Amalan

Mana yang Lebih Utama: Shalat, Membaca Al-Qur’an, Dzikir, atau Doa?

Sering kali kita bertanya, mana yang lebih utama: membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau berdoa? Jawabannya ternyata tidak sesederhana memilih satu amalan yang paling mulia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sebuah kaidah penting yang membantu seorang muslim menyusun prioritas ibadah sesuai tuntunan syariat, sehingga setiap amal dikerjakan pada waktu yang paling tepat dan paling bernilai di sisi Allah.

 

Ada pertanyaan pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,

وَسُئِلَ عَنْ رَجُلٍ أَرَادَ تَحْصِيلَ الثَّوَابِ: هَلِ الْأَفْضَلُ لَهُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، أَوِ الذِّكْرُ وَالتَّسْبِيحُ؟

Ada seseorang yang ingin memperoleh pahala sebanyak-banyaknya: manakah yang lebih utama baginya, membaca Al-Qur’an atau memperbanyak dzikir dan tasbih?

Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjawab,

قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَفْضَلُ مِنَ الذِّكْرِ، وَالذِّكْرُ أَفْضَلُ مِنَ الدُّعَاءِ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةِ؛ لَكِنْ قَدْ يَكُونُ الْمَفْضُولُ أَفْضَلَ مِنَ الْفَاضِلِ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ، كَمَا أَنَّ الصَّلَاةَ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ.
وَمَعَ هَذَا، فَالْقِرَاءَةُ وَالذِّكْرُ وَالدُّعَاءُ فِي أَوْقَاتِ النَّهْيِ عَنِ الصَّلَاةِ، كَالْأَوْقَاتِ الْخَمْسَةِ وَوَقْتِ الْخُطْبَةِ، هِيَ أَفْضَلُ مِنَ الصَّلَاةِ، وَالتَّسْبِيحُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ أَفْضَلُ مِنَ الْقِرَاءَةِ، وَالتَّشَهُّدُ الْأَخِيرُ أَفْضَلُ مِنَ الذِّكْرِ.

وَقَدْ يَكُونُ بَعْضُ النَّاسِ انْتِفَاعُهُ بِالْمَفْضُولِ أَكْثَرَ بِحَسَبِ حَالِهِ، إِمَّا لِاجْتِمَاعِ قَلْبِهِ عَلَيْهِ، وَانْشِرَاحِ صَدْرِهِ لَهُ، وَوُجُودِ قُوَّتِهِ لَهُ، مِثْلُ مَنْ يَجِدُ ذَلِكَ فِي الذِّكْرِ أَحْيَانًا دُونَ الْقِرَاءَةِ، فَيَكُونُ الْعَمَلُ الَّذِي أَتَى بِهِ عَلَى الْوَجْهِ الْكَامِلِ أَفْضَلَ فِي حَقِّهِ مِنَ الْعَمَلِ الَّذِي يَأْتِي بِهِ عَلَى الْوَجْهِ النَّاقِصِ، وَإِنْ كَانَ جِنْسُ هَذَا أَفْضَلَ. وَقَدْ يَكُونُ الرَّجُلُ عَاجِزًا عَنِ الْأَفْضَلِ، فَيَكُونُ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ فِي حَقِّهِ أَفْضَلَ لَهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Beliau menjawab, “Membaca Al-Qur’an lebih utama daripada dzikir, dan dzikir lebih utama daripada doa secara umum. Namun, dalam kondisi tertentu, amalan yang pada asalnya kurang utama bisa menjadi lebih utama daripada amalan yang lebih utama. Demikian pula, shalat lebih utama daripada seluruh amalan tersebut.”
Meskipun demikian, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa pada waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalat—seperti lima waktu larangan shalat dan ketika khatib sedang berkhutbah—lebih utama daripada mengerjakan shalat.

Demikian pula, bertasbih ketika rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an, dan membaca tasyahud akhir lebih utama daripada dzikir secara umum.

Bisa jadi ada seseorang yang justru memperoleh manfaat lebih besar dari amalan yang secara umum kurang utama, sesuai dengan keadaan dirinya. Hal itu karena hatinya lebih hadir ketika melakukannya, dadanya lebih lapang, dan ia lebih mampu melaksanakannya dengan baik. Misalnya, ada orang yang lebih mudah menghadirkan kekhusyukan ketika berdzikir daripada ketika membaca Al-Qur’an.

Dalam keadaan seperti itu, amalan yang ia lakukan dengan sempurna lebih utama baginya daripada amalan yang secara umum lebih utama tetapi ia kerjakan dengan kualitas yang kurang baik. Meskipun secara jenis, amalan yang kedua memang lebih utama.

Demikian pula, bisa saja seseorang tidak mampu mengerjakan amalan yang paling utama. Dalam kondisi seperti itu, amalan yang mampu ia lakukan justru menjadi yang paling utama baginya.

Wallahu a’lam. (Majmu’ Al-Fatawa, 23:63)

 

Dalam fatwa lain, Ibnu Taimiyyah menjelaskan kaidah yang sangat penting:

الشَّيْءُ إِذَا كَانَ أَفْضَلَ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةِ لَمْ يَجِبْ أَنْ يَكُونَ أَفْضَلَ فِي كُلِّ حَالٍ…

“Sesuatu yang lebih utama secara umum tidak berarti selalu menjadi yang paling utama dalam setiap keadaan….”

Lalu beliau memberi contoh:

  • tasbih ketika rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an,
  • tasyahud dan doa di akhir shalat lebih utama daripada membaca Al-Qur’an.

Baca juga: Amalan yang Utama Dilihat dari Waktu dan Tugas

 

Kaidah

Secara umum dilihat dari jinsul ‘ibadah (jenis ibadah), urutan ibadah yang afdal adalah:

  1. Shalat adalah ibadah paling utama setelah syahadat.
  2. Tilawah Al-Qur’an adalah dzikir yang paling utama.
  3. Dzikir lebih utama daripada doa.
  4. Doa tetap merupakan ibadah yang sangat agung, tetapi dalam penilaian jenis ibadah secara umum berada setelah dzikir.

Namun, sesuai waktu dan tempat yang disyariatkan, urutannya bisa berubah. Misalnya:

  • Menjawab azan lebih utama daripada terus membaca Al-Qur’an ketika azan berkumandang.
  • Dzikir pagi dan petang lebih utama daripada tilawah pada waktunya.
  • Tasbih saat rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an.
  • Doa pada Arafah, antara azan dan iqamah, atau pada sepertiga malam terakhir menjadi amalan yang paling utama pada waktu-waktu tersebut.

Kaidah ini sangat berguna ketika menyusun materi tentang keutamaan ibadah atau cara menenangkan hati, karena menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya mendahulukan ibadah yang paling utama sesuai kondisi dan waktunya, bukan hanya berdasarkan keutamaan secara umum.

 

—–

 

Malam Rabu, 28 Juli 2026

Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 10   +   6   =  

Back to top button