Tafsir Al Qur'anTeladan

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail: Ujian Cinta kepada Allah yang Menggetarkan Hati

Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, adalah salah satu kisah paling agung dalam Al-Qur’an. Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta seorang hamba kepada Allah sehingga ia mendahulukan perintah-Nya di atas segalanya. Dari peristiwa ini kita belajar tentang keimanan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.

Baca juga: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail

 

 

Hijrah Nabi Ibrahim karena Tauhid

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As-Saffat: 99)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:

Ketika mereka melakukan tindakan tersebut terhadapnya, sementara Ibrahim telah menegakkan hujah kepada mereka dan telah menyampaikan alasan yang jelas, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku,” yaitu berhijrah kepada-Nya dengan menuju negeri yang diberkahi, yaitu negeri Syam. “Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku,” yakni menunjukkan kepadaku jalan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi urusan agama dan duniaku. Dalam ayat lain beliau berkata,

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا

Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.” (QS. Maryam: 48)

 

Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang Saleh

Allah Ta’ala berfirman,

رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:

Maksudnya, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh. Ketika Ibrahim telah berputus asa dari kaumnya dan tidak melihat kebaikan pada mereka, ia berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, yang dapat memberi manfaat dalam kehidupannya dan setelah wafatnya.

 

Kabar Gembira Kelahiran Nabi Ismail

Allah Ta’ala berfirman,

فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ

Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Saffat: 101)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:

Allah pun mengabulkan doanya dan berfirman, “Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” Anak tersebut adalah Ismail ‘alaihis salam tanpa keraguan. Setelah itu disebutkan kabar gembira tentang Ishaq. Allah berfirman dalam kabar gembira tentang Ishaq,

وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ

Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)

Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang diperintahkan untuk disembelih. Allah menyifati Ismail dengan sifat halim (penyantun), yang mencakup kesabaran, akhlak yang baik, kelapangan dada, dan sikap memaafkan orang yang berbuat salah.

 

Perintah Menyembelih Ismail dalam Mimpi

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. As-Saffat: 102)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:

Ketika anak itu telah mencapai usia yang memungkinkan ia membantu ayahnya dan menjadi usia yang biasanya paling dicintai oleh kedua orang tuanya—karena kesulitannya telah berlalu dan manfaatnya mulai tampak—maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Maksudnya, ia melihat dalam mimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya. Mimpi para nabi adalah wahyu.

Kemudian ia berkata, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Karena perintah Allah pasti harus dilaksanakan.

Ismail menjawab dengan penuh kesabaran, mengharap pahala, ridha kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dirinya telah menyiapkan diri untuk bersabar. Ia juga mengaitkannya dengan kehendak Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.

Baca juga: Yang Disembelih adalah Ishak, Bukan Ismail?

 

Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran Ismail

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:

Ketika Ibrahim dan putranya Ismail sama-sama berserah diri kepada perintah Allah, Ibrahim telah bertekad menyembelih anaknya—buah hatinya—dalam rangka menaati perintah Tuhannya dan karena takut akan azab-Nya. Sementara sang anak telah menyiapkan diri untuk bersabar, dan hal itu menjadi ringan baginya demi menaati Tuhannya dan menyenangkan ayahnya.

Dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya,” yaitu Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah menghadap ke bawah agar ia dapat menyembelihnya, sehingga ia tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan.

 

Allah Menghentikan Penyembelihan

Allah Ta’ala berfirman,

وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim.” (QS. As-Saffat: 104)

قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ

sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 105)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:

Pada saat yang sangat menegangkan dan menggetarkan itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu,” yaitu engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau telah menyiapkan dirimu untuk melaksanakannya dan telah melakukan semua sebabnya. Yang tersisa hanyalah menjalankan pisau di leher anakmu.

“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” yaitu mereka yang mendahulukan keridaan Allah daripada keinginan diri mereka.

 

Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada Allah

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:

Ujian yang Allah berikan kepada Ibrahim ini adalah ujian yang sangat jelas, yang menampakkan kemurnian dirinya serta kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ismail adalah anak yang sangat dicintainya, sedangkan Ibrahim adalah Khalilur Rahman, kekasih Allah. Tingkatan khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi dan tidak menerima sekutu.

Ketika sebagian hatinya terikat kepada anaknya, Allah ingin memurnikan cintanya dan menguji kedudukannya sebagai khalil. Maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih sesuatu yang bersaing dengan kecintaannya kepada Allah.

Ketika Ibrahim lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada keinginan dirinya dan telah bertekad menyembelih anaknya, maka hilanglah penghalang dalam hatinya. Karena itu penyembelihan tersebut tidak lagi diperlukan. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

 

Asal Syariat Qurban

Allah Ta’ala berfirman,

وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:

Maksudnya, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan dari kambing yang besar, yang disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, karena termasuk ibadah yang agung, dan karena ia menjadi qurban serta sunnah yang terus berlangsung hingga hari kiamat.

Baca juga: Ketentuan dan Hikmah Ibadah Qurban

 

Pujian Abadi untuk Nabi Ibrahim

Allah Ta’ala berfirman,

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 108)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:

Artinya, Allah menetapkan bagi Ibrahim pujian yang baik di kalangan generasi setelahnya, sebagaimana ia juga dipuji oleh generasi sebelumnya. Setiap zaman setelah Ibrahim, ia selalu dicintai, dimuliakan, dan dipuji.

Allah Ta’ala berfirman,

سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ

“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” (QS. As-Saffat: 109)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:

Ini adalah bentuk penghormatan dan doa keselamatan untuknya, sebagaimana firman Allah,

قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ

Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (QS. An-Naml: 59)

 

Balasan bagi Orang yang Berbuat Ihsan

Allah Ta’ala berfirman,

كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 110)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:

Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah dan dalam memperlakukan sesama manusia, Allah memberikan balasan kepada mereka dengan menghilangkan kesulitan dari mereka serta menjadikan bagi mereka akhir yang baik dan pujian yang indah.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat: 111)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:

Ibrahim termasuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman terhadap apa yang diperintahkan untuk diimani, hingga imannya mencapai tingkat keyakinan yang tinggi. Sebagaimana firman Allah,

وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)

 

Nasihat Penutup

Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta lainnya: cinta kepada harta, jabatan, bahkan kepada keluarga. Di zaman sekarang, banyak orang rela melanggar perintah Allah demi menjaga kepentingan dunia, padahal seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan keridaan Allah di atas segala-galanya.

Semoga kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kita kepada Allah dalam setiap keadaan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sabar dalam ujian, dan kuat dalam menaati perintah-Nya.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ فِي الْبَلَاءِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas, karuniakan kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian, dan tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.”

 

Referensi:

  • Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic 

 

—–

 

Malam Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 0   +   10   =  

Back to top button