Khutbah Idulfitri | 8 Kiat Menjadi Hamba yang Sabar dan Bersyukur (Selamat dari Sifat Halu’a)
Manusia secara tabiat memiliki sifat mudah gelisah saat susah dan kikir saat senang. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat halu’. Namun, Allah tidak hanya menyebutkan sifat tersebut, tetapi juga memberikan jalan keluar agar seorang hamba menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur.
Khutbah Pertama
اللهُ أَكْبَرُ،
(9x)
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛
فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah …
Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan bagi kita ibadah Ramadan dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idulfitri. Hari ini bukan sekadar hari bergembira, tetapi hari untuk menguji apakah kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di antara perubahan terbesar yang harus kita raih adalah keluar dari sifat halu’—tidak sabar saat susah dan tidak bersyukur saat senang—menuju sifat orang-orang beriman yang sabar, bersyukur, dan istiqamah dalam ketaatan.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Hakikat Manusia: Sifat Halu’
Allah Ta’ala berfirman,
۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19)
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)
Sifat ini menggambarkan manusia dari sisi tabiat asalnya, yaitu memiliki sifat mudah gelisah dan tidak sabar.
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20)
“Apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat gelisah.” (QS. Al-Ma’arij: 20)
Sifat “halu’” itu dijelaskan, yaitu ketika seseorang tertimpa keburukan, ia menjadi gelisah. Ia tidak tahan jika terkena kemiskinan, sakit, atau kehilangan sesuatu yang dicintainya, seperti harta, keluarga, atau anak. Dalam keadaan itu, ia tidak menggunakan kesabaran dan tidak ridha terhadap ketetapan Allah.
وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)
“Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia sangat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 21)
Artinya, ia tidak mau menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak bersyukur atas nikmat dan kebaikan Allah. Haluu’ berarti gelisah saat susah, dan kikir saat senang.
Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’
إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22)
“kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 22)
Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut.
- Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah dan menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan.
- Jika mereka tertimpa kesusahan, mereka bersabar dan mengharapkan pahala.
Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsisten
الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)
“(yaitu) orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)
Mereka senantiasa menjaga shalat pada waktunya, dengan memenuhi syarat-syaratnya dan menyempurnakannya. Mereka tidak seperti orang yang meninggalkannya, atau melakukannya hanya sesekali (shalatnya bolong-bolong), atau melakukannya dengan cara yang tidak sempurna.
Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagi
وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)
“Dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij: 24)
Yaitu bagian dari zakat dan sedekah.
لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)
“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij: 25)
Yang dimaksud dengan “orang yang meminta” adalah orang yang datang meminta bantuan. Adapun “orang yang tidak mau meminta” adalah orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia tidak diberi, dan keadaannya pun tidak disadari sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya.”
Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasan
وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26)
“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan.” (QS. Al-Ma’arij: 26)
Yaitu mereka beriman kepada apa yang Allah kabarkan dan disampaikan oleh para rasul tentang hari pembalasan dan kebangkitan. Mereka meyakini hal itu dengan penuh keyakinan, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk akhirat dan berusaha untuknya. Membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan para rasul dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab.
Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allah
وَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (27)
“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)
Yaitu mereka merasa takut dan khawatir, sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada azab Allah.
إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)
“Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya.” (QS. Al-Ma’arij: 28)
Artinya, azab itu adalah sesuatu yang harus ditakuti dan diwaspadai.
Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diri
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29)
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Ma’arij: 29)
Maksud ayat ini adalah:
- Mereka tidak melakukan hubungan intim yang diharamkan, seperti zina, liwath (homoseksual), menyetubuhi dari belakang, atau saat haid, dan semisalnya.
- Mereka tidak memandang dan menyentuh kemaluan orang lain yang tidak halal.
- Mereka meninggalkan segala sebab yang mengantarkan pada perbuatan zina.
إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30)
“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” (QS. Al-Ma’arij: 30)
Artinya, mereka tidak tercela jika menyalurkan kebutuhan tersebut kepada istri atau budak yang mereka miliki, pada tempat yang memang diperbolehkan.
فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)
“Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 31)
Artinya, siapa yang mencari selain istri dan hamba sahaya, maka ia telah melampaui batas dari yang dihalalkan menuju yang diharamkan. Ayat ini menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kawin kontrak ala kaum Syi’ah), karena tidak termasuk istri yang dimaksud dan bukan pula hamba sahaya.
Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janji
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32)
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij: 32)
Mereka menjaga dan bersungguh-sungguh menunaikannya serta menepatinya. Ini mencakup seluruh amanat antara hamba dengan Allah, seperti kewajiban yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan amanat antara hamba dengan manusia, seperti dalam harta dan rahasia. Begitu pula janji, baik janji kepada Allah maupun kepada manusia, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ditunaikan atau dikhianati.
Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksian
وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33)
“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 33)
Mereka tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa menambah, mengurangi, atau menyembunyikan. Mereka tidak memihak kepada kerabat atau teman, dan tujuan mereka adalah karena Allah.
Allah Ta‘ālā berfirman,
وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ
“Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135)
Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurna
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34)
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)
Yaitu dengan terus menjaganya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Ini
أُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (35)
“Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (QS. Al-Ma’arij: 35)
Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan dimuliakan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang kekal, yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan, dan mereka kekal di dalamnya.
Kesimpulannya, Allah menyifati orang-orang yang berbahagia dan baik dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia.
- Mereka memiliki ibadah badan, seperti shalat dan terus menjaganya; amal hati, seperti rasa takut kepada Allah yang mendorong kepada setiap kebaikan; ibadah harta; keyakinan yang benar; serta akhlak yang luhur.
- Mereka juga berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bersikap adil, menjaga janji dan rahasia, serta memiliki kehormatan diri yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari segala yang dibenci oleh Allah Ta‘ālā.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah, itulah sifat manusia dan jalan keselamatan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Siapa yang ingin selamat dari sifat gelisah dan kikir, maka perbaikilah shalatnya, kuatkan imannya, dan jaga amanah serta akhlaknya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَللهُ أَكْبَرُ
(7x)
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَىٰ وَالتُّقَىٰ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَىٰ
يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ،
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا.
اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ
Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin.
Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Referensi:
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic
—–
Naskah ini yang dipakai untuk Khutbah Idulfitri 1447 H
Rabu sore, 29 Ramadhan 1447 H, 18 Maret 2026
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



