Aqidah

Mengenal Malaikat dalam Islam: Hakikat, Sifat, dan Tugasnya

Banyak orang mengimani malaikat, tetapi belum benar-benar memahami hakikat mereka. Padahal, mengenal malaikat bukan sekadar tambahan ilmu, tetapi bagian dari iman yang mendalam. Tulisan ini akan membantu Anda memahami siapa sebenarnya malaikat dalam Islam, sehingga iman menjadi lebih kokoh dan hidup.

 

 

Baca juga: Malaikat yang Selalu Patuh

 

Hakikat Malaikat dalam Islam

Malaikat (bentuk tunggalnya: malak) asal katanya adalah (ma’lak), kemudian diringankan dengan menghilangkan huruf hamzah sehingga menjadi malak. Kata ini berasal dari ma’lakah, ma’lakah, dan malā’akah yang berarti “risalah” (pesan). Disebut malaikat karena mereka menyampaikan dari Allah ‘Azza wa Jalla apa yang diutus kepada mereka untuk disampaikan kepada siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya. Akar kata (alaka) menunjukkan makna membawa atau memikul risalah.

Secara istilah, malaikat adalah makhluk dari makhluk Allah Ta’ala. Allah menciptakan mereka dari cahaya. Mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan, tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan, dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan. Mereka tidak disifati dengan laki-laki maupun perempuan, tidak makan, tidak minum, tidak menikah, tidak merasa bosan, dan tidak lelah. Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menutup mereka dari pandangan kita sehingga kita tidak dapat melihat mereka, namun terkadang Allah menampakkan mereka kepada sebagian hamba-Nya. Mereka mampu berubah bentuk dan menampakkan diri dalam berbagai rupa, serta memiliki kekuatan besar dan kemampuan tinggi untuk berpindah dan melakukan berbagai tugas.

Ibnu Hazm berkata: “Malaikat berdasarkan nash Al-Qur’an, sunnah, dan kesepakatan semua orang yang mengakui malaikat dari berbagai agama: mereka adalah makhluk berakal, beribadah, diberi perintah dan larangan.”

Ibnu Taimiyah berkata: “Nama malaikat mengandung makna bahwa mereka adalah utusan-utusan Allah, sebagaimana firman-Nya: ‘Yang menjadikan malaikat sebagai utusan’, dan firman-Nya: ‘Demi para malaikat yang diutus berturut-turut’. Maka malaikat adalah utusan Allah dalam melaksanakan perintah-Nya yang bersifat kauni (ketetapan alam semesta) yang dengannya Dia mengatur langit dan bumi, serta perintah-Nya yang bersifat syar’i yang dengannya para malaikat turun.”

Beliau juga berkata: “Telah diketahui secara pasti bahwa para rasul mengabarkan tentang malaikat dan jin, dan bahwa mereka adalah makhluk hidup, berbicara, berdiri sendiri, bukan sekadar sifat yang menempel pada selainnya. Allah juga menyifati malaikat dengan sifat-sifat yang menunjukkan bahwa mereka hidup dan berbicara, berbeda dari kekuatan manusia, akal, dan jiwa yang ditetapkan oleh para filsuf. Maka diketahui bahwa malaikat yang diberitakan para nabi tidak sama dengan apa yang dikatakan oleh mereka.”

Beliau juga berkata: “Malaikat termasuk makhluk yang nyata (bukan sekadar sifat), dan mereka adalah makhluk ciptaan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Tidak ada perbedaan di antara para pemeluk agama bahwa semua malaikat adalah makhluk.”

Al-Jurjani berkata: “Malaikat adalah jasad yang halus dan bercahaya, yang dapat menjelma dalam berbagai bentuk.”

As-Safarini berkata: “Yang benar, malaikat adalah makhluk yang berdiri sendiri, mampu berubah bentuk dengan kemampuan yang Allah berikan, sebagaimana telah ditetapkan dalam hadits-hadits sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Al-Alusi berkata: “Manusia berbeda pendapat tentang hakikat malaikat setelah sepakat bahwa mereka ada, baik secara dalil naqli maupun aqli. Mayoritas kaum muslimin berpendapat bahwa mereka adalah jasad bercahaya, dan ada yang mengatakan berupa makhluk halus seperti udara, yang mampu berubah bentuk dan menampakkan diri dalam berbagai rupa dengan izin Allah Ta’ala.”

Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Malaikat adalah alam gaib yang diciptakan, mereka beribadah kepada Allah Ta’ala, dan tidak memiliki sedikit pun sifat rububiyah dan uluhiyah. Allah menciptakan mereka dari cahaya, memberi mereka kepatuhan sempurna terhadap perintah-Nya, serta kemampuan untuk melaksanakannya. Jumlah mereka sangat banyak, tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah Ta’ala.”

Beliau juga berkata: “Mereka tidak makan dan tidak minum, mereka bertasbih siang dan malam tanpa henti. Mereka memiliki bentuk, amal, dan tugas-tugas yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah.”

 

Empat Pilar Iman kepada Malaikat

Iman kepada malaikat mencakup empat perkara:

  1. Meyakini keberadaan mereka dengan keyakinan yang pasti, tanpa ada keraguan sedikit pun.
  2. Mengimani nama-nama malaikat yang kita ketahui (seperti Jibril ‘alaihis salam). Adapun yang tidak kita ketahui namanya, maka kita mengimaninya secara umum.
  3. Mengimani sifat-sifat mereka, baik sifat penciptaan (fisik) maupun akhlaknya, yang telah kita ketahui.
  4. Mengimani tugas-tugas mereka yang telah kita ketahui.

Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata dalam menjelaskan hadits Jibril tentang rukun iman: “Makna sabda Nabi ‘dan kepada malaikat-Nya’ adalah engkau beriman kepada malaikat yang Allah sebutkan namanya dalam kitab-Nya, dan engkau juga beriman bahwa Allah memiliki malaikat selain mereka yang tidak diketahui nama dan jumlahnya kecuali oleh Dzat yang menciptakan mereka.”

Al-Hulaimi berkata: “Iman kepada malaikat mencakup beberapa makna. Pertama, membenarkan keberadaan mereka. Kedua, menempatkan mereka sesuai kedudukannya, yaitu meyakini bahwa mereka adalah hamba dan makhluk Allah seperti manusia dan jin, yang diperintah dan dibebani tugas, serta tidak mampu melakukan sesuatu kecuali dengan ketentuan Allah Ta’ala. Mereka tidak boleh disifati dengan sesuatu yang menyebabkan penyekutuan dengan Allah, dan tidak boleh dijadikan sebagai sesembahan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Ketiga, mengakui bahwa di antara mereka ada yang menjadi utusan Allah, yang diutus kepada siapa saja dari kalangan manusia yang Dia kehendaki.”

Beliau juga berkata: “Iman kepada malaikat bukan berarti meninggikan mereka melebihi kedudukannya, tetapi juga tidak mengurangi hak yang telah Allah berikan kepada mereka berupa keutamaan.”

Ibnu Hajar berkata: “Iman kepada malaikat adalah membenarkan keberadaan mereka, dan bahwa mereka sebagaimana yang Allah sifatkan, yaitu hamba-hamba yang dimuliakan. Penyebutan malaikat didahulukan daripada kitab dan rasul karena urutan yang terjadi dalam kenyataan, yaitu Allah mengutus malaikat dengan membawa kitab kepada rasul.”

Hafizh Al-Hakami dalam menyebutkan rukun iman berkata: “Yang kedua adalah iman kepada malaikat, yaitu para hamba Allah yang dimuliakan, sebagai perantara antara Allah Ta’ala dan para rasul-Nya ‘alaihimus shalatu was salam. Mereka mulia dari sisi penciptaan dan akhlak, mulia di sisi Allah Ta’ala, taat, suci zat, sifat, dan amalnya, serta selalu patuh kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka adalah hamba di antara hamba-hamba Allah, yang diciptakan dari cahaya untuk beribadah kepada-Nya. Mereka bukanlah anak-anak perempuan Allah, bukan pula anak-anak-Nya, bukan sekutu bagi-Nya, dan bukan tandingan bagi-Nya. Mahatinggi Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zalim, orang-orang yang mengingkari, dan orang-orang yang menyimpang, setinggi-tingginya.”

 

Buah Manis Iman kepada Malaikat

Iman kepada malaikat memiliki buah dan dampak yang agung, di antaranya:

1. Mengetahui keagungan Allah Ta’ala, kekuatan, dan kekuasaan-Nya. Karena besarnya makhluk menunjukkan kebesaran Sang Pencipta.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِن دَابَّةٍ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi serta makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia kehendaki.” (QS. Asy-Syura: 29)

Mujahid berkata tentang firman-Nya, “dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya”:
“Termasuk di dalamnya malaikat dan manusia.”

Ibnu Katsir berkata: “Ayat ini mencakup malaikat, jin, manusia, dan seluruh hewan, dengan berbagai bentuk, warna, bahasa, tabiat, jenis, dan macamnya. Allah menyebarkan mereka di berbagai penjuru langit dan bumi.”

2. Bersyukur kepada Allah Ta’ala atas perhatian-Nya kepada anak Adam, karena Dia menugaskan para malaikat untuk menjaga mereka, mencatat amal-amal mereka, dan mengurus berbagai kemaslahatan mereka.

3. Merasakan pengawasan Allah terhadap seorang hamba, serta adanya malaikat yang mencatat amal perbuatannya. Hal ini menjadi sebab untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah dan menjauhi perbuatan dosa.

4. Mengambil pelajaran dari ketaatan para malaikat, karena mereka tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan.

Allah Ta’ala berfirman:

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

5. Mencintai para malaikat atas ibadah yang mereka lakukan kepada Allah Ta’ala.

6. Bersemangat mendatangi tempat-tempat yang dicintai oleh malaikat, seperti masjid dan majelis ilmu.

Baca juga: Agar Dijaga oleh Allah Lewat Malaikat

 

 

—-

 

Selesai ditulis di Sekar Kedhaton, 20  Syawal 1447 H, 8 April 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 3   +   10   =  

Back to top button