AqidahTafsir Al Qur'an

Pohon Iman dan Keteguhan di Alam Kubur (Tafsir QS. Ibrahim 23–27)

Surat Ibrahim ayat 23–27 menggambarkan perbedaan jelas antara balasan orang beriman dan nasib orang kafir. Allah memberikan perumpamaan yang indah tentang kalimat tauhid sebagai pohon yang kokoh dan penuh manfaat, serta kalimat kufur sebagai pohon yang tercabut tanpa akar. Dalam ayat-ayat ini pula Allah menegaskan janji-Nya untuk meneguhkan orang beriman di dunia, saat kematian, dan di alam kubur.

 

 

Balasan Surga bagi Orang Beriman dan Beramal Saleh

Allah Ta’ala berfirman,

وَأُدْخِلَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ ۖ تَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَٰمٌ

Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah “salaam”.” (QS. Ibrahim: 23)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat ini.

Ketika Allah menyebutkan hukuman bagi orang-orang zalim, Allah pun menyebutkan balasan bagi orang-orang yang taat. Allah berfirman,

{ وَأُدْخِلَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ }

“Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh,”

yaitu mereka yang menegakkan ajaran agama dengan perkataan, perbuatan, dan keyakinan.

{ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ }

“Ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Di dalamnya terdapat berbagai kenikmatan dan kelezatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.

{ خَالِدِينَ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ }

“Mereka kekal di dalamnya dengan izin Tuhan mereka,”

yakni bukan karena daya dan kekuatan mereka sendiri, melainkan karena daya dan kekuatan Allah.

{ تَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ }

“Ucapan penghormatan mereka di dalamnya adalah salam,”

yaitu mereka saling memberi salam, saling menyampaikan penghormatan, dan bertutur kata yang baik satu sama lain.

 

Kalimat Tauhid Laksana Pohon yang Kokoh

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim: 24)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat ini.

Allah Ta‘ala berfirman:

{ أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً }

“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan tentang kalimat yang baik?”

Yang dimaksud dengan kalimat yang baik di sini adalah syahadat:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah,”

beserta cabang-cabangnya, yaitu berbagai ajaran dan konsekuensi yang lahir darinya.

{ كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ }

“Seperti pohon yang baik,”

yang dimaksud adalah pohon kurma.

{ أَصْلُهَا ثَابِتٌ }

“Akarnya kokoh,”

tertancap kuat di dalam tanah.

{ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ }

“Dan cabang-cabangnya menjulang ke langit,”

yakni ranting dan dahannya tumbuh tinggi dan tersebar luas ke atas.

 

Buah Iman yang Terus Mengalir dan Mengangkat Amal

Allah Ta’ala berfirman,

تُؤْتِىٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍۭ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 25)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat ini.

Pohon itu banyak manfaatnya dan terus-menerus berbuah.

{ تُؤْتِي أُكُلَهَا }

“Memberikan buahnya,”

yakni menghasilkan buahnya.

{ كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا }

“Pada setiap waktu dengan izin Tuhannya.”

Demikian pula pohon iman. Akarnya kokoh tertanam di dalam hati seorang mukmin, berupa ilmu dan keyakinan. Adapun cabang-cabangnya berupa ucapan yang baik, amal saleh, akhlak yang diridai, serta adab yang mulia. Cabang-cabang itu senantiasa menjulang ke langit; darinya naik kepada Allah berbagai amal dan ucapan yang lahir dari pohon iman tersebut. Semua itu memberi manfaat bagi diri orang beriman dan juga bagi orang lain.

{ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ }

“Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia agar mereka mengambil pelajaran,”

yakni agar mereka mengingat apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang kepada mereka. Dalam perumpamaan terdapat upaya mendekatkan makna-makna yang abstrak melalui gambaran yang bisa dirasakan. Dengan demikian, maksud yang Allah kehendaki menjadi sangat jelas dan terang. Ini termasuk rahmat Allah dan indahnya pengajaran-Nya.

Maka segala puji yang paling sempurna, paling lengkap, dan paling luas hanyalah milik Allah.

Inilah gambaran tentang kalimat tauhid dan kokohnya ia dalam hati seorang mukmin.

 

Kalimat Kufur Seperti Pohon Tanpa Akar

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ ٱجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ ٱلْأَرْضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٍ

Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (QS. Ibrahim: 26)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat ini.

Kemudian Allah menyebutkan kebalikannya, yaitu kalimat kekufuran beserta cabang-cabangnya. Allah berfirman:

{ وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ }

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk adalah seperti pohon yang buruk,”

yakni pohon yang jelek buah dan rasanya. Yang dimaksud adalah pohon hanzhal (sejenis tanaman pahit) dan yang semisalnya.

{ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ }

“Yang telah dicabut dari permukaan bumi; tidak mempunyai tempat berpijak yang tetap,”

artinya pohon itu tercabut dari atas tanah, tidak memiliki akar yang menghunjam kuat untuk menahannya, dan tidak pula menghasilkan buah yang baik. Kalaupun berbuah, buahnya adalah buah yang buruk.

Demikian pula kalimat kekufuran dan kemaksiatan. Ia tidak memiliki keteguhan yang bermanfaat di dalam hati, dan tidak melahirkan kecuali ucapan yang buruk serta perbuatan yang buruk, yang justru membahayakan pelakunya sendiri tanpa memberi manfaat sedikit pun.

Tidak ada amal saleh yang naik kepada Allah darinya, tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri, dan tidak pula memberi manfaat kepada orang lain.

 

Keteguhan Iman di Dunia, Saat Wafat, dan di Alam Kubur

Allah Ta’ala berfirman,

يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱلْقَوْلِ ٱلثَّابِتِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلظَّٰلِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat ini.

Allah Ta‘ala mengabarkan bahwa Dia meneguhkan hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu orang-orang yang telah menunaikan kewajiban mereka berupa keimanan hati yang sempurna—iman yang menuntut dan melahirkan amal anggota badan.

Allah meneguhkan mereka dalam kehidupan dunia ketika datang berbagai syubhat, dengan memberi petunjuk kepada keyakinan yang kokoh. Dan ketika menghadapi berbagai syahwat, Allah meneguhkan mereka dengan kehendak yang kuat untuk mendahulukan apa yang Allah cintai daripada hawa nafsu dan keinginan diri mereka.

Di akhirat, Allah meneguhkan mereka ketika menghadapi kematian, dengan keteguhan di atas agama Islam dan mendapatkan husnul khatimah. Di dalam kubur, saat dua malaikat bertanya, Allah memberi mereka kemampuan untuk menjawab dengan benar. Ketika ditanya kepada mayit, “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?” Allah memberi petunjuk kepada orang beriman untuk menjawab: “Allah Tuhanku, Islam agamaku, dan Muhammad nabiku.”

{ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ }

“Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim,”

yakni dari kebenaran, baik di dunia maupun di akhirat. Bukan Allah yang menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.

Ayat ini juga menjadi dalil tentang adanya fitnah kubur, azab kubur, dan nikmat kubur, sebagaimana telah banyak riwayat yang mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang adanya ujian di kubur, sifatnya, serta kenikmatan dan azab yang ada di dalamnya.

Baca juga: Pembicaraan Siksa Kubur dalam Al-Qur’an

 

 

Referensi:

  • Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic 

 

—–

 

Malam Rabu, 15 Ramadhan 1447 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 2   +   2   =  

Back to top button