Tafsir Al Qur'anTeladan

Mengapa Iman Saat Azab Tidak Diterima? Kisah Kaum Yunus dalam Tafsir QS. Yunus: 98

Mengapa iman yang muncul saat azab datang tidak lagi bermanfaat? QS. Yunus ayat 98 menjelaskan bahwa hampir seluruh umat terdahulu tidak diterima imannya ketika siksa telah tampak, kecuali kaum Nabi Yunus ‘alaihissalam. Melalui penjelasan Syaikh As-Sa’di dan Ibnu Katsir, kita memahami hikmah besar di balik pengecualian ini.

 

 

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ ءَامَنَتْ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُوا۟ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ ٱلْخِزْىِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَمَتَّعْنَٰهُمْ إِلَىٰ حِينٍ

Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan mengenai ayat berikut ini.

Allah Ta’ala berfirman,

{ فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ }

“Tidakkah ada satu negeri pun”

yakni dari negeri-negeri kaum yang mendustakan,

{ آمَنَتْ }

“yang beriman”

ketika mereka melihat azab datang,

{ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا }

“lalu iman itu bermanfaat bagi mereka?”

Artinya, tidak ada seorang pun dari mereka yang imannya bermanfaat setelah melihat azab turun.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya tentang Fir‘aun, ketika ia berkata,

۞ وَجَٰوَزْنَا بِبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱلْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُۥ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَدْرَكَهُ ٱلْغَرَقُ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِىٓ ءَامَنَتْ بِهِۦ بَنُوٓا۟ إِسْرَٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (QS. Yunus: 90)

Maka dikatakan kepadanya:

ءَآلْـَٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ

Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus: 91)

Demikian pula firman-Nya:

فَلَمَّا رَأَوْا۟ بَأْسَنَا قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِۦ مُشْرِكِينَ

Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: “Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah”. (QS. Yunus: 84)

فَلَمْ يَكُ يَنفَعُهُمْ إِيمَٰنُهُمْ لَمَّا رَأَوْا۟ بَأْسَنَا ۖ سُنَّتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى قَدْ خَلَتْ فِى عِبَادِهِۦ ۖ

Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Yunus: 85)

Dan firman-Nya:

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).” (QS. Al-Mu’minun: 99)

لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ

Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.” (QS. Al-Mu’minun: 99)

Hikmah dalam hal ini sangat jelas. Iman yang muncul karena terpaksa (iman darurat) bukanlah iman yang hakiki. Seandainya azab atau keadaan yang memaksa mereka beriman itu dihilangkan, niscaya mereka akan kembali kepada kekufuran.

Adapun firman-Nya:

{ إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا }

“Kecuali kaum Yunus. Ketika mereka beriman”

setelah mereka melihat tanda-tanda azab,

{ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ }

“Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan hingga waktu tertentu.”

Mereka ini dikecualikan dari ketentuan umum sebelumnya.

Pasti ada hikmah khusus dalam hal ini yang hanya diketahui oleh Allah, Yang Maha Mengetahui perkara gaib dan nyata. Hikmah tersebut belum sampai kepada kita dan belum mampu dijangkau oleh akal kita.

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ

Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul.” (QS. As-Saffat: 139)

إِذْ أَبَقَ إِلَى ٱلْفُلْكِ ٱلْمَشْحُونِ

(ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan.” (QS. As-Saffat: 140)

فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ ٱلْمُدْحَضِينَ

Kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.” (QS. As-Saffat: 141)

فَٱلْتَقَمَهُ ٱلْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ

Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.” (QS. As-Saffat: 142)

فَلَوْلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلْمُسَبِّحِينَ

Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah.” (QS. As-Saffat: 143)

لَلَبِثَ فِى بَطْنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. As-Saffat: 144)

فَنَبَذْنَٰهُ بِٱلْعَرَآءِ وَهُوَ سَقِيمٌ

Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.” (QS. As-Saffat: 145)

وَأَنۢبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّن يَقْطِينٍ

Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.” (QS. As-Saffat: 146)

وَأَرْسَلْنَٰهُ إِلَىٰ مِا۟ئَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ

Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.” (QS. As-Saffat: 147)

فَـَٔامَنُوا۟ فَمَتَّعْنَٰهُمْ إِلَىٰ حِينٍ

Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. As-Saffat: 148)

Boleh jadi hikmahnya adalah karena kaum-kaum lain yang dibinasakan itu, seandainya mereka dikembalikan (ke dunia), niscaya mereka akan kembali melakukan apa yang telah dilarang kepada mereka.

Adapun kaum Yunus, Allah mengetahui bahwa iman mereka akan terus berlanjut. Bahkan memang benar, iman mereka berlanjut dan mereka tetap teguh di atasnya.

Dan Allah Maha Mengetahui.

 

Imam Ibnu Katsir menjelaskan pula yang hampir serupa dengan penambahan faedah dari penjelasan di atas.

Allah Ta’ala berfirman: Mengapa tidak ada satu negeri pun yang seluruh penduduknya beriman secara sempurna dari umat-umat terdahulu yang telah Kami utus kepada mereka para rasul?

Tidaklah Kami mengutus sebelum engkau, wahai Muhammad, seorang rasul pun melainkan kaumnya mendustakannya, atau setidaknya kebanyakan dari mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

{ يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ ۚ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ }

Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidak datang kepada mereka seorang rasul pun melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Yasin: 30)

Dan firman-Nya:

{ كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ }

Demikianlah, tidaklah datang kepada orang-orang sebelum mereka seorang rasul pun melainkan mereka berkata, ‘Ia adalah seorang penyihir atau orang gila.’” (QS. Adz-Dzariyat: 52)

Dan firman-Nya:

{ وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ }

Dan demikianlah, tidaklah Kami mengutus sebelum engkau seorang pemberi peringatan di suatu negeri pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu ajaran, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.’” (QS. Az-Zukhruf: 23)

Dalam hadits sahih disebutkan:

“عُرِضَ عَلَيَّ الْأَنْبِيَاءُ، فَجَعَلَ النَّبِيُّ يَمُرُّ وَمَعَهُ الْفِئَامُ مِنَ النَّاسِ، وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلُ، وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلَانِ، وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ”

“Telah diperlihatkan kepadaku para nabi. Ada nabi yang lewat bersama sekelompok besar pengikut, ada nabi yang bersama satu orang saja, ada yang bersama dua orang, dan ada nabi yang tidak bersama seorang pun.”

Kemudian disebutkan banyaknya pengikut Nabi Musa ‘alaihis salam, dan juga banyaknya umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, jumlah yang sangat besar hingga memenuhi penjuru timur dan barat.

Tujuan dari penjelasan ini adalah bahwa tidak ada satu negeri pun dari umat terdahulu yang seluruh penduduknya beriman secara sempurna kepada nabi mereka, kecuali kaum Yunus, yaitu penduduk Nainawa. Itupun iman mereka muncul karena rasa takut akan datangnya azab yang telah diperingatkan oleh rasul mereka, setelah mereka melihat tanda-tandanya. Rasul mereka telah meninggalkan mereka, dan saat itulah mereka berteriak memohon kepada Allah, meminta pertolongan kepada-Nya, dan merendahkan diri di hadapan-Nya.

Baca juga: Mustajabnya Do’a Dzun Nuun, Nabi Yunus

Mereka menampakkan kerendahan hati, membawa anak-anak mereka, hewan ternak dan binatang peliharaan mereka, lalu memohon kepada Allah agar mengangkat azab yang telah diperingatkan oleh nabi mereka. Maka pada saat itu Allah merahmati mereka, mengangkat azab tersebut, dan menangguhkannya. Sebagaimana firman-Nya:

{ إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ }

“Kecuali kaum Yunus. Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami beri mereka kesenangan hingga waktu tertentu.”

Para ahli tafsir berbeda pendapat: apakah azab akhirat juga diangkat dari mereka bersama azab dunia, ataukah hanya azab dunia saja yang diangkat?

Ada dua pendapat.

Pendapat pertama: yang diangkat hanyalah azab dunia, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam ayat ini.

Pendapat kedua: azab dunia dan akhirat sama-sama diangkat, berdasarkan firman Allah:

{ وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ ۝ فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ }

Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Maka mereka beriman, lalu Kami beri mereka kesenangan hingga waktu tertentu.” (QS. As-Saffat: 147–148)

Dalam ayat ini mereka disebut beriman secara mutlak. Sementara iman adalah penyelamat dari azab akhirat. Inilah pendapat yang lebih kuat. Dan Allah Maha Mengetahui.

Qatadah berkata dalam menafsirkan ayat ini: Tidak ada suatu negeri yang sebelumnya kafir lalu beriman ketika azab telah datang kepada mereka, kemudian dibiarkan (selamat), kecuali kaum Yunus. Ketika mereka kehilangan nabi mereka dan mengira bahwa azab telah dekat, Allah melemparkan rasa tobat ke dalam hati mereka. Mereka mengenakan pakaian kasar sebagai tanda penyesalan, memisahkan setiap hewan dari anaknya, lalu mereka berteriak memohon kepada Allah selama empat puluh malam.

Ketika Allah mengetahui kejujuran hati mereka, tobat dan penyesalan mereka atas dosa yang telah lalu, Allah pun mengangkat azab dari mereka, padahal azab itu sudah hampir menimpa mereka.

Qatadah menyebutkan bahwa kaum Yunus tinggal di Nainawa, wilayah Mosul.

Riwayat yang sama juga datang dari Ibnu Mas‘ud, Mujahid, Sa‘id bin Jubair, dan sejumlah ulama salaf lainnya. Ibnu Mas‘ud biasa membaca ayat tersebut dengan bacaan:

“فَهَلَّا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ”

Abu ‘Imran meriwayatkan dari Abu Al-Jald, ia berkata: Ketika azab turun kepada mereka, azab itu berputar di atas kepala mereka seperti potongan malam yang gelap gulita. Mereka pun mendatangi seorang alim dari kalangan mereka dan berkata, “Ajarkanlah kepada kami doa yang dapat kami panjatkan, semoga Allah mengangkat azab dari kami.”

Orang itu berkata, “Ucapkanlah:

يَا حَيُّ حِينَ لَا حَيَّ، يَا مُحْيِيَ الْمَوْتَى لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

YAA HAYYU HIINA LAA HAYYA, YAA MUHYIL MAUTAA LAA ILAHA ILLA ANTA

‘Wahai Yang Maha Hidup ketika tidak ada yang hidup, wahai Yang Menghidupkan orang-orang mati, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.’”

Maka Allah pun mengangkat azab dari mereka.

Demikian penjelasan dari Imam Ibnu Katsir rahimahullah.

 

Ya Allah, Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.

Jangan jadikan iman kami sebagai iman yang muncul karena terpaksa saat musibah datang, tetapi jadikanlah ia iman yang tulus sebelum azab turun.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami taubat yang tulus sebelum kematian, rahmat ketika menghadapi kematian, dan ampunan setelah kematian.

Jangan Engkau hukum kami karena dosa-dosa kami. Jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap mata. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ketika diingatkan mereka sadar, ketika diperingatkan mereka kembali, dan ketika berdosa mereka segera memohon ampun.

Wahai Rabb kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh Engkaulah Maha Pemberi karunia.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Referensi:

 

—–

 

Ahad Shubuh, 12 Ramadhan 1447 H @ Kota Surakarta

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 6   +   7   =  

Back to top button