Tafsir Surah ‘Abasa: Cara Islam Mengajarkan Kesetaraan Manusia
Surah ‘Abasa mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara pada saat yang sama beliau sedang berbicara dengan seorang tokoh kaya Quraisy. Nabi ﷺ lebih memberi perhatian kepada orang kaya itu dengan harapan ia mendapat hidayah. Melalui ayat-ayat ini, Allah menegur dengan lembut dan mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk lebih layak didahulukan daripada orang yang merasa tidak membutuhkan.
Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari Ilmu
Allah Ta’ala berfirman,
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)
أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ
“karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 2)
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ
“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 3)
أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ
“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 4)
أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ
“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.” (QS. ‘Abasa: 5)
فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ
“maka kamu melayaninya.” (QS. ‘Abasa: 6)
وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ
“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa: 7)
وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ
“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran).” (QS. ‘Abasa: 8)
وَهُوَ يَخْشَىٰ
“sedang ia takut kepada (Allah).” (QS. ‘Abasa: 9)
فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ
“maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa: 10)
Baca juga: Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam
Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu?
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:
Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan salah seorang tokoh besar Quraisy. Beliau sangat berharap orang tersebut masuk Islam.
Ketika beliau sedang berbicara dan berdialog dengannya, datanglah Ibnu Ummi Maktum—seorang sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Ia mulai bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu hal dan terus meminta penjelasan.
Saat itu Nabi ﷺ berharap Ibnu Ummi Maktum berhenti sejenak agar beliau dapat melanjutkan pembicaraan dengan orang tersebut, karena beliau sangat berharap orang itu mendapatkan hidayah. Maka Nabi ﷺ pun bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum, berpaling darinya, dan kembali memperhatikan orang yang sedang beliau ajak bicara.
Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:
عَبَسَ وَتَوَلَّى
“Dia bermuka masam dan berpaling.”
Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘Abasa
Al-Hafizh Abu Ya‘la meriwayatkan dalam Musnad-nya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Qatadah, dari Anas mengenai firman Allah:
عَبَسَ وَتَوَلَّى
“Dia bermuka masam dan berpaling.”
Disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Nabi pun berpaling darinya, lalu Allah menurunkan ayat:
عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى
“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.”
Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.
Qatadah berkata:
Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnu Ummi Maktum pada hari perang Qadisiyah. Ia mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.
Abu Ya‘la dan Ibnu Jarir juga meriwayatkan:
Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Ia berkata: Ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Tunjukkanlah aku jalan yang benar.”
Saat itu di sisi Rasulullah ﷺ ada beberapa tokoh besar dari kalangan musyrikin. Nabi pun berpaling darinya dan lebih memperhatikan orang-orang tersebut. Beliau berkata kepada mereka, “Apakah menurut kalian apa yang aku katakan ini salah?”
Mereka menjawab, “Tidak.”
Maka dalam peristiwa inilah turun ayat:
عَبَسَ وَتَوَلَّى
At-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini melalui sanad Sa‘id bin Yahya Al-Umawi dengan sanad yang sama. Ia berkata: Sebagian perawi meriwayatkannya dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun tentang Ibnu Ummi Maktum tanpa menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah.
Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: Demikian pula riwayat tersebut terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’.
Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:
عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى
Ia berkata: Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan ‘Utbah bin Rabi‘ah, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Beliau sering menemui mereka dan sangat berharap agar mereka beriman.
Tiba-tiba datang seorang lelaki buta bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berjalan mendekati Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan mereka. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”
Nabi ﷺ berpaling darinya, bermuka masam, dan tidak menyukai pembicaraannya saat itu, lalu beliau kembali memusatkan perhatian kepada para tokoh tersebut.
Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai berbicara dengan mereka dan hendak pulang kepada keluarganya, Allah menahan sebagian penglihatannya. Kepala beliau pun tertunduk. Lalu Allah menurunkan ayat:
عَبَسَ وَتَوَلَّى
أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى
أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى
“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.
Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya.
Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat baginya.”
Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi Maktum
Setelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sering menyapanya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau butuhkan? Apakah engkau memerlukan sesuatu?”
Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak pergi, beliau juga berkata, “Apakah engkau memiliki kebutuhan yang bisa aku bantu?”
Hal itu terjadi setelah Allah menurunkan firman-Nya:
أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى
وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى
“Adapun orang yang merasa dirinya cukup, engkau justru memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada tanggung jawab atasmu jika ia tidak membersihkan dirinya.”
Namun dalam riwayat ini terdapat keanehan dan kemungkaran, dan para ulama telah membicarakan sanadnya.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan:
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab.
Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”
Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, yang disebut dalam ayat:
عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى
Ia biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Salim berkata: Ia adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai orang-orang berkata kepadanya ketika mereka melihat terbitnya fajar, “Sekarang sudah fajar, kumandangkanlah azan.”
Demikian pula disebutkan oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf bahwa ayat ini turun tentang Ibnu Ummi Maktum.
Yang paling masyhur, namanya adalah ‘Abdullah, dan ada pula yang mengatakan ‘Amr.
Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam Dakwah
Allah Ta’ala berfirman,
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1)
Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah ketika datang seorang laki-laki mukmin yang buta kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau.
Pada saat yang sama datang pula seorang lelaki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, sehingga beliau lebih condong dan memberi perhatian kepada orang kaya tersebut, sementara beliau berpaling dari orang buta yang miskin itu.
Beliau berharap orang kaya tersebut mendapatkan hidayah dan menjadi baik. Maka Allah menegur beliau dengan teguran yang lembut, dengan firman-Nya:
“Dia bermuka masam dan berpaling.”
Maksudnya, beliau bermuka masam kepada orang buta itu dan memalingkan badannya darinya.
أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2)
Karena orang buta itu datang kepadanya.
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3)
Kemudian Allah menjelaskan manfaat jika memperhatikannya, yaitu:
“Dan tahukah engkau, barangkali dia ingin membersihkan dirinya.”
Maksudnya, barangkali orang buta itu ingin menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik.
أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (4)
“Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu peringatan itu memberi manfaat baginya.”
Maksudnya, ia mengingat sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia dapat mengamalkan peringatan tersebut.
أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ (5)
Di sini terdapat pelajaran yang sangat besar, yaitu tujuan utama diutusnya para rasul, disampaikannya nasihat oleh para pemberi nasihat, dan diingatkannya manusia oleh para pengingat.
Memberi perhatian kepada orang yang datang sendiri dalam keadaan membutuhkan ilmu darimu adalah sikap yang lebih pantas dan lebih wajib.
Adapun memusatkan perhatian kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta nasihat karena tidak berminat pada kebaikan, sementara orang yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan, maka hal itu tidak pantas dilakukan.
Karena jika orang kaya itu tidak mau memperbaiki dirinya, maka engkau tidak menanggung dosa atas keburukan yang ia lakukan.
Dari ayat ini dipahami sebuah kaidah yang terkenal:
لَا يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُومٌ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ، وَلَا مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهَّمَةٍ
“Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang jelas demi sesuatu yang masih dugaan, dan tidak boleh meninggalkan kemaslahatan yang nyata demi kemaslahatan yang hanya diperkirakan.”
Karena itu, seharusnya seseorang lebih memberi perhatian kepada penuntut ilmu yang benar-benar membutuhkan, sangat memerlukannya, dan memiliki semangat untuk mempelajarinya dibandingkan yang lainnya.
Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas
Berikut tiga contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan saat ini:
1. Dalam dakwah dan pengajaran
Seorang dai meninggalkan majelis kecil yang serius belajar agama demi mengejar audiens besar yang belum tentu mau mendengar. Padahal orang yang hadir di majelis sudah jelas ingin belajar. Yang tepat adalah tetap memprioritaskan orang yang benar-benar datang untuk menuntut ilmu.
2. Dalam mendidik anak
Orang tua terlalu sibuk mengejar kesuksesan dunia anak (kursus, prestasi, lomba) tetapi mengabaikan pendidikan agama yang jelas manfaatnya bagi akhirat. Padahal membangun iman dan akhlak anak adalah maslahat yang pasti, sementara prestasi dunia belum tentu membawa kebaikan.
3. Dalam ibadah
Seseorang meninggalkan shalat berjamaah yang jelas pahalanya demi melakukan aktivitas lain yang belum tentu bernilai ibadah, seperti terlalu lama bermain gawai atau mengejar kesibukan dunia yang tidak mendesak.
Intinya, kaidah ini mengajarkan agar tidak meninggalkan kebaikan yang pasti demi sesuatu yang masih sekadar harapan atau dugaan.
Baca juga: Cara Dakwah Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an: Dekat, Peduli, dan Penyayang
Al-Qur’an untuk Memberi Peringatan
Allah Ta’ala berfirman,
كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ
“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:
Maksudnya, peringatan ini benar-benar merupakan nasihat dari Allah. Dengan itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.
Allah Ta’ala berfirman,
فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ
“maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. ‘Abasa: 12)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:
Jika hal itu telah jelas, maka siapa saja yang mau, ia akan mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah:
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir.’” (QS. Al-Kahfi: 29)
Allah Ta’ala berfirman,
فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ
“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (QS. ‘Abasa: 13)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:
Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan tingginya kedudukannya, yaitu berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.
Allah Ta’ala berfirman,
مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ
“yang ditinggikan lagi disucikan.” (QS. ‘Abasa: 14)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:
Lembaran itu tinggi kedudukan dan derajatnya, serta disucikan dari segala kekurangan, dan tidak dapat dijangkau oleh tangan-tangan setan ataupun dicuri oleh mereka.
Allah Ta’ala berfirman,
بِأَيْدِى سَفَرَةٍ
“di tangan para penulis (malaikat).” (QS. ‘Abasa: 15)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:
Yaitu di tangan para malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan para hamba-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ
“yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 16)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:
Mereka adalah malaikat yang banyak kebaikannya, penuh keberkahan, serta hati dan amal mereka sangat baik.
Semua ini merupakan penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya. Allah menjadikan para malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada para rasul, dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk mengganggunya. Hal ini semestinya mendorong untuk beriman dan menerima Al-Qur’an dengan penuh penerimaan. Namun demikian, manusia tetap saja enggan dan memilih kekafiran.
Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur?
Allah Ta’ala berfirman:
قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (١٧)
“Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!” (QS. ‘Abasa: 17)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksudnya, manusia sangat kufur terhadap nikmat Allah dan sangat keras penolakannya terhadap kebenaran setelah jelas baginya, padahal ia hanyalah makhluk yang lemah.
مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (١٨)
“Dari apakah Dia menciptakannya?” (QS. ‘Abasa: 18)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Ia diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah.
مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (١٩)
“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 19)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian menentukan penciptaannya, menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya.
ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠)
“Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa: 20)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Allah memudahkan baginya jalan, baik urusan agama maupun dunia, menunjukkan jalan itu, serta mengujinya dengan perintah dan larangan.
ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢١)
“Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur.” (QS. ‘Abasa: 21)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Allah memuliakannya dengan dikuburkan, tidak menjadikannya seperti hewan yang bangkainya dibiarkan di permukaan bumi.
ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (٢٢)
“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Artinya, Allah akan membangkitkannya setelah mati untuk diberi balasan. Allah semata yang mengatur manusia dan mengubah keadaannya dalam seluruh proses ini, tanpa ada sekutu bagi-Nya.
Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai!
Allah Ta’ala berfirman,
كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ
“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Namun manusia—dengan keadaan seperti ini—tidak menjalankan apa yang Allah perintahkan. Ia belum menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, bahkan terus berada dalam kekurangan dalam melaksanakan perintah tersebut.
فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ
“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Kemudian Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan dan merenungkan makanannya, bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui berbagai tahapan yang berulang, dan bagaimana Allah memudahkannya untuk mendapatkannya.
أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا
“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” (QS. ‘Abasa: 25)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Artinya, Kami menurunkan hujan ke bumi dengan deras.
ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا
“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa: 26)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Yakni Kami membelah bumi untuk tumbuhnya tanaman.
فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا
“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (QS. ‘Abasa: 27)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Yakni berbagai jenis makanan yang beragam dan lezat, serta sumber makanan yang baik, mencakup seluruh jenis biji-bijian dengan berbagai macamnya.
وَعِنَبًا وَقَضْبًا
“anggur dan sayur-sayuran.” (QS. ‘Abasa: 28)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
(Qadb adalah sayuran yang dimakan segar.)
وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا
“zaitun dan kurma.” (QS. ‘Abasa: 29)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Disebutkan khusus karena banyaknya manfaat dan kegunaannya.
وَحَدَآئِقَ غُلْبًا
“kebun-kebun (yang) lebat.” (QS. ‘Abasa: 30)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Yakni kebun-kebun yang dipenuhi pepohonan yang rimbun.
وَفَٰكِهَةً وَأَبًّا
“dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (QS. ‘Abasa: 31)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Buah-buahan adalah segala yang dinikmati manusia, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.
مَّتَٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ
“untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 32)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Adapun rumput-rumputan adalah makanan bagi hewan ternak. Karena itu Allah berfirman bahwa semua itu adalah kenikmatan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kalian.
Barang siapa memperhatikan nikmat-nikmat ini, maka hal itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Rabb-nya, bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya.
Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!
Allah Ta’ala berfirman,
فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ
“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Yaitu ketika datang teriakan hari kiamat, yang karena dahsyatnya membuat telinga menjadi tuli, dan hati menjadi terguncang, karena apa yang disaksikan manusia berupa kengerian dan kebutuhan yang sangat terhadap amal-amal yang telah lalu.
Allah Ta’ala berfirman,
يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ
“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. ‘Abasa: 34)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Manusia lari dari orang-orang yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, yaitu dari saudaranya,
Allah Ta’ala berfirman,
وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ
“dari ibu dan bapaknya.” (QS. ‘Abasa: 35)
وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ
“dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 36)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Ia lari dari orang-orang yang paling dekat dengannya: saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.
Allah Ta’ala berfirman,
لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya, dan tidak memperhatikan orang lain. Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.
Allah Ta’ala berfirman,
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ
“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.” (QS. ‘Abasa: 38)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Adapun orang-orang yang bahagia, wajah mereka tampak bersinar, terlihat kegembiraan dan kebahagiaan, karena mereka mengetahui keselamatan mereka dan keberhasilan meraih kenikmatan.
Allah Ta’ala berfirman,
ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ
“tertawa dan bergembira ria” (QS. ‘Abasa: 39)
وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ
“dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (QS. ‘Abasa: 40)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Adapun orang-orang yang celaka, wajah mereka pada hari itu tertutup debu.
Allah Ta’ala berfirman,
تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ
“dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (QS. ‘Abasa: 41)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Wajah mereka diliputi kegelapan, menjadi hitam dan suram, mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan mengetahui kesengsaraan serta kebinasaan mereka.
Allah Ta’ala berfirman,
أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ
“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 42)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, dan berani melanggar larangan-Nya.
Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.
Referensi:
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic
- Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic
—–
Malam Kamis, 30 Ramadhan 1447 H
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



