Tafsir Surah Al-Balad: Jalan Sulit Menuju Kebahagiaan Sejati
Surah Al-Balad mengajarkan bahwa kehidupan manusia penuh dengan ujian dan kesulitan. Namun, Allah juga menunjukkan jalan keluar menuju kebahagiaan melalui iman dan amal saleh. Siapa yang memilih jalan tersebut akan selamat, sedangkan yang mengikuti hawa nafsu akan berakhir dalam penyesalan.
Sumpah Allah dengan Kota Mekah
Allah Ta’ala berfirman,
لَآ أُقْسِمُ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ
“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah).” (QS. Al-Balad: 1)
Allah bersumpah dengan negeri yang aman ini, yaitu Mekah, negeri yang paling utama secara mutlak, terlebih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalamnya.
وَأَنتَ حِلٌّۢ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ
“dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini.” (QS. Al-Balad: 2)
Asal Usul Manusia dan Hakikat Kehidupan
Allah Ta’ala berfirman,
وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ
“dan demi bapak dan anaknya.” (QS. Al-Balad: 3)
Maksudnya adalah Adam dan keturunannya.
لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Yang menjadi isi sumpah ini adalah firman-Nya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”
Maknanya bisa jadi bahwa manusia menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan di dunia, di alam barzakh, dan pada hari ketika semua makhluk dibangkitkan. Karena itu, seharusnya manusia berusaha melakukan amal yang dapat menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan tersebut dan mendatangkan kebahagiaan serta kegembiraan yang abadi.
Jika tidak, maka ia akan terus menghadapi azab yang berat selama-lamanya.
Makna lain, manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dan seimbang, mampu melakukan berbagai pekerjaan dan usaha yang berat. Namun, ia tidak bersyukur atas nikmat besar ini, bahkan justru sombong dan melampaui batas terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezalimannya, ia mengira bahwa keadaan ini akan terus berlangsung dan kekuasaannya tidak akan hilang.
Baca juga: Dunia ini Negeri Ujian dan Kesulitan
Kesombongan Manusia dan Tipu Daya Harta
Allah Ta’ala berfirman,
أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ
“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?” (QS. Al-Balad: 5)
Apakah ia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menguasainya? Lalu ia pun berbuat melampaui batas dan membanggakan harta yang ia habiskan untuk memenuhi hawa nafsunya.
يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا
“Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”.” (QS. Al-Balad: 6)
Ia berkata, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak,” yaitu harta yang sangat banyak, bertumpuk-tumpuk.
Allah menyebut pengeluaran untuk syahwat dan kemaksiatan sebagai “kehancuran”, karena orang yang menginfakkan hartanya untuk itu tidak mendapatkan manfaat dari apa yang ia keluarkan. Ia tidak memperoleh dari pengeluarannya kecuali penyesalan, kerugian, kelelahan, dan berkurangnya harta.
Berbeda dengan orang yang menginfakkan hartanya di jalan yang diridhai Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari apa yang ia keluarkan.
أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ
“Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?” (QS. Al-Balad: 7)
Allah berfirman sebagai ancaman bagi orang yang membanggakan hartanya untuk syahwat: apakah ia mengira bahwa Allah tidak melihatnya dan tidak akan menghisabnya atas perkara kecil maupun besar?
Padahal Allah telah melihatnya, mencatat amal-amalnya, dan menugaskan malaikat pencatat yang mulia untuk mencatat setiap perbuatannya, baik atau buruk.
Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk Hidup
Allah Ta’ala berfirman,
أَلَمْ نَجْعَل لَّهُۥ عَيْنَيْنِ
“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.” (QS. Al-Balad: 8)
Kemudian Allah mengingatkan manusia dengan nikmat-nikmat-Nya, dengan berfirman: bukankah Kami telah memberinya dua mata.
وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ
“lidah dan dua buah bibir.” (QS. Al-Balad: 9)
Serta lidah dan dua bibir, untuk keindahan, penglihatan, berbicara, dan berbagai manfaat penting lainnya. Ini semua adalah nikmat dunia.
وَهَدَيْنَٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)
Kemudian Allah menyebut nikmat dalam agama: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan,” yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan. Allah telah menjelaskan kepadanya petunjuk dari kesesatan, serta jalan yang lurus dari jalan yang menyimpang.
Nikmat-nikmat yang besar ini seharusnya membuat seorang hamba menunaikan hak-hak Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Namun manusia tidak melakukan hal itu.
Jalan Terjal yang Tidak Ditempuh
Allah Ta’ala berfirman,
فَلَا ٱقْتَحَمَ ٱلْعَقَبَةَ
“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.” (QS. Al-Balad: 11)
Artinya, ia tidak menempuh jalan itu dan tidak melaluinya, karena ia mengikuti hawa nafsunya.
Baca juga: Menuruti Hawa Nafsu
وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْعَقَبَةُ
“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?” (QS. Al-Balad: 12)
Amal-Amal yang Mengantarkan Keselamatan
Allah Ta’ala berfirman,
فَكُّ رَقَبَةٍ
“(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” (QS. Al-Balad: 13)
Jalan yang sukar itu adalah membebaskan budak, yaitu memerdekakannya atau membantu agar ia bisa membayar tebusannya. Bahkan lebih utama lagi adalah membebaskan tawanan muslim dari tangan orang kafir.
أَوْ إِطْعَٰمٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍ
“atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 14)
Yaitu pada masa kelaparan yang sangat berat, dengan memberi makan kepada orang yang sangat membutuhkan.
يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ
“(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat.” (QS. Al-Balad: 15)
Yaitu anak yatim yang sekaligus miskin dan memiliki hubungan kekerabatan.
أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ
“atau kepada orang miskin yang sangat fakir.” (QS. Al-Balad: 16)
Yaitu orang miskin yang sangat membutuhkan hingga seolah-olah menempel di tanah karena kemiskinannya.
Iman, Sabar, dan Kasih Sayang
Allah Ta’ala berfirman,
ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ
“Dan dia (juga) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS. Al-Balad: 17)
Yaitu orang-orang yang beriman dengan hati mereka terhadap apa yang wajib diimani, serta beramal saleh dengan anggota badan mereka, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang wajib maupun yang sunnah.
Mereka saling berpesan untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah, menjauhi maksiat, dan menghadapi takdir yang menyakitkan, dengan saling mendorong untuk menjalankannya dengan lapang dada dan hati yang tenang.
Mereka juga saling berpesan untuk berkasih sayang kepada sesama makhluk, dengan membantu yang membutuhkan, mengajarkan yang tidak tahu, memenuhi kebutuhan mereka dalam berbagai hal, serta menolong mereka dalam urusan agama dan dunia. Mereka mencintai untuk orang lain apa yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri, dan membenci untuk orang lain apa yang mereka benci untuk diri mereka sendiri.
Golongan Kanan: Tanda Kebahagiaan
Allah Ta’ala berfirman,
أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ
“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.” (QS. Al-Balad: 18)
Mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dan diberi taufik oleh Allah untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah golongan kanan, karena mereka telah menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia, serta meninggalkan apa yang dilarang. Ini adalah tanda dan ciri kebahagiaan.
Golongan Kiri dan Azab yang Mengurung
Allah Ta’ala berfirman,
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا هُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ
“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.” (QS. Al-Balad: 19)
Yaitu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, meninggalkan semua hal tersebut, tidak beriman kepada Allah, tidak beramal saleh, dan tidak menyayangi hamba-hamba-Nya. Mereka itulah golongan kiri.
عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌۢ
“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.” (QS. Al-Balad: 20)
Yaitu neraka yang tertutup rapat atas mereka, dengan pintu-pintu yang terkunci dan tiang-tiang yang dipanjangkan dari belakangnya, sehingga tidak dapat terbuka, dan mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan penderitaan. Segala puji bagi Allah.
Nasihat Penutup
Di zaman sekarang, banyak manusia tertipu dengan harta dan kesenangan, hingga lupa bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkan. Padahal, jalan menuju keselamatan memang tidak mudah, tetapi itulah jalan yang diridhai Allah. Jangan sampai nikmat yang diberikan justru digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Mari kita biasakan hidup dengan iman, sabar, dan peduli terhadap sesama.
اللَّهُمَّ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْمَيْمَنَةِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالصَّبْرَ وَالرَّحْمَةَ
Allāhumma ihdinā aṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, waj‘alnā min aṣḥābil-maymanah, warzuqnā al-ikhlāṣa waṣ-ṣabra war-raḥmah.
Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, jadikanlah kami termasuk golongan kanan, dan karuniakan kepada kami keikhlasan, kesabaran, serta kasih sayang.
Referensi:
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic
—–
Jumat, 1 Syawal 1447 H
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



