Amalan

Saat Takut Tersesat, Panjatkan Doa Ini

Kesesatan bukan hanya mengancam orang yang jauh dari agama, tetapi juga bisa menimpa siapa saja jika Allah tidak menjaganya. Karena itulah Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa yang penuh dengan penghambaan sebelum memohon agar tidak dibiarkan tersesat. Dari doa ini kita belajar bahwa menjaga hidayah jauh lebih penting daripada sekadar mengejar berbagai urusan dunia.

 

 

Doa Berlindung dari Kesesatan dan Tawakal Penuh kepada Allah

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

ALLOOHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA AAMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU, WA ILAIKA ANABTU, WA BIKA KHOOSHOMTU. ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BI ‘IZZATIKA LAA ILAAHA ILLAA ANTA AN TUDHILLANII. ANTAL HAYYU ALLADZII LAA YAMUUTU, WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUN.

Artinya: Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku kembali kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu dari segala hal yang bisa menyesatkanku–tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau–. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati. (HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma).

 

Penjelasan Maksud Doa

Sabda Nabi ﷺ, “لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ” (Hanya kepada-Mu aku berserah diri dan hanya kepada-Mu aku beriman), maksudnya adalah: aku tunduk dan patuh kepada-Mu, serta menerima seluruh ketetapan dan perintah-Mu. Di antaranya adalah pengakuanku dengan dua kalimat syahadat. Aku juga membenarkan keberadaan-Mu dan seluruh sifat-sifat kesempurnaan yang layak bagi-Mu. Pada kalimat ini terdapat isyarat adanya perbedaan antara iman dan Islam. Didahulukannya frasa “لَكَ” (hanya kepada-Mu) menunjukkan makna pengkhususan, yaitu bahwa aku hanya tunduk dan berserah diri kepada-Mu, bukan kepada selain-Mu.

“وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ” (Hanya kepada-Mu aku bertawakal), maksudnya: aku menyerahkan seluruh urusanku kepada-Mu.

“وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ” (Hanya kepada-Mu aku kembali), maksudnya: aku menghadap kepada-Mu dengan ibadah dan ketaatan, serta berpaling dari segala sesuatu selain-Mu.

“وَبِكَ خَاصَمْتُ” (Dengan pertolongan-Mu aku menghadapi musuh-musuhku), maksudnya: dengan pertolongan-Mu aku berhujah, membela agama-Mu, dan memerangi musuh-musuh-Mu dengan hujah, penjelasan, pedang, dan tombak.

“اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu), maksudnya Nabi ﷺ memohon perlindungan dengan sifat kemuliaan Allah. Kemuliaan (al-‘izzah) merupakan salah satu sifat Allah Ta’ala yang agung dan berasal dari nama-Nya Al-‘Aziz (Yang Mahaperkasa). Kemuliaan ini mengandung tiga makna: kemuliaan karena kekuatan dan kekuasaan, kemuliaan karena tidak dapat dikalahkan, serta kemuliaan karena keperkasaan dan kemenangan. Allah Tabaraka wa Ta’ala memiliki kemuliaan yang sempurna dalam ketiga makna tersebut.

 

KataMakna khususKandungan tarbiyah
لَكَ أَسْلَمْتُ(Aslamtu)Aku tunduk dan berserah diri sepenuhnya kepada-Mu. (Islam Web)Islam lahiriah; kepatuhan kepada seluruh syariat; ikhlas hanya untuk Allah.
وَبِكَ آمَنْتُ(Amantu)Aku membenarkan-Mu dan beriman kepada-Mu. (Islam Web)Iman batin kepada Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, janji dan ancaman-Nya.
وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ(Tawakkaltu)Aku menyerahkan seluruh urusanku kepada-Mu. (Islam Web)Ketergantungan penuh kepada Allah setelah melakukan sebab-sebab yang dibenarkan.
وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ(Anabtu)Aku kembali kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu. (Islam Web)Taubat terus-menerus, kembali dari maksiat menuju ketaatan, dari lalai menuju dzikir.
وَبِكَ خَاصَمْتُ(Khashamtu)Dengan pertolongan-Mu aku berhujah dan menghadapi musuh-musuh-Mu. (Islam Web)Membela agama dengan ilmu, hujah, dakwah, dan bila diperlukan dengan kekuatan yang dibenarkan syariat.

 

Penjelasan Isi Doa

Nabi ﷺ mengawali doa ini dengan menyebutkan beberapa bentuk ibadah yang paling agung dan kedudukan penghambaan yang paling tinggi kepada Allah Ta’ala. Hal itu menjadi wasilah yang sangat besar sebelum beliau memanjatkan permohonannya. Beliau mengkhususkan seluruh bentuk penghambaan kepada Allah, baik amalan hati maupun anggota badan. Beliau memulainya dengan pengakuan yang sempurna berupa Islam, iman, tawakal, kembali kepada Allah dalam seluruh urusan dunia dan agama, serta membela agama-Nya dan berjihad untuk menegakkannya dengan hujah maupun kekuatan. Semua itu didahulukan sebelum memohon kepada Allah agar doa lebih layak untuk dikabulkan. Sebab, wasilah didahulukan sebelum tujuan yang hendak dicapai.

Sabda Nabi ﷺ, “اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu), menunjukkan bahwa beliau memohon perlindungan dengan salah satu sifat Allah yang agung, yaitu kemuliaan-Nya yang sempurna. Barang siapa menginginkan kemuliaan, hendaklah ia memintanya kepada Allah Ta’ala. Allah Azza wa Jalla berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah seluruh kemuliaan.”

Kemuliaan tidak akan diperoleh kecuali dengan beriman kepada Allah, tunduk kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya dalam seluruh urusan. Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾

“Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Akan tetapi, orang-orang munafik tidak mengetahuinya.”

Beliau juga menggandengkan permohonan perlindungan itu dengan ucapan “لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ” (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau), yaitu untuk semakin menegaskan penghambaan hanya kepada Allah dan sebagai bentuk pengharapan agar doa lebih mudah dikabulkan.

Kemudian beliau berdoa, “أَنْ تُضِلَّنِي” (agar Engkau tidak membiarkanku tersesat), maksudnya agar Allah tidak membiarkannya tergelincir dan tersesat setelah memperoleh petunjuk. Tidak diragukan lagi bahwa didahulukannya berbagai bentuk pendekatan kepada Allah melalui amal saleh, penegasan tauhid kepada Rabb langit dan bumi, serta bertawasul dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya ketika memohon perlindungan dari kesesatan, menunjukkan betapa penting dan besarnya permintaan ini. Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ﴾

“Barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.”

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

﴿مَنْ يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾

“Barang siapa yang Allah kehendaki, Dia akan membiarkannya sesat. Dan barang siapa yang Dia kehendaki, Dia akan menempatkannya di atas jalan yang lurus.”

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa petunjuk dan kesesatan sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala, Rabb semesta alam.

Karena itu, seorang hamba hendaknya senantiasa memohon kepada Allah agar dilindungi dari kesesatan dan agar terus diberi petunjuk hingga bertemu dengan-Nya pada hari kiamat.

Dalam doa ini juga terdapat dalil bolehnya memohon perlindungan dengan salah satu sifat Allah Ta’ala yang agung.

Sabda beliau ﷺ, “أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ” (Engkaulah Dzat Yang Mahahidup yang tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia akan mati), merupakan penegasan bahwa hanya Allah yang memiliki kehidupan yang sempurna. Maksudnya, Engkaulah Dzat Yang Mahahidup, yang memiliki kehidupan yang sempurna, yang tidak pernah tersentuh sedikit pun kekurangan, dipenuhi seluruh kesempurnaan, dan mengandung seluruh sifat-sifat zat yang sempurna. Kehidupan Allah tidak pernah disertai rasa kantuk ataupun tidur, tidak akan lenyap dan tidak akan berakhir. Adapun seluruh makhluk pasti akan mati dan berakhir. Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ﴾

“Dan bertawakallah kepada Dzat Yang Mahahidup, yang tidak akan pernah mati.”

Allah Ta’ala juga berfirman:

﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ﴾

“Segala sesuatu akan binasa, kecuali Allah.”

Doa yang penuh berkah ini sejak awal, pertengahan, hingga akhirnya menghimpun dua bentuk tawasul yang sangat agung kepada Allah Ta’ala, yaitu bertawasul dengan amal saleh, seperti ucapan:

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ

“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, dan hanya kepada-Mu aku bertawakal.”

Serta bertawasul dengan nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, seperti ucapan:

أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

“Engkaulah Dzat Yang Mahahidup yang tidak akan pernah mati.”

Semua itu menunjukkan betapa pentingnya memohon perlindungan dari kesesatan. Sebab, kesesatan akan menyeret seseorang kepada kebinasaan, merusak agama, dunia, dan akhiratnya. Sebaliknya, apabila Allah melindungi seorang hamba dari kesesatan, ia akan selamat dari segala sesuatu yang ditakuti dan memperoleh segala sesuatu yang diharapkannya.

 

Kenapa Bisa Sesat?

Allah tidak menyesatkan seseorang secara sewenang-wenang.

Penyebab seseorang diberi hidayah antara lain:

  • berusaha mencari kebenaran;
  • mengamalkan ilmu;
  • bersungguh-sungguh menaati Allah.

Sedangkan penyebab seseorang disesatkan:

  • berpaling dari petunjuk;
  • enggan mengamalkan ilmu;
  • terus-menerus memilih maksiat;
  • menolak kebenaran setelah mengetahuinya.

 

Referensi: kalemtayeb.com

 

—-

 

Selesai ditulis di perjalanan Jogja menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 17 Juli 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 6   +   1   =  

Back to top button