Jalan KebenaranTafsir Al Qur'an

7 Sebab Manusia Menolak Dakwah Para Nabi (Tadabbur Surah Asy-Syu’ara Juz 19)

Surah Asy-Syu’ara dalam Juz 19 menghadirkan kisah para nabi dengan pola yang hampir sama: dakwah tauhid disampaikan, namun ditolak oleh kaumnya dengan alasan yang berulang. Penolakan itu ternyata bukan karena kurangnya bukti atau mukjizat, tetapi karena penyakit hati yang menghalangi manusia menerima kebenaran. Dengan mempelajari alasan-alasan penolakan tersebut, kita bisa bercermin agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di zaman modern ini.

 

Berikut adalah 7 sebab utama penolakan dakwah para Nabi yang diabadikan dalam Juz 19, surah Asy-Syu’ara’:

 

1. Kisah Nabi Musa: Penolakan karena Senioritas (Ayat 18)

Seringkali kebenaran ditolak hanya karena pembawanya dianggap “orang baru” atau dianggap memiliki utang budi di masa lalu. Firaun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa dengan mengungkit jasa pengasuhannya agar Musa merasa rendah diri.

Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ

Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 18)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.

Ketika Nabi Musa dan saudaranya datang kepada Fir‘aun lalu menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berdua, Fir‘aun tidak beriman dan tidak pula menjadi lunak hatinya. Bahkan ia justru menentang Musa.

Ia berkata, “Bukankah kami telah memeliharamu di tengah-tengah kami sejak engkau masih bayi?” Maksudnya, bukankah kami telah memberikan berbagai kenikmatan kepadamu dan mengasuhmu sejak engkau masih bayi di dalam buaian, dan engkau terus berada dalam pemeliharaan kami.

“Dan engkau tinggal bersama kami selama beberapa tahun dari umurmu.” Artinya, engkau hidup di tengah-tengah kami dalam waktu yang cukup lama dari masa hidupmu.

Ibrah: Seringkali seseorang menolak kebenaran atau nasihat hanya karena merasa “lebih senior”, lebih tinggi jabatan, atau merasa telah berjasa kepada si pemberi nasihat. Mentalitas “Saya makan asam garam lebih dulu” atau “Kamu itu dulu saya yang bantu” sering menjadi penghalang masuknya hidayah dan kebenaran ke dalam hati.

 

2. Kisah Nabi Ibrahim: Belenggu Tradisi Nenek Moyang (Ayat 74)

Penghalang hidayah yang paling klasik adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang. Ketika akal sehat telah lumpuh oleh kebiasaan lama, dalil sekuat apa pun akan mental karena dianggap menyalahi “warisan leluhur”.

Allah Ta’ala berfirman,

قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ

Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.

Mereka pun berlindung dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang sesat. Mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal seperti ini.” Maka kami pun mengikuti mereka dalam hal tersebut, menempuh jalan mereka, serta menjaga dan melestarikan kebiasaan mereka.

Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada mereka bahwa kalian dan nenek moyang kalian semuanya sama-sama menjadi pihak yang dipersalahkan dalam perkara ini. Pembicaraan dan bantahan yang beliau sampaikan berlaku untuk semuanya sekaligus.

Ibrah: Masih banyak umat yang beragama hanya berdasarkan warisan luhur tanpa mau memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalimat “Ini sudah tradisi kami” atau “Guru kami tidak pernah bilang begitu” seringkali menutup pintu diskusi ilmiah. Padahal, beragama yang selamat adalah yang berlandaskan argumen yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan mayoritas.

 

3. Kisah Nabi Nuh: Memandang Rendah Status Sosial (Ayat 111)

Kesombongan sosial membuat banyak orang enggan menerima kebenaran jika pengikut dakwah tersebut adalah orang-orang miskin atau rakyat jelata. Mereka merasa harga dirinya jatuh jika harus duduk sejajar dengan orang yang dianggap “hina”.

Allah Ta’ala berfirman,

۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ

Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?“.” (QS. Asy-Syu’ara’: 111)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.

Mereka mengatakan hal itu sebagai penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh dan sebagai bentuk bantahan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, sementara yang mengikuti engkau hanyalah orang-orang yang rendah?” Maksudnya, bagaimana mungkin kami mengikuti engkau, sedangkan para pengikutmu hanyalah orang-orang dari kalangan bawah, yang mereka anggap sebagai orang-orang hina dan tidak terpandang.

Dari ucapan ini tampak jelas kesombongan mereka terhadap kebenaran serta kebodohan mereka terhadap hakikat yang sebenarnya. Seandainya tujuan mereka benar-benar mencari kebenaran, tentu mereka akan berkata—jika memang memiliki keraguan terhadap dakwah Nabi Nuh—“Jelaskanlah kepada kami bukti kebenaran yang engkau bawa dengan cara-cara yang dapat menunjukkan kebenaran itu.”

Jika mereka benar-benar mau merenung dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan mengetahui bahwa para pengikut Nabi Nuh justru merupakan orang-orang yang mulia: manusia terbaik, yang memiliki akal yang lurus dan akhlak yang mulia. Sedangkan orang yang sebenarnya hina adalah orang yang kehilangan fungsi akalnya, lalu menganggap baik menyembah batu-batu, rela bersujud kepadanya, berdoa kepadanya, namun menolak untuk tunduk kepada dakwah para rasul yang sempurna.

Sebenarnya, hanya dengan memperhatikan ucapan batil dari salah satu pihak yang berselisih, seseorang sudah dapat mengetahui rusaknya argumen yang mereka miliki, tanpa harus terlebih dahulu menilai kebenaran pihak lawannya. Maka ketika kita mendengar bahwa kaum Nabi Nuh berkata dalam menolak dakwah beliau, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu hanyalah orang-orang yang rendah?”, dan mereka menjadikan alasan yang jelas-jelas rusak ini sebagai dasar penolakan mereka terhadap dakwah beliau, kita pun mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan keliru.

Hal itu tetap jelas, sekalipun kita belum melihat berbagai mukjizat Nabi Nuh dan dakwah besar beliau yang menunjukkan dengan pasti kebenaran dan kejujuran beliau dalam menyampaikan risalah.

Ibrah: Fenomena mengukur kebenaran dari “siapa pengikutnya” masih kental. Ada kecenderungan orang enggan mengaji atau bergabung dalam majelis ilmu tertentu hanya karena jamaahnya dianggap orang-orang kelas bawah, tidak modis, atau kurang bergengsi secara sosial. Kebenaran dinilai dari strata ekonomi, bukan dari substansi pesan yang disampaikan.

 

4. Kisah Nabi Hud: Tertipu oleh Kemewahan Fasilitas (Ayat 129)

Kaum ‘Ad merasa bahwa kekuatan ekonomi dan kemegahan infrastruktur adalah bukti kesuksesan mutlak. Mereka merasa tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa “menciptakan surga” sendiri di dunia dengan bangunan-bangunan mereka.

Allah Ta’ala berfirman,

وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ

Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.

Artinya, kalian membuat berbagai bangunan besar, seperti kolam-kolam penampungan air dan tempat-tempat penyimpanan untuk kebutuhan hidup.

agar kalian dapat hidup kekal“, maksudnya, seakan-akan dengan semua itu kalian berharap dapat hidup kekal di dunia ini, padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jalan untuk hidup kekal selamanya.

Ibrah: Di era kapitalisme ini, banyak yang merasa bahwa kesuksesan finansial dan pembangunan fisik (rumah mewah, kendaraan, teknologi) adalah tanda bahwa gaya hidup mereka sudah benar. Mereka merasa “aman” dan tidak butuh peringatan agama karena merasa dunia sudah berada di genggaman mereka, persis seperti kaum ‘Ad yang merasa kekal dengan bangunan-bangunannya.

 

5. Kisah Nabi Shalih: Fanatik kepada Pemimpin yang Salah (Ayat 151-152)

Banyak kaum yang binasa bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, tapi karena mereka lebih memilih loyal kepada pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengajak pada kerusakan (maksiat) daripada mengikuti ajakan perbaikan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَ

ٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 151-152)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.

“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.”

Maksudnya, janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang telah melewati batas yang benar.

“(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”

Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sifat dan kebiasaannya membuat kerusakan di bumi dengan melakukan berbagai kemaksiatan serta mengajak orang lain kepada kemaksiatan tersebut. Kerusakan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung unsur perbaikan.

Inilah bentuk kerusakan yang paling berbahaya, karena merupakan keburukan yang murni. Seolah-olah ada sekelompok orang yang siap menentang nabi mereka dan ditempatkan untuk mengajak manusia kepada jalan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi Shalih melarang kaumnya agar tidak tertipu oleh mereka.

Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)

Namun, nasihat dan larangan ini ternyata tidak memberikan pengaruh apa pun kepada mereka.

Ibrah: Kita sering melihat masyarakat yang lebih patuh kepada tokoh publik atau influencer yang gaya hidupnya merusak moral (maksiat) daripada kepada nasihat ulama. Narasi yang dibawa para perusak ini sering dianggap lebih “keren” atau “modern”, sehingga banyak orang terjerumus dalam kerusakan kolektif karena mengikuti figur yang salah.

 

6. Kisah Nabi Luth: Pembelaan atas Nama Kebebasan Syahwat (Ayat 165-166)

Ketika nafsu sudah menjadi tuhan, maka ajakan untuk kembali kepada fitrah akan dianggap sebagai ancaman. Kaum Nabi Luth menolak kebenaran karena mereka tidak ingin kesenangan menyimpangnya diganggu oleh aturan agama.

Allah Ta’ala berfirman,

أَتَأْتُونَ ٱلذُّكْرَانَ مِنَ ٱلْعَٰلَمِينَ

وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.

Nabi Luth berkata kepada kaumnya, sementara mereka menjawab dengan perkataan yang sama seperti orang-orang sebelum mereka. Hati mereka serupa dalam kekafiran, sehingga ucapan mereka pun serupa.

Selain melakukan kesyirikan, mereka juga melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di antara manusia. Mereka memilih berhubungan dengan sesama laki-laki—perbuatan yang kotor dan sangat tercela—serta berpaling dari pasangan yang Allah ciptakan untuk mereka dari kalangan wanita. Hal itu terjadi karena sikap berlebih-lebihan dan permusuhan mereka.

Nabi Luth terus-menerus melarang mereka dari perbuatan tersebut, hingga mereka berkata:

قَالُوا۟ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَٰلُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُخْرَجِينَ

Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. Asy-Syu’ara’: 167)

Maksudnya, mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri mereka.

Ketika Nabi Luth melihat mereka terus-menerus melakukan perbuatan itu, beliau berkata:

قَالَ إِنِّى لِعَمَلِكُم مِّنَ ٱلْقَالِينَ

Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 168)

Artinya, beliau sangat membenci perbuatan tersebut, melarangnya, dan memperingatkan manusia darinya.

Ibrah: Tantangan ini sangat nyata dengan maraknya gerakan yang melegalkan penyimpangan seksual atas nama hak asasi atau kebebasan berekspresi. Dakwah yang mengajak pada fitrah dan kesucian sering dianggap kolot, “homofobik”, atau melanggar privasi, karena nafsu telah dijadikan standar kebenaran utama di atas syariat.

 

7. Kisah Nabi Syu’aib: Kerakusan dalam Bisnis dan Ekonomi (Ayat 181)

Penyakit ekonomi berupa kecurangan dalam timbangan dan takaran menjadi sebab utama penolakan dakwah Nabi Syu’aib. Bagi mereka, kejujuran dalam berbisnis dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan maksimal.

Allah Ta’ala berfirman,

۞ أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 181)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.

Kaum tersebut—di samping melakukan kesyirikan—juga mengurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu Nabi Syu‘aib berkata kepada mereka: sempurnakanlah takaran itu, penuhilah dan lengkapilah sebagaimana mestinya.

Janganlah kalian menjadi orang-orang yang merugikan orang lain, yaitu mereka yang mengurangi harta manusia dan merampasnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan.

Ibrah: Dalam dunia bisnis modern, praktik curang seperti manipulasi timbangan digital, penipuan deskripsi produk di toko online, hingga skema investasi bodong masih merajalela. Ajakan untuk berbisnis secara syar’i sering ditolak dengan alasan “Kalau jujur, nanti tidak untung” atau “Semua orang juga melakukan cara yang sama”.

 

Mengapa Hidayah Terhalang?

Inti dari pembahasan ini adalah bahwa penolakan dakwah bukan karena kurangnya bukti (karena mukjizat selalu ada), melainkan karena penyakit-penyakit hati berikut ini:

  1. Kesombongan: Merasa lebih tinggi status sosial, jabatan, atau lebih senior sehingga enggan merunduk di hadapan kebenaran.
  2. Taklid Buta: Fanatik buta terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi nenek moyang tanpa mau menimbang dalil Al-Qur’an dan Sunnah.
  3. Cinta Dunia & Syahwat: Takut kehilangan kenyamanan dalam bermaksiat, kekuasaan, atau harta benda yang selama ini digenggam.

Di akhir setiap kisah para Nabi dalam surat ini, Allah menyisipkan sebuah “kalimat kunci” yang sama sebagai peringatan bahwa bukti kekuasaan Allah sudah sangat nyata, namun hati yang tertutup tetap tidak akan melihatnya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”

Ayat ini diulang-ulang oleh Allah setelah menceritakan kisah:

  • Nabi Musa (QS. Asy-Syu’ara: 67)
  • Nabi Ibrahim (QS. Asy-Syu’ara: 103)
  • Nabi Nuh (QS. Asy-Syu’ara: 121)
  • Nabi Hud (QS. Asy-Syu’ara: 139)
  • Nabi Shalih (QS. Asy-Syu’ara: 158)
  • Nabi Luth (QS. Asy-Syu’ara: 174)
  • Nabi Syu’aib (QS. Asy-Syu’ara: 190)

Ini menunjukkan bahwa sejarah akan selalu berulang. Tugas kita sebagai hamba adalah terus menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, sembari memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari sifat-sifat kaum yang binasa tersebut.

 

Nasihat Penutup

Pelajaran dari Surah Asy-Syu’ara menunjukkan bahwa penghalang terbesar hidayah bukanlah kurangnya dalil, tetapi hati yang tertutup oleh kesombongan, fanatisme, dan kecintaan berlebihan pada dunia. Sejarah umat terdahulu memperlihatkan bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena tidak memahami, tetapi karena enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah melekat dalam hidup mereka.

Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda: ada yang menolak nasihat agama karena gengsi sosial, karena mengikuti tokoh populer, karena fanatik pada tradisi, atau karena takut kehilangan keuntungan dunia. Karena itu, setiap muslim perlu terus memeriksa hatinya agar tidak terjangkit penyakit yang sama seperti kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan.

Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau dari arah yang tidak kita duga.

 

Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran

 

Referensi:

  • Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic 

 

—–

 

Malam Senin, 20 Ramadhan 1447 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 3   +   9   =  

Back to top button