Ketika Bekal Sedikit Jadi Banyak: Kisah Berkah di Perang Tabuk dan Rahasia Tauhid
Pernahkah Anda merasa rezeki terasa sempit dan tidak mencukupi? Kisah para sahabat di Perang Tabuk ini justru menunjukkan hal sebaliknya: sedikit bekal bisa menjadi melimpah dengan izin Allah. Dari sini, kita belajar bahwa keberkahan bukan soal jumlah, tetapi soal keimanan dan ketaatan.
Berkah Makanan dan Keutamaan Kalimat Tauhid
Hadits #416 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah)
ـ وعَنْ أبي هريرةَ ــ أَوْ أبي سعيدٍ الخُدْريِّ ــ رضي اللهَ عنهم شَكَّ الرَّاوِي، وَلا يَضُرُّ الشَّكُّ في عَينِ الصَّحابيِّ؛ لأنَّهُم كُلَّهُمْ عُدُولٌ، قال: لما كانَ غَزْوَةُ تَبُوكَ، أصابَ النَّاسَ مَجَاعَةٌ، فَقَالُوا: يا رَسُولَ الله لَوْ أَذِنْتَ لَنَا فَنَحَرْنَا نَوَاضِحَنا، فَأَكَلْنَا وَادَّهَنّا؟ فقَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «افْعَلُوا»، فَجَاءَ عُمَرُ رضي الله عنه، فقالَ: يا رَسُولَ الله، إنْ فَعَلْتَ قَلَّ الظَّهْر، وَلكِنِ ادْعُهُمْ بفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ، ثُمَّ ادْعُ اللهَ لَهُمْ عَلَيْهَا بِالبَرَكَةِ، لَعَلَّ اللهَ أَنْ يَجْعَلَ في ذلِكَ البَرَكَةَ فَقَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «نَعَمْ» فَدَعَا بِنِطعٍ فَبَسَطَهُ، ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ، فَجَعَلَ الرَّجُلُ يجِيءُ بِكَفِّ ذُرَةٍ، وَيجيءُ الآخَرُ بِكَفِّ تَمْرٍ، ويجيءُ الآخَرُ بِكسرَةٍ ، حَتىٰ اجْتَمَعَ عَلىٰ النِّطَعِ مِنْ ذلِكَ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَدَعَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم عليْهِ بِالبَرَكَةِ، ثُمَّ قَالَ: «خُذُوا في أَوْعِيَتِكُمْ» فَأَخَذُوا في أَوْعِيَتِهِمْ حتَّىٰ ما تَرَكُوا في العَسْكَرِ وِعَاءً إلَّا مَلَؤوه، وَأَكَلُوا حَتَّىٰ شَبِعُوا وَفَضَلَ فَضْلَةٌ، فقالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلهَ إلَّا الله، وأنّي رَسُولُ الله، لاَ يَلْقَىٰ اللهَ بهما عَبْدٌ غَيْرَ شاكً فَيُحْجَبَ عَنِ الجَنَّةِ». رواه مسلم.
Dari Abu Hurairah atau Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma—perawi ragu, namun keraguan tentang siapa sahabat yang meriwayatkan tidaklah merugikan karena semua sahabat itu adil—ia berkata:
Ketika Perang Tabuk terjadi, orang-orang tertimpa kelaparan. Mereka lalu berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika engkau mengizinkan kami menyembelih unta-unta kami, lalu kami memakannya dan memakai lemaknya?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lakukanlah.”
Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika itu dilakukan, kendaraan akan berkurang. Akan tetapi, suruhlah mereka membawa sisa bekal mereka, lalu berdoalah kepada Allah agar memberi keberkahan pada bekal itu. Mudah-mudahan Allah menjadikan keberkahan di dalamnya.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya.”
Beliau lalu meminta dibawakan nith‘, yaitu alas dari kulit, kemudian alas itu dibentangkan. Setelah itu, beliau meminta agar sisa bekal mereka dikumpulkan. Maka ada seseorang datang membawa segenggam jagung, yang lain membawa segenggam kurma, dan yang lain lagi membawa sepotong roti. Hingga akhirnya terkumpul di atas alas itu makanan dalam jumlah yang sangat sedikit.
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keberkahan pada makanan tersebut. Setelah itu beliau bersabda, “Ambillah dan isilah wadah-wadah kalian.”
Maka mereka pun mengisi wadah-wadah mereka. Tidak ada satu pun wadah di dalam perkemahan yang tersisa kecuali semuanya telah terisi penuh. Mereka makan sampai kenyang, bahkan masih ada sisanya.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنِ الْجَنَّةِ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba berjumpa dengan Allah dengan membawa dua kalimat ini, dalam keadaan tidak ragu terhadap keduanya, lalu ia terhalang dari surga.” (HR. Muslim)
Kosakata
- نَوَاضِحَنَا: bentuk jamak dari نَاضِح, yaitu unta yang dipakai untuk mengangkut air.
- الظَّهْر: hewan tunggangan yang dinaiki.
- فَضْلِ أَزْوَادِهِمْ: sisa bekal makanan mereka.
- الْبَرَكَة: bertambah, berkembang, dan banyak kebaikan.
- نِطْع: alas atau hamparan dari kulit.
Faedah Hadits
1. Dianjurkan bagi imam untuk mengajak pasukannya bermusyawarah, agar hal itu menjadi sarana bagi mereka untuk kokoh dan mantap dalam menjalankan urusan.
2. Adab para sahabat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu mereka meminta izin dalam perkara yang ingin mereka lakukan. Demikian pula, jamaah dianjurkan untuk tidak bertindak tanpa izin imam, karena bisa menimbulkan bahaya dan mudarat.
3. Menunjukkan ketepatan pendapat Umar radhiyallahu ‘anhu, baik dalam perencanaan maupun kedalaman ilmunya.
4. Kehidupan para salaf dahulu dibangun di atas musyawarah dan dialog. Mereka saling bertukar pendapat, dan Allah memberi mereka taufik menuju keputusan yang paling benar.
5. Tawadhu‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau menerima pendapat Umar radhiyallahu ‘anhu ketika di dalamnya terdapat maslahat.
6. Anjuran untuk saling bekerja sama di antara kaum muslimin dalam seluruh urusan mereka. Hal ini tampak jelas ketika masing-masing menyumbangkan sisa bekalnya; ada yang membawa segenggam gandum, ada yang membawa segenggam kurma, dan yang lain membawa sepotong roti.
7. Penetapan mukjizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bertambahnya makanan, dan peristiwa ini terjadi lebih dari sekali.
8. Penjelasan tentang keutamaan kalimat tauhid, bahwa kalimat tersebut adalah kunci surga selama seseorang tidak ragu terhadapnya.
Nasihat Penutup
Di zaman sekarang, banyak orang merasa kurang meski hartanya melimpah, karena keberkahan semakin sedikit. Belajarlah dari para sahabat: bukan banyaknya harta yang menentukan, tetapi keberkahannya. Biasakan berbagi, bermusyawarah, dan meminta doa dari orang saleh. Yang paling penting, perbaiki tauhid kita agar hidup penuh berkah dan akhirat selamat.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَاجْعَلْهُ عَوْنًا لَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَثَبِّتْنَا عَلَى التَّوْحِيدِ حَتَّىٰ نَلْقَاكَ
Allāhumma bārik lanā fīmā razaqtanā, waj‘alhu ‘awnan lanā ‘alā ṭā‘atika, wa thabbitnā ‘ala at-tauḥīd ḥattā nalqāka.
“Ya Allah, berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami, jadikan ia sebagai penolong dalam ketaatan kepada-Mu, dan tetapkan kami di atas tauhid hingga kami bertemu dengan-Mu.”
Referensi:
- Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.
- Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.
—-
Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin ke Imogiri, 4 Zulkaidah 1447 H, 20 April 2026
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



