Tafsir Al Qur'an

Cara Al-Qur’an Mengobati Kesedihan Hati: Pelajaran dari Surah Al-Hijr Ayat 92–99

Dalam Surah Al-Hijr ayat 92–99, Allah memberikan hiburan dan penguatan hati kepada Rasulullah ﷺ ketika menghadapi ejekan dan penentangan kaum musyrikin. Allah menegaskan bahwa para penentang kebenaran kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan mereka. Di saat yang sama, Nabi diperintahkan untuk tetap sabar, memperbanyak tasbih dan sujud, serta terus beribadah kepada Allah hingga datangnya ajal.

 

 

Allah Ta’ala berfirman,

فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَٔلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua.” (QS. Al-Hijr: 92)

عَمَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS. Al-Hijr: 93)

فَٱصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)

إِنَّا كَفَيْنَٰكَ ٱلْمُسْتَهْزِءِينَ

Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS. Al-Hijr: 95)

ٱلَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

(Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya).” (QS. Al-Hijr: 96)

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ

Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan.” (QS. Al-Hijr: 97)

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ

maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat).” (QS. Al-Hijr: 98)

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

 

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

Firman Allah Ta’ala,

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ • عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Demi Tuhanmu, sungguh Kami benar-benar akan menanyai mereka semuanya tentang apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Maksudnya, seluruh orang yang mencela Al-Qur’an, merendahkannya, menyelewengkan maknanya, dan mengubahnya akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan mereka. Dalam ayat ini terdapat ancaman yang sangat besar dan peringatan keras agar mereka tidak terus-menerus berada di atas keburukan yang mereka lakukan.

Kemudian Allah memerintahkan Rasul-Nya agar tidak memedulikan mereka maupun selain mereka. Beliau diperintahkan untuk menyampaikan secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah, mengumumkannya kepada setiap orang, dan tidak membiarkan apa pun menghalangi tugasnya. Ucapan orang-orang yang bertindak ceroboh dan melampaui batas tidak boleh menghalangi beliau.

Allah berfirman,

وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Berpalinglah dari orang-orang musyrik.”

Artinya, jangan memedulikan mereka. Tinggalkan caci maki dan ejekan mereka, lalu tetaplah fokus pada tugas yang engkau emban.

Allah juga berfirman,

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

“Sesungguhnya Kami telah mencukupkanmu dari (gangguan) orang-orang yang memperolok-olokmu.”

Ini adalah janji dari Allah kepada Rasul-Nya bahwa orang-orang yang mengejek beliau dan risalah yang dibawanya tidak akan mampu mencelakainya. Allah sendiri yang akan melindungi beliau dari mereka dan membalas mereka dengan berbagai bentuk hukuman sesuai kehendak-Nya. Kenyataannya memang demikian: tidak ada seorang pun yang secara terang-terangan mengejek Rasulullah ﷺ dan risalah yang beliau bawa, kecuali Allah membinasakannya dengan kebinasaan yang sangat buruk.

Kemudian Allah menyebutkan sifat mereka. Mereka bukan hanya menyakiti engkau, wahai Rasulullah, tetapi juga menyekutukan Allah dengan menjadikan bagi-Nya tuhan lain, padahal Dialah Tuhan mereka, Pencipta mereka, dan Pengatur segala urusan mereka.

Allah berfirman,

فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Maka kelak mereka akan mengetahui.”

Mereka akan mengetahui akibat perbuatan mereka ketika datang pada hari kiamat.

Allah juga berfirman,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ

“Dan sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka katakan.”

Ucapan mereka berupa pendustaan dan ejekan tentu membuat hatimu terasa sempit. Sebenarnya Allah mampu membinasakan mereka dengan azab dan menyegerakan hukuman yang pantas bagi mereka. Namun Allah memberi mereka waktu dan tidak langsung menghukum mereka, meskipun Dia tidak pernah lalai dari perbuatan mereka.

Karena itu, wahai Muhammad,

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersujud.”

Perbanyaklah zikir kepada Allah, bertasbih, memuji-Nya, dan menunaikan salat. Semua itu akan melapangkan dada, menenangkan hati, dan membantumu dalam menjalankan berbagai urusan.

Allah juga berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqīn.”

Yang dimaksud dengan al-yaqīn di sini adalah kematian. Artinya, teruslah mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai bentuk ibadah sepanjang hidupmu. Rasulullah ﷺ benar-benar melaksanakan perintah Rabbnya tersebut. Beliau senantiasa tekun dalam beribadah hingga datang kepadanya al-yaqīn, yaitu kematian dari Rabbnya. Semoga Allah melimpahkan salawat dan salam yang banyak kepada beliau.

 

Cara Al-Qur’an Mengobati Kesedihan Hati

Berdasarkan ayat-ayat dalam Surah Al-Hijr ayat 92–99, terdapat beberapa kiat singkat untuk mengatasi kesedihan sebagaimana nasihat Allah kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau menghadapi ejekan dan penolakan dari kaum musyrikin.

1. Ingat bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban

Allah berfirman,

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ • عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Demi Tuhanmu, sungguh Kami benar-benar akan menanyai mereka semuanya tentang apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Hijr: 92–93)

Ini mengajarkan bahwa tidak semua keburukan harus kita balas atau kita pikirkan terus-menerus. Pada akhirnya, Allah sendiri yang akan menghisab setiap perbuatan manusia.

2. Fokus pada tugas dan tujuan hidup

Allah memerintahkan Nabi ﷺ,

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ

Maka sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan kepadamu.” (QS. Al-Hijr: 94)

Ketika hati sedih karena ucapan manusia, obatnya adalah kembali fokus pada misi hidup yang Allah berikan kepada kita.

3. Jangan terlalu memedulikan ejekan manusia

Allah berfirman,

وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)

Artinya, tidak semua ucapan orang harus dimasukkan ke dalam hati. Banyak masalah batin muncul karena kita terlalu memikirkan perkataan orang lain.

4. Yakin bahwa Allah akan melindungi

Allah menenangkan Rasulullah ﷺ dengan firman-Nya,

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

Sesungguhnya Kami telah mencukupkanmu dari (gangguan) orang-orang yang memperolok-olok.” (QS. Al-Hijr: 95)

Keyakinan bahwa Allah yang menjaga dan membela hamba-Nya akan menenangkan hati ketika menghadapi perlakuan buruk manusia.

5. Perbanyak tasbih, dzikir, dan shalat

Allah memberi solusi langsung untuk kesempitan dada,

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ

Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersujud.” (QS. Al-Hijr: 98)

Dzikir dan shalat adalah obat paling kuat untuk menenangkan hati yang sedih.

6. Terus beribadah sepanjang hidup

Allah berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)

Kesibukan dalam ibadah akan menjaga hati dari tenggelam dalam kesedihan dunia.

 

Al-Qur’an mengajarkan bahwa cara mengatasi kesedihan adalah dengan tidak terlalu memikirkan ucapan manusia, tetap fokus pada tugas hidup, memperbanyak dzikir dan shalat, serta terus beribadah kepada Allah hingga akhir hayat. Dengan demikian, hati menjadi lapang dan tenang sebagaimana Allah menenangkan Rasulullah ﷺ.

 

 

Referensi:

  • Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic 

 

 

—–

 

Kamis, 16 Ramadhan 1447 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 7   +   1   =  

Back to top button