AkhlaqManajemen Qolbu

NPD: Bahaya Narsistik dan Cinta Pujian

Mengupas fenomena narsistik (NPD) dari kacamata syariat—ketika cinta pujian menjelma menjadi penyakit yang merusak jiwa dan relasi.

Di zaman media sosial, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya sedang memberi makan ego lewat pujian, tampilan, dan validasi manusia. NPD atau gangguan kepribadian narsistik bukan sekadar suka tampil, tetapi bisa menjadi pola kepribadian yang merusak hubungan dan membuat seseorang sulit berempati. Islam sejak awal sudah mengingatkan bahaya kibr, ‘ujub, riya’, cinta pujian, dan merendahkan manusia.

 

 

Apa itu NPD?

NPD adalah gangguan kepribadian yang membuat seseorang sangat terpusat pada dirinya, haus pujian, merasa paling penting, sulit berempati, dan mudah merendahkan orang lain. Dalam tinjauan Islam, gejala-gejala ini sangat dekat dengan penyakit hati seperti kibr, ‘ujub, fakhr, khuyala’, cinta kedudukan, dan menolak nasihat. Media sosial bukan penyebab tunggal NPD, tetapi dapat memperkuat sifat narsistik ketika seseorang menjadikan popularitas, pujian, dan citra diri sebagai ukuran nilai dirinya. Solusinya harus menyatukan dua jalan: terapi psikologis oleh ahlinya dan tazkiyatun nafs melalui tawadhu, muhasabah, menerima nasihat, amal tersembunyi, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.

NPD adalah singkatan dari Narcissistic Personality Disorder, dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan sebagai gangguan kepribadian narsistik.

Secara klinis, NPD adalah pola kepribadian yang menetap, ditandai oleh rasa diri yang sangat penting atau grandiositas, kebutuhan kuat untuk dikagumi, kurang empati, rasa berhak, dan pola relasi yang sering eksploitatif atau bermasalah. Dalam DSM-5/DSM-5-TR, NPD termasuk gangguan kepribadian Cluster B, yaitu kelompok gangguan yang sering tampak dramatis, emosional, atau tidak stabil; diagnosis mensyaratkan pola yang menetap, kaku, maladaptif, dan menimbulkan gangguan fungsi atau penderitaan, bukan sekadar percaya diri tinggi.

 

Ciri-Ciri NPD yang Perlu Diwaspadai

Ciri yang sering disebut dalam literatur klinis adalah:

  • merasa diri sangat penting atau istimewa,
  • sibuk dengan fantasi sukses, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau status,
  • merasa hanya bisa dipahami oleh orang-orang “level tinggi”,
  • membutuhkan kekaguman berlebihan,
  • merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus,
  • mengeksploitasi orang lain,
  • kurang empati,
  • iri kepada orang lain atau yakin orang lain iri kepadanya,
  • bersikap arogan atau merendahkan.

Namun, catatan pentingnya: diagnosis tidak boleh dibuat dari satu-dua ciri saja, apalagi dari konflik rumah tangga semata. Diagnosis NPD memerlukan asesmen klinis oleh psikolog klinis/psikiater, wawancara mendalam, riwayat jangka panjang, dan pembedaan dari gangguan lain seperti bipolar mania, borderline personality disorder, antisocial personality disorder, depresi, trauma, atau sekadar gaya komunikasi buruk.

 

Apa Penyebab NPD?

Penyebab NPD tidak tunggal. Biasanya gabungan dari beberapa faktor:

Pertama: faktor bawaan dan temperamen.

Sebagian orang sejak kecil memiliki temperamen lebih dominan, sensitif terhadap penilaian, atau sangat butuh pengakuan.

Kedua: pola asuh yang keliru.

Dua pola yang sering dibahas dalam riset: anak terlalu dipuja seakan selalu istimewa, atau sebaliknya anak terlalu sering direndahkan sehingga ia membangun “topeng kebesaran” untuk menutup rasa rapuh.

Ketiga: pengalaman masa kecil yang buruk.

Trauma, penolakan, pengabaian, kekerasan emosional, keluarga tidak stabil, atau tuntutan berlebihan dapat menjadi faktor risiko. Review 2024 menyebut adverse childhood experiences sebagai faktor risiko penting dalam perkembangan NPD pada masa dewasa.

Keempat: lingkungan sosial yang memberi hadiah pada pamer diri.

Budaya yang terlalu mengukur nilai manusia dari popularitas, penampilan, kekayaan, jabatan, jumlah followers, dan pujian bisa memperkuat sifat narsistik.

 

Media Sosial dan Budaya Validasi

Media sosial tidak otomatis menyebabkan NPD, tetapi dapat menjadi ruang yang memperkuat sifat narsistik. Sistem like, komentar, follower, view, dan algoritma popularitas dapat membuat seseorang semakin haus validasi, ingin selalu tampil, sulit menerima kritik, dan membangun citra diri yang berlebihan. Dalam perspektif Islam, kondisi ini perlu diwaspadai karena dekat dengan penyakit hati seperti riya’, sum’ah, ujub, cinta pujian, sombong, dan merendahkan manusia. Karena itu, pengguna media sosial perlu terus meluruskan niat: apakah ia sedang mencari ridha Allah dan manfaat bagi manusia, atau sedang memberi makan ego dirinya sendiri?

Media sosial memberi ruang besar untuk:

  • mencari validasi,
  • mengejar likes dan komentar,
  • membangun citra diri palsu,
  • membandingkan diri,
  • ingin terkenal,
  • merasa hidup harus selalu terlihat hebat.

Media sosial tidak otomatis membuat orang menjadi NPD, tetapi budaya pamer, validasi, dan ingin viral dapat memperkuat sifat narsistik pada orang yang sudah punya kecenderungan ke arah itu.

Dalam bahasa syariat: medsos bisa menjadi ladang riya’, sum‘ah, ‘ujub, fakhr, hasad, dan hubbuzh zhuhur bila tidak dijaga dengan takwa.

 

Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD?

Jangan langsung melabeli. Tetapi ciri-ciri yang perlu diwaspadai:

  • Selalu ingin jadi pusat perhatian.
  • Sulit menerima kritik, bahkan nasihat lembut pun dianggap serangan.
  • Merasa dirinya paling berjasa, paling benar, paling pintar, atau paling layak dihormati.
  • Sering merendahkan orang lain, tetapi sangat marah jika dirinya direndahkan.
  • Butuh pujian terus-menerus.
  • Tidak mudah meminta maaf, atau meminta maaf hanya untuk mengendalikan situasi.
  • Kurang empati terhadap perasaan pasangan, anak, keluarga, atau teman.
  • Suka memanipulasi: membuat orang merasa bersalah, takut, atau bergantung kepadanya.
  • Relasi dekatnya sering rusak karena kontrol, penghinaan, atau drama.
  • Harga dirinya rapuh; kritik kecil bisa membuatnya marah besar, diam menghukum, atau menyerang balik.

Dalam istilah syariat, tanda yang paling jelas adalah dua hal dalam hadits:

  • بَطَرُ الْحَقِّ: menolak kebenaran.
  • غَمْطُ النَّاسِ: merendahkan manusia.

Dua hal ini sangat penting untuk membedakan antara percaya diri yang sehat dan kesombongan yang rusak.

 

Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPD

  • Percaya diri sehat: tahu kelebihan diri, tetapi tetap mau belajar, menerima nasihat, dan menghargai orang lain.
  • Sombong/kibr: merasa lebih tinggi, menolak kebenaran, merendahkan orang lain.
  • NPD: pola kepribadian yang menetap, berat, berulang, mengganggu relasi, pekerjaan, keluarga, dan biasanya sulit disadari oleh pelakunya sendiri.

 

Penanganan untuk Diri Sendiri

Bila seseorang merasa punya gejala narsistik, langkahnya:

Pertama: jangan bangga dengan label “narsis”.

Ini bukan identitas keren. Ini sinyal untuk muhasabah.

Kedua: belajar menerima kritik kecil.

Latih diri untuk diam dulu ketika dikoreksi. Jangan langsung membela diri.

Ketiga: catat pola diri.

Misalnya: “Kapan saya marah? Ketika tidak dipuji? Ketika dikritik? Ketika orang lain lebih berhasil?”

Keempat: latih empati.

Tanyakan: “Apa dampak ucapanku bagi orang lain? Apakah aku sedang ingin benar atau ingin menang?”

Kelima: kurangi panggung validasi.

Batasi kebiasaan mengecek likes, komentar, pujian, dan respons orang.

Keenam: perbanyak amal yang tidak diketahui orang.

Ini terapi syar’i yang sangat kuat untuk melawan cinta popularitas.

Ketujuh: cari bantuan profesional.

Terapi untuk NPD biasanya bukan obat utama, tetapi psikoterapi: membangun kesadaran diri, memperbaiki empati, mengatur emosi, dan memperbaiki relasi. Review klinis menyebut terapi NPD memang menantang karena ada pola kontrol, agresivitas, penghindaran, dan sulit membangun hubungan terapi, tetapi perubahan tetap mungkin dengan proses yang tepat.

 

Penanganan untuk Orang Sekitar

Bila menghadapi orang dengan sifat narsistik berat:

  • Jangan mudah terpancing debat panjang.
  • Tetapkan batasan yang jelas.
  • Jangan terus-menerus memberi “bahan bakar” berupa pujian palsu.
  • Jangan membalas penghinaan dengan penghinaan.
  • Pisahkan antara menghormati orang dan membiarkan kezaliman.
  • Dokumentasikan bila ada kekerasan, ancaman, atau manipulasi berat.
  • Ajak konsultasi ke ahli bila memungkinkan.
  • Dalam rumah tangga, libatkan mediator yang adil dan matang.
  • Jika ada kekerasan fisik atau ancaman serius, keselamatan korban harus didahulukan.

Dalam syariat, sabar bukan berarti membiarkan kezaliman. Tawadhu bukan berarti boleh diinjak-injak. Berbuat baik bukan berarti membenarkan perilaku merusak.

 

Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit Hati

Terapi kibr (sombong) adalah menyadari bahwa manusia sama-sama berasal dari ayah dan ibu, standar kemuliaan hanyalah takwa, mengingat kelemahan diri, dan memahami bahwa manusia membenci orang kasar lagi sombong, sedangkan Allah mencintai tawadhu.

Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga

 

‘Ujub dan fakhr (bangga diri), obatnya adalah menerima nasihat, tidak marah ketika dikoreksi, membaca kitab akhlak, mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain, menyadari bahwa kemuliaan bukan dengan pujian manusia, dan berdoa agar diberi akhlak yang baik.

Baca juga: Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri

 

Nasihat praktisnya:

Pertama: biasakan berkata, “Mungkin saya salah.”

Kedua: biasakan menerima nasihat tanpa langsung membantah.

Ketiga: sembunyikan sebagian amal.

Keempat: berteman dengan orang saleh yang berani menasihati.

Kelima: baca sirah Nabi ﷺ tentang tawadhu.

Keenam: ingat kematian, karena semua pangkat, popularitas, dan pujian akan selesai.

 

Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik

1. Larangan sombong, merendahkan orang, dan membanggakan diri

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Ayat ini sangat dekat dengan kritik terhadap sifat narsistik: merasa diri lebih tinggi, merendahkan orang lain, dan ingin tampak hebat di hadapan manusia.

2. Allah tidak mencintai orang sombong dan membanggakan diri

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)

Sifat mukhtal adalah merasa besar dalam diri, sedangkan fakhur adalah suka menampakkan kelebihan diri kepada orang lain. Dua sifat ini sangat dekat dengan perilaku haus pengakuan dan cinta pujian.

3. Jangan merasa diri paling suci

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Ini adalah dalil penting untuk mengkritik orang yang merasa dirinya paling baik, paling benar, paling saleh, paling berjasa, atau paling layak dipuji.

4. Jangan berjalan di bumi dengan angkuh

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak pula akan setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)

Ayat ini menghancurkan ilusi kebesaran diri. Sehebat apa pun manusia, ia tetap lemah, terbatas, dan tidak pantas menyombongkan diri.

5. Kisah Qarun: sombong karena prestasi dan kekayaan

Allah Ta’ala berfirman tentang Qarun,

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي

Qarun berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Al-Qashash: 78)

Ini adalah contoh sikap narsistik dalam bentuk merasa semua keberhasilan berasal dari kehebatan diri sendiri. Ia lupa bahwa nikmat itu dari Allah.

Allah juga berfirman,

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ

Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qashash: 81)

Ini menunjukkan bahaya besar ketika kekayaan, jabatan, ilmu, atau popularitas membuat seseorang merasa dirinya istimewa dan lebih tinggi dari orang lain.

6. Jangan mencela dan merendahkan orang lain

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada yang merendahkan.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Orang yang narsistik sering merasa dirinya lebih tinggi dan mudah merendahkan orang lain. Ayat ini mengingatkan bahwa bisa jadi orang yang ia rendahkan justru lebih mulia di sisi Allah.

7. Celaka bagi pencela dan pembanggakan harta

Allah Ta’ala berfirman,

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ۝ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ۝ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

Celakalah bagi setiap pencela dan pengumpat, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Ia mengira bahwa hartanya dapat membuatnya kekal.” (QS. Al-Humazah: 1–3)

Ayat ini mencela orang yang suka merendahkan orang lain, membanggakan hartanya, dan merasa dirinya aman karena apa yang ia miliki.

8. Orang yang ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukan

Allah Ta’ala berfirman,

وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ

Mereka suka dipuji atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Maka janganlah engkau mengira mereka akan selamat dari azab.” (QS. Ali ‘Imran: 188)

Ini sangat relevan dengan budaya pencitraan: ingin dipuji, ingin terlihat berjasa, ingin dianggap hebat, padahal tidak sesuai kenyataan.

 

Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik

1. Kibr adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”

Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus.”

Beliau bersabda,

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.

Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)

Ini dalil paling utama. Sifat narsistik yang paling berbahaya adalah dua hal ini: tidak mau menerima kebenaran dan mudah merendahkan orang lain.

2. Larangan bangga diri dan merasa lebih tinggi dari orang lain

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا، حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.

Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu, sampai tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada orang lain.” (HR. Muslim)

Hadits ini mengajarkan dua obat besar untuk sifat narsistik: tawadhu dan tidak menzalimi orang lain.

3. Orang sombong akan dihinakan pada hari kiamat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ.

Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah.” (HR. At-Tirmidzi)

Di dunia ia ingin terlihat besar. Pada hari kiamat, Allah hinakan ia menjadi sangat kecil.

4. Bahaya ‘ujub: kagum kepada diri sendiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ.

Tiga perkara yang membinasakan: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang kagum kepada dirinya sendiri.” (HR. Al-Baihaqi dan lainnya)

‘Ujub adalah penyakit inti dalam narsistik: seseorang terpukau dengan dirinya sendiri, kelebihan dirinya, pendapatnya, ilmunya, amalnya, atau statusnya.

5. Larangan merendahkan sesama muslim

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ.

Cukuplah seseorang dianggap buruk ketika ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)

Ini dalil tegas bahwa merendahkan orang lain sudah cukup menjadi tanda buruknya akhlak seseorang.

6. Larangan hasad, saling membenci, dan saling menjatuhkan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا.

Janganlah kalian saling hasad, jangan saling menipu dalam jual beli, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, jangan sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Orang yang narsistik sering sulit melihat orang lain berhasil. Ia mudah iri, merasa tersaingi, lalu ingin menjatuhkan. Hadits ini menutup jalan menuju kerusakan itu.

7. Larangan riya’ dan mencari pujian manusia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ.

Siapa yang memperdengarkan amalnya agar dipuji, Allah akan membongkar niatnya. Siapa yang berbuat riya, Allah akan menampakkan riya’nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini sangat relevan dengan narsistik spiritual: ibadah, ilmu, dakwah, sedekah, atau amal sosial dilakukan agar terlihat hebat di mata manusia.

8. Orang yang beramal besar tetapi niatnya ingin dipuji

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang orang yang belajar ilmu dan membaca Al-Qur’an, orang yang berjihad, dan orang yang bersedekah. Mereka ditanya tentang amalnya, lalu masing-masing mengaku beramal karena Allah. Namun dikatakan kepada mereka,

كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ.

“Engkau dusta. Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia seorang qari.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”

Dalam riwayat tentang orang yang berjihad,

وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِيُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ.

“Engkau berperang agar dikatakan, ‘Ia pemberani.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”

Dalam riwayat tentang orang yang bersedekah,

وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ.

“Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia dermawan.’ Dan pujian itu telah dikatakan.” (HR. Muslim)

Hadits ini sangat tajam untuk mengkritik orang yang menjadikan amal sebagai panggung pencitraan.

9. Orang yang tampil seolah memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak ia miliki

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ.

“Orang yang berpura-pura memiliki sesuatu yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini relevan dengan pencitraan palsu: ingin tampak kaya, tampak alim, tampak sukses, tampak berjasa, tampak saleh, padahal kenyataannya tidak demikian.

10. Orang yang berjalan dengan kagum pada dirinya sendiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Ketika ada seseorang berjalan dengan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalamnya sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahaya ketika penampilan membuat seseorang kagum kepada diri sendiri dan merasa lebih tinggi dari orang lain.

 

Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik

1. Tawadhu karena Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.

“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Orang yang ingin diangkat manusia sering jatuh dalam kesombongan. Orang yang merendahkan diri karena Allah justru akan diangkat oleh Allah.

2. Mencintai kebaikan untuk orang lain

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini obat besar untuk kurang empati. Orang yang sehat imannya tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga mencintai kebaikan untuk orang lain.

3. Doa berlindung dari syirik tersembunyi

Doa yang sangat relevan untuk membersihkan hati dari riya’, sum‘ah, dan ‘ujub adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampun kepada-Mu atas dosa syirik yang tidak aku ketahui.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani)

Doa ini sangat penting karena penyakit hati kadang sangat halus. Seseorang bisa merasa ikhlas, padahal sedang mencari pujian. Ia bisa merasa berdakwah, padahal sedang membangun citra diri. Ia bisa merasa menasihati, padahal sedang menunjukkan kehebatan dirinya.

 

—-

 

Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 5   +   5   =  

Back to top button