Tafsir Surah Asy-Syams: Jalan Sukses dan Jalan Kehancuran Jiwa
Surah Asy-Syams mengajarkan bahwa manusia berada di antara dua jalan: menyucikan jiwa atau mengotorinya. Allah bersumpah dengan makhluk-Nya yang agung untuk menunjukkan pentingnya perkara ini. Siapa yang menjaga jiwanya akan beruntung, sedangkan yang merusaknya akan binasa, sebagaimana yang terjadi pada kaum Tsamud.
Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan Malam
Allah Ta’ala berfirman,
وَٱلشَّمْسِ وَضُحَىٰهَا
“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.” (QS. Asy-Syams: 1)
Maksudnya adalah cahaya matahari dan manfaat yang terpancar darinya.
وَٱلْقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا
“dan bulan apabila mengiringinya.” (QS. Asy-Syams: 2)
Maksudnya, bulan mengikuti matahari dalam peredaran dan cahayanya.
وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا
“dan siang apabila menampakkannya.” (QS. Asy-Syams: 3)
Maksudnya, siang hari menampakkan apa yang ada di permukaan bumi dan menjadikannya jelas.
وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰهَا
“dan malam apabila menutupinya.” (QS. Asy-Syams: 4)
Maksudnya, malam menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap.
Pergantian antara gelap dan terang, antara matahari dan bulan, yang berlangsung secara teratur dan sempurna untuk kemaslahatan manusia, adalah bukti terbesar bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Dialah satu-satunya yang berhak disembah, sedangkan semua sesembahan selain-Nya adalah batil.
Sumpah dengan Langit dan Bumi
Allah Ta’ala berfirman,
وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا
“dan langit serta pembinaannya.” (QS. Asy-Syams: 5)
Maknanya bisa: Allah bersumpah dengan langit dan Penciptanya, yaitu Allah Tabaraka wa Ta‘ala; atau bersumpah dengan langit dan bangunannya yang sangat sempurna dan rapi.
وَٱلْأَرْضِ وَمَا طَحَىٰهَا
“dan bumi serta penghamparannya.” (QS. Asy-Syams: 6)
Maksudnya, bumi dibentangkan dan diluaskan, sehingga makhluk dapat memanfaatkannya dengan berbagai cara.
Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-Buruk
Allah Ta’ala berfirman,
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا
“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya).” (QS. Asy-Syams: 7)
Maknanya bisa mencakup seluruh jiwa makhluk hidup, dan bisa juga khusus jiwa manusia yang dibebani syariat. Jiwa adalah tanda kebesaran Allah yang agung. Ia sangat halus, cepat berubah, berpindah, dan dipengaruhi oleh berbagai keadaan seperti keinginan, niat, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, tubuh hanyalah seperti benda mati yang tidak memiliki manfaat. Penyempurnaannya dalam bentuk seperti ini adalah tanda kebesaran Allah.
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا
“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8)
Keberuntungan Orang yang Mensucikan Jiwa
Allah Ta’ala berfirman,
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا
“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)
Maksudnya, orang yang membersihkan jiwanya dari dosa, menyucikannya dari kekurangan, serta meninggikannya dengan ketaatan kepada Allah, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh.
Kerugian Orang yang Mengotori Jiwa
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا
“dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10)
Maksudnya, orang yang merendahkan jiwanya yang mulia dengan mengotorinya melalui akhlak buruk, dosa, dan meninggalkan hal-hal yang dapat menyempurnakan dan mengembangkannya, serta melakukan hal-hal yang merusak dan menghinakannya.
Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi Shalih
Allah Ta’ala berfirman,
كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَىٰهَآ
“(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas.” (QS. Asy-Syams: 11)
Maksudnya, mereka mendustakan karena kesombongan dan sikap melampaui batas, serta pembangkangan mereka terhadap para rasul Allah.
إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشْقَىٰهَا
“ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.” (QS. Asy-Syams: 12)
Maksudnya, orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu Qadar bin Salif, yang menyembelih unta itu ketika mereka telah sepakat dan memerintahkannya, lalu ia pun melaksanakan perintah tersebut.
فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ ٱللَّهِ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقْيَٰهَا
“lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” (QS. Asy-Syams: 13)
Maksudnya, Nabi Shalih ‘alaihis salam memperingatkan mereka: “Berhati-hatilah terhadap unta Allah itu, yang Allah jadikan sebagai tanda yang besar bagi kalian. Jangan kalian balas nikmat Allah—berupa air susunya—dengan menyembelihnya.” Namun mereka tetap mendustakan Nabi Shalih.
Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang Sempurna
Allah Ta’ala berfirman,
فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمْ فَسَوَّىٰهَا
“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14)
Maksudnya, mereka benar-benar menyembelih unta tersebut, lalu Allah menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh karena dosa mereka. Allah mengirimkan suara keras dari atas dan gempa dari bawah, hingga mereka menjadi mayat yang bergelimpangan, tidak ada yang bisa bergerak atau menjawab.
Makna “menyamaratakan” adalah bahwa Allah menyamaratakan azab kepada seluruh mereka.
وَلَا يَخَافُ عُقْبَٰهَا
“dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (QS. Asy-Syams: 15)
Maksudnya, Allah tidak takut terhadap akibat dari tindakan-Nya. Bagaimana mungkin Dia takut, padahal Dia Maha Menguasai, tidak ada satu makhluk pun yang keluar dari kekuasaan dan pengaturan-Nya, dan Dia Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan dan syariat-Nya.
Selesai, segala puji bagi Allah.
Baca juga: Kisah Kaum Tsamud: Peradaban yang Hilang Karena Azab Allah
Nasihat Penutup
Hari ini, banyak manusia sibuk memperbaiki dunia, tetapi lalai memperbaiki jiwa. Padahal, kebahagiaan sejati bukan pada harta dan kedudukan, tetapi pada hati yang bersih dan dekat dengan Allah. Jangan sampai kita termasuk orang yang merusak jiwa dengan dosa dan kesombongan. Ambillah pelajaran dari kisah Tsamud sebelum datang penyesalan yang tidak berguna.
اللَّهُمَّ زَكِّ نُفُوسَنَا وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا وَاهْدِنَا لِلتَّقْوَى
Allāhumma zakkī nufūsanā wa ṭahhir qulūbanā wahdinā lit-taqwā.
“Ya Allah, sucikanlah jiwa kami, bersihkanlah hati kami, dan tunjukilah kami kepada ketakwaan.”
Referensi:
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic
—–
Jumat, 1 Syawal 1447 H
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



