Tafsir Al Qur'anTeladan

Kisah Nabi Musa dan Khidhir: Pelajaran Besar tentang Ilmu, Sabar, dan Takdir

Kisah Nabi Musa dan Khidhir dalam Surah Al-Kahfi mengajarkan bahwa tidak semua yang tampak buruk di hadapan kita benar-benar buruk dalam takdir Allah. Melalui tiga peristiwa yang sulit dipahami secara lahir, Allah menunjukkan bahwa ilmu manusia sangat terbatas, sedangkan hikmah-Nya meliputi masa depan yang tidak kita ketahui. Dari kisah ini, kita belajar tentang adab menuntut ilmu, pentingnya kesabaran, dan indahnya berbaik sangka kepada ketetapan Allah Ta’ala.

 

 

Awal Pertemuan Nabi Musa dan Khidhir

Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَٱرْتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصًا

Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (QS. Al-Kahfi: 64)

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi: 65)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. 

Itulah yang kita cari,” maksudnya: itulah yang kita inginkan dan kita cari.

Maka keduanya pun kembali, yakni kembali menelusuri jejak perjalanan mereka. Mereka kembali dengan mengikuti bekas langkah mereka hingga sampai ke tempat di mana mereka lupa tentang ikan tersebut.

Ketika mereka telah sampai di tempat itu, mereka mendapati seorang hamba dari hamba-hamba Kami, yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang saleh, bukan seorang nabi menurut pendapat yang lebih kuat.

Kami telah memberikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, yaitu Allah memberinya rahmat khusus yang dengannya bertambah ilmunya dan menjadi baik amal perbuatannya.

Dan Kami telah mengajarinya ilmu dari sisi Kami, yakni ilmu yang datang langsung dari Allah.

Khidhir diberi sebagian ilmu yang tidak diberikan kepada Musa. Namun demikian, Nabi Musa ‘alaihis salam tetap lebih berilmu darinya dalam banyak perkara, terutama dalam ilmu-ilmu keimanan dan prinsip-prinsip agama.

Sebab Musa termasuk para rasul ulul ‘azmi, yaitu para rasul yang memiliki keteguhan yang tinggi, yang Allah lebihkan di atas seluruh makhluk dalam hal ilmu, amal, dan keutamaan lainnya.

Ketika Musa bertemu dengannya, Musa berbicara kepadanya dengan penuh adab, meminta izin, dan menjelaskan maksud kedatangannya.

 

Adab Menuntut Ilmu dan Ujian Kesabaran

Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66)

قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا

Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.” (QS. Al-Kahfi: 67)

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِۦ خُبْرًا

Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. Al-Kahfi: 68)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. 

Musa berkata, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu, sebagai petunjuk bagiku?”

Maksudnya, bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang Allah ajarkan kepadamu, sehingga dengan ilmu itu aku dapat memperoleh petunjuk, mengetahui jalan yang benar, dan memahami hakikat berbagai perkara tersebut.

Khidhir telah diberi oleh Allah ilham dan karamah, sehingga dengannya ia dapat mengetahui sisi-sisi tersembunyi dari banyak peristiwa yang bahkan tidak diketahui oleh Nabi Musa ‘alaihis salam.

Khidhir berkata kepada Musa, “Aku tidak menolak permintaanmu itu. Akan tetapi, engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.

Maksudnya, engkau tidak akan sanggup mengikuti dan menyertaiku, karena engkau akan melihat berbagai peristiwa yang secara lahir tampak sebagai kemungkaran, padahal hakikatnya tidak demikian.

“Bagaimana engkau dapat bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau ketahui secara menyeluruh?”

Artinya, bagaimana mungkin engkau dapat bersabar terhadap suatu perkara yang engkau belum mengetahui hakikatnya, baik dari sisi lahir maupun batinnya, dan engkau belum mengetahui tujuan serta akibat akhirnya.

Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرًا وَلَآ أَعْصِى لَكَ أَمْرًا

Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.” (QS. Al-Kahfi: 69)

قَالَ فَإِنِ ٱتَّبَعْتَنِى فَلَا تَسْـَٔلْنِى عَن شَىْءٍ حَتَّىٰٓ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.” (QS. Al-Kahfi: 70)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. 

Musa berkata, “Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentang perintahmu.”

Ucapan ini merupakan tekad dari Nabi Musa sebelum ia menghadapi ujian yang sebenarnya. Tekad untuk bersabar adalah satu hal, sedangkan benar-benar mampu bersabar ketika ujian itu datang adalah hal yang lain. Karena itulah Nabi Musa ‘alaihis salam tidak mampu bersabar ketika peristiwa tersebut benar-benar terjadi.

Maka Khidhir berkata kepadanya, “Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menjelaskannya kepadamu.

Maksudnya, janganlah engkau terlebih dahulu mengajukan pertanyaan atau menyatakan keberatan sebelum aku sendiri menjelaskan kepadamu tentang peristiwa tersebut pada waktu yang tepat.

Dengan demikian, Khidhir melarang Musa untuk bertanya terlebih dahulu, dan ia berjanji akan menjelaskan hakikat dari setiap peristiwa itu pada saat yang semestinya.

 

Peristiwa Pertama: Kapal yang Dilubangi, Ternyata Diselamatkan

Nabi Khidr melubangi kapal milik orang-orang miskin yang telah memberi mereka tumpangan. Secara logika, ini adalah tindakan zalim dan merugikan.

Allah Ta’ala berfirman,

فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِى ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا إِمْرًا

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” (QS. Al-Kahfi: 71)

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا

Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”.” (QS. Al-Kahfi: 72)

قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِى بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِى مِنْ أَمْرِى عُسْرًا

Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.” (QS. Al-Kahfi: 73)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. 

Kemudian keduanya berjalan hingga ketika mereka menaiki sebuah kapal, Khidhir melubangi kapal itu.
Maksudnya, Khidhir mencabut salah satu papan dari kapal tersebut. Ia memiliki tujuan tertentu dalam perbuatannya itu yang nantinya akan ia jelaskan.

Namun Nabi Musa ‘alaihis salam tidak dapat bersabar melihat perbuatan itu, karena secara lahir tampak sebagai suatu kemungkaran. Tindakan tersebut terlihat sebagai kerusakan pada kapal dan bisa menjadi sebab tenggelamnya para penumpangnya.

Karena itulah Musa berkata, “Apakah engkau melubangi kapal itu untuk menenggelamkan para penumpangnya? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat besar.”

Maksudnya, suatu perbuatan yang sangat besar dan sangat buruk menurut pandangan lahir.

Sikap ini menunjukkan bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam belum mampu bersabar terhadap peristiwa tersebut.

Khidhir berkata, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”

Maksudnya, apa yang terjadi sekarang adalah sebagaimana yang telah aku sampaikan kepadamu sebelumnya.

Sikap Nabi Musa ‘alaihis salam tersebut terjadi karena lupa terhadap perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.

Musa berkata, “Janganlah engkau menghukumku karena aku lupa, dan janganlah engkau memberatkan urusanku.”

Maksudnya, janganlah engkau mempersulit urusanku dan berilah aku kelonggaran. Apa yang terjadi tadi hanyalah karena aku lupa, maka janganlah engkau menyalahkanku pada kesalahan yang pertama ini.

Dengan ucapan itu, Nabi Musa ‘alaihis salam menggabungkan antara pengakuan atas kesalahannya dan permohonan maaf atas perbuatannya. Ia juga menunjukkan bahwa tidak sepantasnya Khidhir bersikap keras kepada sahabatnya dalam keadaan seperti ini.

Karena itu, Khidhir pun memaafkannya.

 

Peristiwa Kedua: Anak yang Dibunuh dan Rahasia Takdir yang Berat

Nabi Khidr membunuh seorang anak muda yang belum baligh. Ini adalah ujian terberat bagi logika kemanusiaan Musa.

Allah Ta’ala berfirman,

فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمًا فَقَتَلَهُۥ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةًۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا

Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.” (QS. Al-Kahfi: 74)

۞ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا

Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” (QS. Al-Kahfi: 75)

قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَىْءٍۭ بَعْدَهَا فَلَا تُصَٰحِبْنِى ۖ قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّى عُذْرًا

Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.” (QS. Al-Kahfi: 76)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. 

Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan hingga mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki. Anak itu masih kecil, lalu Khidhir membunuhnya.

Melihat hal itu, Nabi Musa ‘alaihis salam sangat marah dan tersulut oleh semangat membela agama, karena ia menyaksikan seorang anak kecil yang tidak berdosa dibunuh.

Musa berkata, “Apakah engkau membunuh jiwa yang suci, yang tidak membunuh siapa pun? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”

Maksudnya, tidak ada kemungkaran yang lebih besar daripada membunuh seorang anak kecil yang tidak memiliki dosa dan tidak pernah membunuh siapa pun.

Kesalahan pertama Nabi Musa terjadi karena lupa, sedangkan yang kedua ini bukan karena lupa, melainkan karena ia belum mampu bersabar.

Maka Khidhir berkata kepadanya dengan nada menegur dan mengingatkan, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”

Musa pun berkata, “Jika setelah ini aku masih bertanya kepadamu tentang sesuatu, maka janganlah engkau menyertaiku lagi.”

Maksudnya, engkau berhak untuk berpisah dariku dan meninggalkan kebersamaan ini.

“Sungguh, engkau telah mempunyai alasan yang cukup dariku.”

Artinya, engkau telah memberikan kesempatan dan toleransi yang cukup kepadaku, sehingga engkau tidak lagi dianggap kurang bersabar terhadapku.

 

Peristiwa Ketiga: Tembok yang Ditegakkan untuk Dua Anak Yatim

Mereka sampai di suatu negeri yang penduduknya sangat pelit dan menolak memberi jamuan. Namun, Khidr justru memperbaiki tembok rumah yang hampir roboh di negeri tersebut tanpa meminta upah.

Allah Ta’ala berfirman,

فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهْلَ قَرْيَةٍ ٱسْتَطْعَمَآ أَهْلَهَا فَأَبَوْا۟ أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُۥ ۖ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.” (QS. Al-Kahfi: 77)

قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِى وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا

“Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 78)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. 

Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan hingga sampai kepada penduduk suatu negeri. Mereka meminta jamuan kepada penduduk negeri itu, tetapi mereka menolak untuk menjamu keduanya.

Di negeri tersebut mereka menemukan sebuah dinding yang hampir roboh, yaitu dinding yang telah retak dan hampir runtuh. Lalu Khidhir menegakkan kembali dinding itu, yakni memperbaiki dan membangunnya kembali seperti semula.

Melihat hal itu, Musa berkata, “Seandainya engkau mau, tentu engkau bisa mengambil upah atas pekerjaan itu.”

Maksudnya, penduduk negeri ini tidak mau menjamu kita, padahal menjamu tamu merupakan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan. Namun engkau justru memperbaiki dinding mereka tanpa mengambil upah, padahal engkau mampu mengambilnya.

Pada saat itu Nabi Musa ‘alaihis salam kembali tidak menepati apa yang telah ia janjikan sebelumnya, sehingga Khidhir pun mempunyai alasan untuk berpisah darinya.

Khidhir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dan engkau.

Artinya, engkau sendiri telah menetapkan syarat itu atas dirimu. Maka sekarang tidak ada lagi alasan untuk melanjutkan kebersamaan ini.

“Kelak aku akan memberitahukan kepadamu makna dari perbuatan-perbuatan yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”

Maksudnya, aku akan menjelaskan kepadamu perbuatan-perbuatan yang engkau ingkari dariku, serta tujuan yang ada di balik semua itu dan bagaimana akhirnya nanti.

 

Hikmah Besar di Balik Tiga Peristiwa

Peristiwa Pertama

Allah Ta’ala berfirman,

أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَٰكِينَ يَعْمَلُونَ فِى ٱلْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.” (QS. Al-Kahfi: 79)

Ibrah: Kapal itu sengaja dibuat “cacat” agar tidak dirampas oleh raja zalim yang sedang menyita setiap kapal yang bagus di depan mereka. Kerusakan kecil menyelamatkan aset besar.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. 

Adapun kapal yang aku lubangi itu, kapal tersebut milik orang-orang miskin yang bekerja di laut.

Keadaan mereka sebagai orang-orang miskin menuntut adanya rasa belas kasihan dan kepedulian terhadap mereka.

Karena itu aku ingin membuat kapal tersebut tampak cacat. Di hadapan mereka ada seorang raja zalim yang merampas setiap kapal yang masih baik dan tidak memiliki cacat.

Maksudnya, ketika kapal-kapal yang masih bagus melewati wilayah raja tersebut, ia akan merampasnya secara paksa dan mengambilnya dengan kezaliman.

Karena itu aku melubangi kapal tersebut agar tampak memiliki cacat, sehingga kapal itu selamat dari perampasan raja yang zalim tersebut.

 

Peristiwa Kedua

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا ٱلْغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَآ أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَٰنًا وَكُفْرًا

Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.” (QS. Al-Kahfi: 80)

فَأَرَدْنَآ أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَوٰةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS. Al-Kahfi: 81)

Ibrah: Anak tersebut ditakdirkan akan tumbuh menjadi pribadi yang sangat durhaka dan akan menjerumuskan kedua orang tuanya yang saleh ke dalam kesesatan dan kekafiran. Allah ingin menggantinya dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dan lebih kasih sayang.’

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. 

Adapun anak laki-laki yang aku bunuh itu, kedua orang tuanya adalah orang yang beriman.

Kami khawatir jika ia dibiarkan hidup hingga dewasa, ia akan menyeret kedua orang tuanya kepada kedurhakaan dan kekafiran.

Anak itu telah ditakdirkan bahwa jika ia tumbuh dewasa, ia akan menjerumuskan kedua orang tuanya ke dalam sikap melampaui batas dan kekafiran. Maksudnya, ia akan mendorong mereka kepada kekafiran dan kedurhakaan kepada Allah.

Hal itu bisa terjadi karena besarnya kecintaan kedua orang tuanya kepadanya, atau karena mereka sangat membutuhkan dirinya, atau karena anak tersebut sendiri akan menekan dan menyeret mereka kepada kekafiran.

Karena itulah aku membunuhnya setelah mengetahui hakikat tersebut, demi menjaga keselamatan agama kedua orang tuanya yang beriman.

Tidak ada manfaat yang lebih besar daripada manfaat yang agung seperti ini.

Walaupun pada peristiwa ini terdapat kesedihan bagi kedua orang tuanya dan terputusnya keturunan dari anak tersebut, namun Allah akan mengganti bagi keduanya dengan keturunan yang lebih baik darinya.

Sebagaimana firman-Nya, “Kami berharap agar Rabb mereka mengganti bagi keduanya dengan anak yang lebih baik darinya, lebih suci, dan lebih dekat kasih sayangnya.”

Maksudnya, Allah akan mengganti dengan anak yang saleh, bersih jiwanya, dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Sebab jika anak yang terbunuh itu dibiarkan hidup hingga dewasa, ia justru akan menjadi anak yang sangat durhaka, bahkan dapat menyeret kedua orang tuanya kepada kekafiran dan kedurhakaan kepada Allah.

 

Peristiwa Ketiga

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا ٱلْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِى ٱلْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُۥ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُۥ عَنْ أَمْرِى ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا

Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.” (QS. Al-Kahfi: 82)

 

Ibrah: Di bawah tembok itu tersimpan harta karun milik dua anak yatim. Ayah mereka adalah orang yang saleh. Allah ingin menjaga harta itu tetap terpendam sampai mereka dewasa agar tidak diambil oleh penduduk kota yang serakah.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. 

Adapun dinding yang aku tegakkan kembali itu, dinding tersebut milik dua orang anak yatim di kota tersebut.

Di bawah dinding itu tersimpan sebuah harta milik mereka berdua, dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.

Keadaan mereka sebagai anak yatim yang masih kecil dan telah kehilangan ayah menuntut adanya rasa belas kasihan dan perhatian terhadap mereka. Allah juga menjaga keduanya karena kesalehan ayah mereka.

Karena itu Rabbmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa, lalu mereka dapat mengeluarkan harta simpanan mereka tersebut.

Oleh sebab itu aku menegakkan kembali dinding tersebut agar harta itu tetap tersimpan hingga keduanya dewasa.

Semua itu merupakan rahmat dari Rabbmu.

Artinya, apa yang aku lakukan ini adalah bentuk rahmat dari Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, yaitu Khidhir.

Aku tidak melakukannya atas kehendakku sendiri.

Maksudnya, aku tidak melakukan semua itu berdasarkan keinginanku semata, melainkan atas perintah dan rahmat dari Allah.

Itulah penjelasan dari perkara-perkara yang sebelumnya engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.

 

31 Pelajaran dan Kaidah Penting dari Kisah Khidir dan Musa

Dalam kisah yang agung dan menakjubkan ini terdapat banyak pelajaran, hukum, dan kaidah penting. Dengan pertolongan Allah, sebagian di antaranya akan kita sebutkan.

1. Di antaranya adalah keutamaan ilmu dan dianjurkannya melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu, karena ilmu merupakan perkara yang sangat penting. Nabi Musa ‘alaihis salam bahkan menempuh perjalanan yang jauh dan merasakan kelelahan dalam menuntut ilmu. Ia meninggalkan duduk bersama Bani Israil untuk mengajar dan membimbing mereka, lalu memilih melakukan perjalanan demi menambah ilmu.

2. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah pentingnya mendahulukan perkara yang paling penting, kemudian yang berikutnya. Menambah ilmu dan memperluas pengetahuan seseorang lebih utama daripada meninggalkannya dan hanya sibuk mengajar tanpa terus menambah ilmu. Namun menggabungkan keduanya, yaitu belajar dan mengajar, adalah keadaan yang paling sempurna.

3. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa ilmu yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya ada dua jenis.

Pertama, ilmu yang diperoleh melalui usaha, belajar, dan kesungguhan seorang hamba.

Kedua, ilmu laduni, yaitu ilmu yang Allah karuniakan secara langsung kepada siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki.

Sebagaimana firman-Nya,

وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

“Kami telah mengajarinya ilmu dari sisi Kami.”

4. Di antara pelajaran lainnya adalah pentingnya beradab kepada guru dan berbicara kepadanya dengan tutur kata yang lembut.

Hal ini terlihat dari ucapan Nabi Musa ‘alaihis salam,

هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk bagiku?”

Ucapan ini disampaikan dengan penuh kelembutan dan seolah-olah sebagai permintaan izin, yaitu apakah ia diperbolehkan atau tidak. Dalam ucapan itu juga terdapat pengakuan bahwa Musa ingin belajar darinya.

Berbeda dengan sikap orang yang kasar atau sombong. Mereka tidak menunjukkan bahwa dirinya membutuhkan ilmu dari gurunya. Bahkan ada yang menganggap dirinya hanya bekerja sama dengan gurunya, atau bahkan merasa seolah-olah ia juga mengajari gurunya, padahal pada hakikatnya ia sangat bodoh.

Bersikap rendah hati kepada guru dan menampakkan kebutuhan terhadap ilmunya merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi seorang penuntut ilmu.

5. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa orang yang memiliki keutamaan tetap perlu bersikap rendah hati untuk belajar dari orang yang berada di bawahnya.

Sebab Nabi Musa—tanpa diragukan lagi—lebih utama daripada Khidhir, namun beliau tetap belajar darinya.

6. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa seorang ulama yang memiliki keutamaan tetap perlu mempelajari ilmu yang belum ia kuasai dari orang yang lebih ahli di bidang tersebut, meskipun orang itu berada di bawahnya dalam banyak sisi ilmu lainnya.

Nabi Musa ‘alaihis salam termasuk para rasul ulul ‘azmi yang Allah anugerahi ilmu yang sangat luas, bahkan melebihi kebanyakan manusia. Namun dalam ilmu tertentu yang khusus, Khidhir memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu Musa sangat bersemangat untuk belajar darinya.

Berdasarkan hal ini, seorang ahli fikih atau ahli hadits yang masih lemah dalam ilmu nahwu, sharaf, atau cabang ilmu lainnya, tidak sepatutnya enggan mempelajarinya dari orang yang lebih ahli dalam bidang tersebut, meskipun orang itu bukan seorang ahli hadits atau ahli fikih.

7. Di antara pelajaran lainnya adalah menyandarkan ilmu dan berbagai keutamaan kepada Allah Ta’ala, mengakui bahwa semua itu berasal dari-Nya, serta mensyukuri nikmat tersebut.

Sebagaimana dalam ucapan Musa,

تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ

“Engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu,”

yaitu ilmu yang Allah ajarkan kepadamu.

8. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membimbing kepada kebaikan.

Setiap ilmu yang mengandung petunjuk menuju jalan kebaikan, memperingatkan dari jalan keburukan, atau menjadi sarana untuk mencapai hal tersebut, maka itulah ilmu yang bermanfaat.

Adapun ilmu selain itu, maka bisa jadi merupakan ilmu yang berbahaya atau ilmu yang tidak memiliki manfaat.

Hal ini sebagaimana firman Allah,

أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk.”

9. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa orang yang tidak memiliki kesabaran dalam menyertai seorang guru dan menuntut ilmu darinya, serta tidak mampu istiqamah dalam proses tersebut, maka ia akan kehilangan banyak ilmu sesuai dengan kadar kurangnya kesabarannya.

Orang yang tidak memiliki kesabaran tidak akan mendapatkan ilmu. Sebaliknya, siapa yang bersabar dan terus meneguhkan dirinya dalam kesabaran tersebut, ia akan dapat meraih berbagai tujuan yang ia usahakan.

Hal ini sebagaimana perkataan Khidhir yang menjelaskan kepada Musa alasan mengapa Musa tidak dapat bersabar bersamanya, yaitu karena Musa tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk mengikuti semua peristiwa tersebut.

10. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa sebab utama seseorang mampu bersabar adalah karena ia memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang perkara yang harus ia hadapi dengan kesabaran.

Adapun orang yang tidak mengetahui hakikat suatu perkara, tidak mengetahui tujuannya, hasil akhirnya, manfaatnya, ataupun buah yang akan diperoleh darinya, maka ia tidak memiliki sebab yang mendorongnya untuk bersabar.

Hal ini sebagaimana firman Allah,

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

“Bagaimana engkau dapat bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau ketahui secara menyeluruh?”

Ayat ini menunjukkan bahwa sebab ketidakmampuan bersabar adalah karena tidak mengetahui hakikat suatu perkara secara menyeluruh.

11. Di antara pelajaran lainnya adalah perintah untuk bersikap tenang, berhati-hati, dan tidak tergesa-gesa dalam menilai suatu perkara sebelum mengetahui tujuan dan maksud yang sebenarnya dari perkara tersebut.

12. Di antara pelajaran lainnya adalah dianjurkannya mengaitkan perkara-perkara yang akan datang dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, seseorang tidak sepatutnya mengatakan bahwa ia pasti akan melakukan sesuatu di masa depan, kecuali dengan mengatakan,

إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Jika Allah menghendaki.”

13. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa tekad untuk melakukan sesuatu tidaklah sama dengan benar-benar melakukannya.

Nabi Musa berkata,

سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا

“Engkau akan mendapati aku, insya Allah, sebagai orang yang sabar.”

Beliau telah meneguhkan niat dalam dirinya untuk bersabar, namun ketika peristiwa itu terjadi, kesabaran tersebut belum sepenuhnya terwujud.

14. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang guru boleh melihat maslahat untuk mengarahkan muridnya agar tidak langsung bertanya tentang sebagian perkara, sampai guru tersebut sendiri yang menjelaskannya pada waktu yang tepat.

Hal ini dilakukan apabila pemahaman murid masih terbatas, atau jika pertanyaan yang diajukan terlalu mendalam pada perkara yang belum saatnya dibahas, atau pada hal-hal yang lebih penting masih belum dipahami, atau jika pertanyaan yang diajukan tidak berkaitan dengan pokok pembahasan.

15. Di antara pelajaran lainnya adalah bolehnya melakukan perjalanan melalui laut selama tidak dalam keadaan yang membahayakan.

16. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya, baik dalam perkara yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak sesama manusia. Hal ini sebagaimana ucapan Musa,

لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ

“Janganlah engkau menghukumku karena aku lupa.” (QS. Al-Kahfi: 73)

17. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seseorang seharusnya bersikap lapang dalam berinteraksi dengan manusia, menerima apa yang mereka mampu berikan dengan kerelaan hati mereka, dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang tidak sanggup mereka lakukan atau yang memberatkan mereka. Sikap membebani orang lain akan menimbulkan kejenuhan dan membuat orang menjauh. Sebaliknya, seseorang hendaknya mengambil sikap yang mudah sehingga urusan pun menjadi mudah.

18. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa hukum-hukum dalam kehidupan dunia berjalan berdasarkan apa yang tampak secara lahir. Dari hal-hal yang tampak itulah ditetapkan berbagai hukum yang berkaitan dengan harta, jiwa, dan perkara lainnya.

Karena itulah Nabi Musa ‘alaihis salam mengingkari tindakan Khidhir ketika melubangi kapal dan membunuh anak kecil, sebab secara lahir perbuatan tersebut tampak sebagai kemungkaran. Dalam keadaan biasa, Musa tidak boleh diam terhadap kemungkaran seperti itu.

Namun dalam keadaan khusus ketika ia sedang menyertai Khidhir, seharusnya ia bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkari. Akan tetapi Musa segera menilai berdasarkan keadaan lahirnya dan tidak memperhatikan kondisi khusus yang menuntutnya untuk bersabar.

19. Di antara pelajaran penting lainnya adalah kaidah besar dalam syariat: Menolak kerusakan yang lebih besar dengan melakukan kerusakan yang lebih kecil. Demikian pula memilih maslahat yang lebih besar dengan meninggalkan maslahat yang lebih kecil.

  • Membunuh anak tersebut memang merupakan suatu keburukan, namun jika anak itu tetap hidup hingga dewasa dan menjerumuskan kedua orang tuanya ke dalam kekafiran, maka keburukan itu jauh lebih besar.
  • Walaupun pada pandangan pertama membiarkan anak itu hidup tampak sebagai kebaikan, namun kebaikan yang lebih besar adalah tetap terjaganya agama dan iman kedua orang tuanya. Karena itulah Khidhir membunuh anak tersebut.

Di bawah kaidah ini terdapat banyak sekali cabang hukum dan manfaat yang tidak terhitung jumlahnya. Setiap pertentangan antara maslahat dan mafsadat termasuk dalam pembahasan kaidah ini.

20. Di antara pelajaran lainnya adalah kaidah besar bahwa seseorang boleh bertindak terhadap harta orang lain jika tujuannya untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kerusakan, meskipun tanpa izin pemiliknya, bahkan walaupun tindakan itu menyebabkan rusaknya sebagian harta tersebut. Hal ini sebagaimana tindakan Khidhir yang melubangi kapal agar kapal itu tampak cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zalim.

Berdasarkan kaidah ini, apabila terjadi kebakaran, tenggelam, atau keadaan darurat lainnya pada rumah atau harta seseorang, dan untuk menyelamatkan sebagian besar harta tersebut diperlukan merusak sebagian lainnya atau merobohkan sebagian bangunan, maka hal itu boleh dilakukan, bahkan dianjurkan demi menjaga harta tersebut.

Demikian pula jika seorang penguasa zalim hendak merampas seluruh harta seseorang, lalu sebagian harta diberikan untuk menyelamatkan sisanya, maka hal itu diperbolehkan meskipun tanpa izin pemilik harta tersebut.

21. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa bekerja di laut diperbolehkan sebagaimana bekerja di darat. Hal ini terlihat dari firman Allah,

يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ

“Mereka bekerja di laut,” (QS. Al-Kahfi: 79) dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka tersebut.

22. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang miskin terkadang masih memiliki sebagian harta, tetapi harta itu tidak mencukupi kebutuhannya. Karena itu ia tetap disebut miskin. Hal ini terlihat dari keterangan bahwa para nelayan tersebut adalah orang-orang miskin, padahal mereka memiliki sebuah kapal.

23. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa membunuh merupakan salah satu dosa terbesar. Hal ini terlihat dari ucapan Musa ketika menanggapi pembunuhan anak kecil tersebut,

لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا

“Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”

24. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa pembunuhan yang dilakukan sebagai qishash tidak termasuk perbuatan mungkar. Hal ini tersirat dari ucapan Musa,

بِغَيْرِ نَفْسٍ

“Tanpa (alasan membunuh) jiwa yang lain.”

25. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang hamba yang saleh akan dijaga oleh Allah, baik pada dirinya maupun pada keturunannya.

Baca juga:

26. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa melayani orang-orang saleh atau orang-orang yang berkaitan dengan mereka merupakan suatu kemuliaan. Hal ini terlihat dari alasan ditegakkannya kembali dinding tersebut dan dijaganya harta dua anak yatim itu, yaitu karena ayah mereka adalah seorang yang saleh.

27. Di antara pelajaran lainnya adalah pentingnya menjaga adab kepada Allah dalam ucapan. Khidhir menyandarkan kerusakan kapal kepada dirinya dengan mengatakan,

فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا

“Aku ingin membuat kapal itu cacat.”

Namun ketika menyebutkan kebaikan, ia menyandarkannya kepada Allah dengan mengatakan,

فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا

“Maka Rabbmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa.”

Hal ini sebagaimana ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syuara: 80)

Demikian pula ucapan para jin,

وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

Kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi penduduk bumi, ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (QS. Al-Jin: 10)

Padahal pada hakikatnya semua itu terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah.

28. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang sahabat tidak seharusnya langsung memutuskan hubungan dengan sahabatnya sebelum memberikan kesempatan untuk meminta maaf dan menjelaskan kesalahannya, sebagaimana yang dilakukan Khidhir terhadap Musa.

29. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa kesesuaian dan keharmonisan antara dua orang sahabat dalam perkara-perkara yang tidak terlarang menjadi sebab kuatnya persahabatan dan kelanggengan hubungan. Sebaliknya, ketidaksepahaman dapat menjadi sebab terputusnya kebersamaan.

30. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa semua peristiwa yang dilakukan Khidhir dalam kisah ini pada hakikatnya merupakan takdir Allah yang dijalankan melalui tangan hamba-Nya yang saleh. Dengan peristiwa itu Allah menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kelembutan dan kasih sayang-Nya dalam berbagai ketetapan-Nya. Terkadang Allah menakdirkan sesuatu yang sangat tidak disukai oleh seorang hamba, padahal pada hakikatnya hal itu merupakan kebaikan baginya.

31. Kadang kebaikan itu berkaitan dengan agama seseorang, seperti dalam peristiwa terbunuhnya anak kecil tersebut. Kadang pula berkaitan dengan urusan dunia, seperti dalam peristiwa dilubanginya kapal.

Dengan demikian Allah memperlihatkan kepada manusia contoh dari kelembutan dan kemurahan-Nya, agar mereka memahami hikmah tersebut dan akhirnya rela sepenuhnya terhadap takdir-takdir Allah meskipun pada awalnya terasa tidak menyenangkan.

(Pelajaran-pelajaran ini diambil dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman atau Tafsir As-Sa’di)

 

Renungan Penting dari Kisah Musa dan Khidhir

1. Tidak semua yang terasa pahit adalah keburukan

Kapal yang dilubangi, anak yang dibunuh, dan tembok yang ditegakkan tanpa upah tampak janggal di mata manusia. Namun semuanya ternyata menjadi jalan datangnya rahmat, perlindungan, dan kebaikan yang lebih besar. Ini mengajarkan kita agar tidak tergesa-gesa menilai takdir Allah hanya dari yang tampak di permukaan.

2. Ilmu manusia terbatas, sedangkan hikmah Allah sempurna

Nabi Musa ‘alaihis salam saja tidak mengetahui hikmah dari tiga peristiwa itu pada awalnya. Maka manusia biasa lebih pantas lagi untuk tunduk, rendah hati, dan tidak merasa bahwa semua kejadian harus langsung bisa dipahami akalnya. Kadang Allah menyembunyikan hikmah agar hamba belajar sabar dan tawakal.

3. Kesalehan orang tua bisa menjadi sebab penjagaan bagi anak

Pada kisah tembok dua anak yatim, Allah menjaga harta mereka karena ayah mereka adalah seorang yang saleh. Ini adalah pelajaran yang sangat menyentuh: salah satu warisan terbaik bagi anak bukan sekadar harta, tetapi kesalehan orang tuanya. Amal saleh seorang ayah atau ibu bisa menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada keturunannya.

 

Semoga bermanfaat. Semoga menjadi teladan.

 

Referensi:

 

—–

 

Malam Sabtu, 18 Ramadhan 1447 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 10   +   4   =  

Back to top button