KeluargaKhutbah Jumat

Khutbah Jumat: Keutamaan Mencari Nafkah di Bulan Ramadan

Apakah ada keutamaan mencari nafkah di bulan Ramadhan? Ramadan bukan hanya tentang memperbanyak ibadah ritual di masjid, tetapi juga tentang menunaikan tanggung jawab dengan niat yang benar. Di tengah kewajiban puasa, banyak kaum muslimin tetap bekerja keras demi menafkahi keluarga mereka. Khutbah Jumat ini mengingatkan kita bahwa mencari nafkah dengan niat ikhlas termasuk ibadah yang agung dan bisa bernilai fi sabilillah.

 

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

فَقَالَ اللهُ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Amma ba’du …

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …

Di bulan Ramadan, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berlama-lama di masjid. Tidak semua orang bisa menghabiskan waktu siangnya dengan tilawah atau menghadiri kajian. Ada yang sejak pagi sudah berada di jalanan sebagai driver ojek online, mengantar penumpang dan makanan di tengah terik matahari. Ada yang duduk di balik meja kantor, menyelesaikan target pekerjaan. Ada buruh bangunan yang tetap mengangkat semen dan batu, ada pedagang yang tetap membuka lapak, ada tenaga medis yang berjaga tanpa mengenal waktu.

Mereka tetap bekerja, bukan karena tidak cinta ibadah, tetapi karena ada keluarga yang harus dinafkahi. Ada anak-anak yang menunggu makan berbuka. Ada orang tua yang perlu dipenuhi kebutuhannya. Ada tanggung jawab yang tidak boleh ditinggalkan.

Ramadan sering kali identik dengan masjid yang penuh, lantunan Al-Qur’an yang menggema, serta malam-malam panjang dalam qiyam dan tarawih. Namun, ada satu bentuk ibadah yang kerap luput dari perhatian: bekerja mencari nafkah dengan niat yang benar.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari, no. 56).

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أنْفَقَ الرَّجُلُ علَى أهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهو له صَدَقَةٌ

Jika seseorang berinfak kepada keluarganya dan ia berharap pahala, maka baginya adalah sedekah.” (HR. Bukhari, no. 55 dan Muslim, no. 1002).

Infak atau nafkah dengan niatan ihtisab (mengharap pahala) bernilai sedekah, berbuah pahala serta ganjaran. Demikian disebutkan oleh Prof. Dr. Sulaiman Al-‘Asyqar di dalam kitab An-Niyyaat fi Al-‘Ibaadaat, hlm. 102, dinukil dari Asaasiyyaat Al-Iqtishaad Al-Manzili karya Syaikhuna Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib, hlm. 9.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi yang mencari nafkah terhimpun padanya dua hal:

  1. Berusaha mencari nafkah
  2. Berniat mendapatkan pahala

Hal ini tentu berbeda jika seseorang hanya mencari nafkah karena itu sudah menjadi kebiasaan dia, tanpa menghadirkan niat untuk meraih pahala. Walaupun nafkah yang diperoleh itu sah secara hukum.

 

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …

Mencari Nafkah Termasuk di Bulan Ramadhan Dianggap Berjuang di jalan Allah

Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki yang tampak kuat dan penuh semangat. Para sahabat yang menyaksikan kegigihan dan energinya berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya kekuatan dan semangat orang ini digunakan di jalan Allah (untuk berjihad), tentu itu lebih baik.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ.

“Jika ia keluar untuk bekerja demi menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu termasuk di jalan Allah (fii sabilillah).

Jika ia keluar untuk bekerja demi menafkahi kedua orang tuanya yang sudah tua dan renta, maka itu termasuk di jalan Allah (fii sabilillah).

Jika ia keluar untuk bekerja demi menjaga dirinya agar tetap terhormat (tidak meminta-minta), maka itu termasuk di jalan Allah (fii sabilillah).

Namun, jika ia keluar untuk bekerja karena riya dan ingin membanggakan diri, maka ia berada di jalan setan (fii sabilisy syaithon).”

(HR. Ath-Thabrani, no. 282, 19:129 dengan lafaz sebagaimana disebutkan di atas, dari Ka’ab bin Ujrah. Al-Hafizh Ad-Dimyathi dalam Al-Matjar Ar-Rabih, hlm. 306 berkata tentang sanadnya: “Para perawinya adalah para perawi sahih).

Bekerja bukan sekadar urusan dunia. Jika diniatkan untuk menafkahi anak, berbakti kepada orang tua, atau menjaga kehormatan diri dari meminta-minta, maka ia bernilai ibadah yang agung. Aktivitas yang tampak biasa bisa berubah menjadi amal besar hanya karena niat yang lurus.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata dengan ungkapan menarik:

«الْعَارِفُونَ بِاللَّهِ عَادَاتُهُمْ عِبَادَاتٌ، وَالْعَامَّةُ عِبَادَاتُهُمْ عَادَاتٌ»

“Orang-orang yang benar-benar mengenal Allah, kebiasaan mereka bernilai ibadah. Sedangkan kebanyakan manusia, ibadah mereka hanya menjadi kebiasaan.”

Ungkapan ini sangat dalam maknanya. Orang yang hatinya hidup bersama Allah akan mengubah rutinitas menjadi ladang pahala. Makan diniatkan agar kuat beribadah. Istirahat diniatkan agar tubuh kembali bertenaga untuk taat. Bekerja diniatkan sebagai amanah menafkahi keluarga. Semua berubah menjadi ibadah karena niatnya benar.

Sebaliknya, tidak sedikit orang yang menjalankan ibadah hanya sebagai kebiasaan. Shalat dilakukan sekadar gerakan. Puasa hanya menahan lapar dan dahaga. Amal dilakukan tanpa kesadaran mendekat kepada Allah. Yang hilang bukan aktivitasnya, tetapi ruhnya.

Jika ada orang yang diberi kelapangan rezeki sehingga bisa fokus beribadah ritual sepanjang Ramadan, itu adalah kebaikan yang patut disyukuri. Namun, jangan meremehkan atau mencibir saudara-saudara kita yang tetap harus bekerja keras di bulan Ramadan. Bisa jadi, di balik peluh dan lelah mereka, ada pahala besar yang Allah siapkan.

Mari bersikap empati. Bisa jadi mereka yang berangkat pagi dan pulang sore dengan niat yang lurus justru sedang meniti jalan Allah (fii sabilillah).

 

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …

Tiga Golongan Orang dalam Mencari Nafkah

Kita dapat menggolongkan manusia menjadi tiga:

Pertama: Yang meremehkan mencari nafkah untuk keluarga, pahala ia mampu mencarinya, maka ia berdosa.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

Seseorang cukup dikatakan berdosa jika ia melalaikan orang yang ia wajib memberikan nafkah.” (HR. Abu Daud, no. 1692. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Kedua: Orang yang memberi nafkah kepada keluarganya hanya karena sudah jadi kebiasaan (‘aadat), ia tak berniat mendapatkan pahala, mencari nafkahnya dianggap sah, tetapi tidak diberikan ganjaran.

Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)

Ketiga: Yang mencari nafkah untuk keluarganya dan berharap pahala dari Allah, nafkahnya sah dan ia mendapatkan pahala. Inilah tingkatan paling mulia bagi orang yang mencari nafkah.

Lihat Asaasiyyaat Al-Iqtishaad Al-Manzili. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib. Penerbit Darul Muqtabas. hlm. 10.

 

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …

Keringanan Puasa bagi Pekerja Berat: Ada Syarat dan Batasannya

Islam adalah agama yang penuh rahmat dan tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya. Namun, keringanan bukan berarti kelonggaran tanpa aturan. Dalam masalah puasa Ramadan, ada rincian yang perlu dipahami, khususnya bagi mereka yang menjalani pekerjaan berat.

Lalu, apakah pekerja berat boleh tidak berpuasa?

Pekerjaan berat bisa menjadi bentuk masyaqqah (kesulitan) yang mendapatkan keringanan, dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Pekerjaannya tidak bisa diundur sampai bulan Syawal.
  2. Pekerjaan tersebut tidak bisa dikerjakan pada malam hari.
  3. Pekerjaannya berat sehingga menyulitkan jika tetap berpuasa sehingga kalau ingin shalat fardhu saja melakukannya dengan duduk.
  4. Di malam hari harus tetap niat puasa. Artinya dari awal fajar Shubuh, ia harus puasa dahulu. Ketika di siang hari ternyata tidak kuat, barulah boleh membatalkan puasa.
  5. Pekerjaannya tidak boleh disengaja diberat-beratkan agar dapat keringanan batal puasa.

Jika syarat di atas dipenuhi, maka boleh tidak berpuasa, baik karena alasan dirinya ataukah orang lain. Jika syarat di atas tidak dipenuhi, ia berdosa besar, wajib melarangnya dan mengingatkannya.

(Lihat At-Taqsiimaat Al-Fiqhiyyah ‘ala Madzhab As-Saadah Asy-Syafiiyyah (Fiqh Al-‘Ibaadaat), hlm. 116. Lihat juga Bughyah Al-Mustarsyidiin, 1:743-744)

Semoga Allah memberkahi semua usaha dan kerja keras para pencari nafkah di bulan Ramadhan.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا،

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا،

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لَنَا وَتَرْحَمَنَا، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنَا غَيْرَ مَفْتُونِينَ، وَنَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ،

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ

 

—–

 

Jumat siang, 10 Ramadhan 1447 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 3   +   1   =  

Back to top button