Memaafkan Bisa, Melupakan Luka Butuh Proses (Belajar dari Kisah Wahsyi)
Apakah memaafkan berarti hati harus langsung pulih dan melupakan semua luka? Kisah Nabi ﷺ dengan Wahsyi memberi pelajaran yang sangat halus: beliau menerima taubat, tetapi tetap jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Dari kisah ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan rahmat, keadilan, dan ketulusan hati secara seimbang.
Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah?
Apakah Rasulullah ﷺ menolak bertemu dengan budak yang membunuh Hamzah, paman beliau, setelah ia masuk Islam?
Jawaban:
Nabi ﷺ pernah bertemu dengan Wahsyi—pembunuh Hamzah—ketika ia datang dalam keadaan telah masuk Islam. Peristiwa ini terjadi setelah penduduk Thaif masuk Islam.
Wahsyi menceritakan:
فَخَرَجْتُ مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَآنِي قَالَ: أَنْتَ وَحْشِيٌّ؟ قُلْتُ: نَعَمْ،
“Aku keluar bersama mereka hingga tiba di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya, ‘Apakah engkau Wahsyi?’
Aku menjawab, ‘Ya.’
قَالَ: أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ؟ قُلْتُ: قَدْ كَانَ مِنَ الْأَمْرِ مَا بَلَغَكَ،
Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau yang membunuh Hamzah?’
Aku menjawab, ‘Benar, sebagaimana yang telah sampai kepadamu.’
قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي؟ قَالَ: فَخَرَجْتُ.
Lalu beliau bersabda, ‘Apakah engkau bisa menjauhkan wajahmu dariku?’ Maka aku pun pergi (menjauh).”
Wahsyi melanjutkan: “Ketika Rasulullah ﷺ telah wafat, muncul Musailamah Al-Kazzab. Aku berkata, ‘Aku akan keluar menghadapi Musailamah. Mudah-mudahan aku bisa membunuhnya sebagai balasan atas Hamzah.’
Aku pun keluar bersama orang-orang. Terjadilah pertempuran sebagaimana yang terjadi. Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki berdiri di celah dinding, seperti unta berwarna kelabu dengan rambut yang acak-acakan. Aku pun melemparnya dengan tombakku hingga menembus dadanya dan keluar dari punggungnya. Lalu seorang laki-laki dari kalangan Anshar melompat dan menebas kepalanya dengan pedang.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari:
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Wahsyi diperkenalkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,
دَعُوهُ، فَلَإِسْلَامُ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قَتْلِ أَلْفِ كَافِرٍ.
“Biarkan dia. Sungguh, masuk Islamnya satu orang lebih aku cintai daripada terbunuhnya seribu orang kafir.”
Imam Ibnu Hajar memberikan beberapa kesimpulan:
أَنَّ الْمَرْءَ يَكْرَهُ أَنْ يَرَى مَنْ أَوْصَلَ إِلَى قَرِيبِهِ أَوْ صَدِيقِهِ أَذًى، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ وُقُوعُ الْهِجْرَةِ الْمَنْهِيِّ بَيْنَهُمَا، وَفِيهِ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا قَبْلَهُ. انْتَهَى.
Dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa seseorang wajar merasa tidak suka melihat orang yang telah menyakiti kerabat atau orang yang ia cintai. Namun, hal itu tidak berarti terjadinya pemutusan hubungan yang terlarang di antara keduanya. Di dalamnya juga terdapat kaidah bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang telah lalu.
Kesimpulan
Kisah Wahsyi mengajarkan satu pelajaran yang halus namun dalam: memaafkan tidak berarti luka harus langsung hilang, tetapi luka itu tidak boleh mendorong kita berbuat zalim atau menutup pintu taubat bagi orang lain.
Nabi ﷺ menerima keislaman Wahsyi sepenuhnya — tidak membalas, tidak menghukumnya atas masa lalu — namun beliau juga jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Di sinilah Islam tampak realistis: pemaafan itu mulia, dan perasaan manusiawi tetap diakui.
Dari kisah ini kita belajar bahwa tingkatan memaafkan itu bertahap — dari sekadar tidak membalas, hingga berlapang dada, hingga menutup kesalahan sepenuhnya. Yang terpenting: teruslah bergerak naik menuju pemaafan yang lebih sempurna, sesuai kemampuan.
Wallahu a’lam.
Bahasan ini terdapat dalam buku kami yang baru “SENI MEMAAFKAN”. Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 atau di Rumaysho Digital.
——-
Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Syawal 1447 H, 17 April 2026
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



