Haji Terbaik: Memperbanyak Talbiyah dan Sembelihan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut haji terbaik adalah “al-‘ajj dan ats-tsajj”, yaitu memperbanyak talbiyah dan menyembelih hadyu. Apa makna di balik dua amalan ini? Simak penjelasan lengkapnya agar ibadah haji semakin bermakna dan sesuai sunnah.
Dari Shahih al-Jami’ dan Shahih at-Tirmidzi:
أَفْضَلُ الْحَجِّ الْعَجُّ وَالثَّجُّ
“Sebaik-baik haji adalah al-‘ajj dan ats-tsajj.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Beliau menjawab:
«الْعَجُّ وَالثَّجُّ»
“Haji yang disertai al-‘ajj dan ats-tsajj.”
(HR. Tirmidzi, no. 827; Ibnu Majah, no. 2924; Shahih Al-Jaami’, no. 1101; sahih menurut Syaikh Al-Albani)
Penjelasan makna hadits:
Haji merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Ibadah ini diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah. Di dalam pelaksanaannya terdapat pahala yang sangat besar. Haji dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan, bahkan seorang hamba kembali dalam keadaan bersih seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.
Dalam hadits ini, Abu Bakr ash-Shiddiq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Maksudnya, amalan apa yang paling utama dalam ibadah haji setelah terpenuhi seluruh rukun, syarat, dan kewajibannya.
Beliau menjawab:
Makna “العَجُّ” (al-‘ajj)
Al-‘ajj adalah mengeraskan suara dalam bertalbiyah, yaitu mengucapkan:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ
“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Talbiyah ini menunjukkan jawaban seorang hamba terhadap panggilan Allah. Di dalamnya terdapat pengagungan, kecintaan, ketundukan, dan komitmen untuk terus taat kepada-Nya.
Makna “الثَّجُّ” (ats-tsajj)
Ats-tsajj adalah menyembelih hewan hadyu dan kurban serta mengalirkan darahnya sebagai bentuk ibadah kepada Allah.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa ungkapan “al-‘ajj dan ats-tsajj” sebenarnya mencakup seluruh amalan haji. Sebab, ibadah haji dimulai dengan dzikir dan talbiyah, lalu diakhiri dengan penyembelihan hadyu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut awal dan akhir ibadah untuk menunjukkan kemuliaan seluruh rangkaian amal haji di antara keduanya.
Karena itu, seluruh amalan haji adalah amalan yang agung dan hendaknya disempurnakan dengan penuh keikhlasan, ketundukan, dan mengikuti tuntunan sunnah.
Di zaman sekarang, banyak orang sibuk mengabadikan perjalanan hajinya, tetapi lupa memperbanyak talbiyah dan dzikir. Jangan sampai semangat mendokumentasikan momen lebih besar daripada semangat menghadirkan hati kepada Allah. Haji adalah ibadah penghambaan, bukan sekadar perjalanan spiritual yang dipamerkan di media sosial. Semoga Allah menjadikan haji kaum Muslimin sebagai haji yang mabrur dan penuh keberkahan.
Baca Juga:
- Ucapan Talbiyah, Maksud, dan Aturan Pengucapannya untuk Jamaah Haji dan Umrah
- 7 Ibadah Hati yang Menjadikan Haji Mabrur
—-
Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, Hari Tarwiyah – 8 Dzulhijjah 1447 H, 25 Mei 2026
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



