Tafsir Surah Al-Infithar: Dahsyatnya Hari Kiamat dan Peringatan bagi Manusia
Surah Al-Infithar menggambarkan dengan sangat kuat peristiwa besar yang akan terjadi pada hari kiamat, ketika langit terbelah, bintang-bintang berserakan, lautan meluap, dan seluruh manusia dibangkitkan dari kuburnya. Pada saat itulah setiap jiwa mengetahui dengan jelas seluruh amal yang pernah ia lakukan, lalu manusia dihadapkan kepada perhitungan di hadapan Allah. Ayat-ayat ini juga menegur manusia yang tertipu oleh kehidupan dunia, mengingatkan bahwa setiap amal dicatat oleh para malaikat dan pada akhirnya manusia akan menerima balasan: kenikmatan bagi orang-orang yang berbakti dan azab bagi orang-orang yang durhaka.
Ayat Pertama – Kelima
Allah Ta’ala berfirman,
إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنفَطَرَتْ
“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar: 1)
وَإِذَا ٱلْكَوَاكِبُ ٱنتَثَرَتْ
“dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” (QS. Al-Infithar: 2)
وَإِذَا ٱلْبِحَارُ فُجِّرَتْ
“dan apabila lautan menjadikan meluap.” (QS. Al-Infithar: 3)
وَإِذَا ٱلْقُبُورُ بُعْثِرَتْ
“dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.” (QS. Al-Infithar: 4)
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ
“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” (QS. Al-Infithar: 5)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.
Apabila langit terbelah dan pecah,
dan bintang-bintangnya berserakan serta hilang keindahannya.
Apabila lautan diluapkan sehingga semuanya menyatu menjadi satu lautan besar.
Dan apabila kubur-kubur dibongkar, yakni ketika semua yang ada di dalamnya berupa manusia yang telah mati dikeluarkan kembali.
Pada saat itulah setiap jiwa mengetahui apa yang telah ia kerjakan sebelumnya dan apa yang ia tinggalkan.
Semua manusia pun dikumpulkan di hadapan Allah untuk menjalani perhitungan atas amal perbuatan mereka. Pada saat itu, segala penutup tersingkap dan semua yang dahulu tersembunyi menjadi tampak. Setiap jiwa mengetahui dengan jelas apa yang ia bawa: apakah berupa keuntungan atau kerugian.
Di saat itulah orang-orang zalim menggigit kedua tangannya karena penyesalan, ketika mereka melihat amal-amal mereka ternyata sia-sia, timbangan kebaikan mereka ringan, berbagai kezaliman yang pernah mereka lakukan menuntut balasan, dan dosa-dosa mereka telah hadir di hadapan mereka. Saat itu mereka benar-benar yakin akan kesengsaraan yang abadi dan azab yang tidak pernah berakhir.
Sebaliknya, pada saat itu pula orang-orang yang bertakwa—yang dahulu mendahulukan amal-amal saleh—akan meraih kemenangan yang besar, memperoleh kenikmatan yang kekal, serta selamat dari azab neraka.
Ayat Keenam – Kedelapan
Allah Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلْكَرِيمِ
“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.” (QS. Al-Infithar: 6)
ٱلَّذِى خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ فَعَدَلَكَ
“Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (QS. Al-Infithar: 7)
فِىٓ أَىِّ صُورَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ
“dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar: 8)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.
Dalam ayat ini, Allah menegur manusia yang lalai terhadap kewajiban kepada Rabbnya dan yang berani melakukan hal-hal yang dimurkai-Nya. Allah berfirman:
“Wahai manusia, apa yang membuatmu tertipu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?”
Apakah karena engkau meremehkan hak-hak-Nya?
Apakah karena engkau memandang ringan azab-Nya?
Ataukah karena engkau tidak benar-benar beriman kepada balasan dari-Nya?
Ayat ini merupakan teguran keras bagi manusia yang tertipu oleh kemurahan Allah. Allah Maha Pemurah, tetapi kemurahan itu bukan berarti manusia boleh berani bermaksiat atau meremehkan perintah-Nya. Justru kemurahan Allah seharusnya membuat manusia semakin malu untuk berbuat dosa dan semakin bersungguh-sungguh dalam menaati-Nya.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat selanjutnya sebagai berikut.
Bukankah Dia yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan bentukmu dalam keadaan yang paling baik?
{فَسَوَّاكَ}
Artinya, Allah menyempurnakan penciptaanmu dan menjadikanmu dalam bentuk yang paling sempurna.
{فَعَدَلَكَ}
Artinya, Allah menyusun tubuhmu dengan susunan yang seimbang, tegak, dan proporsional. Dia menjadikanmu dengan bentuk yang paling indah dan penampilan yang paling baik.
Jika demikian, pantaskah seorang manusia mengingkari nikmat dari Dzat yang telah memberi nikmat, atau menyangkal kebaikan dari Dzat yang telah berbuat baik kepadanya?
Ayat ini mengingatkan manusia agar merenungkan asal penciptaannya. Tubuh yang sempurna, bentuk yang indah, dan susunan yang seimbang adalah bukti besar dari karunia Allah. Karena itu, tidak pantas bagi manusia membalas nikmat tersebut dengan kekufuran atau kedurhakaan.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat selanjutnya sebagai berikut.
“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar: 8)
Sikap manusia yang durhaka itu tidak lain muncul karena kebodohan, kezaliman, kedegilan, dan keras kepala.
Karena itu, hendaknya manusia bersyukur kepada Allah. Sebab Allah tidak menjadikan dirinya dalam bentuk anjing, keledai, atau hewan lainnya.
Allah-lah yang memilihkan baginya bentuk yang paling baik. Oleh karena itu Allah berfirman:
{فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ}
“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”
Artinya, Allah menyusun dan membentuk manusia sesuai dengan kehendak-Nya, memberikan kepadanya bentuk yang sempurna, susunan anggota tubuh yang seimbang, dan rupa yang paling baik di antara makhluk.
Maka seharusnya manusia menyadari besarnya nikmat tersebut, lalu membalasnya dengan syukur dan ketaatan, bukan dengan kekufuran dan kedurhakaan.
Ayat Kesembilan – Kedua Belas
Allah Ta’ala berfirman,
كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ
“Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 9)
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَٰفِظِينَ
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu).” (QS. Al-Infithar: 10)
كِرَامًا كَٰتِبِينَ
“yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (QS. Al-Infithar: 11)
يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
“mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 12)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.
Maksudnya, meskipun telah disampaikan berbagai nasihat dan peringatan, kalian tetap saja terus-menerus mendustakan hari pembalasan.
Kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan yang telah kalian lakukan.
Allah telah menugaskan atas kalian para malaikat yang mulia, yang mencatat setiap ucapan dan perbuatan kalian serta mengetahui apa yang kalian kerjakan. Termasuk dalam hal ini adalah amal-amal hati dan amal-amal anggota tubuh.
Karena itu, sudah sepantasnya kalian memuliakan mereka, menghormati mereka, dan menjaga sikap di hadapan mereka.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 9-12 sebagai berikut.
Mereka adalah malaikat yang mulia. Karena itu, janganlah kalian membalasnya dengan perbuatan-perbuatan yang buruk, sebab mereka mencatat seluruh amal kalian.
Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad Ath-Thanafisi, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Mis‘ar dari ‘Alqamah bin Martsad dari Mujahid, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
أَكْرِمُوا الْكِرَامَ الْكَاتِبِينَ الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى حَالَتَيْنِ: الْجَنَابَةِ وَالْغَائِطِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ أَوْ لِيَسْتُرْهُ أَخُوهُ
“Muliakanlah para malaikat pencatat yang mulia, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Jika salah seorang dari kalian mandi, hendaklah ia menutup dirinya dengan dinding, dengan untanya, atau hendaklah saudaranya menutupinya.”
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar dengan sanad yang bersambung, namun dengan lafaz yang lain. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Utsman bin Karamah, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Musa dari Hafsh bin Sulaiman dari ‘Alqamah bin Martsad dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ عَنِ التَّعَرِّي، فَاسْتَحْيُوا مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ الَّذِينَ مَعَكُمُ الْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ، الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى ثَلَاثِ حَالَاتٍ: الْغَائِطِ، وَالْجَنَابَةِ، وَالْغُسْلِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ بِالْعَرَاءِ فَلْيَسْتَتِرْ بِثَوْبِهِ أَوْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ
“Sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bertelanjang. Maka malulah kepada para malaikat Allah yang bersama kalian, yaitu para malaikat pencatat yang mulia, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam tiga keadaan: ketika buang hajat, ketika junub, dan ketika mandi. Jika salah seorang dari kalian mandi di tempat terbuka, hendaklah ia menutup dirinya dengan pakaiannya, dengan dinding, atau dengan untanya.”
Kemudian ia berkata: Hafsh bin Sulaiman adalah perawi yang hadisnya lemah. Namun hadisnya tetap diriwayatkan dan masih dapat dipertimbangkan.
Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga berkata: telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Ayyub, telah menceritakan kepada kami Mubasyir bin Isma‘il Al-Halabi, telah menceritakan kepada kami Tammam bin Najih dari Al-Hasan Al-Bashri dari Anas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ حَافِظَيْنِ يَرْفَعَانِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا حَفِظَا فِي يَوْمٍ، فَيَرَى فِي أَوَّلِ الصَّحِيفَةِ وَفِي آخِرِهَا اسْتِغْفَارًا، إِلَّا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي مَا بَيْنَ طَرَفَيِ الصَّحِيفَةِ
“Tidaklah ada dua malaikat penjaga yang mengangkat kepada Allah apa yang mereka catat dalam satu hari, lalu Allah melihat pada awal catatan dan pada akhirnya terdapat istigfar, melainkan Allah berfirman: ‘Aku telah mengampuni hamba-Ku atas apa yang berada di antara kedua bagian catatan itu.’”
Kemudian ia berkata: hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Tammam bin Najih, dan ia termasuk perawi yang hadisnya masih dapat diterima.
Aku berkata: Ibnu Ma‘in menilainya tsiqah, namun Al-Bukhari, Abu Zur‘ah, Ibnu Abi Hatim, An-Nasa’i, dan Ibnu ‘Adi melemahkannya. Bahkan Ibnu Hibban menuduhnya sebagai pembuat hadis palsu. Imam Ahmad berkata: aku tidak mengetahui dengan pasti keadaan sebenarnya darinya.
Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman Al-Baghdadi yang dikenal dengan Al-Qalusi, telah menceritakan kepada kami Bayan bin Himran, telah menceritakan kepada kami Salam dari Manshur bin Zadan dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَعْرِفُونَ بَنِي آدَمَ، وَأَحْسَبُهُ قَالَ: وَيَعْرِفُونَ أَعْمَالَهُمْ، فَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِطَاعَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ، وَقَالُوا: أَفْلَحَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، نَجَا اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، وَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ، وَقَالُوا: هَلَكَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ
“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengenal anak Adam—dan aku kira beliau juga berkata: mereka mengenal amal-amal mereka. Jika mereka melihat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah, mereka menyebutnya di antara mereka dan menyebut namanya seraya berkata: ‘Beruntunglah si fulan malam ini, selamatlah si fulan malam ini.’ Dan jika mereka melihat seorang hamba melakukan maksiat kepada Allah, mereka juga menyebutnya di antara mereka dan menyebut namanya seraya berkata: ‘Celakalah si fulan malam ini.’”
Kemudian Al-Bazzar berkata: Salam ini, aku menduga ia adalah Salam Al-Madaini, dan ia termasuk perawi yang hadisnya lemah.
Ayat Ketiga Belas – Kesembilan Belas
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Infithar: 13)
وَإِنَّ ٱلْفُجَّارَ لَفِى جَحِيمٍ
“dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 14)
يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ ٱلدِّينِ
“Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 15)
وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَآئِبِينَ
“Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.” (QS. Al-Infithar: 16)
وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا يَوْمُ ٱلدِّينِ
“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infithar: 17)
ثُمَّ مَآ أَدْرَىٰكَ مَا يَوْمُ ٱلدِّينِ
“Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infithar: 18)
يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۖ وَٱلْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ
“(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al-Infithar: 19)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.
“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti (al-abrar) benar-benar berada dalam kenikmatan.” (QS. Al-Infithar: 13)
Yang dimaksud dengan al-abrār adalah orang-orang yang menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Mereka senantiasa berpegang pada kebaikan, baik dalam amal-amal hati maupun amal-amal anggota tubuh.
Bagi mereka, balasannya adalah kenikmatan pada hati, ruh, dan tubuh, baik di dunia, di alam barzakh, maupun di negeri tempat tinggal yang kekal (akhirat).
“Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka (fujjar) benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 14)
Yang dimaksud dengan al-fujjār adalah orang-orang yang mengabaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Hati mereka telah rusak, sehingga perbuatan mereka pun dipenuhi dengan kedurhakaan.
Bagi mereka adalah azab yang pedih, baik di dunia, di alam barzakh, maupun di negeri tempat tinggal yang kekal (akhirat).
“Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 15)
Artinya, mereka akan merasakan dan disiksa di dalamnya dengan azab yang sangat berat.
Yaitu hari pembalasan atas semua amal perbuatan.
“Dan mereka sekali-kali tidak dapat meninggalkannya.” (QS. Al-Infithar: 16)
Artinya, mereka akan terus berada di dalamnya, tidak dapat keluar darinya.
“Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?”
Dalam ungkapan ini terdapat penegasan tentang dahsyatnya hari tersebut, yaitu hari yang sangat berat sehingga membuat akal manusia menjadi bingung dan tak mampu membayangkannya.
“Yaitu hari ketika seseorang tidak mampu memberi manfaat sedikit pun kepada orang lain.”
Sekalipun orang itu adalah kerabat dekat atau orang yang sangat dicintainya, setiap orang akan sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak berusaha menyelamatkan orang lain.
“Dan segala urusan pada hari itu milik Allah.”
Dialah yang akan memutuskan perkara di antara para hamba dan mengambilkan hak orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya. Wallahu a’lam.
Walhamdulillah, selesai tafsir dari Surah Al-Muthaffifin.
Referensi:
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic
- Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic
—–
Kamis, 23 Ramadhan 1447 H
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



