Tafsir Al Qur'an

Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an: Apakah Nabi ﷺ Melihat Mereka?

Banyak orang mengira Nabi Muhammad ﷺ langsung bertemu dan berbicara dengan para jin ketika awal Surah Al-Jinn turun. Ternyata, hadits-hadits sahih menunjukkan bahwa peristiwa pertama terjadi tanpa sepengetahuan beliau; para jin hanya mendengar bacaan Al-Qur’an ketika beliau mengimami shalat Subuh. Lalu bagaimana sebenarnya kronologi lengkapnya, dan mengapa kisah ini juga disebut dalam Surah Al-Ahqaf? Simak penjelasannya hingga akhir.

 

 

Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat Subuh

Kisah jin yang disebut dalam Surah Al-Jinn terutama terjadi di Nakhlah (نَخْلَة), sebuah daerah di jalur menuju Pasar ‘Ukazh. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang bepergian bersama beberapa sahabat menuju Pasar ‘Ukazh dan melaksanakan shalat Subuh. Sekelompok jin yang sedang mencari sebab terhalangnya mereka dari mencuri berita langit mendengar bacaan Al-Qur’an Nabi ﷺ. Mereka pun menyimak, beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk berdakwah.

Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan:

وَهُوَ بِنَخْلَةَ، عَامِدِينَ إِلَى سُوقِ عُكَاظٍ، وَهُوَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ صَلَاةَ الْفَجْرِ، فَلَمَّا سَمِعُوا الْقُرْآنَ اسْتَمَعُوا لَهُ

“Ketika beliau berada di Nakhlah dalam perjalanan menuju Pasar ‘Ukazh dan sedang mengimami para sahabat dalam shalat Shubuh, tatkala jin mendengar Al-Qur’an, mereka pun menyimaknya.”

 

Apakah Nabi ﷺ Melihat Jin?

Pada peristiwa pertama ini, menurut riwayat Ibnu ‘Abbas, Nabi ﷺ tidak sengaja pergi menemui mereka dan tidak melihat mereka. Jin mendengar bacaan beliau tanpa beliau sadari. Setelah itu, Allah mewahyukan perkataan mereka:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ

“Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan.”

Namun, pertemuan Nabi ﷺ dengan jin tampaknya terjadi lebih dari sekali. Setelah peristiwa pertama di Nakhlah, terdapat riwayat sahih bahwa utusan jin datang kepada beliau. Nabi ﷺ kemudian pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Riwayat Muslim menyebutkan:

أَتَانِي دَاعِي الْجِنِّ، فَذَهَبْتُ مَعَهُ، فَقَرَأْتُ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ

“Utusan jin datang kepadaku. Aku pergi bersamanya, lalu aku membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”

Jadi, dua kisah ini perlu dibedakan:

1. Pertemuan pertama di Nakhlah: jin mendengar bacaan Nabi ﷺ ketika shalat Subuh tanpa beliau menyadari kehadiran mereka. Inilah sebab utama turunnya awal Surah Al-Jinn.

2. Pertemuan berikutnya atau Lailatul-Jinn: Nabi ﷺ sengaja mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.

Dalil yang paling jelas bahwa jin dapat melihat manusia, sedangkan manusia pada asalnya tidak dapat melihat jin, adalah firman Allah Ta’ala:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

Sesungguhnya ia (Iblis) dan golongannya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak dapat melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27) Ayat ini merupakan dalil yang sangat tegas bahwa:

  • Jin dan setan dapat melihat manusia.
  • Manusia pada asalnya tidak dapat melihat jin dalam wujud asli mereka.

 

Hubungan dengan Surah Al-Ahqaf

Kisah yang sama juga disebut dalam:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ

Dan ingatlah ketika Kami menghadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Ahqaf: 29)

Surah Al-Ahqaf menceritakan peristiwanya dari sisi kedatangan jin, penyimakan mereka, dan kepulangan mereka untuk memperingatkan kaumnya. Adapun Surah Al-Jinn banyak mengutip perkataan, pengakuan iman, dan keyakinan mereka setelah mendengar Al-Qur’an.

 

Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat Shubuh

Imam Al-Bukhari (no. 773) dan Muslim (no. 449) meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rasulullah ﷺ berangkat bersama sekelompok sahabat menuju Pasar ‘Ukazh. Pada saat itu, para setan telah dihalangi untuk mencuri berita dari langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang yang menyala (meteor). Maka para setan kembali kepada kaumnya. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”

Mereka menjawab, “Kami telah dihalangi dari berita langit dan kami dilempari dengan bintang-bintang yang menyala.”

Kaum mereka berkata, “Tidak mungkin ada sesuatu yang menghalangi kalian dari berita langit kecuali telah terjadi suatu peristiwa besar. Karena itu, pergilah ke seluruh penjuru bumi, ke timur maupun ke barat, lalu cari tahu apa yang telah menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”

Maka sekelompok jin yang menuju daerah Tihamah bertemu dengan Rasulullah ﷺ yang sedang berada di Nakhlah, dalam perjalanan menuju Pasar ‘Ukazh. Saat itu beliau sedang mengimami para sahabat melaksanakan shalat Subuh.

Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka berhenti dan menyimaknya dengan penuh perhatian.

Lalu mereka berkata, “Demi Allah, inilah yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”

Setelah itu mereka kembali kepada kaumnya dan berkata,

قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا

يَهْدِىٓ إِلَى ٱلرُّشْدِ فَـَٔامَنَّا بِهِۦ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدًا

Wahai kaum kami! Sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang sangat menakjubkan. Ia memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Maka kami pun beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami.” (QS. Al-Jinn: 1–2)

Lalu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya ﷺ:

قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا

Katakanlah (Muhammad), telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan (bacaan Al-Qur’an).” (QS. Al-Jinn: 1). Yang diwahyukan kepada beliau adalah ucapan para jin tersebut.

Dalam riwayat Muslim dari Ibnu Abbas disebutkan: “Rasulullah ﷺ tidak pernah membacakan Al-Qur’an kepada jin pada peristiwa itu dan beliau juga tidak melihat mereka.”

Kemudian Ibnu Abbas menyebutkan hadits yang sama, yaitu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama para sahabat menuju Pasar ‘Ukazh sementara para setan telah dihalangi dari berita langit.

 

Jin Mendengarkan Al-Qur’an Lebih Dari Satu Kali

Peristiwa jin mendengar bacaan Al-Qur’an ternyata terjadi lebih dari sekali, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadits. Mereka mendengar bacaan Al-Qur’an dari Nabi ﷺ pada beberapa kesempatan.

Ibnu Katsir ketika menjelaskan salah satu riwayat berkata, “Riwayat ini menunjukkan bahwa pada kesempatan tersebut Rasulullah ﷺ tidak menyadari kehadiran mereka. Jin hanya mendengarkan bacaan beliau, kemudian kembali kepada kaumnya. Setelah itu mereka datang lagi kepada beliau secara bergelombang, rombongan demi rombongan, sebagaimana akan disebutkan dalam riwayat-riwayat berikutnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291).

Imam Ibnu Katsir juga membawakan beberapa hadits tentang jin mendengarkan Al-Qur’an ketika menafsirkan firman Allah:

وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan!’ Setelah bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29). Liha Tafsir Ibnu Katsir (7/289).

Selanjutnya beliau berkata (7/296): “Seluruh jalur riwayat ini menunjukkan bahwa pada kesempatan lain Rasulullah ﷺ memang sengaja mendatangi para jin. Beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah, serta mengajarkan syariat yang mereka perlukan pada waktu itu. Sangat mungkin bahwa pada pertemuan pertama mereka hanya mendengar bacaan Al-Qur’an tanpa disadari oleh Nabi ﷺ, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas. Setelah itu mereka datang kembali kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud.”

 

Surah Apa yang Dibacakan Nabi ﷺ kepada Para Jin?

Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ membacakan Surah Ar-Rahman kepada mereka.
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

Ketika Rasulullah ﷺ selesai membacakan Surah Ar-Rahman kepada para sahabat, beliau bersabda,

“Mengapa aku melihat kalian diam saja? Sungguh, jawaban para jin lebih baik daripada jawaban kalian. Setiap kali aku membacakan kepada mereka ayat:

فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu berdua dustakan?’ (QS. Ar-Rahman: 13), mereka selalu menjawab: ‘Tidak ada satu pun nikmat-Mu, wahai Rabb kami, yang kami dustakan. Segala puji hanya bagi-Mu.'” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 3766) dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (4/115, no. 2264).

Namun, hadits ini tidak menafikan bahwa Nabi ﷺ juga pernah membacakan surah-surah lain kepada para jin. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi ﷺ dalam beberapa kesempatan yang berbeda, bukan hanya sekali.

 

Pelajaran Penting dari Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an

  1. Al-Qur’an adalah sumber hidayah bagi semua makhluk, bukan hanya manusia, tetapi juga jin.
  2. Hidayah datang kepada siapa saja yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh. Jin beriman karena mereka menyimak Al-Qur’an dengan penuh perhatian.
  3. Keimanan sejati melahirkan dakwah. Setelah beriman, para jin segera kembali mengajak kaumnya kepada tauhid.
  4. Tauhid adalah pesan pertama Al-Qur’an. Hal pertama yang mereka nyatakan adalah tidak mempersekutukan Allah.
  5. Mendengarkan Al-Qur’an lebih utama daripada sekadar mendengarnya lewat lalu. Jin berhenti dan fokus mendengarkan bacaan Nabi ﷺ.
  6. Kemuliaan Al-Qur’an diakui bahkan oleh jin. Mereka menyebutnya Qur’ānan ‘ajabā (bacaan yang menakjubkan).
  7. Petunjuk Al-Qur’an mengantarkan kepada jalan yang lurus, bukan sekadar menambah pengetahuan.
  8. Seorang dai tidak selalu mengetahui siapa yang mendapat hidayah melalui dakwahnya. Nabi ﷺ tidak menyadari para jin sedang mendengarkan bacaan beliau.
  9. Jangan meremehkan amal yang ikhlas. Bacaan Al-Qur’an Nabi ﷺ dalam shalat Subuh menjadi sebab masuk Islamnya sekelompok jin.
  10. Ilmu yang benar mendorong penyebaran kebaikan. Para jin tidak menyimpan hidayah untuk diri mereka sendiri, tetapi segera menyampaikannya kepada kaumnya.
  11. Al-Qur’an menjadi pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Jin langsung mengetahui bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah, bukan perkataan makhluk.
  12. Kesibukan mencari dunia tidak boleh melalaikan dari mendengarkan Al-Qur’an. Para jin yang sedang menjalankan misi justru menghentikan perjalanan mereka ketika mendengar firman Allah.

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهُدًى لَنَا إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ

Allāhumma ij‘alil-Qur’āna rabī‘a qulūbinā, wa nūra ṣudūrinā, wa hudan lanā ilā ṣirāṭikal-mustaqīm.

“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya bagi dada kami, dan petunjuk yang mengantarkan kami menuju jalan-Mu yang lurus.”

 

Referensi: Islamqa.Com

Baca Juga:

 

Ditulis pada Rabu pagi @ Kediaman di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal 

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 4   +   10   =  

Back to top button