Kisah Perang Khandaq dalam Surah Al-Ahzab: Pelajaran Tentang Pertolongan Allah
Surah Al-Ahzab merupakan salah satu surah Madaniyah yang sarat dengan pelajaran tentang keteguhan iman dan ujian mental. Nama “Al-Ahzab” sendiri merujuk pada pasukan sekutu (koalisi) kafir Quraisy bersama kabilah-kabilah lain yang mengepung Madinah dalam Perang Khandaq.
Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Ahzab (Perang Khandaq) dan Pelajaran di Dalamnya
Berikut adalah pengembangan empat bagian utama kisah Perang Ahzab dalam surah ini sebagai bahan tadabbur kita:
1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11)
Pada bagian awal, Allah mengingatkan kaum mukminin tentang besarnya nikmat pertolongan-Nya. Saat itu, pasukan musuh datang dari “atas” dan “bawah” Madinah, hingga mata kaum Muslimin terbelalak ketakutan dan hati mereka seolah menyesak sampai ke tenggorokan.
Allah Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَآءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ahzab: 9)
إِذْ جَآءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ ٱلْأَبْصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلْقُلُوبُ ٱلْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠
“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)
هُنَالِكَ ٱبْتُلِىَ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا۟ زِلْزَالًا شَدِيدًا
“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. Al-Ahzab: 11)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.
Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman tentang nikmat-Nya kepada mereka dan mendorong mereka untuk mensyukurinya. Nikmat itu terjadi ketika pasukan-pasukan musuh datang menyerang mereka. Pasukan tersebut berasal dari penduduk Makkah dan wilayah Hijaz yang datang dari arah atas mereka, serta dari penduduk Najd yang datang dari arah bawah mereka. Mereka sepakat dan bersekutu untuk memusnahkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Khandaq.
Kaum Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah juga turut membantu mereka. Mereka bergabung dan mengerahkan pasukan yang besar serta berbagai kelompok manusia yang banyak.
Rasulullah ﷺ kemudian menggali parit (khandaq) di sekitar Madinah sebagai strategi pertahanan. Pasukan musuh pun mengepung kota Madinah. Keadaan menjadi sangat genting. Rasa takut semakin memuncak hingga hati terasa naik ke tenggorokan. Sebagian manusia bahkan mulai berprasangka yang bermacam-macam karena melihat sebab-sebab yang tampak begitu kuat dan berbagai kesulitan yang sangat berat.
Pengepungan terhadap Madinah berlangsung cukup lama. Keadaan saat itu sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firman-Nya:
وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَ
“Dan (ingatlah) ketika pandangan menjadi liar dan hati menyesak sampai ke tenggorokan, dan kalian berprasangka yang bermacam-macam terhadap Allah.” (QS. Al-Ahzab: 10)
Maksudnya, muncul berbagai prasangka buruk pada sebagian orang, seolah-olah Allah tidak akan menolong agama-Nya dan tidak akan menyempurnakan kalimat-Nya (agama Islam).
“Di sanalah orang-orang mukmin diuji dan diguncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat.” (QS. Al-Ahzab: 11)
Di saat itulah orang-orang beriman diuji dengan ujian yang sangat besar. Mereka diguncang dengan guncangan yang dahsyat berupa rasa takut, kecemasan, dan kelaparan. Semua itu terjadi agar tampak jelas keimanan mereka dan agar keyakinan mereka semakin bertambah kuat.
Dalam peristiwa itu tampak—segala puji bagi Allah—betapa kuat iman dan keyakinan mereka, hingga mereka mencapai derajat keimanan yang sangat tinggi.
Ketika kesulitan semakin berat dan berbagai penderitaan semakin memuncak, keimanan mereka pun berubah menjadi keyakinan yang nyata. Allah menggambarkan sikap mereka dalam firman-Nya:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan keadaan itu tidaklah menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)
Pada saat yang sama, kemunafikan orang-orang munafik pun menjadi jelas. Apa yang selama ini mereka sembunyikan dalam hati akhirnya tampak nyata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya.
- Pelajaran Penting: Ujian berat adalah sunnatullah untuk menyaring siapa yang benar-benar beriman. Namun, bagi mereka yang bersabar, Allah mengirimkan “pasukan tak terlihat” berupa angin kencang dan malaikat untuk memukul mundur musuh.
- Pesan Utama: Jangan pernah meragukan pertolongan Allah saat kondisi terasa paling menghimpit sekalipun.
2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20)
Al-Qur’an secara gamblang membongkar isi hati orang munafik saat krisis terjadi. Mereka berkata bahwa janji Allah dan Rasul-Nya hanyalah tipu daya. Mereka mencari-cari alasan (udzur) untuk meninggalkan medan perang dengan dalih “rumah kami tidak aman”, padahal mereka hanya ingin melarikan diri.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ يَقُولُ ٱلْمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورًا
“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.” (QS. Al-Ahzab: 12)
وَإِذْ قَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ يَٰٓأَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَٱرْجِعُوا۟ ۚ وَيَسْتَـْٔذِنُ فَرِيقٌ مِّنْهُمُ ٱلنَّبِىَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِىَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِن يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا
“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.” (QS. Al-Ahzab: 13)
وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِم مِّنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا۟ ٱلْفِتْنَةَ لَءَاتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا۟ بِهَآ إِلَّا يَسِيرًا
“Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.” (QS. Al-Ahzab: 14)
وَلَقَدْ كَانُوا۟ عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ مِن قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلْأَدْبَٰرَ ۚ وَكَانَ عَهْدُ ٱللَّهِ مَسْـُٔولًا
“Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)”. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Ahzab: 15)
قُل لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلْفِرَارُ إِن فَرَرْتُم مِّنَ ٱلْمَوْتِ أَوِ ٱلْقَتْلِ وَإِذًا لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا
“Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS. Al-Ahzab: 16)
قُلْ مَن ذَا ٱلَّذِى يَعْصِمُكُم مِّنَ ٱللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوٓءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
“Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)
۞ قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ وَٱلْقَآئِلِينَ لِإِخْوَٰنِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا ۖ وَلَا يَأْتُونَ ٱلْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا
“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.” (QS. Al-Ahzab: 18)
أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَٱلَّذِى يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى ٱلْخَيْرِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا۟ فَأَحْبَطَ ٱللَّهُ أَعْمَٰلَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا
“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)
يَحْسَبُونَ ٱلْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا۟ ۖ وَإِن يَأْتِ ٱلْأَحْزَابُ يَوَدُّوا۟ لَوْ أَنَّهُم بَادُونَ فِى ٱلْأَعْرَابِ يَسْـَٔلُونَ عَنْ أَنۢبَآئِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا۟ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓا۟ إِلَّا قَلِيلًا
“Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.
“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, ‘Tidaklah Allah dan Rasul-Nya menjanjikan kepada kami selain tipu daya belaka.’” (QS. Al-Ahzab: 12)
Inilah kebiasaan orang munafik ketika menghadapi kesulitan dan ujian. Iman mereka tidak kokoh. Mereka menilai keadaan hanya dengan akal yang pendek dan pandangan yang sempit, lalu membenarkan prasangka buruk mereka sendiri.
“Dan (ingatlah) ketika segolongan dari mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian (untuk bertahan di sini), maka kembalilah kalian.’ Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak terjaga).’ Padahal rumah-rumah itu tidaklah terbuka; mereka tidak menghendaki selain melarikan diri.” (QS. Al-Ahzab: 13)
Sebagian orang munafik, ketika rasa takut meliputi mereka dan kesabaran mereka melemah, menjadi orang-orang yang gagal dan putus asa. Mereka bukan hanya tidak mampu bersabar sendiri, tetapi juga berusaha melemahkan orang lain.
Mereka berkata, “Wahai penduduk Yatsrib!” maksudnya adalah penduduk Madinah. Mereka menyebut kota itu dengan nama lamanya (Yatsrib berarti cercaan), seakan-akan mereka tidak mempedulikan persaudaraan iman dan agama. Yang mendorong mereka hanyalah kelemahan dan ketakutan.
Mereka berkata, “Tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah!” Maksudnya, kembalilah ke kota Madinah. Dengan ucapan ini mereka melemahkan semangat kaum Muslimin untuk berjihad dan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan menghadapi musuh.
Kelompok ini adalah kelompok yang paling buruk dan paling berbahaya. Ada pula kelompok lain yang lebih lemah dari mereka. Kelompok ini diliputi rasa takut dan ingin mundur dari barisan, sehingga mereka mencari-cari alasan yang tidak benar.
Mereka berkata kepada Nabi ﷺ, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.” Maksudnya, rumah-rumah kami terancam bahaya dan kami khawatir musuh akan menyerangnya ketika kami tidak berada di sana, maka izinkanlah kami kembali untuk menjaganya.
Padahal mereka berdusta. Allah menegaskan bahwa tujuan mereka hanyalah melarikan diri. Inilah keadaan orang-orang yang imannya lemah dan tidak kokoh ketika menghadapi ujian yang berat.
Baca juga: Cinta Dunia dan Takut Mati
“Seandainya kota itu diserang dari segala penjuru, kemudian mereka diminta untuk murtad (dari agama), niscaya mereka akan melakukannya, dan mereka tidak akan menundanya kecuali sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 14)
Artinya, seandainya musuh berhasil memasuki Madinah dari berbagai penjuru dan menguasainya, lalu mereka diminta meninggalkan agama mereka dan kembali kepada agama orang-orang yang menang, niscaya mereka akan segera melakukannya. Mereka tidak memiliki keteguhan dalam mempertahankan agama.
Baca juga: Diancam Murtad
“Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah bahwa mereka tidak akan berpaling ke belakang. Dan janji kepada Allah itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Ahzab: 15)
Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan. Janji kepada Allah pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka akan ditanya tentang janji tersebut, dan ternyata mereka telah melanggarnya.
Baca juga: Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya Bagi Hati
“Katakanlah, ‘Melarikan diri tidak akan bermanfaat bagi kalian jika kalian lari dari kematian atau pembunuhan. Jika pun demikian, kalian hanya akan menikmati kehidupan sebentar saja.’” (QS. Al-Ahzab: 16)
Katakanlah kepada mereka bahwa melarikan diri tidak akan memberi manfaat apa pun. Jika seseorang telah ditakdirkan mati atau terbunuh, maka hal itu pasti akan terjadi. Seandainya mereka tetap berada di rumah mereka, orang yang telah ditakdirkan mati tetap akan keluar menuju tempat kematiannya.
Sebab-sebab memang dapat memberi manfaat selama tidak bertentangan dengan takdir Allah. Namun ketika takdir Allah telah datang, semua sebab akan hilang dan semua usaha manusia tidak lagi berguna.
Kalaupun mereka melarikan diri untuk menikmati kehidupan dunia, kesenangan itu hanyalah sementara dan tidak sebanding dengan kenikmatan abadi yang mereka tinggalkan.
Baca juga: Kematian yang Tidak Bisa Dihindari
“Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melindungi kalian dari Allah jika Dia menghendaki keburukan bagi kalian atau menghendaki rahmat bagi kalian?’ Mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)
Ayat ini menjelaskan bahwa semua sebab tidak dapat menyelamatkan manusia jika Allah menghendaki keburukan baginya. Allah adalah Dzat yang memberi dan menahan, yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Dia.
Karena itu hendaknya manusia menaati Allah, Dzat yang mengatur seluruh urusan, yang kehendak-Nya pasti terlaksana dan takdir-Nya pasti terjadi.
“Sungguh Allah mengetahui orang-orang di antara kalian yang menghalang-halangi (orang lain) dan yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak datang ke medan perang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 18)
Allah mengetahui orang-orang yang menghalangi manusia dari berjihad dan berkata kepada saudara-saudara mereka, “Kembalilah kepada kami,” sebagaimana ucapan mereka sebelumnya, “Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah.”
Mereka sendiri hampir tidak pernah datang ke medan peperangan. Mereka sangat ingin tertinggal karena tidak ada dorongan iman dan kesabaran dalam diri mereka, sementara sebab-sebab yang mendorong rasa takut dan kemunafikan sangat kuat.
“Mereka sangat kikir terhadap kalian. Ketika datang rasa takut, engkau melihat mereka memandang kepadamu dengan mata terbelalak seperti orang yang pingsan karena takut mati. Tetapi ketika rasa takut itu hilang, mereka mencela kalian dengan kata-kata yang tajam, dan mereka sangat kikir terhadap kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak beriman, maka Allah menghapus amal-amal mereka. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)
Mereka kikir dengan diri mereka dalam peperangan dan kikir dengan harta mereka untuk berinfak di jalan Allah. Ketika rasa takut datang, mereka memandang dengan mata yang berputar-putar seperti orang yang hampir mati karena ketakutan.
Namun ketika keadaan kembali aman, mereka berbicara dengan kata-kata keras dan penuh klaim seolah-olah mereka adalah orang-orang yang berani.
Sifat paling buruk dalam diri manusia adalah kikir terhadap kebaikan: kikir dengan hartanya untuk berinfak di jalan Allah, kikir dengan dirinya untuk berjihad dan berdakwah, kikir dengan kedudukannya, ilmunya, nasihatnya, dan pendapatnya.
Orang-orang seperti ini tidak memiliki iman. Karena itu Allah menghapus amal-amal mereka, dan hal itu sangat mudah bagi Allah.
Adapun orang-orang beriman, Allah menjaga mereka dari sifat kikir dan memberi taufik kepada mereka untuk mengorbankan diri, harta, kedudukan, dan ilmu mereka di jalan Allah.
“Mereka mengira bahwa pasukan-pasukan sekutu itu belum pergi. Jika pasukan-pasukan itu datang lagi, mereka ingin berada di tengah orang-orang Badui di padang pasir sambil menanyakan kabar tentang kalian. Sekiranya mereka berada bersama kalian, mereka tidak akan berperang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)
Orang-orang munafik itu mengira pasukan sekutu belum benar-benar pergi dan akan kembali menyerang hingga memusnahkan kaum Muslimin. Jika pasukan itu datang lagi, mereka berharap tidak berada di Madinah, tetapi tinggal bersama orang-orang Badui di padang pasir, hanya mendengar kabar dari jauh tentang apa yang terjadi pada kaum Muslimin.
Walaupun mereka berada di tengah kaum Muslimin, mereka hampir tidak ikut berperang kecuali sedikit saja. Oleh karena itu, tidak perlu mempedulikan mereka dan tidak perlu bersedih atas ketidakhadiran mereka.
- Pelajaran Penting: Karakter orang munafik adalah bakhil (pelit) terhadap kebaikan dan sangat penakut. Ketika bahaya datang, mata mereka berputar-putar karena takut mati, namun ketika bahaya hilang, mereka mencela kaum mukminin dengan lisan yang tajam.
- Pesan Utama: Waspadai sifat mencari-cari alasan dalam beribadah atau berjihad, karena itu adalah salah satu ciri kemunafikan.
3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24)
Di tengah kepungan musuh, Allah menetapkan Nabi Muhammad sebagai Uswatun Hasanah (suri teladan yang baik). Berbeda dengan orang munafik, kaum mukminin ketika melihat pasukan musuh justru berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.”
Allah Ta’ala berfirman,
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُوا۟ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسْلِيمًا
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)
مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)
لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا
“supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa pada diri Rasulullah ﷺ terdapat teladan yang sangat baik. Beliau sendiri hadir dalam medan peperangan, terjun langsung menghadapi pertempuran, padahal beliau adalah manusia yang paling mulia, paling sempurna, dan paling berani.
Jika Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan begitu tinggi saja turun langsung menghadapi kesulitan dan bahaya, lalu bagaimana mungkin seseorang merasa enggan mengorbankan dirinya dalam perkara yang Rasulullah ﷺ sendiri telah melakukannya?
Karena itu, hendaknya kaum Muslimin meneladani beliau dalam perkara ini dan dalam seluruh urusan lainnya.
Para ulama usul fikih juga menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa perbuatan Rasulullah ﷺ dapat dijadikan hujah (landasan hukum). Pada dasarnya, umat beliau diperintahkan meneladani beliau dalam hukum-hukum syariat, kecuali jika ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa suatu perkara hanya berlaku bagi beliau.
Teladan itu ada dua macam:
Pertama, teladan yang baik (uswah hasanah).
Teladan yang baik terdapat pada diri Rasulullah ﷺ. Orang yang meneladani beliau berarti sedang menempuh jalan yang mengantarkannya kepada kemuliaan di sisi Allah, yaitu jalan yang lurus.
Kedua, teladan yang buruk.
Yaitu meneladani selain Rasulullah ﷺ ketika mereka menyelisihi beliau. Inilah teladan yang buruk, sebagaimana perkataan orang-orang kafir ketika para rasul mengajak mereka mengikuti kebenaran:
إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 22)
Teladan yang baik ini hanya akan ditempuh dan dimudahkan bagi orang yang benar-benar berharap kepada Allah dan hari akhir. Keimanan, rasa takut kepada Allah, harapan terhadap pahala-Nya, serta rasa takut terhadap azab-Nya akan mendorong seseorang untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam seluruh kehidupannya.
“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Keadaan itu tidak menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)
Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik ketika diliputi rasa takut, Allah kemudian menjelaskan keadaan orang-orang beriman.
Ketika orang-orang beriman melihat pasukan-pasukan sekutu yang berkumpul dan telah mengambil posisi untuk menyerang, rasa takut memang muncul. Namun mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami.”
Maksudnya adalah janji yang disebutkan dalam firman Allah:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian ujian seperti yang dialami orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan serta diguncang dengan berbagai cobaan, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)
Karena itu mereka berkata, “Benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Mereka benar-benar menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri apa yang sebelumnya telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Peristiwa besar itu justru tidak menambah bagi mereka selain bertambahnya iman di dalam hati mereka dan ketundukan pada anggota tubuh mereka, yaitu kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah Allah.
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur (menunaikan janjinya), dan di antara mereka ada pula yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah (janji mereka) sedikit pun.” (QS. Al-Ahzab: 23)
Setelah Allah menyebutkan bahwa orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan, tetapi kemudian mereka melanggar janji itu, Allah lalu menyebutkan keadaan orang-orang beriman yang justru menepati janji mereka.
Di antara orang-orang beriman terdapat para lelaki sejati yang benar dalam janji mereka kepada Allah. Mereka menepati, menyempurnakan, dan melaksanakan janji itu dengan sepenuh hati. Mereka mengorbankan jiwa mereka demi keridaan Allah dan menyerahkan diri mereka untuk ketaatan kepada-Nya.
Sebagian dari mereka telah menunaikan janjinya, yaitu mereka telah mencapai apa yang mereka inginkan dan memenuhi kewajiban yang ada pada diri mereka. Mereka gugur di jalan Allah atau wafat setelah menunaikan kewajiban mereka tanpa mengurangi sedikit pun.
Sebagian yang lain masih menunggu, yaitu mereka masih melanjutkan perjuangan untuk menyempurnakan janji mereka. Mereka terus berusaha dan bersungguh-sungguh untuk menunaikan apa yang menjadi kewajiban mereka kepada Allah.
Mereka tidak pernah mengubah janji mereka sedikit pun, berbeda dengan orang lain yang mengkhianatinya. Mereka tetap teguh pada janji tersebut, tidak menyimpang dan tidak berubah.
فَهَؤُلَاءِ الرِّجَالُ عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَمَنْ عَدَاهُمْ فَصُوَرُهُمْ صُوَرُ رِجَالٍ، وَأَمَّا الصِّفَاتُ فَقَدْ قَصُرَتْ عَنْ صِفَاتِ الرِّجَالِ.
Merekalah para lelaki sejati dalam makna yang sebenarnya. Adapun selain mereka, mungkin hanya memiliki rupa seperti lelaki, tetapi sifat-sifat mereka jauh dari sifat para lelaki yang sebenarnya.
“Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Ahzab: 24)
Maksudnya, Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan, dan hubungan mereka dengan Allah. Lahir dan batin mereka selaras, tidak ada perbedaan antara yang tampak dan yang tersembunyi.
Allah Ta’ala juga berfirman:
هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
“Ini adalah hari ketika orang-orang yang jujur mendapatkan manfaat dari kejujuran mereka. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Ma’idah: 119)
Artinya, Allah menetapkan berbagai ujian, kesulitan, dan guncangan itu agar tampak jelas siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Dengan demikian Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur atas kejujuran mereka.
Adapun orang-orang munafik, mereka disiksa karena hati dan perbuatan mereka berubah ketika datangnya ujian. Mereka tidak menepati janji yang telah mereka buat kepada Allah.
Firman Allah “jika Dia menghendaki” maksudnya, jika Allah menghendaki untuk mengazab mereka, yaitu ketika Dia tidak menghendaki memberi mereka hidayah, karena Dia mengetahui bahwa tidak ada kebaikan pada diri mereka, sehingga mereka tidak diberi taufik.
Atau Allah menerima tobat mereka, yaitu dengan memberi mereka taufik untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Inilah yang lebih sering terjadi karena keluasan kemurahan Allah.
Karena itu ayat ini ditutup dengan dua nama Allah yang menunjukkan ampunan dan kasih sayang-Nya:
إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا
Allah Maha Pengampun terhadap dosa orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka, meskipun mereka banyak melakukan maksiat, selama mereka datang dengan tobat.
Dan Allah Maha Penyayang kepada mereka, dengan memberi taufik untuk bertobat, kemudian menerima tobat tersebut, serta menutupi dosa-dosa yang pernah mereka lakukan.
- Pelajaran Penting: Ujian bagi orang mukmin tidak mengurangi iman, justru menambah ketundukan. Mereka adalah orang-orang yang menepati janji setianya kepada Allah; ada yang telah gugur dan ada yang masih menunggu gilirannya tanpa mengubah janji sedikit pun.
- Pesan Utama: Jadikan Rasulullah sebagai standar bersikap dalam menghadapi kesulitan hidup.
4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)
Bagian penutup menjelaskan hasil akhir dari peperangan. Allah memukul mundur pasukan kafir dengan kemarahan mereka sendiri tanpa membawa hasil (harta rampasan) sedikit pun. Allah juga memberikan hukuman bagi kaum Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang berkhianat dan membantu musuh dari dalam.
Allah Ta’ala berfirman,
وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا۟ خَيْرًا ۚ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلْقِتَالَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا
“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)
وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ مِن صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا
“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)
وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَٰرَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَـُٔوهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرًا
“Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.
“Dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan penuh kemarahan mereka, mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah mencukupkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)
Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dalam keadaan kecewa dan marah. Mereka tidak mendapatkan apa pun dari tujuan yang mereka inginkan. Mereka datang dengan kemarahan besar, penuh ambisi, dan yakin akan memperoleh kemenangan. Mereka tertipu oleh banyaknya pasukan yang mereka kumpulkan, bangga dengan persatuan mereka, serta merasa kuat karena jumlah dan perlengkapan mereka.
Namun Allah mengirimkan kepada mereka angin yang sangat kencang, yaitu angin ash-shabā. Angin itu mengguncang posisi mereka, merobohkan tenda-tenda mereka, menumpahkan periuk-periuk mereka, dan membuat mereka gelisah. Allah juga menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka pulang dalam keadaan marah dan kecewa. Inilah salah satu bentuk pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Allah pun mencukupkan orang-orang beriman dari peperangan melalui sebab-sebab yang Allah tetapkan, baik sebab yang tampak maupun sebab yang ditakdirkan-Nya. Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya kecuali pasti akan dikalahkan. Tidak ada yang meminta pertolongan kepada-Nya kecuali pasti akan dimenangkan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya jika Dia menghendakinya. Kekuatan dan kemuliaan manusia tidak akan berguna jika Allah tidak menolong mereka dengan kekuatan dan kemuliaan-Nya.
“Dan Dia menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu mereka dari benteng-benteng mereka, serta menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian dari mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)
Allah juga menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu pasukan sekutu, yaitu kaum Yahudi, dari benteng-benteng mereka. Mereka diturunkan dari benteng itu dalam keadaan dikalahkan dan berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin.
Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka tidak mampu lagi melawan. Mereka menyerah, tunduk, dan terhina. Sebagian dari mereka dibunuh, yaitu para lelaki yang ikut berperang, sedangkan sebagian yang lain ditawan, yaitu perempuan dan anak-anak.
وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَئُوهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا
“Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang belum pernah kalian injak. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)
Allah memberikan kepada kalian tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang sebelumnya tidak pernah kalian injak. Tanah itu dahulu begitu terhormat dan kuat di mata pemiliknya sehingga kalian tidak mampu menguasainya. Namun Allah memberi kalian kekuasaan atasnya, menghinakan mereka, dan menjadikan kalian memperoleh harta mereka. Kalian membunuh sebagian dari mereka dan menawan sebagian yang lain.
Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya. Termasuk dalam kekuasaan-Nya adalah apa yang Dia tetapkan untuk kalian.
Kelompok Ahli Kitab yang dimaksud dalam ayat ini adalah Bani Quraizhah, salah satu kaum Yahudi yang tinggal di sebuah perkampungan di luar Madinah yang tidak jauh jaraknya.
Baca juga: Perang Bani Quraizhah dan Pelajaran di Dalamnya
Ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, beliau membuat perjanjian damai dengan mereka. Mereka hidup dengan agama mereka sendiri, dan Nabi ﷺ tidak memerangi mereka serta tidak pula mengganggu mereka.
Namun ketika terjadi Perang Khandaq dan mereka melihat pasukan sekutu yang sangat banyak berkumpul untuk memerangi Rasulullah ﷺ, sementara jumlah kaum Muslimin sedikit, mereka mengira bahwa Rasulullah dan kaum beriman akan dimusnahkan. Hal ini juga dipengaruhi oleh tipu daya sebagian pemimpin mereka.
Akhirnya mereka melanggar perjanjian yang telah mereka buat dengan Rasulullah ﷺ dan membantu kaum musyrikin untuk memerangi beliau.
Ketika Allah mengalahkan pasukan musyrik, Rasulullah ﷺ kemudian menghadapi Bani Quraizhah. Beliau mengepung mereka di benteng mereka hingga akhirnya mereka menyerah dan menerima keputusan hukum dari Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu.
Sa’d memutuskan bahwa para lelaki yang ikut berperang dibunuh, sedangkan perempuan dan anak-anak mereka ditawan, serta harta mereka dijadikan rampasan perang.
Dengan demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada Rasul-Nya dan kaum beriman. Allah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka, menenangkan hati mereka dengan kekalahan musuh-musuh mereka, membunuh orang-orang yang terbunuh dari musuh itu, serta menawan orang-orang yang ditawan.
Dan kelembutan serta pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman terus berlangsung.
- Pelajaran Penting: Kemenangan bukan semata karena strategi atau jumlah pasukan, melainkan karena Allah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Pengkhianatan terhadap perjanjian (iman) akan berujung pada kehinaan di dunia dan akhirat.
- Pesan Utama: Istiqamah dalam kebenaran akan selalu berujung pada kemenangan yang manis, sementara pengkhianatan hanya akan membawa kerugian.
Referensi:
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic
—–
Rabu, 22 Ramadhan 1447 H
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



