Doa Paling Lengkap: Meminta Semua Kebaikan dan Cinta Allah
Doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini termasuk doa yang sangat agung dan mencakup seluruh kebaikan. Di dalamnya terkandung permohonan dunia dan akhirat sekaligus. Siapa yang memahaminya dan mengamalkannya, akan meraih kebahagiaan yang sempurna.
Kisah Hadits: Doa yang Diajarkan Langsung oleh Allah
Dalam hadits riwayat Tirmidzi disebutkan, hadits dari Mu’adz bin Jabal:
احْتُبِسَ عَنَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ غَدَاةٍ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ، حَتَّى كِدْنَا نَتَرَاءَى عَيْنَ الشَّمْسِ، فَخَرَجَ سَرِيعًا فَثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ، فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَجَوَّزَ فِي صَلَاتِهِ،
Pada suatu pagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlambat menemui kami untuk shalat Shubuh, sampai-sampai kami hampir melihat matahari terbit. Lalu beliau keluar dengan cepat, iqamah pun dikumandangkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengimami shalat dan meringankan shalat beliau.
فَلَمَّا سَلَّمَ دَعَا بِصَوْتِهِ
فَقَالَ لَنَا: عَلَى مَصَافِّكُمْ كَمَا أَنْتُمْ، ثُمَّ انْفَتَلَ إِلَيْنَا فَقَالَ: أَمَا إِنِّي سَأُحَدِّثُكُمْ مَا حَبَسَنِي عَنْكُمُ الْغَدَاةَ:
Setelah salam, beliau memanggil kami dengan suara keras, lalu bersabda, “Tetaplah di tempat shaf kalian sebagaimana adanya.” Kemudian beliau menoleh kepada kami dan bersabda, “Sungguh, aku akan menceritakan kepada kalian apa yang membuatku tertahan dari menemui kalian pagi ini.
إِنِّي قُمْتُ مِنَ اللَّيْلِ فَتَوَضَّأْتُ فَصَلَّيْتُ مَا قُدِّرَ لِي، فَنَعَسْتُ فِي صَلَاتِي فَاسْتَثْقَلْتُ،
فَإِذَا أَنَا بِرَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، قُلْتُ: رَبِّ لَبَّيْكَ، قَالَ: فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى؟
قُلْتُ: لَا أَدْرِي رَبِّ، قَالَهَا ثَلَاثًا،
Tadi malam aku bangun, lalu berwudhu dan mengerjakan shalat semampuku. Kemudian aku mengantuk dalam shalatku hingga terasa berat. Tiba-tiba aku melihat Rabbku Tabaraka wa Ta‘ala dalam bentuk yang paling indah. Lalu Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad.’ Aku menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Rabbku.’ Dia berfirman, ‘Tentang apa para malaikat di tempat yang tinggi saling memperbincangkan?’ Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu, wahai Rabbku.’ Hal itu diucapkan sampai tiga kali.
قَالَ: فَرَأَيْتُهُ وَضَعَ كَفَّهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ أَنَامِلِهِ بَيْنَ ثَدْيَيَّ، فَتَجَلَّى لِي كُلُّ شَيْءٍ وَعَرَفْتُ،
Kemudian aku melihat Dia meletakkan telapak tangan-Nya di antara kedua pundakku, hingga aku merasakan dingin ujung jari-jari-Nya di dadaku. Lalu menjadi jelas bagiku segala sesuatu, dan aku pun mengetahui jawabannya.
فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، قُلْتُ: لَبَّيْكَ رَبِّ، قَالَ: فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى؟ قُلْتُ: فِي الْكَفَّارَاتِ، قَالَ: مَا هُنَّ؟ قُلْتُ: مَشْيُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَالْجُلُوسُ فِي الْمَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكْرُوهَاتِ،
Dia berfirman lagi, ‘Wahai Muhammad.’ Aku menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Rabbku.’ Dia berfirman, ‘Tentang apa para malaikat di tempat yang tinggi saling memperbincangkan?’ Aku menjawab, ‘Tentang amalan-amalan penghapus dosa.’ Dia berfirman, ‘Apa saja itu?’ Aku menjawab, ‘Melangkahkan kaki menuju shalat berjamaah, duduk di masjid setelah shalat, dan menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak menyenangkan.’
قَالَ: ثُمَّ فِيمَ؟ قُلْتُ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَلِينُ الْكَلَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ.
Dia berfirman, ‘Lalu tentang apa lagi?’ Aku menjawab, ‘Memberi makan, berkata dengan lembut, dan shalat malam ketika manusia sedang tidur.’
قَالَ: سَلْ. قُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ.
Dia berfirman, ‘Mintalah.’ Ucapkanlah:
‘Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuniku serta merahmatiku. Jika Engkau menghendaki adanya fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah. Aku juga memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkan kepada cinta-Mu.’”
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا ثُمَّ تَعَلَّمُوهَا.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Sesungguhnya ini benar, maka pelajarilah dan kemudian pahamilah baik-baik.” (HR. Tirmidzi, no. 3235 dan Ahmad, no. 22162. Hadits ini sahih menurut Syaikh Al-Albani)
Doa yang Paling Lengkap dan Agung
Doa yang penuh keberkahan ini, wahai hamba Allah, termasuk doa yang paling mencakup dan paling sempurna. Doa ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan agung, karena di dalamnya terdapat permohonan kepada Allah Ta‘ala agar diberi taufik untuk melakukan amal-amal terbaik dari berbagai kebaikan, serta permohonan agar dijaga dari semua kemungkaran, keburukan, dan berbagai fitnah serta ujian, baik dalam urusan agama, kehidupan dunia, maupun akhirat.
Karena itu, seorang hamba seharusnya memperbanyak doa ini, memahami tujuan dan maknanya, serta mengamalkan kandungannya. Barang siapa mempelajarinya dan mengamalkannya, ia akan meraih kebahagiaan dan kenikmatan di dunia, alam barzakh, dan akhirat.
Di antara keagungan dan tingginya kedudukan doa ini adalah bahwa Allah Tabaraka wa Ta‘ala memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membacanya ketika beliau melihat-Nya dalam mimpi—dan mimpi para nabi adalah benar. Allah berfirman kepadanya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ
Allahumma inni as’aluka fi’lal khairoot, wa tarkal munkaroot, wa hubbal masaakiin, wa an taghfira li wa tarhamani, wa idza arodta fitnata qoumin fatawaffani ghaira maftuunin, wa as’aluka hubbak, wa hubba man yuhibbuk, wa hubba ‘amalin yuqarribuni ilaa hubbik.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, serta agar Engkau mengampuniku dan merahmatiku. Jika Engkau menghendaki fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah. Aku juga memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا وَتَعَلَّمُوهَا
“Sesungguhnya doa ini benar, maka pelajarilah dan pahamilah.”
Beliau memerintahkan untuk mempelajarinya, memahami makna dan tujuannya. Ini menunjukkan keistimewaan doa ini dibandingkan doa-doa lainnya, sebagaimana telah dijelaskan.
Meminta Semua Kebaikan dan Menjauhi Semua Keburukan
Ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran” mengandung permohonan untuk meraih seluruh kebaikan dan meninggalkan seluruh keburukan.
Yang dimaksud dengan kebaikan mencakup segala sesuatu yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan yang mendekatkan kepada-Nya, baik berupa amal perbuatan maupun ucapan, baik yang wajib maupun yang sunnah.
Adapun kemungkaran mencakup segala sesuatu yang dibenci oleh Allah Ta‘ala dan menjauhkan dari-Nya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
Siapa yang mendapatkan dua hal ini—melakukan semua kebaikan dan meninggalkan semua keburukan—maka ia akan meraih kebaikan dunia dan akhirat. Ini termasuk kalimat yang sangat ringkas namun mencakup makna yang luas, yang merupakan bagian dari keistimewaan yang diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau memang menyukai doa-doa yang singkat namun penuh makna. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ
“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai doa-doa yang mencakup (banyak makna) dan meninggalkan selainnya.” (HR. Abu Daud, no. 1482; Ath-Thayalis, 2:444; Ibnu Abi Syaibah, 6:21. Syaikh Al-Albani membawakan hadits ini dalam kitab Sahih Sunan Abi Daud)
Keutamaan Mencintai Orang Miskin
Ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ
“Mencintai orang-orang miskin,” termasuk bagian dari melakukan kebaikan. Namun disebutkan secara khusus—padahal sudah masuk dalam makna umum kebaikan—karena menunjukkan kemuliaannya dan besarnya perhatian terhadap hal ini.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memohon kepada Allah agar dijadikan termasuk golongan mereka, serta dikumpulkan bersama mereka:
اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ
“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama golongan orang-orang miskin.” (HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Penjelasan bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka, no. 2352; Ibnu Majah dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Bergaul dengan orang-orang fakir, no. 4126; juga diriwayatkan oleh Al-Hakim, 4/322 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7/12. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 308 dan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 3328).
Mencintai orang miskin merupakan bagian dari dasar cinta karena Allah. Sebab, mereka tidak memiliki kenikmatan dunia yang membuat orang mencintai mereka karena dunia. Maka, mencintai mereka murni karena Allah ‘Azza wa Jalla.
Cinta karena Allah termasuk ikatan iman yang paling kuat, bahkan termasuk bentuk iman yang paling utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ، فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ
“Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka ia telah menyempurnakan iman.” (HR. Abu Daud dalam Kitab As-Sunnah, Bab: Dalil bahwa iman itu bertambah, no. 4683; At-Tirmidzi dalam Kitab Sifat Hari Kiamat dan Raqa’iq, no. 2521 dengan lafaz yang serupa; juga diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, 24/383, Mushannaf ‘Abdurrazzaq, 3/197, Ibnu Abi Syaibah, 11/47, Abu Ya‘la, 3/60, dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, 8/134. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1/657, no. 380 dan dalam Shahih Al-Jami‘, no. 5965).
Ia juga akan merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Ada tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Iman, Bab: Manisnya iman, no. 16; dan oleh Muslim—lafaz hadits ini miliknya—dalam Kitab Al-Iman, Bab: Penjelasan sifat-sifat yang jika dimiliki seseorang, ia akan merasakan manisnya iman, no. 43).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha:
يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي الْمَسَاكِينَ، وَقَرِّبِيهِمْ، فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Wahai Aisyah, cintailah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, karena Allah akan mendekatkanmu pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Penjelasan bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka, no. 2352; juga oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7/12 dan dalam Syu‘abul Iman, 3/50. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 3252).
Memohon Ampunan dan Rahmat Allah
Ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي
“Maka ampunilah aku dan rahmatilah aku,”
mengandung permohonan akan ampunan dan rahmat, karena keduanya mencakup seluruh kebaikan akhirat. Dengan ampunan, seorang hamba akan aman dari azab dan dari segala keburukan. Adapun rahmat, itu berarti masuk ke dalam surga dan mendapatkan derajat yang tinggi di dalamnya.
Segala kenikmatan yang ada di surga merupakan bagian dari rahmat Allah Ta‘ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ لِلْجَنَّةِ: أَنْتِ رَحْمَتِي، أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada surga: ‘Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hamba-Ku.’” (HR. Bukhari dalam Kitab Tafsir, Bab: Firman Allah “Dan kamu berkata: apakah masih ada tambahan?” (QS. Qaf: 30), no. 4850; dan oleh Muslim dalam Kitab Surga dan Sifat Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab: Neraka dimasuki oleh orang-orang sombong dan surga dimasuki oleh orang-orang lemah, no. 2846).
Maksud dari doa ini adalah: agar Allah menutupi dosa-dosa, menghapusnya, dan melimpahkan rahmat-Nya dengan terus-menerus, baik di dunia maupun di akhirat, serta memberi taufik untuk bertaubat dan menerima taubat tersebut.
Memohon Wafat Sebelum Datangnya Fitnah
Ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً، فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ
“Jika Engkau menghendaki fitnah bagi hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah aku kepada-Mu dalam keadaan tidak terkena fitnah,”
maknanya: jika Allah hendak menimpakan fitnah dan hukuman kepada suatu kaum, baik berupa fitnah dalam agama, atau musibah dunia seperti berbagai ujian, bencana, dan azab, maka seorang hamba memohon agar diwafatkan sebelum hal itu terjadi dan sebelum manusia terjatuh ke dalamnya.
Tujuan dari doa yang agung ini adalah agar selamat dari fitnah sepanjang hidup, serta terhindar dari segala keburukan sebelum hal itu menimpa. Juga agar Allah mewafatkan seorang hamba dalam keadaan selamat dan terjaga sebelum datangnya fitnah.
Tidak diragukan lagi, ini termasuk doa yang sangat penting, karena di antara harapan terbesar seorang mukmin adalah hidup dalam keadaan selamat dari fitnah dan ujian, lalu diwafatkan oleh Allah sebelum fitnah itu datang.
Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk berlindung kepada Allah dari berbagai fitnah:
تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
“Berlindunglah kepada Allah dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (HR. Muslim dalam Kitab Surga dan Sifat Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab: Ditampakkannya tempat tinggal mayit dari surga atau neraka kepadanya, penetapan adanya azab kubur, dan anjuran berlindung darinya, no. 2867).
Dalam hadits ini juga terdapat dalil bolehnya berdoa meminta kematian karena khawatir terkena fitnah dalam agama. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ: الْمَوْتُ، وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ
“Ada dua hal yang dibenci oleh manusia: kematian, padahal kematian lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah; dan sedikit harta, padahal sedikit harta lebih ringan dalam hisab.” (HR. Ahmad, 39/36, no. 23625 dan Abu Nu‘aim dalam Ma‘rifat Ash-Shahabah, 5/2525, no. 6114. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib, 1/129 dan dalam Shahih Al-Jami‘, no. 139).
Memohon Cinta Allah: Puncak Segala Harapan
Ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ
“Dan aku memohon kepada-Mu cinta-Mu,”
kemudian beliau memohon sesuatu yang merupakan tuntutan paling agung, derajat paling tinggi, dan harapan paling mulia. Maksudnya: aku memohon agar Engkau mencintaiku. Ini adalah tujuan terbesar, yaitu seorang hamba menjadi orang yang dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Doa ini juga mengandung permohonan agar seorang hamba mencintai Rabbnya, yaitu: aku memohon agar aku mencintai-Mu, sehingga tidak ada sesuatu pun yang lebih aku cintai daripada-Mu.
Doa yang agung ini termasuk doa yang paling mulia karena mencakup makna yang sangat luas. Ia mengumpulkan seluruh kebaikan. Jika cinta kepada Allah telah tertanam dalam hati seorang hamba, maka anggota tubuhnya akan bergerak mengikuti apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya. Ia akan mencintai semua amal dan ucapan yang dicintai Allah, sehingga ia melakukan seluruh kebaikan dan meninggalkan seluruh kemungkaran. Inilah kesempurnaan penghambaan kepada Allah, Rabb semesta alam.
Barang siapa meminta cinta Allah, maka Allah akan memberinya lebih dari yang ia harapkan dari urusan dunia sebagai tambahan. Siapa yang dianugerahi cinta ini, maka seluruh ucapan dan perbuatannya akan sesuai dengan kehendak Allah. Ia juga akan diberi kecintaan dan penerimaan di bumi dan di langit, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sahih.
Ucapan Nabi:
وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ
“Dan cinta kepada orang yang mencintai-Mu,”
maksudnya: aku memohon agar mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, seperti para nabi, ulama, dan orang-orang saleh.
Ucapan beliau:
وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ
“Dan cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu,”
maksudnya: aku memohon agar diberi taufik untuk melakukan amal-amal saleh yang paling dicintai, yang dapat mendekatkanku kepada cinta-Mu. Barang siapa dianugerahi cinta-cinta ini, maka ia telah beruntung di dunia dan akhirat.
Permohonan tentang berbagai bentuk cinta ini sebenarnya sudah termasuk dalam awal doa, yaitu “melakukan kebaikan”. Namun disebutkan secara khusus sebagai bentuk perhatian besar terhadap hal ini, karena ia merupakan inti, puncak, dan pengumpul seluruh kebaikan.
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memahami doa ini dan mengamalkannya, karena agungnya kandungan yang ada di dalamnya, berupa berbagai permohonan dan tujuan mulia di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan pemahaman lafaz-lafaznya, menghadirkan maknanya saat berdoa, karena hal itu lebih besar harapannya untuk dikabulkan, lebih berpengaruh pada hati, serta menghadirkan manisnya iman dan nikmatnya bermunajat kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala.
Nasihat Penutup
Banyak orang sibuk dengan doa-doa panjang, tetapi lupa doa yang paling lengkap seperti ini. Padahal, doa ini mencakup seluruh kebutuhan hidup seorang hamba. Luangkan waktu untuk menghafal, memahami, dan mengamalkannya setiap hari. Semoga kita termasuk hamba yang dicintai Allah dan dijaga dari fitnah.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَثَبِّتْنَا عَلَى دِينِكَ
Allahumma inna nas’aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wa hubba ‘amalin yuqarribuna ila hubbik, waghfir lana warhamna wa tsabbitna ‘ala dinik.
Ya Allah, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Ampunilah kami, rahmatilah kami, dan tetapkan kami di atas agama-Mu.
Sumber rujukan: kalemtayeb.com
—–
Senin, 11 Syawal 1447 H
Disusun saat perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul menuju Masjid Mina Jakal
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



