Manajemen Qolbu

Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah: Ini Cara Mengatasinya

Perasaan cemas, takut masa depan, dan overthinking ternyata tidak selalu muncul karena hidup terlalu berat. Terkadang, hati hanya sedang lelah dan kehilangan tempat bergantung yang benar. Islam tidak menutup mata terhadap anxiety, bahkan memberikan langkah bertahap untuk menghadapinya dengan iman, doa, pola hidup sehat, dan tawakal kepada Allah. Dalam tulisan ini, kita akan belajar bagaimana mengelola kecemasan tanpa tenggelam dalam ketakutan dan tanpa kehilangan harapan.

 

 

Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di Islamqa

Pertanyaan no. 430992

Pada awalnya, saya adalah seorang gadis yang baru lulus kuliah. Saya menunda banyak hal dan sempat menikmati masa istirahat setelah lelah belajar bertahun-tahun. Namun, setelah beberapa bulan hanya di rumah, saya mulai menjalani rutinitas yang sama setiap hari: bangun tidur, makan, duduk bersama keluarga, lalu tidur lagi.

Selain itu, saya mulai kehilangan semangat untuk melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun, seperti membantu pekerjaan rumah, menonton film atau serial, bahkan keluar bersama teman-teman. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang tertutup atau introvert.

Lalu mulai muncul pikiran-pikiran waswas dalam diri saya, seperti merasa hidup ini tidak ada gunanya, dan hari esok hanya akan mengulang hari ini, lalu terus seperti itu seterusnya.

Karena itu, saya mencoba mengambil langkah positif untuk mengusir pikiran-pikiran tersebut. Saya mulai menjaga salat dan membaca satu juz Al-Qur’an setiap hari. Alhamdulillah, hidup saya mulai sedikit membaik.

Namun setelah beberapa waktu, muncul lagi perasaan bahwa ajal saya mungkin sudah dekat. Padahal saya tidak memiliki keinginan bunuh diri sama sekali. Saya jadi merasa bahwa semangat saya dalam beribadah dan berdzikir hanyalah karena kematian saya sudah dekat. Meskipun saya yakin sepenuhnya bahwa umur berada di tangan Allah. Pikiran-pikiran seperti ini biasanya datang ketika menjelang tidur atau di sela-sela waktu tertentu dalam sehari.

Jika saya mencoba mengabaikan pikiran-pikiran itu, saya justru kembali kepada pikiran sebelumnya, yaitu bahwa hari esok hanya akan mengulang hari ini, dan seterusnya.

Ditambah lagi, saya tidak bisa membicarakan masalah ini kepada keluarga saya, karena mereka akan menganggap ini hanya rasa malas biasa. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang dikenal sering sedih atau memiliki banyak masalah.

Karena itu, saya memutuskan untuk mengirim pesan ini kepada Anda. Semoga setelah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya bisa menemukan jalan keluar dari keadaan ini.

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du.

Pertama:

Perasaan cemas yang terus-menerus, hidup yang terasa monoton, hilangnya makna hidup, serta kesedihan dan kegelisahan yang menyertainya — semua perasaan ini bisa saja dialami oleh siapa pun, pada fase kehidupan apa pun.

Kecemasan yang dialami ini termasuk jenis yang disebut kecemasan karena rasa takut (anxiety of fears). Rasa takut bisa muncul sebagai respons terhadap berbagai keadaan. Ada orang yang takut gagal, takut menghadapi masa depan, takut tidak berhasil meraih kesuksesan, takut ditolak, takut konflik, takut hidup terasa tidak bermakna — yang terkadang disebut sebagai kecemasan eksistensial — juga takut terhadap penyakit, kematian, kesendirian, dan berbagai hal lainnya, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam bayangan.

Kedua:

Meskipun rasa cemas termasuk perasaan yang wajar dan bisa dialami siapa saja, dampaknya tidak boleh diremehkan. Jika kita memahami akibat-akibatnya, kita akan menyadari pentingnya mengelola dan mengendalikan kecemasan tersebut.

Di antara dampak dari kecemasan adalah:

Dampak Fisik

Sudah dikenal luas bahwa tekanan mental dan kecemasan yang berat dapat menyebabkan penyakit lambung, bahkan pada usia muda. Namun selain itu, ada pula dampak fisik lain dari kecemasan yang tidak banyak disadari, seperti sakit kepala, ruam kulit, nyeri punggung, gangguan pencernaan, sesak napas, insomnia, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan.

Lebih dari itu, perubahan tekanan darah, ketegangan otot, serta perubahan pada sistem pencernaan dan zat kimia dalam tubuh akibat kecemasan, jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.

Dampak Perilaku

Ketika rasa cemas semakin besar, kebanyakan orang tanpa sadar akan mencari perilaku atau pikiran tertentu untuk meredakan rasa sakit akibat kecemasan dan membantu dirinya bertahan.
Di antara perilaku yang bisa muncul akibat kecemasan adalah mencari pelarian melalui tidur berlebihan, narkoba, minuman keras, atau mencoba menyangkal bahwa dirinya sebenarnya sedang mengalami kecemasan yang mendalam.

Sebagian orang juga bisa berubah menjadi lebih mudah marah dari biasanya. Mereka menyalahkan orang lain atas masalah pribadinya, atau mudah meledak dalam luapan emosi layaknya anak kecil hanya karena gangguan kecil.

Dampak Ruhani

Terkadang kecemasan mendorong seseorang untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam suatu urusan, padahal sebelumnya ia jarang melakukannya. Ini bisa menjadi sisi positif dari kecemasan.
Namun di sisi lain, kecemasan juga bisa menjauhkan seseorang dari Allah pada saat ia sebenarnya paling membutuhkan-Nya. Bahkan orang yang taat beragama pun, ketika dipenuhi kegelisahan dan tekanan hidup, bisa merasa waktu salatnya berkurang dan kekhusyukannya dalam ibadah melemah.

Dampak Psikologis

Kecemasan juga dapat memicu munculnya berbagai gangguan psikologis, di antaranya:

  • Reaksi ketakutan berlebihan (phobia), seperti takut berada di tempat ramai atau situasi yang sulit untuk melarikan diri (agoraphobia), takut berada di tempat tertutup (claustrophobia), takut terhadap tempat tinggi (acrophobia), dan berbagai ketakutan sosial lainnya.
  • Gangguan pola makan, seperti hilangnya nafsu makan atau makan berlebihan. Gangguan ini biasanya berkaitan dengan kecemasan terhadap berat badan dan penampilan diri.
  • Gangguan gerak, karena sebagian gerakan otot yang tidak terkendali bisa berkaitan dengan kecemasan.

Ketiga:

Menurut yang tampak bagi kami, perasaan menyakitkan yang Anda alami berkaitan dengan perubahan pola hidup Anda menuju fase baru yang belum jelas arah masa depannya. Karena itu, Anda membutuhkan tujuan-tujuan baru dalam hidup yang mulai Anda susun dan kejar secara bertahap.

Masa istirahat setelah selesai studi tampaknya sudah saatnya diakhiri, lalu diganti dengan fase baru yang diisi dengan aktivitas yang bermanfaat. Baik berupa pekerjaan profesional, kegiatan sosial dan sukarela, maupun aktivitas positif lainnya.

Di samping itu, cobalah kembali menjalin hubungan dengan teman-teman dekat, mengunjungi kerabat, mempererat hubungan dengan orang tua dan saudara, serta memberi perhatian pada belajar ilmu agama dan berbagai kesibukan dunia maupun akhirat lainnya.

Aktivitas-aktivitas semacam ini dapat membangkitkan potensi diri, memberi semangat baru, serta membuat seseorang kembali merasakan makna hidup dan tujuan dari keberadaannya.

Keempat:

Ada beberapa nasihat yang banyak disebutkan dalam referensi psikologi untuk membantu menghadapi kecemasan. Kami ringkaskan untuk Anda dalam beberapa poin berikut:

1. Cobalah berbicara tentang ketakutan dan penyebab kecemasan Anda secara terbuka dan mendalam, semampu Anda mengungkapkannya.

Usahakan agar ketika Anda berbicara tentang hal tersebut, tidak banyak interupsi dari orang lain. Jangan pula meremehkan alasan yang membuat Anda cemas. Hindari mengucapkan kalimat seperti, “Ah, masalah ini sebenarnya tidak pantas dicemaskan!”

Sebaliknya, cobalah memahami dan mengungkapkan isi hati Anda dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:

  • Hal apa yang paling banyak membuat Anda gelisah?
  • Hal apa yang paling Anda takutkan?
  • Kekhawatiran apa yang sebenarnya tampak tidak terlalu penting?
  • Kekhawatiran apa yang menurut Anda benar-benar realistis?
  • Apakah Anda lebih mudah merasa cemas atau tegang pada waktu-waktu tertentu? Di tempat tertentu? Atau ketika bersama orang-orang tertentu?
  • Apakah ada waktu-waktu tertentu ketika perasaan cemas itu menghilang?
  • Pernahkah Anda mencoba melawan atau menghadapi perasaan-perasaan tersebut? Bagaimana caranya?

2. Setelah Anda mengungkapkan rasa cemas tersebut, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah bersikap lembut kepada diri sendiri, serta berempati terhadap diri Anda. Yakinlah bahwa Anda tidak sendirian dalam mengalami perasaan seperti ini.

Yang Anda butuhkan setelah itu adalah menerima diri sendiri dan memberikan kasih sayang kepada diri Anda. Sebab, kasih sayang adalah lawan dari rasa takut. Karena itu, berikanlah kasih sayang kepada diri sendiri, dan carilah lingkungan serta hubungan yang membuat Anda merasa dicintai dan dihargai.

3. Tempuhlah jalan yang benar dalam menghadapi kecemasan

Tujuan Anda bukanlah menghilangkan seluruh rasa cemas dari hidup, karena hal itu hampir mustahil dilakukan. Yang seharusnya menjadi tujuan adalah membekali diri agar mampu menghadapi kecemasan dengan baik dan benar.

Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:

  1. Mengakui bahwa Anda sedang cemas, memahami penyebabnya, lalu bertekad belajar bagaimana mengatasinya.
  2. Serahkan segala ketakutan Anda kepada Allah, dan raihlah rasa aman serta ketenangan melalui keyakinan bahwa Allah selalu menjaga Anda.
  3. Alihkan perhatian dari diri sendiri kepada orang lain. Sebab ketika seseorang berhenti terlalu fokus pada masalah pribadinya lalu mulai membantu orang lain, biasanya rasa cemasnya akan berkurang.
  4. Senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala, membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, dan mendengarkannya kapan pun memungkinkan, dengan berbagai sarana yang membantu untuk itu.

Allah Ta’ala berfirman:

ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Di antara dzikir yang sangat agung, terutama bagi orang yang sedih dan gelisah, adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ، فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي؟ فَقَالَ: «مَا شِئْتَ» قَالَ: قُلْتُ الرُّبُعَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: النِّصْفَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا؟ قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»

“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku sering bersalawat kepadamu. Berapa banyak dari doaku yang sebaiknya aku isi dengan shalawat untukmu?’

Beliau menjawab, ‘Terserah engkau.’

Aku berkata, ‘Seperempat?’

Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’

Aku berkata, ‘Setengah?’

Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’

Aku berkata, ‘Dua pertiga?’

Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’

Aku berkata, ‘Kalau begitu aku jadikan seluruh doaku untuk bersalawat kepadamu?’

Beliau bersabda, ‘Jika demikian, kegelisahanmu akan dicukupkan dan dosamu akan diampuni.’”

(HR. Ahmad no. 21241 dan Muhammad ibn Isa at-Tirmidhi no. 2457, beliau berkata: “Hadits hasan.”)

5. Shalat, doa, dan memohon perlindungan kepada Allah

Shalat dapat menjadi penenang dari rasa cemas. Karena itu, seharusnya salat menjadi respons pertama kita ketika kecemasan mulai memuncak.

Dari Hudhayfah ibn al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Apabila Nabi ﷺ menghadapi suatu persoalan yang berat, beliau segera melaksanakan salat.”
(HR. Abu Dawud no. 1319, dinyatakan hasan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)

Demikian pula dengan doa. Doa termasuk sarana terbesar yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya, terutama ketika menghadapi kegelisahan, ketakutan, serta rasa sakit jiwa maupun fisik.

Di antara doa yang paling agung dalam keadaan seperti ini adalah doa Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika berada di dalam perut ikan. Dengan doa yang agung ini — yang berisi tauhid kepada Allah, pengakuan dosa seorang hamba, dan kepasrahan kepada Rabb-nya — Allah menghilangkan kesusahan para hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ۝ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka ia berdoa dalam kegelapan, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami pun memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 87–88)

Dari Sa’d ibn Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa Dzun Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

LAA ILAHA ILLA ANTA SUBHAANAKA INNI KUNTU MINAZH ZHOLIMIIN

‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’

Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa ini dalam suatu urusan, melainkan Allah akan mengabulkannya.”

(HR. Tirmidzi no. 3505 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Hadits ini dihasankan oleh para peneliti Musnad Ahmad dan disahihkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani)

Demikian pula dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kegelisahan dan kesedihan.

Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Aku pernah melayani Rasulullah ﷺ ketika beliau singgah di suatu tempat. Aku sering mendengar beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

ALLAHUMMA INNI A‘UUDZU BIKA MINAL-HAMMI WAL-HAZAN, WAL-‘AJZI WAL-KASAL, WAL-BUKHLI WAL-JUBN, WA DHALA‘ID-DAINI WA GHALABATIR-RIJAAL.

‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan pengecut, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.’” (HR. Bukhari, no. 2893 dan Muslim, no. 1365)

6. Buatlah rencana tindakan

Susunlah langkah nyata untuk menghadapi tekanan jiwa dan kecemasan. Di antaranya sebagaimana disebutkan oleh Minirth dan Meier dalam buku Happiness Is a Choice (Kebahagiaan adalah Pilihan), yaitu:

  • Lakukan olahraga secara cukup dan rutin. Tiga kali dalam sepekan adalah pola yang ideal.
  • Tidurlah dengan cukup. Kebanyakan orang membutuhkan sekitar delapan jam tidur setiap malam.
  • Lakukan semampu Anda untuk menghadapi rasa takut atau masalah yang menjadi sumber kecemasan. Carilah berbagai alternatif dan solusi yang mungkin, lalu cobalah salah satunya.
  • Bicarakan hal-hal yang membebani hati Anda kepada sahabat dekat, minimal sekali dalam seminggu.
  • Lakukan aktivitas rekreasi atau hiburan yang positif, sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.
  • Jalani hidup hari demi hari. Belajar menjalani hidup “satu hari pada satu waktu” adalah keterampilan yang bisa dilatih. Kemungkinan besar, 98% hal yang kita cemaskan sebenarnya tidak akan pernah terjadi.
  • Bayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, lalu pikirkan kembali: mengapa hal itu sebenarnya tidak seburuk yang dibayangkan jika benar-benar terjadi.
  • Jangan menunda pekerjaan atau kewajiban. Sebab menunda-nunda justru akan menambah rasa cemas.
  • Berikan batas waktu untuk memikirkan kekhawatiran Anda. Jangan biarkan kegelisahan menguasai seluruh waktu dan pikiran Anda.

7. Membaca buku-buku yang bermanfaat

Seperti buku Jaddid Hayatak karya Muhammad al-Ghazali, buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni, serta buku How to Stop Worrying and Start Living karya Dale Carnegie.

8. Mencari bantuan profesional

Jika rasa cemas justru semakin berat meskipun Anda sudah berusaha mengatasinya, maka mungkin Anda perlu mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari dokter atau terapis psikologi, terutama jika kecemasan tersebut sudah berkembang menjadi gangguan yang lebih berat atau disertai serangan panik.
Sebagai penutup, kami memohon kepada Allah agar Dia melapangkan dada Anda serta menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari diri Anda.

Demikian penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dałam fatawanya.

 

Baca juga: Khutbah Jumat: Cara Mengatasi Kegalauan, Kekhawatiran, Kesedihan Menurut Islam

 

Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat Bersandar

Anxiety, yaitu rasa cemas dan gelisah yang terus-menerus tidak boleh dianggap sepele, tetapi juga tidak perlu langsung membuat seseorang merasa dirinya “rusak” atau kehilangan harapan. Perasaan seperti ini bisa dialami siapa saja dalam fase hidup tertentu. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar mengenali, memahami, dan mengelolanya dengan benar.

  • Langkah pertama adalah menyadari dan menerima bahwa dirinya sedang mengalami kecemasan, lalu mencoba mengungkapkan isi hati dan sumber ketakutannya dengan jujur. Setelah itu, ia perlu bersikap lebih lembut kepada dirinya sendiri, tidak terus menyalahkan diri, serta mencari lingkungan yang membuatnya merasa diterima dan dihargai.
  • Tahap berikutnya adalah membangun cara hidup yang sehat untuk menghadapi kecemasan: mendekat kepada Allah dengan shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, doa, dan memperbanyak shalawat; lalu diiringi dengan usaha nyata seperti olahraga, tidur cukup, tidak menunda pekerjaan, memiliki aktivitas positif, berbicara dengan orang terpercaya, serta belajar menjalani hidup hari demi hari tanpa terlalu tenggelam dalam ketakutan tentang masa depan.
  • Selain itu, seseorang juga dianjurkan mengalihkan fokus dari dirinya kepada membantu orang lain, karena terlalu larut memikirkan diri sendiri sering kali memperbesar rasa cemas. Membaca buku-buku yang bermanfaat juga dapat membantu memperbaiki pola pikir dan cara memandang hidup.
  • Namun jika kecemasan semakin berat, terus berulang, atau mulai mengganggu aktivitas dan ketenangan jiwa secara serius, maka mencari bantuan profesional adalah langkah yang baik dan bukan tanda lemahnya iman.

Inti dari semua langkah ini adalah: jangan melawan kecemasan sendirian dengan pikiran sendiri, tetapi hadapilah dengan iman, usaha yang bertahap, pola hidup yang sehat, dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada-Nya.

 

Penutup

Di tengah dunia yang semakin bising, banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya lelah di dalam. Pikiran penuh kekhawatiran, hati dipenuhi ketakutan tentang masa depan, rumah tangga, anak, jodoh, rezeki, hingga penilaian manusia.

Padahal, tidak semua kegelisahan bisa diselesaikan hanya dengan motivasi atau sekadar “healing”. Ada kegelisahan yang akar masalahnya jauh lebih dalam: hati yang mulai kehilangan tempat bergantung.

Karena itu, pembahasan Purity of Faith bukan sekadar kajian akidah yang teoritis. Tema ini justru sangat dekat dengan realita hidup muslim hari ini:

  • mengapa kita mudah overthinking,
  • mengapa hati sulit tenang,
  • mengapa kita terlalu takut kehilangan,
  • dan mengapa hidup terasa berat meski semuanya terlihat baik-baik saja.

Dalam pembahasan ini, kita akan belajar bahwa:

  • tauhid melahirkan ketenangan,
  • tawakal mengurangi kecemasan,
  • husnuzan kepada Allah menguatkan jiwa,
  • dan iman kepada takdir membuat hati lebih lapang menghadapi hidup.

Sebab hati yang mengenal Allah dengan benar tidak akan mudah runtuh hanya karena dunia berubah.

Insya-Allah tema besar ini akan dibahas lebih dalam dalam agenda: PURITY OF FAITH

Menata Hati, Menjernihkan Tauhid, dan Menemukan Ketenangan yang Sebenarnya.

Selama tiga hari, peserta tidak hanya diajak memahami akidah sebagai ilmu, tetapi juga merasakan bagaimana tauhid mampu:

  • menenangkan hati,
  • memperbaiki cara memandang ujian,
  • menguatkan rumah tangga,
  • mengendalikan overthinking,
  • dan membuat hidup lebih ringan dijalani.

Karena semakin hati mengenal Allah, semakin kecil rasa takut kepada dunia.

Dan mungkin… ketenangan yang selama ini dicari ke mana-mana, ternyata berawal dari satu hal: memurnikan iman kepada Allah.

Masih banyak kegelisahan hidup yang ternyata akar masalahnya bukan sekadar pikiran yang lelah, tetapi hati yang belum benar-benar mengenal Allah dengan benar. Karena itu, tema tentang anxiety, tawakal, ketenangan hati, dan kemurnian tauhid ini insya-Allah akan dikaji lebih dalam dalam agenda bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Ammi Nur Baits, dan Ustadz Erlan Iskandar.

Selama tiga hari, peserta akan diajak membedah buku panduan Purity of Faith sampai tuntas—membahas bagaimana tauhid mampu menenangkan hati, mengurangi overthinking, menguatkan rumah tangga, dan membuat hidup lebih lapang dalam menghadapi takdir Allah.

📞 Info pendaftaran: 0895-4295-66900 (Sindha)

📲 Ikuti update acara di Instagram: @shafiyahjourney

 

—-

 

Selesai ditulis di perjalanan Solo menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Dzulqa’dah 1447 H, 7 Mei 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 3   +   5   =  

Back to top button