Tafsir Surah Al-Lail: Jalan Menuju Kemudahan atau Kesulitan
Surah Al-Lail menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan di dua arah yang sangat berbeda: menuju kemudahan atau menuju kesulitan. Perbedaan ini ditentukan oleh iman, amal, dan tujuan hidup seseorang. Siapa yang memilih kebaikan akan dimudahkan menuju kebaikan, dan siapa yang memilih keburukan akan dimudahkan menuju keburukan.
Sumpah Allah dengan Malam dan Siang
Allah Ta’ala berfirman,
وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ
“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. Firman-Nya, “demi malam apabila menutupi”, maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya, dan manusia beristirahat dari keletihan serta kepayahan.
وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ
“dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Dan demi siang ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka.
Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ
“dan penciptaan laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Lail: 3)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Firman-Nya, “dan (demi) yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.
Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki kelangsungannya, pasangan laki-laki dan perempuan, agar jenis tersebut tetap lestari dan tidak punah. Allah juga menautkan keduanya dengan dorongan syahwat, serta menjadikan masing-masing sesuai dan saling melengkapi. Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta.
Usaha Manusia yang Berbeda-Beda
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ
“sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Ini adalah isi sumpah tersebut, yaitu bahwa usaha kalian, wahai manusia yang dibebani syariat, benar-benar berbeda dengan perbedaan yang besar. Hal ini tergantung pada jenis amal yang dilakukan, banyak atau sedikitnya, serta kesungguhan dalam melaksanakannya. Juga tergantung pada tujuan dari amal tersebut: apakah ditujukan untuk mencari wajah Allah Yang Mahatinggi dan kekal, sehingga amal itu pun kekal dan pelakunya mendapatkan manfaat darinya; ataukah tujuannya sesuatu yang fana dan akan lenyap, sehingga amal itu pun menjadi sia-sia dan hilang bersama hilangnya tujuan tersebut.
Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan Kebaikan
Allah Ta’ala berfirman,
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.” (QS. Al-Lail: 5)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beramal dan menyebutkan amalan mereka. Adapun orang yang memberi, yaitu menunaikan apa yang diperintahkan berupa ibadah harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, dan berbagai bentuk infak di jalan kebaikan. Juga ibadah badan seperti shalat, puasa, dan yang semisalnya. Serta ibadah yang menggabungkan keduanya, seperti haji dan umrah. Dan ia bertakwa, yaitu meninggalkan apa yang dilarang berupa berbagai macam perbuatan haram dan maksiat.
وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ
“dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).” (QS. Al-Lail: 6)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Yaitu membenarkan kalimat lā ilāha illallāh dan apa yang dikandungnya, berupa seluruh keyakinan agama, serta apa yang menjadi konsekuensinya berupa balasan di akhirat.
Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih Kebaikan
Allah Ta’ala berfirman,
فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ
“maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Artinya, Kami akan memudahkan urusannya, menjadikannya dimudahkan untuk melakukan setiap kebaikan, dan dimudahkan untuk meninggalkan setiap keburukan. Karena ia telah menempuh sebab-sebab kemudahan, maka Allah pun memudahkan baginya hal tersebut.
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dari ayat disimpulkan perkataan salaf berikut.
وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.
Sebagian ulama salaf mengatakan: di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir)
Ciri Orang yang Memilih Jalan Keburukan
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ
“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.” (QS. Al-Lail: 8)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Yaitu orang yang kikir terhadap apa yang diperintahkan, sehingga ia meninggalkan infak yang wajib maupun yang dianjurkan, dan jiwanya tidak mau menunaikan kewajiban kepada Allah. Ia juga merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak merasa dirinya sangat bergantung kepada Rabb-nya, padahal tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai yang dicintai dan disembah, yang menjadi tujuan dan tempat bergantung.
وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ
“serta mendustakan pahala terbaik.” (QS. Al-Lail: 9)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Yaitu mendustakan apa yang Allah wajibkan untuk diimani oleh para hamba berupa keyakinan yang benar.
Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan Sendiri
Allah Ta’ala berfirman,
فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ
“maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Artinya, menuju keadaan yang sulit dan sifat-sifat yang buruk. Ia akan dimudahkan untuk melakukan keburukan di mana pun berada, dan diserahkan kepada perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surah Al-Lail ayat 10 sebagai berikut.
“maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)
Artinya, menuju jalan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
“Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaan, dan Kami biarkan mereka dalam kesesatan mereka meraba-raba.” (QS. Al-An‘am: 110)
Ayat-ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang yang menginginkan kebaikan dengan memberikan taufik kepadanya, dan membalas orang yang menginginkan keburukan dengan membiarkannya (tidak diberi taufik). Semua itu terjadi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Hadits-hadits yang menunjukkan makna ini juga banyak.
Takdir dan Kemudahan Beramal
Di antaranya riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Al-‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata:
Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sesuatu yang baru dimulai?”
Beliau bersabda:
بَلْ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ
“Bahkan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.”
Aku bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita beramal, wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda:
كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
“Setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”
Riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu:
Imam Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:
Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi‘ Al-Gharqad dalam suatu pemakaman. Lalu beliau bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ
“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.”
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja (kepada takdir)?”
Beliau bersabda:
اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”
Kemudian beliau membaca:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
“Sementara orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)
sampai firman-Nya:
لِلْعُسْرَىٰ
“(ke jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)
Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘ dari Al-A‘mash dengan makna yang serupa.
Kemudian diriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Manshur, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi‘ Al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Di tangan beliau ada tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepala dan menggoreskan tongkatnya ke tanah. Kemudian beliau bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ – أَوْ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ – إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً
“Tidak ada seorang pun di antara kalian—atau tidak ada satu jiwa pun—kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia celaka atau bahagia.”
Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja dan meninggalkan amal? Jika kami termasuk orang yang bahagia, kami akan menuju kepada kebahagiaan, dan jika kami termasuk orang yang celaka, kami akan menuju kepada kecelakaan.”
Beliau bersabda:
أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ
“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Dan adapun orang-orang yang celaka, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka.”
Kemudian beliau membaca:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)
Harta Tidak Berguna Tanpa Amal
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ
“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail: 11)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Dan tidaklah berguna baginya harta yang membuatnya melampaui batas, yang membuatnya merasa cukup, serta yang ia tahan (tidak ia infakkan), ketika ia telah binasa dan mati. Karena yang menyertainya hanyalah amal salehnya. Adapun hartanya yang tidak ia keluarkan kewajibannya, maka itu akan menjadi bencana baginya, karena ia tidak menyiapkan apa pun darinya untuk akhirat.
Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan Akhirat
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ
“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail: 12)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Artinya, jalan petunjuk yang lurus itu berada di bawah penjelasan dan bimbingan Kami. Jalan tersebut mengantarkan kepada Allah dan mendekatkan kepada keridaan-Nya. Adapun kesesatan adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pelakunya kecuali kepada azab yang berat.
وَإِنَّ لَنَا لَلْءَاخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ
“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (QS. Al-Lail: 13)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Artinya, keduanya—akhirat dan dunia—adalah milik Allah dalam kekuasaan dan pengaturan, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Maka hendaklah orang yang menginginkan sesuatu memohon hanya kepada-Nya, dan memutuskan harapannya dari makhluk.
Ancaman Neraka bagi Orang yang Celaka
Allah Ta’ala berfirman,
فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ
“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail: 14)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Yaitu neraka yang berkobar dan menyala dengan dahsyat.
لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى
“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (QS. Al-Lail: 15)
ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ
“yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 16)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Yaitu orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari perintah.
Sifat Orang Bertakwa yang Selamat
Allah Ta’ala berfirman,
وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى
“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (QS. Al-Lail: 17)
ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ
“yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail: 18)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Yaitu orang yang memberikan hartanya dengan tujuan menyucikan dirinya dan membersihkannya dari dosa dan kekurangan, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak sunnah menyebabkan ditinggalkannya kewajiban, seperti membayar utang, menafkahi yang wajib, dan semisalnya, maka hal itu tidak disyariatkan. Bahkan pemberiannya tertolak menurut banyak ulama, karena seseorang tidak dianggap menyucikan diri dengan melakukan amalan sunnah yang menyebabkan ia meninggalkan kewajiban.
Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari Manusia
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ
“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (QS. Al-Lail: 19)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Artinya, tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki jasa atau nikmat atas orang yang paling bertakwa ini yang harus ia balas, kecuali ia telah membalasnya. Bahkan mungkin ia masih memiliki keutamaan atas manusia. Dengan demikian, ia menjadi hamba yang murni hanya untuk Allah, karena ia sepenuhnya tunduk kepada kebaikan-Nya saja.
Adapun orang yang masih memiliki utang budi kepada manusia yang belum ia balas, maka pasti ia akan melakukan sesuatu untuk mereka yang dapat mengurangi keikhlasannya.
Ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—bahkan disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau—karena tidak ada seorang pun yang memiliki jasa kepadanya yang belum ia balas, bahkan termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali nikmat kerasulan yang tidak mungkin dibalas, yaitu nikmat berupa dakwah kepada agama Islam, pengajaran petunjuk, dan agama yang benar. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki karunia atas setiap manusia, suatu karunia yang tidak mungkin dibalas atau disamai. Namun ayat ini juga mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, yaitu tidak ada lagi hak manusia yang tersisa atas dirinya, sehingga amalnya menjadi murni hanya untuk Allah Ta‘ala.
إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ
“tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)
وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ
“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Orang yang paling bertakwa ini akan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa berbagai kemuliaan dan pahala. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.
Nasihat Penutup
Di zaman sekarang, banyak orang mengejar kemudahan dunia, tetapi lupa bahwa kemudahan sejati adalah dimudahkan dalam ketaatan. Hati yang condong pada kebaikan akan semakin mudah melakukan kebaikan, sedangkan hati yang terbiasa dengan maksiat akan semakin berat kembali kepada kebenaran. Karena itu, jagalah niat, luruskan tujuan, dan biasakan diri dengan amal saleh sekecil apa pun. Jangan menunda kebaikan, karena setiap langkah kecil bisa membuka pintu kemudahan yang besar.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًا
ALLĀHUMMA INNĀ NAS’ALUKA AN TAJ‘ALA KULLA QAḌĀ’IN QAḌAYTAHU LANĀ KHAYRĀ
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar setiap ketetapan yang Engkau tetapkan untuk kami menjadi kebaikan bagi kami.”
Referensi:
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic
- Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic
—–
Kamis, 30 Ramadhan 1447 H
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



