Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan
Perang Hunain menjadi pelajaran besar bahwa kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah pasukan, tetapi oleh pertolongan Allah. Ketika sebagian kaum Muslimin sempat bangga dengan jumlah mereka, Allah menampakkan kelemahan manusia tanpa taufik-Nya. Namun setelah hati diteguhkan dengan sakinah, pertolongan pun turun, dan pintu tobat tetap Allah bukakan.
Baca juga: Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan
Ketika Jumlah Besar Menjadi Sumber Kesombongan
Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ
“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Allah mengingatkan kaum mukminin tentang nikmat pertolongan-Nya dalam berbagai pertempuran dan medan jihad yang telah mereka lalui. Di banyak tempat, Allah memenangkan mereka dan meneguhkan langkah mereka.
Baca juga: Tafsir Surah Al-Anfal tentang Perang Badar: Ujian Harta dan Kemenangan dari Allah
Bahkan pada Perang Hunain pun — saat keadaan begitu genting — Allah tetap memberikan pertolongan, meskipun sebelumnya mereka sempat mengalami guncangan hebat. Ketika itu mereka merasakan kegamangan dan kekalahan yang membuat dada sesak, seakan-akan bumi yang begitu luas terasa menyempit karena tekanan dan ketakutan.
Latar Belakang Perang Hunain
Setelah Rasulullah ﷺ berhasil menaklukkan Makkah, beliau mendengar bahwa kabilah Hawazin telah bersiap untuk memerangi kaum Muslimin. Maka beliau pun berangkat menghadapi mereka bersama para sahabat yang ikut dalam Fathu Makkah, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam (disebut thulaqā’).
Jumlah pasukan kaum Muslimin saat itu mencapai 12.000 orang, sedangkan jumlah musuh sekitar 4.000 orang. Melihat jumlah yang besar itu, sebagian kaum Muslimin merasa bangga dan percaya diri berlebihan. Bahkan ada yang berkata, “Hari ini kita tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit.”
Namun, ketika kedua pasukan bertemu, kabilah Hawazin melakukan serangan mendadak secara serempak. Kaum Muslimin pun kocar-kacir. Mereka lari tanpa sempat saling memperhatikan satu sama lain.
Yang tetap bertahan bersama Rasulullah ﷺ hanya sekitar seratus orang saja. Mereka berdiri kokoh membela beliau dan terus melawan musuh.
Dalam kondisi genting itu, Rasulullah ﷺ maju ke arah musuh sambil menunggangi bagalnya dan berseru dengan penuh keyakinan:
أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ، أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
“Aku adalah Nabi, bukan dusta. Aku adalah putra Abdul Muththalib.”
Ketika melihat keadaan pasukan yang tercerai-berai, Nabi ﷺ memerintahkan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib — yang dikenal memiliki suara sangat lantang — untuk memanggil kaum Anshar dan kaum Muslimin lainnya. Ia pun berseru: “Wahai para sahabat yang pernah berbaiat di bawah pohon (Ashab as-Samurah)! Wahai para penghafal Surah Al-Baqarah!”
Begitu mereka mendengar seruan itu, mereka segera berbalik. Dengan semangat yang menyala, mereka kembali bersatu seperti satu tubuh yang kokoh. Mereka menyerang musuh dengan kekuatan penuh.
Akhirnya Allah memberikan kemenangan besar. Kaum musyrikin mengalami kekalahan telak. Kaum Muslimin berhasil menguasai perkemahan mereka, serta mendapatkan harta dan tawanan.
Itulah yang dimaksud dalam firman Allah:
“Sesungguhnya Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan dan pada hari Hunain.”
Hunain adalah nama sebuah tempat antara Makkah dan Thaif, lokasi terjadinya pertempuran tersebut.
Firman-Nya:
“yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.”
Yakni ketika jumlah kalian yang banyak itu membuat kalian merasa kagum dan percaya diri, tetapi ternyata tidak memberi manfaat sedikit pun — baik banyak maupun sedikit.
“dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu.”
Artinya, bumi terasa sempit bagi kalian karena rasa sedih, takut, dan tekanan batin akibat kekalahan yang kalian alami — padahal bumi itu luas.
“kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.”
Kemudian kalian berpaling ke belakang dalam keadaan melarikan diri dari medan perang.
Kemenangan Setelah Hati Diteguhkan
Allah Ta’ala berfirman,
ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ
“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman.”
Yang dimaksud dengan sakinah adalah ketenangan dan keteguhan yang Allah tanamkan ke dalam hati pada saat terjadi kegoncangan, kekacauan, dan situasi yang menakutkan. Dengan sakinah itu, hati menjadi kokoh, tidak mudah goyah, kembali tenang, dan dipenuhi rasa tenteram.
Sakinah adalah salah satu nikmat Allah yang sangat besar bagi hamba-hamba-Nya. Ketika keadaan di luar penuh tekanan, Allah menurunkan ketenangan di dalam hati. Itulah kekuatan sejati seorang mukmin.
“Dan Allah menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat.”
Yang dimaksud adalah para malaikat. Allah menurunkan mereka sebagai bentuk pertolongan kepada kaum Muslimin pada Perang Hunain. Para malaikat itu meneguhkan hati kaum beriman dan memberikan kabar gembira tentang kemenangan.
Pertolongan Allah tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi dampaknya nyata dalam kemenangan dan perubahan keadaan.
“Dan Allah mengazab orang-orang yang kafir.”
Azab itu berupa kekalahan, terbunuhnya sebagian dari mereka, serta dikuasainya kaum Muslimin atas wanita, anak-anak, dan harta mereka.
“Dan itulah balasan bagi orang-orang kafir.”
Di dunia, Allah menghukum mereka dengan kekalahan dan kehinaan. Kemudian di akhirat, mereka akan dikembalikan kepada azab yang jauh lebih berat dan pedih.
Pintu Tobat yang Tetap Terbuka
Allah Ta’ala berfirman,
ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.
“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya.”
Setelah kekalahan dan azab yang menimpa orang-orang kafir pada Perang Hunain, Allah masih membuka pintu tobat bagi siapa saja yang Dia kehendaki.
Dan memang, Allah menerima tobat banyak dari mereka yang sebelumnya memerangi kaum Muslimin. Mereka kemudian datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan telah masuk Islam dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Rasulullah ﷺ pun mengembalikan kepada mereka wanita dan anak-anak yang sebelumnya menjadi tawanan perang. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama rahmat. Ketika seseorang benar-benar bertaubat dan masuk Islam, lembaran masa lalunya dihapuskan.
“Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Artinya, Allah memiliki ampunan yang sangat luas dan rahmat yang menyeluruh.
Dia mengampuni dosa-dosa yang besar bagi siapa saja yang bertaubat. Dia juga merahmati hamba-hamba-Nya dengan memberi mereka taufik untuk bertaubat dan kembali taat. Bukan hanya mengampuni kesalahan mereka, Allah juga menerima tobat mereka dan menutup aib mereka.
Karena itu, jangan pernah ada yang berputus asa dari ampunan dan rahmat Allah. Seberat apa pun dosa dan sebesar apa pun kesalahan yang pernah dilakukan, pintu tobat tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat.
Ayat ini menutup kisah Hunain dengan pelajaran agung: Allah memberi kemenangan, Allah memberi azab, dan Allah pula yang membuka pintu ampunan. Dia Mahaperkasa dalam menghukum, namun juga Maha Penyayang dalam mengampuni.
Pelajaran Penting dari Perang Hunain
- Kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah dan kekuatan, tetapi oleh pertolongan Allah semata.
- Rasa bangga terhadap jumlah dan kemampuan diri dapat menjadi sebab datangnya ujian dan kekalahan.
- Ketika hati kembali bersandar kepada Allah, sakinah (ketenangan) turun dan keadaan pun berubah.
- Pertolongan Allah bisa datang melalui cara yang tidak terlihat oleh mata manusia.
- Kekalahan orang kafir di dunia adalah bagian dari keadilan Allah sebelum azab akhirat.
- Setelah hukuman dan kekalahan, Allah tetap membuka pintu tobat bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya.
- Tidak boleh ada keputusasaan dari rahmat Allah, sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan.
- Cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya harus lebih besar daripada cinta kepada keluarga, harta, dan dunia.
—–
Malam Sabtu, 11 Ramadhan 1447 H
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



