامَةُ الْإِحْسَانِ، وَتَرْكُ الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ. وَلَا يَجُوزُ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَجْعَلَ الْعَدَاوَةَ تُورَثُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ، أَوْ بَيْنَ الْعَائِلَاتِ وَالْأَجْيَالِ، فَإِنَّ كُلَّ نَفْسٍ تُحَاسَبُ عَلَى عَمَلِهَا، وَلَا تُؤَاخَذُ بِذَنْبِ غَيْرِهَا.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾
وَقَالَ سُبْحَانَهُ:
﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾
Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,
Bagaimana sikap kita jika berhadapan dengan anak dari seseorang yang pernah menyakiti kita? Tidak sedikit orang yang masih menyimpan dendam hingga merembet kepada anak, keluarga, bahkan keturunannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas amalnya sendiri, bukan atas dosa keluarganya.
Kisah Rasulullah ﷺ bersama Abdullah bin Ubay bin Salul merupakan salah satu contoh akhlak paling agung dalam sejarah Islam. Tokoh munafik terbesar di Madinah itu berkali-kali menyakiti Nabi ﷺ. Namun ketika ia meninggal dunia, putranya yang merupakan seorang sahabat saleh datang meminta bantuan kepada Rasulullah ﷺ. Sikap Nabi ﷺ dalam peristiwa ini menjadi pelajaran besar tentang keadilan, kelapangan hati, dan kemuliaan akhlak.
Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,
Siapakah Abdullah bin Ubay bin Salul?
Abdullah bin Ubay bin Salul adalah pemimpin kabilah Khazraj di Madinah. Sebelum Rasulullah ﷺ hijrah, penduduk Yatsrib hampir sepakat mengangkatnya sebagai raja mereka. Namun, ketika Rasulullah ﷺ datang ke Madinah, masyarakat berbondong-bondong memeluk Islam dan memberikan baiat kepada beliau. Harapan Abdullah bin Ubay untuk menjadi pemimpin pun sirna.
Sejak saat itu ia menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekafiran. Al-Qur’an mengabadikan berbagai perbuatannya sehingga ia dikenal sebagai pemimpin kaum munafik.
Di antara kejahatan yang pernah dilakukannya ialah:
- Mengajak sekitar tiga ratus orang mundur dari Perang Uhud sehingga melemahkan barisan kaum muslimin.
- Menyebarkan fitnah besar terhadap Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam peristiwa Haditsul Ifk.
- Menghasut kaum Anshar dengan mengatakan,
﴿لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ﴾
“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.” (QS. Al-Munafiqun: 8)
Ucapan itu ditujukan kepada Rasulullah ﷺ.
Meskipun demikian, Rasulullah ﷺ tetap bersabar menghadapi gangguannya demi menjaga persatuan kaum muslimin dan agar tidak muncul anggapan bahwa Muhammad membunuh para sahabatnya sendiri.
Putra Seorang Munafik, tetapi Seorang Mukmin Sejati
Di balik sosok Abdullah bin Ubay yang munafik, Allah menganugerahkan seorang putra yang sangat saleh, yaitu Abdullah bin Abdullah bin Ubay radhiyallahu ‘anhu.
Ia termasuk sahabat Nabi ﷺ yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Ketika ayahnya menghina Rasulullah ﷺ dalam Perang Bani Musthaliq, Abdullah bin Abdullah bahkan berkata kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, jika engkau hendak membunuh ayahku, serahkanlah tugas itu kepadaku. Aku khawatir jika orang lain yang membunuhnya, aku tidak mampu menahan diriku sehingga membunuh seorang mukmin karena membalas kematian ayahku.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّا لَا نَقْتُلُهُ، بَلْ نَتَرَفَّقُ بِهِ، وَنُحْسِنُ صُحْبَتَهُ مَا بَقِيَ مَعَنَا»
“Kita tidak akan membunuhnya. Bahkan kita akan tetap bersikap lembut kepadanya dan memperlakukannya dengan baik selama ia masih hidup bersama kita.”
Penulis kitab Al-Qaul Al-Mubīn fī Sīrati Sayyidil Mursalīn memberikan komentar yang sangat indah terhadap jawaban Nabi ﷺ tersebut:
«وَكَانَتْ إِجَابَةُ الرَّسُولِ ﷺ بَعْدَ ذَلِكَ هِيَ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي الْعَفْوِ وَالصَّفْحِ الْجَمِيلِ، وَهِيَ النِّبْرَاسُ الَّذِي يُضِيءُ طُرُقَ الْخَيْرِ وَيَهْدِي إِلَى سَوَاءِ السَّبِيلِ، وَهِيَ خَيْرُ مُكَافَأَةٍ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ يَرْتَفِعُ بِإِخْلَاصِهِ إِلَى هَذَا الْمُسْتَوَى الْكَرِيمِ.»
“Jawaban Rasulullah ﷺ tersebut merupakan teladan tertinggi dalam memberi maaf dan berlapang dada. Ia menjadi cahaya yang menerangi jalan-jalan kebaikan dan membimbing manusia menuju jalan yang lurus. Jawaban itu juga merupakan penghargaan terbaik bagi setiap mukmin yang dengan keikhlasannya mampu mencapai derajat akhlak yang mulia seperti itu.” (Al-Qaul Al-Mubīn fī Sīrati Sayyidil Mursalīn, hlm. 302).
Inilah akhlak seorang nabi.
Saat Abdullah bin Ubay Meninggal Dunia
Ketika Abdullah bin Ubay meninggal, putranya datang menemui Rasulullah ﷺ dengan penuh harap.
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan,
لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ جَاءَ ابْنُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ، فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“Ketika Abdullah bin Ubay meninggal dunia, putranya datang kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata, ‘Berikanlah kepadaku gamismu agar aku mengafaninya dengan gamis itu.’ Maka Rasulullah ﷺ memberikannya.” (HR. Bukhari, no. 1269 dan Muslim, no. 2400)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa putranya juga meminta agar Rasulullah ﷺ menyalatkan jenazah ayahnya dan memohonkan ampun untuknya.
Umar radhiyallahu ‘anhu Berusaha Mencegah
Ketika Rasulullah ﷺ hendak menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berdiri dan berkata, “Bukankah Allah telah melarang engkau menyalatkan orang-orang munafik?”
Rasulullah ﷺ menjawab,
«إِنِّي خُيِّرْتُ»
“Aku diberi pilihan.”
Beliau mengacu pada firman Allah,
﴿اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ﴾
“Engkau memohonkan ampun bagi mereka atau tidak memohonkan ampun bagi mereka…” (QS. At-Taubah: 80)
Pada saat itu larangan yang tegas belum turun. Ayat tersebut masih dipahami sebagai pemberian pilihan kepada Rasulullah ﷺ.
Beliau bahkan bersabda, “Seandainya aku mengetahui bahwa apabila aku memohonkan ampun lebih dari tujuh puluh kali ia akan diampuni, niscaya aku akan melakukannya.”
Setelah Rasulullah ﷺ selesai menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay, Allah kemudian menurunkan firman-Nya,
﴿وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِّنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ﴾
“Janganlah engkau sekali-kali menyalatkan seorang pun di antara mereka yang mati dan jangan pula berdiri di atas kuburnya.” (QS. At-Taubah: 84)
Sejak saat itu, Nabi ﷺ tidak lagi menyalatkan orang-orang munafik yang diketahui hakikatnya.
Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,
Mengapa Rasulullah ﷺ Memberikan Gamis Beliau?
Para ulama menjelaskan beberapa hikmah.
Pertama: Membalas kebaikan
Pada Perang Badar, Al-Abbas—paman Nabi ﷺ—ditawan dalam keadaan tidak memiliki pakaian yang sesuai. Abdullah bin Ubay memberikan gamisnya kepada Al-Abbas.
Nabi ﷺ tidak melupakan jasa tersebut.
Sufyan bin ‘Uyainah berkata,
كَانَتْ لَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ يَدٌ، فَأَحَبَّ أَنْ يُكَافِئَهُ.
“Abdullah bin Ubay pernah memiliki suatu jasa kepada Nabi ﷺ, sehingga beliau ingin membalas kebaikannya.”
Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak boleh melupakan jasa orang lain, sekalipun orang tersebut memiliki banyak kesalahan.
Kedua: Menghibur hati putranya
Abdullah bin Abdullah adalah sahabat yang saleh. Nabi ﷺ memenuhi permintaannya sebagai bentuk penghormatan kepada seorang mukmin yang bertakwa. Beliau tidak ingin seorang anak yang saleh menanggung kesedihan lebih dalam karena kehilangan ayahnya.
Pelajaran Besar dari Kisah Ini
1. Jangan mewariskan permusuhan
Inilah pelajaran paling besar. Abdullah bin Ubay adalah musuh Rasulullah ﷺ. Namun Nabi ﷺ tidak memusuhi putranya. Beliau tidak berkata, “Engkau anak musuhku.” Beliau justru menghormatinya sebagai seorang sahabat. Betapa banyak manusia hari ini yang masih memusuhi anak karena kesalahan ayahnya, atau membenci keluarga seseorang karena pernah berselisih dengan salah satu anggotanya.
Padahal Allah berfirman,
﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾
“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)
2. Nilailah manusia berdasarkan dirinya
Islam tidak mengenal dosa turunan. Anak seorang munafik bisa menjadi penghuni surga. Sebaliknya, anak seorang nabi pun bisa menjadi penghuni neraka apabila memilih kekufuran. Yang dinilai Allah bukanlah keluarga, melainkan iman dan amal.
3. Kebencian tidak boleh menghilangkan keadilan
Allah Ta’ala berfirman,
﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾
“Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8) Nabi ﷺ membuktikan ayat ini dalam kehidupan nyata.
4. Balas budi adalah akhlak para nabi
Islam tidak mengajarkan melupakan jasa orang lain. Sekalipun Abdullah bin Ubay memiliki dosa yang sangat besar, Rasulullah ﷺ tetap mengingat satu kebaikan yang pernah ia lakukan.
Ini mengajarkan kepada kita agar tidak mudah menghapus seluruh kebaikan seseorang hanya karena satu kesalahan.
5. Akhlak yang mulia lebih kuat daripada dendam
Nabi ﷺ mampu membalas keburukan dengan kemuliaan akhlak. Beliau tidak pernah membiarkan dendam menguasai keputusan-keputusannya. Beliau selalu bertindak berdasarkan wahyu, keadilan, dan kasih sayang.
Inilah akhlak yang seharusnya hidup di tengah keluarga, masyarakat, bahkan di media sosial.
Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,
Penutup
Kisah Abdullah bin Ubay bin Salul mengajarkan bahwa Islam bukan agama yang membangun hubungan di atas dendam, tetapi di atas keadilan dan akhlak mulia. Rasulullah ﷺ tidak pernah mewariskan permusuhan kepada anak-anak atau keluarga orang yang memusuhinya. Beliau tetap membalas kebaikan, menjaga perasaan seorang sahabat yang saleh, dan berlaku adil sekalipun terhadap keluarga musuhnya.
Di zaman ketika permusuhan sering diwariskan antargenerasi, kisah ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan seorang mukmin bukan terletak pada kemampuannya membalas dendam, melainkan pada kemampuannya menjaga keadilan dan akhlak. Sebagaimana Rasulullah ﷺ, marilah kita menilai setiap orang berdasarkan iman, amal, dan akhlaknya, bukan berdasarkan keburukan keluarganya. Itulah akhlak kenabian yang patut kita teladani.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ لِي وَلَكُمْ، وَلِوَالِدِينَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ إِلَى اللَّهِ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْعَدْلُ بَيْنَ النَّاسِ، وَأَنْ لَا يَحْمِلَنَا الْغَضَبُ وَلَا الْعَدَاوَةُ عَلَى الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ. فَكُونُوا مِمَّنْ يَعْفُونَ وَيُحْسِنُونَ، وَاذْكُرُوا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ أَعْظَمَ النَّاسِ خُلُقًا، وَأَكْمَلَهُمْ عَدْلًا، وَأَوْفَاهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، فَاقْتَدُوا بِهِ، وَتَمَسَّكُوا بِسُنَّتِهِ، تَفُوزُوا بِخَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ، مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ،
﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Catatan:
Allah Ta’ala berfirman,
﴿لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ﴾
“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.” (QS. Al-Munafiqun: 8). Perkataan itu terjadi pada Perang (Ghazwah) Bani Musthaliq atau disebut juga Perang Al-Muraisi’ pada tahun 5 H (sebagian ulama mengatakan 6 H).
Kronologi Peristiwanya
Setelah kaum muslimin memenangkan Perang Bani Musthaliq, mereka singgah di sebuah mata air bernama Al-Muraisi’.
Di sana terjadi perselisihan kecil antara:
- Jahjah bin Sa’id (dari Muhajirin)
- Sinan bin Wabar Al-Juhani (sekutu Anshar)
Keduanya berebut air hingga saling memanggil kaumnya: “Wahai kaum Muhajirin!” dan “Wahai kaum Anshar!” Rasulullah ﷺ segera menegur,
«دَعُوهَا، فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ»
“Tinggalkan fanatisme seperti itu, karena ia adalah seruan yang busuk.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Abdullah bin Ubay Memanfaatkan Kesempatan
Melihat ada sedikit gesekan antara Muhajirin dan Anshar, Abdullah bin Ubay menganggap ini kesempatan untuk memecah belah kaum muslimin. Ia berkata kepada pengikutnya,
لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ
“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.”
Yang ia maksud:
- “Orang yang mulia” adalah dirinya dan kaum Anshar.
- “Orang yang hina” adalah Rasulullah ﷺ dan kaum Muhajirin.
Ucapan ini diabadikan Allah dalam Surah Al-Munafiqun ayat 8.
Didengar oleh Seorang Sahabat Muda
Ucapan tersebut didengar oleh Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu masih sangat muda. Ia segera melaporkannya kepada Rasulullah ﷺ. Awalnya Abdullah bin Ubay bersumpah bahwa ia tidak pernah mengucapkannya. Sebagian orang bahkan sempat membela Abdullah bin Ubay sehingga Zaid merasa sedih karena laporannya dianggap tidak benar. Namun tidak lama kemudian Allah menurunkan Surah Al-Munafiqun yang membenarkan laporan Zaid dan membongkar kedok Abdullah bin Ubay.
—–
Jumat, 7 Agustus 2027
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



