Manajemen Qolbu

Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur: Penjelasan Ibnul Qayyim

Setiap orang berharap diberi umur panjang. Namun, Islam mengajarkan bahwa yang paling berharga bukan sekadar panjangnya umur, melainkan keberkahannya. Tulisan Ibnul Qayyim rahimahullah berikut menjelaskan bagaimana maksiat dapat menghilangkan keberkahan hidup, bahkan menjadi sebab pendeknya umur dalam makna yang sangat mendalam.

 

 

Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

أَنَّ الْمَعَاصِيَ تُقَصِّرُ الْعُمُرَ وَتَمْحَقُ بَرَكَتَهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ الْبِرَّ كَمَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ، فَالْفُجُورُ يُقَصِّرُالْعُمُرَ.

Di antara dampak maksiat adalah memperpendek umur dan menghilangkan keberkahannya[1]. Sebagaimana kebaikan dapat menambah umur, keburukan justru memperpendeknya.

 

Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umur

فَقَالَتْ طَائِفَةٌ: نُقْصَانُ عُمُرِ الْعَاصِي هُوَ ذَهَابُ بَرَكَةِ عُمُرِهِ وَمَحْقُهَا عَلَيْهِ، وَهَذَا حَقٌّ، وَهُوَ بَعْضُ تَأْثِيرِالْمَعَاصِي.

Sebagian ulama mengatakan bahwa berkurangnya umur pelaku maksiat berarti hilangnya keberkahan dalam hidupnya. Ini benar adanya, dan merupakan salah satu dampak dari maksiat.

 

Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakiki

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ: بَلْ تُنْقِصُهُ حَقِيقَةً، كَمَا تُنْقِصُ الرِّزْقَ، فَجَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِلْبَرَكَةِ فِي الرِّزْقِ أَسْبَابًاكَثِيرَةً تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ، وَلِلْبَرَكَةِ فِي الْعُمُرِ أَسْبَابًا تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ.

Sebagian ulama berpendapat bahwa dosa benar-benar mengurangi umur secara hakiki, sebagaimana dosa juga dapat mengurangi rezeki. Allah, Mahasuci Dia, telah menetapkan banyak sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam rezeki sehingga rezeki itu bertambah dan meningkat. Demikian pula, Allah menetapkan sebab-sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam umur, yang menjadikannya lebih panjang dan penuh manfaat.

قَالُوا وَلَا تُمْنَعُ زِيَادَةُ الْعُمُرِ بِأَسْبَابٍ كَمَا يُنْقَصُ بِأَسْبَابٍ، فَالْأَرْزَاقُ وَالْآجَالُ، وَالسَّعَادَةُ وَالشَّقَاوَةُ،وَالصِّحَّةُ وَالْمَرَضُ، وَالْغِنَى وَالْفَقْرُ، وَإِنْ كَانَتْ بِقَضَاءِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ يَقْضِي مَا يَشَاءُ بِأَسْبَابٍجَعَلَهَا مُوجِبَةً لِمُسَبَّبَاتِهَا مُقْتَضِيَةً لَهَا.

Mereka mengatakan bahwa bertambahnya umur tidak terhalang oleh sebab-sebab tertentu, sebagaimana berkurangnya umur juga terjadi karena sebab-sebab tertentu. Hal ini serupa dengan rezeki dan ajal, kebahagiaan dan kesengsaraan, kesehatan dan penyakit, serta kekayaan dan kemiskinan. Semua itu, meskipun ditetapkan oleh keputusan Allah yang Mahaagung, tetap terjadi melalui sebab-sebab yang telah Allah tetapkan sebagai faktor penyebab bagi akibat-akibatnya, yang saling berkaitan dan sesuai dengan hikmah-Nya.

 

Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hati

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ أُخْرَى: تَأْثِيرُ الْمَعَاصِي فِي مَحْقِ الْعُمُرِ إِنَّمَا هُوَ بِأَنَّ حَقِيقَةَ الْحَيَاةِ هِيَ حَيَاةُ الْقَلْبِ،وَلِهَذَا جَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ الْكَافِرَ مَيِّتًا غَيْرَ حَيٍّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى، {أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ} [سُورَةُ النَّحْلِ: ٢١] .

Sebagian ulama lain berpendapat bahwa pengaruh maksiat dalam menghilangkan umur terletak pada hakikat kehidupan itu sendiri, yaitu kehidupan hati. Karena itulah Allah, Mahasuci Dia, menyebut orang kafir sebagai makhluk yang mati, bukan hidup, sebagaimana firman-Nya: “Mereka itu mati, tidak hidup.” (QS. An-Nahl: 21).

 

Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allah

فَالْحَيَاةُ فِي الْحَقِيقَةِ حَيَاةُ الْقَلْبِ، وَعُمُرُ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ فَلَيْسَ عُمُرُهُ إِلَّا أَوْقَاتَ حَيَاتِهِ بِاللَّهِ، فَتِلْكَسَاعَاتُ عُمُرِهِ، فَالْبِرُّ وَالتَّقْوَى وَالطَّاعَةُ تَزِيدُ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الَّتِي هِيَ حَقِيقَةُ عُمُرِهِ، وَلَا عُمُرَ لَهُسِوَاهَا.

Hakikat kehidupan sejati adalah kehidupan hati. Umur manusia pada hakikatnya adalah masa hidup hatinya. Tidak ada umur yang sebenarnya kecuali waktu-waktu yang ia jalani bersama Allah. Itulah jam-jam kehidupannya yang sejati. Kebaikan, ketakwaan, dan ketaatan menambah waktu-waktu ini, yang merupakan hakikat umur seseorang. Selain itu, tidak ada umur lain baginya selain waktu-waktu tersebut.

 

Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnya

وَبِالْجُمْلَةِ، فَالْعَبْدُ إِذَا أَعْرَضَ عَنِ اللَّهِ وَاشْتَغَلَ بِالْمَعَاصِي ضَاعَتْ عَلَيْهِ أَيَّامُ حَيَاتِهِ الْحَقِيقِيَّةُ الَّتِييَجِدُ غِبَّ إِضَاعَتِهَا يَوْمَ يَقُولُ: {يَالَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي} [سُورَةُ الْفَجْرِ: ٢٤] .

Secara keseluruhan, jika seorang hamba berpaling dari Allah dan sibuk dengan maksiat, maka ia telah menyia-nyiakan hari-hari dari kehidupannya yang sejati. Ia akan merasakan penyesalan atas waktu-waktu yang disia-siakan itu pada hari ketika ia berkata: “Alangkah baiknya jika aku dahulu mempersembahkan sesuatu untuk kehidupanku ini.” (QS. Al-Fajr: 24).

فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ مَعَ ذَلِكَ تَطَلُّعٌ إِلَى مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ أَوْ لَا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ تَطَلُّعٌإِلَى ذَلِكَ فَقَدْ ضَاعَ عَلَيْهِ عُمُرُهُ كُلُّهُ، وَذَهَبَتْ حَيَاتُهُ بَاطِلًا، وَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَلُّعٌ إِلَى ذَلِكَ طَالَتْ عَلَيْهِالطَّرِيقُ بِسَبَبِ الْعَوَائِقِ، وَتَعَسَّرَتْ عَلَيْهِ أَسْبَابُ الْخَيْرِ بِحَسْبِ اشْتِغَالِهِ بِأَضْدَادِهَا، وَذَلِكَ نُقْصَانٌحَقِيقِيٌّ مِنْ عُمُرِهِ.

Keadaan seseorang yang berpaling dari Allah akan terbagi menjadi dua: apakah ia masih memiliki perhatian terhadap kepentingan dunia dan akhiratnya, atau tidak. Jika ia sama sekali tidak memiliki perhatian terhadap hal itu, maka seluruh umurnya akan terbuang sia-sia, dan kehidupannya menjadi kosong tanpa makna. Namun, jika ia masih memiliki perhatian terhadap hal tersebut, jalannya akan terasa panjang karena berbagai penghalang, dan sebab-sebab kebaikan menjadi sulit baginya, sebanding dengan kesibukannya pada hal-hal yang bertentangan dengan kebaikan itu. Ini adalah bentuk nyata dari berkurangnya umur secara hakiki.

 

Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyim

وَسِرُّ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ عُمُرَ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ وَلَا حَيَاةَ لَهُ إِلَّا بِإِقْبَالِهِ عَلَى رَبِّهِ، وَالتَّنَعُّمِ بِحُبِّهِ وَذِكْرِهِ،وَإِيثَارِ مَرْضَاتِهِ.

Inti dari permasalahan ini adalah bahwa umur manusia sejatinya adalah masa hidupnya, dan tidak ada kehidupan yang sebenarnya kecuali dengan mendekat kepada Rabb-nya, menikmati cinta dan dzikir kepada-Nya, serta mengutamakan keridaan-Nya.

(Ad-Daawa Ad-Dawaa‘, hlm. 87-88)

 

Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:

اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ.

“Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.

فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ.

Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.

فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ.

Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.

فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ.

Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.

كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ

Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.

فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ.

Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.

فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ.
وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ.

Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.

Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.

فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ.

Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.

نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.

Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.”

 

Doa Agar Mendapat Umur yang Berkah

Doa Meminta Panjang Umur dan Diberkahi

اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي

ALLOOHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOYTANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THOO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LII

Artinya: Ya Allah perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadaku. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.

Baca juga: Doa Meminta Panjang Umur dan Banyak Harta

 

Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baik

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII, INNII TUBTU ILAIKA WA INNII MINAL MUSLIMIIN

Artinya: Wahai Rabb-ku, ilhamkanlah kepadaku untuk bersyukur atas nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada orang tuaku. Ilhamkan pula kepadaku untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al-Ahqaf ayat 15)

Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan di Usia 40 Tahun Menurut Islam?

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam tafsirnya:

فِي هَذِهِ الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِمَنْ بَلَغَ عُمْرُهُ أَرْبَعِينَ سَنَةً أَنْ يَسْتَكْثِرَ مِنْ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

“Pada ayat ini terdapat petunjuk bahwa seseorang yang telah mencapai usia empat puluh tahun hendaknya memperbanyak doa-doa yang disebutkan dalam ayat tersebut. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui.”

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini mengandung bimbingan bagi siapa saja yang telah mencapai usia empat puluh tahun agar ia memperbarui tobatnya, semakin kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan bertekad kuat untuk terus istiqamah di atas jalan tersebut.”

Namun, ayat ini tidak menunjukkan bahwa membaca doa ini hukumnya wajib. Sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak ada doa yang wajib dibaca selain doa memohon hidayah, yaitu doa yang kita baca dalam Surah Al-Fatihah pada setiap rakaat shalat.

 

Apa Itu Berkah (Barakah)?

[1] Berkah adalah konsep penting dalam Islam yang berkaitan dengan kelanggengan dan bertambahnya kebaikan dalam kehidupan seseorang. Pemahaman yang benar mengenai berkah akan membantu kita meraih manfaat yang lebih besar dari setiap nikmat yang Allah berikan.

Dalam bahasa Arab, berkah atau barakah bermakna tetapnya sesuatu dan juga dapat diartikan sebagai bertambah atau berkembangnya suatu hal. Tabriik merujuk pada doa agar seseorang mendapatkan keberkahan, sedangkan tabarruk adalah usaha untuk memperoleh keberkahan atau yang biasa dikenal sebagai “ngalap berkah.”

Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, barakah bermakna kelanggengan kebaikan, kadang juga berarti bertambahnya kebaikan, atau bahkan mencakup kedua makna tersebut sekaligus. Hal ini dapat kita temukan dalam doa keberkahan yang sering dibaca saat tasyahud, yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,

هٰذَا ٱلدُّعَاءُ يَتَضَمَّنُ إِعْطَاءَهُ مِنَ ٱلْخَيْرِ مَا أَعْطَاهُ لِآلِ إِبْرَاهِيمَ وَإِدَامَتَهُ وَثُبُوتَهُ لَهُ، وَمُضَاعَفَتَهُ لَهُ وَزِيَادَتَهُ، هٰذَا حَقِيقَةُ ٱلْبَرَكَةِ.

“Doa ini mencakup permohonan agar diberikan kebaikan sebagaimana yang diberikan kepada keluarga Ibrahim, serta agar kebaikan tersebut tetap ada, terus berlangsung, berlipat ganda, dan semakin bertambah. Inilah hakikat keberkahan.”

وَبِهٰذَا يَتَّضِحُ أَنَّ ٱلْبَرَكَةَ هِيَ ثُبُوتُ ٱلْخَيْرِ وَدَوَامُهُ، أَوْ كَثْرَةُ ٱلْخَيْرِ وَزِيَادَتُهُ، أَوْ هُمَا مَعًا.

Dari sini dapat dipahami bahwa berkah berarti:

  1. Kebaikan yang tetap dan terus berlangsung,
  2. Kebaikan yang banyak dan bertambah,
  3. Atau mencakup keduanya sekaligus.

Dalam salah satu doa iftitah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan:

وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ

“Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu.” (HR. Muslim, no. 771)

 

Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim

“Bukan panjangnya umur yang menentukan nilai hidup seseorang, tetapi keberkahannya. Dan keberkahan itu lahir dari ketaatan, sedangkan maksiat perlahan menghabiskan umur yang sebenarnya.”

 

Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan Datang

Di zaman sekarang, banyak orang sibuk mengejar usia panjang, kesehatan, dan kesuksesan, tetapi lalai menjaga keberkahan hidupnya. Maksiat yang dianggap sepele ternyata dapat menggerogoti nilai umur sedikit demi sedikit. Karena itu, jangan hanya menghitung berapa lama kita hidup, tetapi hitunglah berapa banyak waktu yang benar-benar kita gunakan untuk mendekat kepada Allah. Semoga Allah menjadikan sisa umur kita penuh keberkahan, dipenuhi amal saleh, dan ditutup dengan husnul khatimah.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى

Allāhumma bārik lanā fī a‘mārinā, wa waffiqnā li ṭā‘atika, wakhtim lanā bil-ḥusnā.

“Ya Allah, berkahilah umur kami, berilah kami taufik untuk selalu taat kepada-Mu, dan tutuplah kehidupan kami dengan akhir yang terbaik.”

 

Sebagian bahasan ini diambil dari buku DOSA ITU CANDU dan kumpulan doa dalam 50 DOA MENGATASI PROBLEM HIDUP. Untuk memesan buku-buku karya kami, bisa dapatkan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, di shopee dan tokopedia Rumayshostore, atau Rumaysho Digital.

 

—-

 

Selesai ditulis dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  dalam perjalanan menuju Sekar Kedhaton (Majelis Shafiyah Shalehah), Rabu, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 6   +   6   =  

Back to top button