Banyak orang yang tersiksa oleh waswas dalam wudhu, shalat, talak, niat, bahkan dalam akidah, lalu mengira bahwa semua itu terjadi karena lemahnya iman. Padahal, sebagian kasus tersebut termasuk gangguan obsesif-kompulsif (OCD) yang memiliki karakteristik berbeda dengan waswas setan yang biasa. Tulisan ini akan membantu Anda memahami perbedaan keduanya, mengenali gejalanya, serta mengetahui panduan syariat dan terapi yang tepat untuk mengatasinya.
Penyakit waswas obsesif-kompulsif (OCD) adalah gangguan kejiwaan yang telah dikenal luas. Seseorang dapat mengalaminya tanpa kehendak dan tanpa pilihan dari dirinya sendiri. Sebagaimana penyakit fisik dan gangguan kejiwaan lainnya, OCD merupakan ujian dari Allah yang akan mendatangkan pahala bagi seorang hamba jika ia bersabar menghadapinya. Seorang hamba juga dianjurkan untuk mencari pengobatan, karena Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.
Penggunaan istilah waswas untuk menyebut penyakit ini menyebabkan terjadinya tumpang tindih pemahaman dengan waswas yang berasal dari diri sendiri atau dari setan. Keduanya memang memiliki kesamaan, yaitu muncul tanpa pilihan manusia. Namun, OCD berbeda karena memiliki faktor-faktor biologis sebagai penyebabnya. Selain itu, OCD ditandai dengan tingkat pengulangan, tekanan, dan dorongan yang jauh lebih kuat dibandingkan waswas biasa.
Tampaknya, kesamaan istilah inilah yang menjadi salah satu penyebab utama kekeliruan dalam memahami OCD. Banyak orang mencampuradukkan OCD dengan waswas yang berasal dari setan. Akibatnya, muncul berbagai kesalahan dalam penanganannya. Sebagian penderita juga menyalahkan diri sendiri dan mengira bahwa kondisi yang mereka alami disebabkan oleh lemahnya iman.
Karena alasan tersebut, sebagian pakar, seperti Dr. Wa’il Abu Hindi, mengusulkan agar istilah waswas pada penyakit ini diganti dengan istilah istihwadz qahri (gangguan dominasi kompulsif). Lihat kitab Al-Waswas Al-Qahri hlm. 18 dan seterusnya.
Apakah penjelasan ini berarti setan sama sekali tidak memiliki peran dalam munculnya OCD?
Tidak. Tetap ada kemungkinan bahwa setan memiliki hubungan dengan munculnya gangguan OCD. Namun, hal itu tidak mempengaruhi keimanan seseorang, juga tidak berpengaruh terhadap pahala dan dosa yang berkaitan dengan penyakit tersebut. Sebagai contoh, darah istihadhah pada wanita adalah persoalan biologis murni dan tidak berkaitan dengan keimanan penderitanya. Meskipun demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutnya sebagai:
رَكْضَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Satu gangguan dari setan.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 128 dan selainnya).
Maksudnya, OCD memiliki faktor-faktor penyebab berupa unsur keturunan, biologis, dan lingkungan. Faktor-faktor ini menjadikan sifat OCD berbeda dari waswas setan dalam pengertian yang biasa dikenal, sehingga cara memahami dan menanganinya pun berbeda.
Untuk memperjelas pembahasan tentang OCD dan cara menghadapinya, penjelasan selanjutnya akan disusun dalam beberapa poin pembahasan berikut.
Pengertian Waswas dalam Bahasa dan Istilah
Waswas dalam bahasa Arab
Ibnu Faris berkata:
“Huruf waw dan sin menunjukkan makna suara yang pelan dan tidak keras. Suara perhiasan disebut waswas. Bisikan pemburu disebut waswas. Godaan setan kepada anak Adam juga disebut waswas.”
Waswasah dan waswas—dengan huruf waw pertama dibaca fathah atau kasrah—berarti bisikan hati atau percakapan dalam diri.
Selain itu, waswasah juga berarti lintasan pikiran yang buruk, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya.” (QS. Al-A‘raf: 20)
Waswas juga bermakna bisikan yang tersembunyi dan sangat halus. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.” (QS. Qaf: 16)
Seseorang disebut muwaswis (orang yang banyak berwaswas) apabila waswas telah mendominasi dirinya.
Kata waswas juga digunakan untuk menyebut setan itu sendiri, yaitu dengan penggunaan kata sumber (masdar) untuk menunjukkan pelakunya. Dengan demikian, Al-Waswas menjadi salah satu nama setan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
“Dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia.” (QS. An-Nas: 4–5)
Waswas dalam Istilah
Waswas adalah bisikan yang datang dari diri sendiri atau dari setan mengenai sesuatu yang tidak mengandung manfaat dan kebaikan.
Hadits-Hadits Penting tentang Waswas
Hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membahas waswas dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori berikut:
1. Hadits yang Menjelaskan Bisikan Setan untuk Mengajak kepada Maksiat
Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
إن للشَّيطانِ للمَّةً بابنِ آدمَ، ولِلمَلك لَمَّةٌ، فأمَّا لمَّةُ الشَّيطانِ: فإيعادٌ بالشَّرِّ وتَكْذيبٌ بالحقِّ، وأمَّا لمَّةُ الملَكِ، فإيعادٌ بالخيرِ وتصديقٌ بالحقِّ. فمَن وجدَ ذلِكَ فليعلم أنَّهُ منَ اللَّهِ، فليحمَدِ اللَّهَ، ومن وجدَ الأخرى فليتعوَّذ منَ الشَّيطانِ. ثمَّ قرأَ: {الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا} [البقرة: 268] الآيةَ
“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak Adam, dan malaikat juga memiliki bisikan. Adapun bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Siapa yang mendapati bisikan yang baik, hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah dan memuji-Nya. Siapa yang mendapati selain itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari setan.”
Kemudian beliau membaca firman Allah:
“Setan menjanjikan kemiskinan kepada kalian dan menyuruh kalian berbuat keji. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268)
(HR. At-Tirmidzi no. 2988 dan An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 11051. Sanadnya dinilai sahih oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam ‘Umdatut Tafsir, 1:325).
2. Hadits yang Menunjukkan Bahwa Orang yang Mengalami Waswas Tetap Memiliki Iman yang Benar
a. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
Beberapa sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:
جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به، قال: (وقد وجدتموه؟) قالوا: نعم، قال: (ذاك صريح الإيمان)
“Sesungguhnya kami mendapati dalam diri kami sesuatu yang sangat berat sehingga salah seorang dari kami merasa enggan untuk mengucapkannya.”
Beliau bertanya: “Apakah kalian benar-benar mendapatinya?”
Mereka menjawab: “Ya.”
Beliau bersabda: “Itulah tanda iman yang murni.” (HR. Muslim no. 132).
Maksudnya, mereka mendapati lintasan pikiran yang buruk tentang agama atau tentang Allah, tetapi mereka sangat membencinya dan tidak berani mengungkapkannya.
b. Hadits Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang waswas, beliau menjawab:
تلك محض الإيمان
“Itu adalah iman yang murni.” (HR. Muslim no. 133).
3. Hadits yang Menjelaskan Bahwa Bisikan Hati Tidak Mendatangkan Dosa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا تُوَسْوِسُ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ بِهِ، أَوْ تَتَكَلَّمْ بِهِ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ.
“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama mereka tidak mengamalkannya atau mengucapkannya. Demikian pula terhadap sesuatu yang mereka dipaksa melakukannya.” (HR. Ibnu Majah; dinilai sahih dalam Shahih Ibnu Majah no. 1676).
4. Hadits yang Menisbatkan Waswas kepada Setan
a. Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَحَدَنَا يَجِدُ فِي نَفْسِهِ، يُعَرِّضُ بِالشَّيْءِ، لَأَنْ يَكُونَ حُمَمَةً أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ، فَقَالَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ كَيْدَهُ إِلَى الْوَسْوَسَةِ».
Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:
“Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami mendapati dalam dirinya sesuatu yang lebih ia sukai menjadi arang yang terbakar daripada mengucapkannya.”
Beliau bersabda: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan tipu daya setan hanya sebatas bisikan.” (HR. Abu Daud; dinilai sahih dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 5112).
b. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ أَحَالَ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يُسْمَعَ صَوْتُهُ، فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ، فَإِذَا سَمِعَ الْإِقَامَةَ ذَهَبَ حَتَّى لَا يُسْمَعَ صَوْتُهُ، فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ.
“Sesungguhnya ketika setan mendengar azan untuk shalat, ia lari sambil kentut agar tidak mendengar suara azan. Ketika azan selesai, ia kembali dan membisikkan waswas. Ketika iqamah dikumandangkan, ia pergi lagi. Setelah iqamah selesai, ia kembali dan membisikkan waswas.” (HR. Muslim no. 389).
5. Hadits yang Mengajarkan Pengobatan Praktis dengan Berlindung kepada Allah
a. Hadits Utsman bin Abil Ash radhiyallahu ‘anhu
أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ أَبِي الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي، يُلَبِّسُهَا عَلَيَّ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ، وَاتْفُلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا». قَالَ: فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي.
Utsman bin Abil Ash mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku sehingga membuatku bingung.”
Beliau bersabda, “Itu adalah setan yang disebut Khinzab. Jika engkau merasakannya, berlindunglah kepada Allah darinya dan meludahlah ringan ke sebelah kirimu tiga kali.”
Utsman berkata, “Aku melakukannya, lalu Allah menghilangkan gangguan itu dariku.” (HR. Muslim no. 2203).
b. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ، فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ».
“Setan akan datang kepada salah seorang dari kalian dan berkata: Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu? Hingga akhirnya ia berkata: Siapa yang menciptakan Tuhanmu? Jika ia telah sampai pada pertanyaan itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan menghentikannya.” (HR. Bukhari no. 3276 dan Muslim no. 134).
c. Hadits tentang Membaca Surah Al-Ikhlas
Dalam sebuah hadits disebutkan,
يُوشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يَقُولَ قَائِلُهُمْ: هَذَا اللَّهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ فَقُولُوا: اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ، وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، ثُمَّ لِيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا، وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ.
“Hampir saja manusia saling bertanya hingga ada yang berkata: Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Jika mereka mengatakan demikian, maka bacalah (surah Al-Ikhlas): ‘Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’ Kemudian meludahlah ringan ke sebelah kiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah dari setan.” (HR. dinilai sahih dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8182).
6. Hadits yang Mengajarkan Terapi Perilaku dalam Menghadapi Waswas
a. Mengatakan “Aku Beriman kepada Allah”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يُقَالَ: هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا، فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ.
“Manusia akan terus bertanya-tanya hingga dikatakan: Allah telah menciptakan seluruh makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Siapa yang mendapati hal itu, hendaklah ia mengatakan: ‘Aku beriman kepada Allah.’”
(HR. Abu Daud; dinilai sahih dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 4721).
b. Tidak Menghiraukan Keraguan yang Tidak Pasti
Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang merasa seolah-olah keluar sesuatu ketika shalat. Beliau bersabda,
لَا يَنْفَتِلْ – أَوْ لَا يَنْصَرِفْ – حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا.
“Janganlah ia membatalkan shalat atau meninggalkannya sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari no. 177).
Hadits ini mengajarkan prinsip penting dalam menghadapi waswas: jangan mengikuti keraguan dan dugaan semata, tetapi berpeganglah pada sesuatu yang benar-benar pasti.
Pelajaran dari Hadits-Hadits tentang Waswas
Ketika mencermati hadits-hadits yang telah disebutkan, kita dapat melihat bahwa hadits-hadits tersebut menjelaskan dua jenis utama waswas.
1. Waswas yang Mengajak kepada Maksiat
Jenis pertama adalah waswas yang mendorong seseorang untuk melihat, melakukan, atau mendengarkan sesuatu yang haram.
Waswas seperti ini merupakan bagian dari tabiat manusia. Ia masuk ke dalam jiwa melalui hawa nafsu, yaitu melalui hal-hal yang disukai dan diinginkan oleh seseorang. Waswas jenis ini bukanlah akibat gangguan biologis dan bukan pula penyakit pada dirinya sendiri. Karena itu, waswas semacam ini dapat dialami oleh seluruh manusia, tidak terbatas pada orang yang memiliki gangguan kejiwaan tertentu.
Respons seseorang terhadap waswas jenis inilah yang akan menjadi sebab ia mendapatkan pahala atau dosa di sisi Allah. Jika ia menolaknya, ia mendapatkan pahala. Jika ia mengikutinya, ia bisa terjatuh ke dalam maksiat.
Sumber waswas ini berasal dari tiga hal:
- Nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan (an-nafs al-ammarah bis-su’).
- Setan dari kalangan jin.
- Setan dari kalangan manusia.
Hanya saja, bisikan manusia biasanya berupa ucapan yang terdengar secara langsung, bukan sekadar lintasan pikiran dalam hati dan akal.
2. Waswas Berupa Keraguan yang Datang Sekilas
Jenis kedua adalah waswas dalam bentuk keraguan yang datang sesekali dan bukan menjadi kebiasaan yang terus-menerus.
Waswas ini dapat muncul dalam urusan agama maupun kehidupan sehari-hari. Misalnya seseorang mulai ragu terhadap keimanannya, wudhunya, shalatnya, sahabatnya, kerabatnya, atau merasa tidak fokus dan tidak khusyuk dalam shalat.
Berbeda dengan jenis pertama, waswas ini tidak mengajak seseorang kepada sesuatu yang ia sukai. Tujuannya adalah menanamkan keraguan dan kegelisahan dalam diri manusia. Keraguan itu bisa berkaitan dengan keyakinan yang ia pegang, atau mengenai suatu perbuatan apakah sudah dilakukan atau belum. Terkadang tujuan waswas ini hanyalah menyibukkan seseorang dari perkara-perkara yang seharusnya ia kerjakan dan yang bermanfaat baginya.
Waswas semacam ini biasanya dapat hilang dengan segera melalui:
- Berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.
- Mengingat bahwa pikiran-pikiran tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.
- Melawannya dengan kesungguhan dan sikap tegas terhadap diri sendiri.
Sumber utama waswas ini adalah setan, meskipun sebagian di antaranya mungkin berasal dari bisikan diri sendiri.
Perbedaan antara Waswas Biasa dan OCD
Para ulama Islam telah membedakan antara waswas yang datang sesekali seperti ini dengan jenis lain yang dalam dunia kedokteran modern dikenal sebagai gangguan obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder/OCD) atau waswas obsesif-kompulsif.
Al-Haththab rahimahullah berkata dalam Mawahib Al-Jalil (2:466):
“Orang yang disebut mustankih adalah orang yang selalu diliputi keraguan dalam setiap wudhu atau shalatnya, atau keraguan itu datang kepadanya sekali atau dua kali setiap hari. Adapun jika keraguan itu hanya muncul setelah dua atau tiga hari sekali, maka ia tidak termasuk orang yang mengalami waswas yang menetap (mustankih).”
Dengan demikian, tidak setiap keraguan yang muncul dalam ibadah termasuk gangguan waswas yang berat. Keraguan yang sesekali muncul masih tergolong hal yang biasa dialami manusia. Adapun jika keraguan itu terus berulang, mendominasi pikiran, dan sulit dikendalikan, maka keadaannya berbeda dan memerlukan penanganan yang lebih khusus.
Gangguan Waswas Obsesif-Kompulsif (OCD)
Hakikat Penyakit OCD (Obsessive-Compulsive Disorder – OCD)
Dalam buku Al-Bandul karya Dr. Muhammad Asy-Syami disebutkan:
“OCD adalah dominasi suatu pikiran tertentu yang memaksa dan terus-menerus hadir dalam diri penderitanya sehingga sulit dilawan. Pikiran tersebut terasa asing bagi dirinya. Ia sadar bahwa pikiran itu bukan berasal dari keinginannya, tidak sesuai dengan keyakinannya, dan tidak masuk akal menurut dirinya. Pikiran itu biasanya disertai rasa takut dan cemas, baik karena keberadaan pikiran itu sendiri maupun akibat yang ditimbulkannya. Namun, ia tidak mampu mengusirnya dari pikirannya. Pikiran tersebut terus berulang hingga mengganggu kehidupan sehari-harinya. Setelah itu, pikiran tersebut mendorongnya melakukan tindakan-tindakan kompulsif karena ia mengira tindakan itu akan mengurangi gangguan tersebut. Padahal kenyataannya, gangguan itu justru semakin bertambah seiring waktu.”
Definisi OCD Menurut DSM-5
Pedoman Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental Edisi Kelima (DSM-5), yang menjadi rujukan dunia medis internasional, menjelaskan bahwa OCD ditandai oleh adanya obsesi, tindakan kompulsif, atau keduanya.
A. Obsesi
Obsesi berupa:
- Pikiran, dorongan, atau gambaran yang muncul berulang-ulang dan menetap.
- Pada suatu waktu selama gangguan berlangsung, penderita merasakannya sebagai sesuatu yang menyusup, mengganggu, dan tidak diinginkan.
- Pikiran tersebut menimbulkan kecemasan atau tekanan psikologis yang nyata.
Penderita biasanya berusaha:
- Mengabaikan atau menekan pikiran tersebut.
- Menetralisirnya dengan pikiran lain atau dengan melakukan tindakan tertentu (kompulsi).
B. Tindakan Kompulsif
Tindakan kompulsif memiliki dua ciri utama:
Pertama, berupa perilaku berulang atau aktivitas mental yang dilakukan terus-menerus, seperti:
- Mencuci tangan berulang kali.
- Menata barang secara berlebihan.
- Memeriksa sesuatu berulang kali.
- Mengulang bacaan dalam shalat.
- Menghitung angka tertentu.
- Mengulang kata-kata dalam hati.
Penderita merasa terdorong untuk melakukannya sebagai respons terhadap obsesi atau karena adanya aturan yang menurutnya harus diterapkan secara ketat.
Kedua, tindakan tersebut dilakukan dengan tujuan:
- Mengurangi kecemasan atau tekanan batin.
- Mencegah terjadinya sesuatu yang dianggap buruk atau menakutkan.
Namun, tindakan itu sering kali:
- Tidak memiliki hubungan yang realistis dengan tujuan yang ingin dicapai.
- Atau dilakukan secara berlebihan.
Dampak OCD
Obsesi dan tindakan kompulsif biasanya:
- Menghabiskan banyak waktu (misalnya lebih dari satu jam setiap hari).
- Menimbulkan tekanan psikologis yang berat.
- Mengganggu kehidupan sosial.
- Mengganggu pekerjaan.
- Menghambat berbagai aktivitas penting lainnya.
Ciri-Ciri Pikiran yang Termasuk OCD
Dr. Wa’il Abu Hindi dalam Al-Waswas Al-Qahri min Manzhur ‘Arabi Islami (hlm. 19) merangkum ciri-ciri pikiran yang tergolong OCD sebagai berikut:
- Penderita merasa bahwa pikiran tersebut memaksa masuk ke dalam kesadarannya dan menguasai pikirannya tanpa kehendaknya, meskipun ia sadar bahwa pikiran itu berasal dari dirinya sendiri, bukan dari pengaruh luar.
- Penderita meyakini bahwa pikiran tersebut tidak masuk akal, tidak benar, tidak penting, dan sebenarnya tidak layak mendapatkan perhatian.
- Penderita terus-menerus berusaha melawan dan menolaknya.
- Penderita merasa bahwa pikiran tersebut memiliki kekuatan yang memaksa dirinya. Semakin ia melawan, semakin kuat dan sering pikiran itu muncul, sehingga ia terjebak dalam lingkaran pengulangan yang tidak berkesudahan.
Sejarah Istilah OCD
Orang pertama yang menyebut gangguan ini sebagai penyakit medis adalah dokter Prancis Jean Étienne Dominique pada tahun 1838. Saat itu gangguan ini dianggap sebagai salah satu bentuk kegilaan.
Kemudian pada tahun 1877, psikiater Jerman Karl Westphal turut membahasnya.
Pada tahun 1903, psikolog Prancis Pierre Janet menerbitkan buku berjudul Obsessions and Psychasthenia (Al-Waswas wa Adh-Dha‘f An-Nafsi).
Setelah itu, istilah ini semakin dikenal luas melalui berbagai tulisan Sigmund Freud, yang tersebar luas di dunia psikologi dan psikiatri.
Tingkat Penyebaran OCD
Banyak penderita OCD merasa bahwa hanya dirinya yang mengalami gangguan ini. Padahal kenyataannya, OCD termasuk gangguan yang cukup banyak ditemukan di masyarakat.
Diperkirakan sekitar 2–3% populasi mengalami OCD, atau sekitar 1 orang dari setiap 40 orang.
Pada anak-anak, angka kejadiannya sekitar 1 anak dari setiap 200 anak.
Karena itu, OCD bukanlah gangguan yang langka. Banyak orang mengalaminya, meskipun tidak semua berani menceritakan atau mencari bantuan untuk mengatasinya.
Jenis-Jenis Gangguan OCD
Gangguan obsesif-kompulsif (OCD) memiliki banyak bentuk dan variasi. Semuanya memiliki satu kesamaan, yaitu adanya suatu pikiran tertentu yang menguasai pikiran seseorang sehingga sulit ditolak. Pikiran tersebut kemudian memaksa penderitanya melakukan tindakan tertentu secara berulang.
Sulit untuk menyebutkan seluruh jenis OCD, tetapi berikut beberapa bentuk yang paling sering ditemukan.
A. OCD Kebersihan dan Kesucian
Pada jenis ini, penderita merasa ada bagian tubuhnya—biasanya tangan—yang belum bersih. Ia mencucinya, tetapi setelah selesai tetap merasa belum bersih sehingga kembali mencuci tangannya. Pikiran yang sama terus muncul dan tindakan mencuci terus berulang.
Terkadang ia mencuci tangan hingga satu jam atau lebih dalam sekali mencuci sampai kulit tangannya rusak dan terluka.
Hal yang sama juga dapat terjadi saat mandi. Ia mengulang mandi berkali-kali dan setiap kali berlangsung sangat lama, bisa sampai satu jam atau beberapa jam, karena merasa ada bagian tubuh yang belum dibersihkan dengan sempurna.
Meskipun sebenarnya ia merasa pikiran itu aneh dan mengganggu, lama-kelamaan ia mencari pembenaran dengan menganggap bahwa kebersihannya memang belum sempurna atau proses pembersihan sebelumnya belum cukup.
Jenis ini juga dapat muncul dalam bentuk ketakutan berlebihan terhadap virus dan bakteri. Fenomena ini banyak terlihat selama pandemi Covid-19 yang dimulai pada tahun 2020. Penderita terus-menerus melakukan sterilisasi dan pembersihan karena merasa hampir semua benda dapat menularkan penyakit.
Dalam kasus yang berat, seseorang bahkan enggan keluar rumah kecuali dalam keadaan sangat mendesak karena khawatir harus menjalani ritual pembersihan yang panjang dan melelahkan ketika kembali ke rumah.
Pada sebagian wanita, OCD ini muncul dalam bentuk rasa jijik yang berlebihan terhadap diri sendiri saat masa haid. Ia mencuci pakaian yang dikenakan setiap hari, mencuci seprai dan kursi yang digunakan, meskipun telah memakai pembalut dengan baik. Bahkan ia merasa jijik terhadap wanita lain yang sedang haid hingga melarang mereka duduk di tempat tidur, kursi, atau menggunakan kamar mandi pribadinya. Ia juga menghindari melewati tempat pembuangan sampah karena takut terdapat pembalut bekas di sana.
Pada sebagian laki-laki, OCD muncul dalam masalah sisa tetesan air kencing setelah buang air kecil. Mereka berusaha mengeluarkan seluruh sisa air kencing dengan berbagai cara, seperti batuk berulang kali atau menekan dengan keras, sehingga proses bersuci dan istinja menjadi sangat lama.
B. OCD dalam Shalat
Penderita terus-menerus ragu mengenai jumlah rakaat, rukuk, atau sujud yang telah dilakukan.
Karena keraguan tersebut, ia mengulang shalat berkali-kali untuk memastikan bahwa shalatnya sah. Ia juga sering melakukan sujud sahwi karena merasa ada banyak kekurangan dalam shalatnya.
Bentuk lain adalah keraguan mengenai niat shalat. Ia terus memikirkan apakah niatnya sudah benar atau belum, hingga berdiri lama sebelum memulai shalat. Bahkan terkadang waktu shalat hampir habis sementara ia masih sibuk memikirkan niat.
Sebagian penderita juga terus mengulang takbiratul ihram karena merasa takbir pertama belum benar.
C. OCD Pikiran-Pikiran Keagamaan
Jenis ini berupa munculnya pikiran atau kalimat yang buruk tentang Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agama Islam, atau Al-Qur’an.
Pikiran-pikiran tersebut sangat mengganggu karena penderita merasa dirinya telah keluar dari agama akibat pikiran itu, padahal sebenarnya ia membencinya dan tidak meyakininya.
Sebagian penderita terus mengulang syahadat karena mengira dirinya telah kafir dan harus masuk Islam kembali.
Jenis OCD ini sangat berbeda dengan pemikiran ateisme atau keraguan intelektual yang muncul karena syubhat. Pada OCD, penderita justru menolak dan membenci pikiran tersebut serta berusaha keras mengusirnya.
Menariknya, banyak penderita OCD jenis ini justru berasal dari kalangan yang memiliki semangat kuat dalam menjalankan agama.
D. OCD dalam Praktik Keagamaan
Bentuknya antara lain:
- Berlebihan dalam memperhatikan makhraj huruf saat berbicara atau membaca Al-Qur’an melebihi batas yang wajar.
- Terlalu ketat dalam tajwid hingga menjadi beban.
- Keraguan terus-menerus apakah telah menjatuhkan talak kepada istrinya atau belum.
- Keraguan terhadap kesucian air yang sebenarnya tidak ada tanda najis padanya.
- Keraguan apakah hewan sembelihan telah disebut nama Allah saat disembelih atau belum.
Pada penganut agama lain, bentuk OCD keagamaan dapat muncul dalam bentuk pengakuan dosa berulang-ulang atau ketakutan berlebihan terhadap simbol-simbol keagamaan tertentu.
E. OCD Memeriksa dan Memastikan
Penderita terus-menerus memeriksa sesuatu yang sebenarnya sudah diperiksa.
Misalnya:
- Mengecek pintu berkali-kali karena takut belum terkunci.
- Memeriksa jendela berulang kali.
- Memastikan kompor sudah dimatikan berkali-kali karena takut terjadi kebakaran.
Bahkan setelah keluar rumah, ia bisa kembali lagi hanya untuk memeriksa hal yang sama. Akibatnya, ia sering terlambat karena terlalu banyak memeriksa dan memastikan.
F. OCD Menghitung
Penderita merasa perlu menghitung sesuatu secara berulang.
Misalnya:
- Menghitung uang berkali-kali meskipun sudah mengetahui jumlahnya.
- Menghitung pulpen atau barang pribadinya berulang kali.
- Menghitung benda-benda di rumah seperti jumlah ubin lantai atau benda lainnya.
G. OCD Kerapian dan Keteraturan
Penderita tidak pernah merasa puas dalam menata barang-barangnya. Ia ingin segala sesuatu tersusun dengan:
- Simetris.
- Seimbang.
- Rapi sempurna.
Perubahan kecil saja dapat membuatnya sangat terganggu. Bahkan hal-hal sepele seperti posisi serat karpet pun bisa menjadi sumber kegelisahan.
H. OCD Bertema Seksual
Jenis ini memiliki berbagai bentuk, di antaranya:
- Pandangan yang secara tidak terkendali tertuju pada area sensitif tubuh orang lain, bukan karena syahwat, tetapi karena dorongan obsesif.
- Munculnya gambaran hubungan seksual dalam pikiran yang terus berulang tanpa keinginan untuk melakukannya.
- Ketakutan berlebihan bahwa dirinya akan melakukan pelecehan seksual terhadap wanita atau anak-anak, padahal ia sama sekali tidak menginginkannya.
- Ketakutan bahwa dirinya memiliki orientasi seksual tertentu, padahal kenyataannya tidak demikian.
Pada semua bentuk ini, penderita tidak menghendaki pikiran tersebut dan justru merasa terganggu olehnya.
I. OCD Bertema Menyakiti Orang Lain
Pada jenis ini muncul ketakutan atau gambaran bahwa dirinya akan mencelakai orang lain.
Misalnya seorang ibu merasa takut akan menyakiti anak-anaknya, padahal ia sangat mencintai mereka dan tidak pernah ingin melakukan hal itu.
Ada pula penderita yang terus membayangkan dirinya menusuk seseorang dengan pisau atau menembak orang lain dengan senjata api. Padahal ia bukan orang yang keras atau agresif dan sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melakukan tindakan tersebut.
Pikiran-pikiran tersebut muncul secara paksa, mengganggu, dan bertentangan dengan kepribadian serta keinginan asli penderita. Karena itulah pikiran tersebut menjadi sumber kecemasan yang besar bagi mereka.
Perbedaan antara OCD dan Waswas dari Setan
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, kita dapat membandingkan antara gangguan obsesif-kompulsif (OCD) dan waswas dari setan berdasarkan pemahaman syariat yang telah dikenal.



