Mengapa Orang Beriman Pasti Diuji? Tafsir QS. Al-‘Ankabut Ayat 2–3
Banyak orang mengira bahwa setelah beriman hidup akan selalu mudah dan tanpa ujian. Padahal, Allah justru menjadikan ujian sebagai tanda kejujuran iman seorang hamba. Melalui ujian itulah tampak siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang hanya sekadar mengaku beriman.
Allah Ta’ala berfirman,
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)
Dalam ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ
“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat di atas sebagai berikut.
Allah Ta’ala memberitakan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk bagian dari hikmah tersebut adalah bahwa tidak setiap orang yang mengatakan, “Aku seorang mukmin” dan mengaku beriman, lalu dibiarkan begitu saja tanpa menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Tidak mungkin mereka akan dibiarkan berada dalam keadaan yang aman dari fitnah dan musibah, tanpa menghadapi sesuatu yang dapat mengguncang keimanan mereka dan cabang-cabangnya.
Seandainya perkara itu seperti demikian, tentu tidak akan tampak perbedaan antara orang yang jujur dan orang yang dusta, antara yang benar dan yang batil.
Akan tetapi, sunnah Allah dan kebiasaan-Nya terhadap umat-umat terdahulu dan juga terhadap umat ini adalah bahwa Dia akan menguji mereka dengan berbagai keadaan:
- dengan kesenangan dan kesusahan,
- dengan kemudahan dan kesulitan,
- dengan hal-hal yang mereka sukai maupun yang mereka benci,
- dengan kekayaan dan kemiskinan,
- serta dengan memberikan kesempatan kepada musuh untuk menguasai mereka pada waktu-waktu tertentu.
Termasuk pula di antara ujian itu adalah perjuangan menghadapi musuh dengan ucapan dan perbuatan, serta berbagai bentuk cobaan lainnya.
Semua ujian tersebut pada hakikatnya kembali kepada dua jenis fitnah:
- Fitnah syubhat, yaitu keraguan yang menentang akidah dan keyakinan.
- Fitnah syahwat, yaitu dorongan hawa nafsu yang menentang kehendak untuk taat.
Barang siapa ketika datang syubhat, imannya tetap kokoh dan tidak goyah, lalu ia menolaknya dengan kebenaran yang ia miliki; dan ketika datang syahwat yang mengajak kepada maksiat dan dosa, atau yang memalingkannya dari perintah Allah dan Rasul-Nya, ia tetap bertindak sesuai dengan tuntunan iman dan berjuang melawan hawa nafsunya—maka hal itu menunjukkan kejujuran dan kebenaran imannya.
Sebaliknya, barang siapa ketika datang syubhat hatinya dipenuhi keraguan dan kebimbangan, dan ketika datang syahwat ia terjerumus dalam maksiat atau meninggalkan kewajiban, maka hal itu menunjukkan lemahnya keimanan dan ketidakjujuran dalam pengakuannya.
Manusia dalam perkara ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda, yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah.
Karena itu kita memohon kepada Allah Ta’ala agar meneguhkan kita dengan ucapan yang kokoh di kehidupan dunia dan di akhirat, serta meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.
Sesungguhnya ujian dan cobaan bagi jiwa manusia ibarat tungku api bagi logam, yang memisahkan antara kotoran dan kemurniannya, sehingga tampak mana yang buruk dan mana yang baik.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.
Tentang firman Allah Ta’ala,
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?”
Kalimat ini adalah pertanyaan dalam bentuk pengingkaran. Maksudnya, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada mereka.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي الْبَلَاءِ
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang paling baik setelah mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan ditambah.”
Ayat ini serupa dengan firman Allah:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal Allah belum menampakkan siapa di antara kalian yang berjihad dan siapa yang bersabar?” (QS. Āli ‘Imrān: 142)
Ayat yang semakna juga terdapat dalam Surah At-Taubah, dan dalam Surah Al-Baqarah Allah berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan seperti yang dialami oleh orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan, serta diguncang dengan berbagai ujian, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)
Karena itulah Allah berfirman di sini:
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”
Maksudnya, agar tampak siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapa yang sebenarnya dusta dalam perkataan dan pengakuannya.
Padahal Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengetahui segala sesuatu: apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan bahkan apa yang tidak terjadi—seandainya terjadi—bagaimana kejadiannya.
Ini merupakan keyakinan yang disepakati oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Karena itu, Ibnu ‘Abbas dan ulama lainnya menjelaskan ayat seperti firman Allah:
إِلَّا لِنَعْلَمَ
“agar Kami mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 143)
Maksudnya adalah “agar Kami melihatnya secara nyata.”
Sebab penglihatan berkaitan dengan sesuatu yang telah terjadi dan tampak nyata, sedangkan ilmu Allah lebih luas daripada penglihatan, karena ilmu-Nya meliputi sesuatu yang ada maupun yang belum ada.
Nasihat Penutup
Di zaman sekarang, banyak orang merasa heran ketika hidupnya dipenuhi ujian: masalah ekonomi, tekanan hidup, fitnah, atau kesulitan dalam berdakwah dan beragama. Padahal justru itulah tanda bahwa iman sedang ditempa dan diuji.
Ujian bukanlah tanda bahwa Allah membenci seorang hamba. Justru sering kali ujian adalah cara Allah memurnikan iman, meninggikan derajat, dan membedakan antara iman yang jujur dan iman yang hanya di lisan.
Karena itu, ketika ujian datang, jangan buru-buru berputus asa. Ingatlah bahwa ujian itu seperti tungku api yang memurnikan logam, sehingga tampak mana yang murni dan mana yang kotor.
Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَثَبِّتْنَا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ فِي الْإِيمَانِ.
“Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Teguhkanlah kami dengan ucapan yang kokoh di dunia dan di akhirat, serta jadikan kami termasuk orang-orang yang jujur dalam iman.”
Referensi:
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic
- Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic
—–
Senin, 20 Ramadhan 1447 H
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



