Akhlaq

Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri

Ada penyakit hati yang sering tidak terasa, tetapi pelan-pelan merusak amal dan hubungan kita dengan sesama. Itulah ujub, sombong, angkuh, dan suka membanggakan diri. Tulisan ini mengajak kita mengenali penyakit tersebut, memahami bahayanya, lalu belajar cara membersihkan hati darinya.

 

 

Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong?

Ujub adalah rasa sangat senang seseorang terhadap kelebihan yang ada pada dirinya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang ujub,

رُؤْيَةُ نَفْسِهِ، وَغَيْبَتُهُ عَنْ شُهُودِ مِنَّةِ رَبِّهِ وَتَوْفِيقِهِ.

“Asalnya adalah seseorang memandang dirinya sendiri, sementara ia lalai dari menyaksikan karunia Rabbnya dan taufik-Nya.” (Al-Fawā’id, hlm. 152)

Khuyala’ adalah seseorang memandang dirinya lebih tinggi daripada keadaan sebenarnya, atau lebih tinggi daripada yang layak ia dapatkan, atau ia menampakkan kepada manusia keagungan dirinya.

Fakhr adalah membanggakan diri dengan berbagai kelebihan dan menyebut-nyebut keutamaan, dengan menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain.

 

Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’an

Sifat-sifat ini saling beririsan sehingga membuatnya sangat berkaitan satu sama lain, terutama fakhr dan khuyala’. Hampir tidak ada orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut, lalu ia selamat dari sifat yang menjadi saudaranya.

Seakan-akan sifat-sifat ini adalah saluran-saluran yang memancar dari satu sumber yang sama, yaitu kesombongan. Sumbernya adalah bayangan tentang kebesaran diri dan keutamaannya, serta keinginan agar makhluk mengagungkannya dan memujinya.

Karena itu, kita sering mendapati sifat-sifat ini disebutkan secara beriringan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)

Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah berkata, “Dikatakan: khāla ar-rajulu yakhūlu khaulan, yaitu ketika seseorang sombong dan merasa kagum terhadap dirinya sendiri.” Demikian dalam Al-Muḥarrar Al-Wajīz, 2/51.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Maksudnya adalah orang yang sombong dalam dirinya, merasa kagum terhadap dirinya, bersikap angkuh, dan membanggakan diri di hadapan manusia. Ia memandang dirinya lebih baik daripada mereka. Dalam pandangannya sendiri, ia adalah orang besar. Namun di sisi Allah, ia hina, dan di tengah manusia, ia dibenci. Demikian dalam Tafsīr Ibnu Katsīr, 2:301.

 

Semua Penyakit Ini Bersumber dari Kesombongan

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

فَالْفَخْرُ وَالْبَطَرُ وَالْأَشَرُ وَالْعُجْبُ وَالْحَسَدُ وَالْبَغْيُ وَالْخُيَلَاءُ وَالظُّلْمُ وَالْقَسْوَةُ وَالتَّجَبُّرُ وَالْإِعْرَاضُ وَإِبَاءُ قَبُولِ النَّصِيحَةِ وَالِاسْتِئْثَارُ وَطَلَبُ الْعُلُوِّ وَحُبُّ الْجَاهِ وَالرِّيَاسَةِ وَأَنْ يُحْمَدَ بِمَا لَمْ يَفْعَلْ، وَأَمْثَالُ ذَلِكَ؛ كُلُّهَا نَاشِئَةٌ مِنَ الْكِبْرِ.

“Fakhr, bathar, asyar, ujub, hasad, melampaui batas, khuyala’, zalim, keras hati, sewenang-wenang, berpaling, enggan menerima nasihat, mementingkan diri sendiri, mencari kedudukan tinggi, cinta kedudukan dan kepemimpinan, ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukan, dan hal-hal semisal itu, semuanya lahir dari kesombongan.” (Al-Fawā’id, hlm. 209).

Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga

 

Penyakit Hati Bisa Menjadi Karakter

Di antara manusia ada yang memang memiliki bawaan sebagian sifat buruk, seperti khuyala’ (angkuh), ujub, fakhr (membanggakan diri), sombong, dan sifat buruk lainnya. Namun ia terus melawan sifat-sifat tersebut hingga Allah menyembuhkannya darinya.

Ada pula orang yang semula selamat dari sifat-sifat buruk itu, tetapi ia terus berjalan di jalan yang membuatnya memiliki sifat tersebut, serta berteman dengan orang-orang yang memilikinya, hingga akhirnya sifat itu menjadi karakter yang melekat pada dirinya.

Tidak ada satu hati pun yang benar-benar kosong dari penyakit. Jika penyakit hati itu dibiarkan, ia akan menumpuk dan saling bertambah. Setiap manusia memiliki sebagian sifat baik dan sebagian sifat buruk. Ada orang yang menumbuhkan sifat-sifat baik dalam dirinya dan membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk, hingga ia menjadi seperti emas yang murni. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (QS. Asy-Syams: 9)

Ada pula yang sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10)

 

Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan Diri

Kesombongan adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat tersebut, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan urusannya. Karena fakhr dan khuyala’ sama-sama termasuk cabang kesombongan, maka setiap orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut akan mendapatkan bagian dari ancaman yang disebutkan tentang kesombongan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ.

Kebesaran adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2620 dan Abu Daud, no. 4090; lafaz ini milik Abu Daud).

Setiap orang yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang yang paling hina.

Orang yang sombong kepada manusia kelak pada hari kiamat akan diinjak di bawah telapak kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.

Dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُورَةِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، يُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى: بُولَسُ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ؛ طِينَةَ الْخَبَالِ.

“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka digiring menuju sebuah penjara di Jahanam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas menyelimuti mereka dari atas. Mereka diberi minum dari perasan penghuni neraka, yaitu thinatul khabal.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 2492 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025.

 

Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh Allah

Di antara dalil yang menyebutkan hukuman bagi orang yang kagum terhadap dirinya sendiri adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ رَأْسَهُ، يَخْتَالُ فِي مِشْيَتِهِ، إِذْ خَسَفَ اللهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

“Ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, dan ia berjalan dengan penuh keangkuhan, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalam bumi hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 3297 dan Muslim, no. 2088).

 

Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk Menghilangkannya

Banyak orang tidak mengetahui aib dirinya sendiri. Seseorang bisa melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi tidak melihat batang besar di matanya sendiri. Karena itu, siapa yang ingin mengenal dirinya—apakah ia memiliki sifat-sifat buruk ini atau tidak—dan ingin membersihkan diri darinya, maka ada beberapa cara yang dapat ditempuh, di antaranya:

  • Hendaknya ia memiliki seorang guru yang berilmu, mendidik, dan membimbing. Guru tersebut menunjukkan aib dirinya, membantunya meninggalkan akhlak yang rendah dan buruk, serta membimbingnya untuk berhias dengan adab dan akhlak yang mulia.
  • Hendaknya ia memperhatikan aib dirinya melalui nasihat orang-orang yang menasihatinya, arahan saudara-saudaranya, serta orang-orang yang bergaul dan berinteraksi dengannya. Jangan sampai kemarahannya demi membela diri dan keinginannya untuk menang membuatnya mengingkari kebenaran dan meninggalkan nasihat orang yang menasihatinya. Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي.

“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.”

  • Hendaknya ia membaca buku-buku tentang akhlak. Dari buku-buku itu, ia mengenal sifat-sifat orang yang sombong dan kagum terhadap dirinya sendiri, mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, lalu mengukurnya pada dirinya. Bisa jadi sebagian sifat tersebut ada pada dirinya, sementara ia tidak menyadarinya.
  • Hendaknya ia mengambil manfaat untuk mengenal aib dirinya dari ucapan musuh-musuhnya. Bisa jadi seseorang lebih banyak mengambil manfaat dari musuh yang sedang berseteru dengannya dan mengingatkan aib-aibnya, daripada dari teman yang suka berbasa-basi, memujinya, menyanjungnya, dan menyembunyikan aibnya.
  • Hendaknya ia bergaul dengan manusia. Setiap kali ia melihat sesuatu yang tercela dari akhlak dan perilaku manusia, hendaknya ia menuntut dirinya sendiri untuk menjauhinya. Pernah dikatakan kepada ‘Isa ‘alaihis salam, “Siapakah yang mendidikmu?” Beliau menjawab, “Tidak ada seorang pun yang mendidikku. Aku melihat kebodohan orang bodoh sebagai sesuatu yang buruk, maka aku pun menjauhinya.”
  • Hendaknya ia memandang dirinya seperti manusia lainnya. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ayah dan ibu sebagaimana ia juga lahir. Tolok ukur yang benar hanyalah takwa. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

  • Hendaknya ia mengetahui bahwa hak Allah ‘azza wa jalla jauh lebih besar daripada amal yang telah ia lakukan. Seandainya seluruh amalnya ditimbang pada hari kiamat, niscaya amal itu tidak akan sebanding dengan satu nikmat saja, seperti nikmat penglihatan. Lalu bagaimana dengan nikmat hidayah? Bagaimana pula dengan nikmat iman? Ia juga harus mengetahui bahwa Allah-lah yang memberinya taufik untuk melakukan amal tersebut. Lantas, mengapa ia harus ujub?
  • Hendaknya ia banyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberi hidayah dan taufik untuk memiliki akhlak yang baik serta dijauhkan dari akhlak yang buruk. Di antara doa Nabi ﷺ adalah,

وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.

WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.

Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan akhlak yang buruk dariku selain Engkau.” (HR. Muslim, no. 771)

 

Nasihat Terakhir

Di zaman media sosial, ujub dan sombong bisa tumbuh sangat halus melalui pujian, angka penonton, jumlah pengikut, dan komentar manusia. Seorang hamba perlu sering memeriksa niatnya, karena amal yang tampak besar bisa rusak ketika hati ingin dipuji. Jangan takut menerima nasihat, sebab orang yang menunjukkan aib kita bisa menjadi sebab keselamatan hati kita. Mintalah kepada Allah agar hati tetap rendah, amal diterima, dan diri dijauhkan dari bangga terhadap kelebihan sendiri.

اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.

ALLAAHUMMAHDINAA LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNAA SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNAA SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.

“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan kami dari akhlak yang buruk selain Engkau.”

 

Referensi: Islamqa, no. 260962

 

—-

 

Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 4   +   1   =  

Back to top button