Tafsir Surah At-Takwir: Gambaran Dahsyat Hari Kiamat
Surah At-Takwir menggambarkan peristiwa-peristiwa dahsyat yang terjadi menjelang hari kiamat, ketika tatanan alam semesta berubah dan manusia menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang menggetarkan. Melalui ayat-ayat ini, Allah mengingatkan bahwa pada hari itu setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dipersiapkannya untuk akhirat, baik berupa kebaikan maupun keburukan.
Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-Takwir
Ketika Matahari Padam dan Bintang-Bintang Berjatuhan
Allah Ta’ala berfirman,
إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ
“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwir: 1)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Apabila terjadi peristiwa-peristiwa besar yang dahsyat ini, maka manusia akan dipisahkan, dan setiap orang akan mengetahui apa yang telah ia persiapkan untuk akhiratnya, berupa kebaikan maupun keburukan. Hal itu terjadi pada hari kiamat, ketika matahari digulung, yaitu dikumpulkan dan dilipat, bulan digelapkan, lalu keduanya dilemparkan ke dalam neraka.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتْ
“dan apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwir: 2)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Dan apabila bintang-bintang berubah dan jatuh berserakan dari tempat peredarannya.
Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga Ditinggalkan
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا ٱلْجِبَالُ سُيِّرَتْ
“dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwir: 3)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Dan apabila gunung-gunung digerakkan. Gunung-gunung itu mula-mula menjadi seperti gundukan pasir yang mudah hancur, kemudian menjadi seperti bulu yang beterbangan, lalu berubah menjadi debu yang bertebaran dan dipindahkan dari tempatnya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا ٱلْعِشَارُ عُطِّلَتْ
“dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan).” (QS. At-Takwir: 4)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan. Pada saat itu manusia meninggalkan harta mereka yang paling berharga, yang sebelumnya sangat mereka perhatikan dan jaga setiap waktu. Mereka menjadi lalai darinya karena kedahsyatan yang mereka hadapi. Disebutkan “unta-unta bunting” karena itulah harta yang paling berharga bagi orang Arab pada masa itu. Penyebutan ini juga mencakup setiap harta yang sangat bernilai.
Binatang Dikumpulkan dan Lautan Menyala
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا ٱلْوُحُوشُ حُشِرَتْ
“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwir: 5)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Semuanya dihimpun pada hari kiamat agar Allah menegakkan keadilan dengan memberi pembalasan antara sebagian dengan yang lain. Dengan demikian para hamba dapat melihat kesempurnaan keadilan-Nya. Bahkan akan dilakukan pembalasan antara hewan yang bertanduk terhadap hewan yang tidak bertanduk, kemudian setelah itu Allah berfirman kepadanya, “Jadilah kamu tanah.”
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا ٱلْبِحَارُ سُجِّرَتْ
“dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS. At-Takwir: 6)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Dan apabila lautan dipanaskan hingga menyala, sehingga lautan yang sangat besar itu berubah menjadi api yang berkobar.
Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama Golongannya
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتْ
“dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwir: 7)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Dan apabila setiap jiwa dipasangkan dengan yang sejenis dengannya. Orang-orang yang berbuat baik dikumpulkan bersama orang-orang yang berbuat baik, dan orang-orang durhaka dikumpulkan bersama orang-orang durhaka. Orang-orang beriman dipasangkan dengan bidadari surga, sedangkan orang-orang kafir dipasangkan dengan setan-setan mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا
“Orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 71)
وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka digiring ke surga secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 73)
احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ
“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim bersama pasangan-pasangan mereka.” (QS. Ash-Shaffat: 22)
Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan Ditanya
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا ٱلْمَوْءُۥدَةُ سُئِلَتْ
“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya.” (QS. At-Takwir: 8)
بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتْ
“karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 9)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Yang dimaksud adalah perbuatan yang dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah yang sangat bodoh, yaitu mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa alasan apa pun, kecuali karena takut miskin.
Lalu ditanyakan kepadanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Padahal sudah diketahui bahwa ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam hal ini terdapat celaan dan teguran keras bagi orang-orang yang membunuhnya.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai ayat di atas sebagai berikut.
Demikianlah bacaan mayoritas ulama qiraah: سُئِلَتْ (ditanya). Yang dimaksud dengan al-mau’ūdah adalah bayi perempuan yang pada masa jahiliah dikubur hidup-hidup di dalam tanah karena mereka tidak menyukai kelahiran anak perempuan. Pada hari kiamat nanti, bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu akan ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal itu menjadi ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim?
Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya“, maksudnya adalah ia meminta penjelasan. Demikian pula dikatakan oleh Abu Adh-Dhuha, bahwa ia menuntut darahnya. Hal yang sama juga dikatakan oleh As-Suddi dan Qatadah.
Terdapat beberapa hadis yang berkaitan dengan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Imam Ahmad meriwayatkan: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abi Ayyub menceritakan kepada kami, Abu Al-Aswad—yaitu Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Naufal—menceritakan kepadaku, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Judamah binti Wahb, saudari ‘Ukasyah. Ia berkata: Aku pernah berada bersama Rasulullah ﷺ di tengah beberapa orang, lalu beliau bersabda, “Aku pernah berniat melarang ghilah (menggauli istri yang sedang menyusui). Namun aku melihat orang Romawi dan Persia melakukannya, dan hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka.” Kemudian beliau ditanya tentang ‘azl (menumpahkan mani di luar rahim), maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Itu adalah pembunuhan yang tersembunyi,” yaitu seperti yang disebutkan dalam ayat “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Abu ‘Abdurrahman Al-Muqri’, yaitu Abdullah bin Yazid, dari Sa’id bin Abi Ayyub. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Yahya bin Ishaq As-Sailahini dari Yahya bin Ayyub. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dari jalur Malik bin Anas, semuanya dari Abu Al-Aswad dengan sanad yang sama.
Imam Ahmad juga meriwayatkan: Ibnu Abi ‘Adi menceritakan kepada kami dari Dawud bin Abi Hind, dari Asy-Sya’bi, dari ‘Alqamah, dari Salamah bin Yazid Al-Ju’fi. Ia berkata: Aku dan saudaraku pergi menemui Rasulullah ﷺ. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, ibu kami yang bernama Mulaikah dahulu suka menyambung silaturahmi, memuliakan tamu, dan melakukan berbagai kebaikan, tetapi ia meninggal pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kami berkata lagi, “Dahulu ia pernah mengubur hidup-hidup saudari kami pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka, kecuali jika orang yang mengubur itu masuk Islam, maka Allah akan memaafkannya.”
Hadis ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Dawud bin Abi Hind dengan sanad yang sama.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ahmad bin Sinan Al-Wasithi menceritakan kepada kami, Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Isra’il meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari ‘Alqamah dan Abu Al-Ahwas, dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka.”
Baca juga: Membunuh Anak Karena Takut Miskin
Ahmad juga meriwayatkan: Ishaq Al-Azraq menceritakan kepada kami, ‘Auf menceritakan kepada kami, Hasna binti Mu’awiyah As-Sarimiyah menceritakan kepadaku dari pamannya. Ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa saja yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Nabi di surga, syahid di surga, anak kecil di surga, dan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup juga di surga.”
Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Qurrah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Al-Hasan berkata: Pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup berada di surga.” Hadis ini adalah hadis mursal dari riwayat Al-Hasan, dan sebagian ulama menerimanya.
Baca juga: Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?
Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Abu Abdullah Az-Zahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin ‘Umar Al-‘Adani menceritakan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan dari ‘Ikrimah bahwa Ibnu ‘Abbas berkata, “Anak-anak orang musyrik berada di surga. Barang siapa mengatakan bahwa mereka di neraka, maka ia telah berdusta.” Lalu ia membaca firman Allah:
وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ • بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ
Ibnu ‘Abbas berkata: Yang dimaksud adalah anak perempuan yang dikubur hidup-hidup.
Abdurrazzaq meriwayatkan: Isra’il menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb, dari An-Nu’man bin Basyir, dari ‘Umar bin Al-Khaththab tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur hidup-hidup beberapa anak perempuanku pada masa jahiliah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Bebaskanlah seorang budak untuk setiap anak perempuan itu.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak unta.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”
Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar berkata: Riwayat ini diperselisihkan dari Abdurrazzaq, dan kami tidak menuliskannya kecuali dari jalur Al-Husain bin Mahdi darinya.
Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkannya dengan sanad yang sama, hanya saja disebutkan bahwa Qais bin ‘Ashim berkata, “Aku telah mengubur delapan anak perempuanku pada masa jahiliah.” Pada akhir riwayat disebutkan, “Jika engkau mau, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”
Kemudian ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Raja’ menceritakan kepada kami, Qais bin Ar-Rabi’ meriwayatkan dari Al-Aghar bin Ash-Shabah, dari Khalifah bin Hushain. Ia berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur dua belas atau tiga belas anak perempuanku pada masa jahiliah.” Beliau bersabda, “Bebaskanlah budak sejumlah mereka.” Maka ia pun membebaskan budak sebanyak itu. Pada tahun berikutnya ia datang dengan membawa seratus ekor unta lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah sedekah dari kaumku setelah apa yang telah aku lakukan terhadap kaum muslimin.” Ali bin Abi Thalib berkata: Kami pun menggembalakannya dan menamainya unta-unta Qais.
Firman Allah:
بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ
Pada hari kiamat bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal ini sebagai ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika orang yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim?
Catatan Amal Dibuka, Langit Disingkap
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتْ
“dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka.” (QS. At-Takwir: 10)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Apabila lembaran-lembaran catatan amal dibuka, yaitu catatan yang berisi seluruh perbuatan manusia, baik kebaikan maupun keburukan. Catatan itu kemudian dibagikan kepada pemiliknya. Ada yang menerima kitabnya dengan tangan kanan, ada yang menerimanya dengan tangan kiri, dan ada pula yang menerimanya dari belakang punggungnya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتْ
“dan apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwir: 11)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Dan apabila langit disingkap atau dihilangkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
يَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ
“Pada hari ketika langit terbelah dengan awan.” (QS. Al-Furqan: 25)
Dan firman-Nya:
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ
“Pada hari Kami melipat langit seperti melipat lembaran-lembaran kitab.” (QS. Al-Anbiya’: 104)
Serta firman-Nya:
وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ
“Dan bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67)
Neraka Dinyalakan dan Surga Didekatkan
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا ٱلْجَحِيمُ سُعِّرَتْ
“dan apabila neraka Jahim dinyalakan.” (QS. At-Takwir: 12)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Dan apabila neraka Jahim dinyalakan dengan sangat dahsyat, sehingga apinya berkobar dan menyala-nyala dengan kobaran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا ٱلْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ
“dan apabila surga didekatkan.” (QS. At-Takwir: 13)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Dan apabila surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa.
Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah Dipersiapkannya
Allah Ta’ala berfirman,
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ أَحْضَرَتْ
“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwir: 14)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Pada saat itu setiap jiwa mengetahui apa yang telah dibawanya, yaitu amal-amal yang dahulu telah ia kerjakan dan kini dihadirkan di hadapannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا
“Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis di hadapan mereka).” (QS. Al-Kahfi: 49)
Sifat-sifat hari kiamat yang digambarkan oleh Allah ini adalah gambaran yang mengguncang hati, menimbulkan kegelisahan yang besar, membuat tubuh gemetar, dan menimbulkan rasa takut yang meliputi manusia. Semua itu mendorong orang-orang yang berakal untuk mempersiapkan diri menghadapi hari tersebut dan menjauhi segala sesuatu yang mendatangkan penyesalan.
Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang Hati
Karena itu sebagian ulama salaf berkata:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيَ عَيْنٍ، فَلْيَتَدَبَّرْ سُورَةَ { إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ }
“Barang siapa ingin melihat gambaran hari kiamat seakan-akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia merenungkan surah Idzasy-Syamsu Kuwwirat (Surah At-Takwir).”
Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam Semesta
Allah Ta’ala berfirman,
فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ
“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Allah Ta‘ala bersumpah dengan bintang-bintang yang bersembunyi, yaitu bintang-bintang yang tampak mundur dari perjalanan biasa bintang-bintang lainnya menuju arah timur. Yang dimaksud adalah tujuh benda langit yang bergerak: matahari, bulan, Venus, Jupiter, Mars, Saturnus, dan Merkurius.
Ketujuh benda langit ini memiliki dua jenis pergerakan: pergerakan menuju arah barat bersama bintang-bintang dan langit lainnya, serta pergerakan yang berlawanan menuju arah timur yang khusus dimiliki oleh ketujuh benda langit tersebut.
Allah Ta’ala berfirman,
ٱلْجَوَارِ ٱلْكُنَّسِ
“yang beredar dan terbenam.” (QS. At-Takwir: 16)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Allah bersumpah dengan bintang-bintang itu ketika bersembunyi, yaitu ketika tampak mundur; ketika berjalan, yaitu saat bergerak di orbitnya; dan ketika masuk ke tempat persembunyian, yaitu saat tidak tampak di siang hari.
Ada pula kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah seluruh bintang, baik yang bergerak maupun yang tidak.
Allah Ta’ala berfirman,
وَٱلَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ
“demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya.” (QS. At-Takwir: 17)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
“Demi malam apabila telah hampir berakhir.” Ada pula yang menafsirkan: apabila malam mulai datang.
Allah Ta’ala berfirman,
وَٱلصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ
“dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS. At-Takwir: 18)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
“Dan demi subuh apabila mulai bernapas,” yaitu ketika tanda-tanda fajar mulai tampak dan cahaya mulai terbelah sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari pun terbit.
Semua ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang agung. Allah bersumpah dengannya untuk menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tinggi Al-Qur’an.
Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril)
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّهُۥ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ
“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwir: 19)
ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلْعَرْشِ مَكِينٍ
“yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy.” (QS. At-Takwir: 20)
مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ
“yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (QS. At-Takwir: 21)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah perkataan yang dibawa oleh seorang utusan yang mulia, yaitu Jibril ‘alaihissalam. Ia menurunkannya dari Allah Ta‘ala.
Sebagaimana firman Allah:
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ
“Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Yang dibawa turun oleh Ar-Rūḥul Amīn (Jibril) ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-194)
Allah menyifati Jibril sebagai mulia, karena kemuliaan akhlaknya dan banyaknya sifat terpuji yang dimilikinya. Ia adalah malaikat yang paling utama dan paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.
ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20)
Ia memiliki kekuatan dalam melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.
Di antara bukti kekuatannya adalah ketika ia membalik negeri kaum Nabi Luth, sehingga mereka pun dibinasakan.
Ia juga dekat dengan Pemilik ‘Arsy, yaitu Allah. Artinya, Jibril memiliki kedudukan yang tinggi dan kedekatan khusus di sisi Allah.
Makīn berarti memiliki kedudukan dan tempat yang tinggi, melebihi kedudukan para malaikat lainnya.
مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21)
Ia adalah malaikat yang ditaati di sana, yaitu di kalangan para malaikat di alam atas.
Di bawah perintahnya terdapat para malaikat yang patuh kepadanya; perintahnya dijalankan dan pendapatnya ditaati.
Ia juga amanah, yaitu menunaikan tugas yang diperintahkan kepadanya dengan sempurna: tidak menambah, tidak mengurangi, dan tidak melampaui apa yang telah ditetapkan baginya.
Semua sifat ini menunjukkan betapa mulianya Al-Qur’an di sisi Allah, karena wahyu tersebut dibawa oleh malaikat yang mulia dengan sifat-sifat yang sempurna.
Kebiasaan para raja adalah tidak mengutus orang yang mulia kecuali untuk tugas yang sangat penting dan pesan yang paling agung.
Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa Wahyu
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ
“Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.” (QS. At-Takwir: 22)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Setelah Allah menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan malaikat yang membawa Al-Qur’an, Allah juga menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan manusia yang menerima Al-Qur’an dan mengajak manusia kepadanya. Allah berfirman: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.”
Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bukanlah orang gila sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuhnya yang mendustakan risalahnya dan melontarkan berbagai tuduhan terhadapnya. Mereka mengatakan berbagai perkataan itu dengan maksud memadamkan kebenaran yang beliau bawa, sebisa yang mereka lakukan. Padahal beliau adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling matang pendapatnya, dan paling jujur ucapannya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ رَءَاهُ بِٱلْأُفُقِ ٱلْمُبِينِ
“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwir: 23)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Maksudnya, Nabi Muhammad ﷺ benar-benar melihat Malaikat Jibril ‘alaihissalam di ufuk yang terang dan jelas, yaitu di tempat paling tinggi yang dapat terlihat oleh pandangan mata.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا هُوَ عَلَى ٱلْغَيْبِ بِضَنِينٍ
“Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.” (QS. At-Takwir: 24)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Artinya, beliau tidak dituduh menambah, mengurangi, atau menyembunyikan sedikit pun dari wahyu yang Allah turunkan kepadanya. Nabi ﷺ adalah orang yang terpercaya bagi penduduk langit dan penduduk bumi. Beliau menyampaikan risalah Tuhannya dengan penyampaian yang jelas. Beliau tidak menahan sedikit pun dari wahyu tersebut, baik kepada orang kaya maupun orang miskin, kepada pemimpin maupun rakyat biasa, kepada laki-laki maupun perempuan, kepada penduduk kota maupun penduduk desa. Karena itulah Allah mengutus beliau di tengah umat yang ummi dan sangat jahil. Namun sebelum beliau wafat, mereka telah menjadi ulama yang rabbani, para ahli ilmu yang tajam pemahamannya. Pada merekalah puncak ilmu, dan kepada merekalah berakhir kemampuan dalam menggali makna-makna yang mendalam. Mereka adalah para guru, sedangkan selain mereka hanyalah murid-murid mereka.
Al-Qur’an Bukan Perkataan Setan
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَٰنٍ رَّجِيمٍ
“Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk.” (QS. At-Takwir: 25)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Setelah Allah menjelaskan kemuliaan kitab-Nya dan keutamaannya dengan menyebutkan dua rasul yang mulia—yang melalui keduanya Al-Qur’an sampai kepada manusia—serta memuji keduanya dengan pujian yang agung, Allah menolak segala tuduhan dan kekurangan yang dapat merusak kebenaran Al-Qur’an. Maka Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk, yaitu setan yang sangat jauh dari Allah dan dari kedekatan kepada-Nya.
Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran?
Allah Ta’ala berfirman,
فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ
“maka ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwir: 26)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Artinya, bagaimana mungkin anggapan seperti itu muncul dalam pikiran kalian? Ke mana hilangnya akal kalian sampai-sampai kalian menjadikan kebenaran—yang berada pada tingkat paling tinggi dari kejujuran—sebagai sesuatu yang dianggap dusta, padahal dusta adalah sesuatu yang paling rendah, paling buruk, dan paling hina di antara berbagai bentuk kebatilan? Bukankah ini tidak lain hanyalah bentuk terbaliknya hakikat kebenaran?
Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh Manusia
Allah Ta’ala berfirman,
إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَٰلَمِينَ
“Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwir: 27)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Melalui Al-Qur’an, manusia diingatkan tentang Tuhan mereka, tentang sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan tentang segala kekurangan serta keburukan yang mustahil bagi-Nya. Mereka juga diingatkan tentang berbagai perintah dan larangan beserta hikmahnya. Selain itu, mereka diingatkan tentang ketentuan-ketentuan Allah, baik yang bersifat takdir, syariat, maupun balasan. Singkatnya, melalui Al-Qur’an manusia diingatkan tentang berbagai kemaslahatan dunia dan akhirat, dan dengan mengamalkannya mereka meraih kebahagiaan di dua kehidupan tersebut.
لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ
“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 28)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Hal ini berlaku setelah jelas perbedaan antara jalan yang benar dan jalan yang sesat, serta antara petunjuk dan kesesatan.
Hidayah Terjadi dengan Kehendak Allah
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.
Artinya, kehendak Allah pasti berlaku dan tidak mungkin ditolak ataupun dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat yang semisal terdapat bantahan terhadap dua kelompok: golongan Qadariyah yang menolak takdir dan golongan yang memaksakan takdir secara mutlak.
Referensi:
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic
- Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic
—–
Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



