Manajemen QolbuTafsir Al Qur'an

Sudah Banyak Dosa? QS. Ghafir Ayat 3 Mengajarkan Jangan Putus Asa

Al-Qur’an sering menanamkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah. Seorang hamba tidak boleh terlalu merasa aman dari azab-Nya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Surah Ghafir ayat 3 merangkum keseimbangan tersebut melalui sifat Allah yang Maha Mengampuni, menerima tobat, namun juga keras dalam hukuman-Nya.

 

 

Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3

Allah Ta’ala berfirman,

غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Dialah Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya segala sesuatu kembali.” (QS. Ghafir: 3)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.

  • غَافِرِ الذَّنْبِ artinya Allah mengampuni dosa orang-orang yang berdosa.
  • وَقَابِلِ التَّوْبِ artinya Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.
  • شَدِيدِ الْعِقَابِ artinya Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang berani terus-menerus berbuat dosa dan tidak mau bertobat.
  • ذِي الطَّوْلِ maksudnya Allah memiliki karunia, kebaikan, dan ihsan yang sangat luas serta meliputi.

Setelah Allah menegaskan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan itu semua mengharuskan bahwa hanya Dia satu-satunya sesembahan yang pantas diibadahi serta hanya kepada-Nya amal diikhlaskan, maka Allah berfirman:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya tempat kembali.”

 

Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’an

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini:

Hubungan antara penyebutan turunnya Al-Qur’an dari Allah yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut mencakup seluruh kandungan makna Al-Qur’an.

Sebab isi Al-Qur’an itu mencakup beberapa hal:

Pertama, Al-Qur’an berisi berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu tercakup dalam ayat ini, karena di dalamnya disebut nama, sifat, dan perbuatan Allah.

Kedua, Al-Qur’an berisi berita tentang perkara-perkara gaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang. Semua itu merupakan bagian dari pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya.

Ketiga, Al-Qur’an berisi berita tentang nikmat-nikmat Allah yang agung, karunia-Nya yang besar, serta jalan untuk meraihnya melalui berbagai perintah. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: ذِي الطَّوْلِ.

Keempat, Al-Qur’an berisi berita tentang azab Allah yang keras, serta berbagai perbuatan maksiat yang menyebabkan datangnya azab tersebut. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: شَدِيدِ الْعِقَابِ.

Kelima, Al-Qur’an berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa agar bertobat, kembali kepada Allah, dan memohon ampun. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ.

Keenam, Al-Qur’an berisi penjelasan bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Al-Qur’an juga menegakkan dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat tentang hal itu, mendorong manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang mereka dari menyembah selain-Nya, menerangkan rusaknya ibadah kepada selain Allah, serta memperingatkan manusia darinya. Semua ini ditunjukkan oleh firman-Nya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.

Ketujuh, Al-Qur’an berisi berita tentang hukum balasan Allah yang adil, pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: إِلَيْهِ الْمَصِيرُ.

Jadi, ayat ini secara ringkas telah merangkum seluruh pokok ajaran besar yang terkandung dalam Al-Qur’an.

 

Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa Takut

Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan firman Allah:

غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ

Artinya, Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat pada masa yang akan datang bagi siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya.

Kemudian firman-Nya:

شَدِيدِ الْعِقَابِ

Artinya, Allah sangat keras hukuman-Nya bagi orang yang membangkang, melampaui batas, lebih memilih kehidupan dunia, menentang perintah Allah, dan berlaku zalim.

Dalam ayat ini terkumpul dua hal sekaligus, yaitu harapan dan rasa takut. Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)

Allah sering menyandingkan kedua sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur’an, agar seorang hamba selalu berada di antara harapan dan rasa takut.

Selanjutnya firman Allah:

ذِي الطَّوْلِ

Ibnu ‘Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki keluasan dan kekayaan. Penafsiran ini juga dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.

Yazid bin Al-Asham mengatakan bahwa maknanya adalah Allah memiliki kebaikan yang sangat banyak.

Ikrimah menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki karunia dan pemberian.

Sedangkan Qatadah menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah memiliki berbagai nikmat dan keutamaan.

Makna keseluruhannya adalah bahwa Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya, memberikan berbagai anugerah dan nikmat kepada mereka, padahal mereka tidak mampu mensyukuri satu pun dari nikmat tersebut secara sempurna.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS. Ibrahim: 34)

Kemudian firman-Nya:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ

Artinya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.

Firman-Nya:

إِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Artinya, hanya kepada-Nya tempat kembali dan tempat kembali terakhir. Di sana Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.

Sebagaimana firman-Nya:

وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41)

 

Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh?

Kisah pertama ini dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.

Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq As-Sabi‘i menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata,

“Wahai Amirul Mukminin, aku telah melakukan pembunuhan. Apakah masih ada tobat bagiku?”

Maka ‘Umar membacakan kepadanya ayat:

حم

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ

Kemudian beliau berkata,

اِعْمَلْ وَلَا تَيْأَسْ

“Beramallah dan jangan berputus asa.”

Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim (dengan lafaz ini) dan juga oleh Ibnu Jarir.

 

Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab)

Kisah kedua ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.

Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Musa bin Marwan Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ‘Umar — yaitu Ibnu Ayyub — menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Burqan menceritakan dari Yazid bin Al-Asham, ia berkata: Dahulu ada seorang lelaki dari penduduk Syam yang dikenal kuat dan pemberani. Ia sering datang menemui ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu waktu ‘Umar tidak lagi melihatnya, lalu beliau bertanya,

“Apa yang terjadi dengan si fulan bin fulan?”

Mereka menjawab,

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، يُتَابِعُ فِي هَذَا الشَّرَابِ

“Wahai Amirul Mukminin, ia sekarang sering terjerumus dalam minuman keras.”

Maka ‘Umar memanggil penulisnya dan berkata, “Tulislah:

Dari ‘Umar bin Al-Khaththab kepada fulan bin fulan.

Salam sejahtera untukmu. Amma ba‘du.

Sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.”

Kemudian ‘Umar berkata kepada para sahabatnya,

اُدْعُوا اللَّهَ لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ، وَأَنْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.

“Doakanlah saudara kalian ini agar hatinya kembali kepada Allah dan agar Allah menerima tobatnya.”

Ketika surat ‘Umar sampai kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang sambil berkata,

“غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ

(Dia Yang mengampuni dosa, menerima tobat, dan keras hukuman-Nya).”

Ia berkata, “Allah telah memperingatkanku dengan hukuman-Nya, namun juga menjanjikan ampunan bagiku.”

Ia terus mengulang-ulang ayat itu pada dirinya, hingga akhirnya ia menangis. Setelah itu ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan bertobat dengan sebaik-baiknya.

Ketika kabar tersebut sampai kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

هَكَذَا فَاصْنَعُوا، إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدِّدُوهُ وَوَفِّقُوهُ، وَادْعُوا اللَّهَ لَهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ.

“Seperti inilah yang harus kalian lakukan. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah dan bantulah ia kembali ke jalan yang benar. Doakanlah agar Allah menerima tobatnya. Jangan sampai kalian justru menjadi penolong setan untuk menjatuhkannya.”

Baca juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan

 

Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan Tobat

Kisah ketiga ini adalah kelanjutan penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.

Ibnu Abi Hatim berkata: ‘Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Hammad bin Waqid — Abu ‘Umar Ash-Shaffar — menceritakan kepada kami, Tsabit Al-Bunani berkata:

Aku pernah bersama Mush‘ab bin Az-Zubair di wilayah sekitar Kufah. Lalu aku masuk ke sebuah kebun untuk menunaikan shalat dua rakaat. Aku memulai membaca Surah حم المؤمن (Surah Ghafir). Ketika sampai pada ayat:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ

tiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku, menunggang bagal berwarna keabu-abuan. Ia mengenakan pakaian bergaris dari Yaman. Ia berkata kepadaku:

“Jika engkau membaca غَافِرِ الذَّنْبِ, maka katakanlah:

‘Wahai Yang Mengampuni dosa, ampunilah dosaku.’

Jika engkau membaca وَقَابِلِ التَّوْبِ, maka katakanlah:

‘Wahai Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.’

Jika engkau membaca شَدِيدِ الْعِقَابِ, maka katakanlah:

‘Wahai Yang sangat keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.’”

Tsabit berkata: Aku pun menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat seorang pun. Lalu aku keluar menuju pintu kebun dan bertanya kepada orang-orang,

“Apakah ada seseorang yang lewat di sini, mengenakan pakaian bergaris dari Yaman?”

Mereka menjawab, “Kami tidak melihat siapa pun.”

Sebagian orang kemudian beranggapan bahwa orang tersebut adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam.

Riwayat ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari Tsabit dengan kisah yang serupa, namun dalam riwayat itu tidak disebutkan bahwa orang tersebut adalah Ilyas.

 

Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Terlambat

Di zaman sekarang, banyak orang terjatuh dalam dua sikap yang berbahaya. Sebagian terlalu merasa aman dari dosa sehingga terus menunda tobat, sementara sebagian lain justru putus asa dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: tetap takut kepada hukuman Allah, tetapi tetap berharap pada ampunan-Nya.

  • Ayat ini mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seseorang yang pernah melakukan dosa besar sekalipun masih memiliki peluang kembali kepada Allah. Karena itu, jangan pernah menutup pintu harapan bagi diri sendiri maupun bagi saudara kita yang sedang jatuh dalam dosa.
  • Sebaliknya, jika kita melihat saudara kita tergelincir, jangan malah mencela dan menjatuhkannya. Nasihati dengan lembut, doakan agar Allah memberinya hidayah, dan bantu ia kembali kepada jalan yang benar. Inilah akhlak para sahabat, sebagaimana nasihat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu agar kita tidak menjadi penolong setan atas saudara kita.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu hidup di antara rasa takut dan harapan, serta senantiasa kembali kepada-Nya dengan tobat yang tulus.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ.

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, rahmatilah kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar bertobat.”

 

Referensi:

 

—–

 

Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 2   +   6   =  

Back to top button