AqidahTafsir Al Qur'an

Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)

Masuk bahasan juz kedelapan, kita ambil dari surah Al-A’raf. Pada hari kiamat, Allah Ta’ala menimbang amal manusia dengan keadilan yang sempurna—tanpa kezaliman sedikit pun. Ada yang berat timbangan kebaikannya lalu beruntung, ada yang ringan timbangan kebaikannya lalu merugi, dan ada pula yang kebaikan serta keburukannya seimbang. Golongan terakhir inilah yang dikenal sebagai Ashabul A’raf, tertahan sementara di tempat tinggi antara surga dan neraka, sebelum akhirnya Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya.

 

Baca juga: Siapa Penghuni Al-A’raf? Mereka yang Tertahan di Antara Surga dan Neraka

 

 

Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi?

Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 8)

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَظْلِمُونَ

Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 9)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kedelapan, “Penimbangan amal pada hari Kiamat dilakukan dengan penuh keadilan dan keseimbangan yang sempurna. Tidak ada sedikit pun kezaliman dan kecurangan di dalamnya.

{ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ }

“Maka barang siapa yang berat timbangan (kebaikannya),”

Maksudnya, apabila timbangan kebaikannya lebih berat daripada keburukannya.

{ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }

“Maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Yakni, mereka adalah orang-orang yang selamat dari segala hal yang tidak menyenangkan, dan berhasil meraih segala yang mereka cintai. Mereka memperoleh keuntungan yang sangat besar serta kebahagiaan yang abadi.

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kesembilan,

Maksudnya, ketika keburukannya lebih berat daripada kebaikannya, sehingga keputusan berpihak kepada keburukan tersebut.

{ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ }

“Maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri.”

Karena mereka kehilangan kenikmatan yang kekal, dan justru mendapatkan azab yang sangat pedih.

{ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ }

“Disebabkan karena mereka selalu menzalimi ayat-ayat Kami.”

Yaitu, mereka tidak mau tunduk dan patuh kepada ayat-ayat Allah sebagaimana yang seharusnya mereka lakukan.

 

Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan Neraka

Allah Ta‘ala berfirman,

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۢا بِسِيمَىٰهُمْ ۚ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (QS. Al-A’raf: 46)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.

Maknanya: Di antara penghuni surga dan penghuni neraka terdapat suatu pembatas yang disebut { الأَعْرَاف }. Ia bukan bagian dari surga dan bukan pula dari neraka, melainkan suatu tempat yang tinggi yang dapat melihat kedua tempat tersebut.

Di atas pembatas itu terdapat sejumlah laki-laki yang mampu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka melalui tanda-tanda mereka, yaitu ciri-ciri yang dengan itu mereka bisa dibedakan dan dikenali.

Ketika mereka memandang penghuni surga, mereka menyeru kepada mereka dengan ucapan: “Salamun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah atas kalian).”

Mereka memberi salam dan menyapa penghuni surga dengan penuh penghormatan.

Adapun mereka sendiri, sampai saat itu belum masuk ke dalam surga, namun hati mereka dipenuhi harapan untuk memasukinya. Allah tidaklah menanamkan harapan dalam hati mereka kecuali karena Dia menghendaki kemuliaan dan kebaikan bagi mereka.

Allah Ta‘ala berfirman,

۞ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”.” (QS. Al-A’raf: 47)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.

Artinya, ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, lalu mereka menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan dan dahsyat.

Mereka pun berdoa, “Ya Rabb kami, jangan Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.”

Adapun ketika mereka melihat penghuni surga, mereka berharap dapat bergabung bersama mereka di dalam surga. Mereka memberi salam dan menyapa mereka dengan penuh penghormatan.

Namun ketika pandangan mereka tanpa pilihan mereka sendiri diarahkan kepada penghuni neraka, mereka segera memohon perlindungan kepada Allah dari keadaan mengerikan tersebut, secara umum, agar tidak dijadikan termasuk golongan orang-orang yang zalim itu.

Allah Ta‘ala berfirman,

وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ

Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”.” (QS. Al-A’raf: 48)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.

Kemudian Allah menyebutkan perincian setelah penyebutan secara umum.

{ وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ }

Penghuni Al-A‘raf menyeru sejumlah orang yang mereka kenali dari tanda-tandanya. Mereka adalah bagian dari penghuni neraka. Dahulu ketika di dunia, mereka memiliki kewibawaan, kedudukan terhormat, harta yang banyak, dan anak-anak.

Ketika penghuni Al-A‘raf melihat mereka kini menyendiri dalam azab, tanpa penolong dan tanpa siapa pun yang bisa menyelamatkan, mereka berkata:

{ مَا أَغْنَى عَنكُمْ جَمْعُكُمْ }

“Tidaklah berguna bagi kalian apa yang dahulu kalian kumpulkan.”

Yaitu segala yang dahulu kalian kumpulkan di dunia—berupa kekuatan, pengikut, harta, dan sarana untuk menolak berbagai kesulitan serta untuk meraih keinginan-keinginan dunia—pada hari ini semuanya telah lenyap. Tidak satu pun mampu menolong kalian.

{ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ }

“Dan (tidak pula berguna) kesombongan yang dahulu kalian lakukan.”

Apa manfaat kesombongan kalian terhadap kebenaran, terhadap orang yang membawanya, dan terhadap orang-orang yang mengikutinya? Kini semua itu sama sekali tidak memberi faedah.

Allah Ta’ala berfirman,

أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ

(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”.” (QS. Al-A’raf: 49)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.

udian mereka (penghuni Al-A‘raf) menunjuk kepada sekelompok orang dari penghuni surga. Dahulu di dunia, mereka adalah orang-orang fakir dan lemah yang sering diejek dan direndahkan oleh penghuni neraka.
Mereka berkata kepada penghuni neraka:

{ أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ }

“Apakah mereka ini orang-orang yang dahulu kalian bersumpah bahwa Allah tidak akan melimpahkan rahmat kepada mereka?”

Ucapan itu dahulu kalian lontarkan karena meremehkan dan merendahkan mereka, serta karena rasa bangga terhadap diri kalian sendiri. Kini sumpah kalian terbukti dusta, dan tampak bagi kalian dari ketetapan Allah sesuatu yang tidak pernah kalian perhitungkan.

Lalu dikatakan kepada orang-orang yang dahulu lemah itu, sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan:

{ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ }

“Masuklah kalian ke dalam surga,”

yakni dengan sebab amal saleh yang dahulu kalian kerjakan.

{ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ }

“Tidak ada rasa takut atas kalian,”

yakni terhadap apa pun yang akan datang dari berbagai hal yang tidak menyenangkan.

{ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ }

“Dan tidak pula kalian bersedih hati,”

atas apa yang telah berlalu. Bahkan mereka dalam keadaan aman, tenteram, dan bergembira dengan segala kebaikan.

Keadaan ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

{ إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ ۝ وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ }

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melewati orang-orang beriman, mereka saling mengedipkan mata (mengolok-olok).”

Hingga firman-Nya:

{ فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ ۝ عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ }

“Maka pada hari ini, orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”

Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapakah penghuni Al-A‘raf dan bagaimana keadaan amal mereka. Pendapat yang paling tepat adalah bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Keburukan mereka tidak lebih berat yang bisa membuat mereka masuk neraka, dan kebaikan mereka juga tidak lebih berat yang bisa membuat mereka langsung masuk surga.

Karena itu, mereka berada di Al-A‘raf selama waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya rahmat Allah mendahului dan mengalahkan murka-Nya, dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu.

 

Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama?

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:

Ibnu Jarir rahimahullah berkata:
Al-A‘raf adalah dinding (pembatas) yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:

{ فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ }

“Maka diadakan di antara mereka suatu dinding yang memiliki pintu. Di sebelah dalamnya terdapat rahmat dan di sebelah luarnya, dari arahnya, terdapat azab.” (QS. Al-Hadid: 13)

Dinding itulah Al-A‘raf yang disebutkan dalam firman Allah:

{ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ }

“Dan di atas Al-A‘raf ada orang-orang (laki-laki).”

Beliau juga meriwayatkan dengan sanadnya dari As-Suddi bahwa dalam firman Allah:

{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }

“Dan di antara keduanya ada pembatas,”

yang dimaksud adalah dinding tersebut, yaitu Al-A‘raf.

Mujahid berkata: Al-A‘raf adalah pembatas antara surga dan neraka, berupa dinding yang memiliki pintu.

Ibnu Jarir menjelaskan: Kata “Al-A‘raf” adalah bentuk jamak dari “’urf”. Dalam bahasa Arab, setiap tempat yang tinggi dari permukaan tanah disebut “’urf”. Karena itu, jengger ayam disebut “’urf” disebabkan letaknya yang menonjol dan tinggi.

Sufyan bin Waki‘ meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Ubaidullah bin Abi Yazid, bahwa ia mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: Al-A‘raf adalah sesuatu yang tinggi dan menonjol.

Ats-Tsauri meriwayatkan dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata: Al-A‘raf adalah dinding seperti jengger ayam.

Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas disebutkan: Al-A‘raf adalah sebuah bukit antara surga dan neraka. Di atasnya tertahan sejumlah orang yang memiliki dosa, berada di antara surga dan neraka.

Dalam riwayat lain lagi dari beliau: Al-A‘raf adalah dinding antara surga dan neraka.

Pendapat ini juga dikemukakan oleh Adh-Dhahhak dan sejumlah ahli tafsir lainnya.

As-Suddi berkata: Al-A‘raf dinamakan demikian karena para penghuninya dapat mengenali manusia (dari tanda-tandanya).

Para ahli tafsir memang berbeda dalam ungkapan tentang siapa penghuni Al-A‘raf itu. Namun, seluruh pendapat tersebut pada hakikatnya kembali kepada satu makna yang sama, yaitu bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang.

Pendapat ini ditegaskan oleh Hudzaifah, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas‘ud, dan sejumlah ulama salaf serta khalaf lainnya, rahimahumullah.

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Penghuni Al-A‘raf adalah kaum yang amal-amal mereka seimbang. Kebaikan mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, dan keburukan mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditempatkan di Al-A‘raf. Mereka mengenali manusia melalui tanda-tandanya. Ketika Allah telah memutuskan perkara di antara para hamba, mereka diizinkan untuk meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Adam ‘alaihis salam dan berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Berilah kami syafaat di sisi Rabbmu.’

Adam menjawab, ‘Apakah kalian mengetahui ada seorang yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh kepadanya, rahmat-Nya mendahului murka-Nya untuknya, dan para malaikat bersujud kepadanya selain aku?’

Mereka menjawab, ‘Tidak.’

Adam berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Ibrahim.’

Mereka pun mendatangi Ibrahim ‘alaihis salam dan memintanya memberi syafaat. Ibrahim berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah jadikan sebagai khalil (kekasih-Nya) selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dibakar oleh kaumnya karena Allah selain aku?’

Mereka menjawab, ‘Tidak.’

Ibrahim berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Musa.’

Mereka mendatangi Musa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’

Musa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ajak bicara secara langsung dan Dia dekatkan sebagai orang yang diajak berbicara secara khusus selain aku?’

Mereka menjawab, ‘Tidak.’

Musa berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Isa.’

Mereka mendatangi Isa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’

Isa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ciptakan tanpa ayah selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dapat menyembuhkan orang buta dan penderita kusta serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah selain aku?’

Mereka menjawab, ‘Tidak.’

Isa berkata, ‘Aku sibuk dengan urusanku sendiri. Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

Mereka pun mendatangiku,” kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Aku menepuk dadaku dan berkata, ‘Aku yang akan melakukannya.’

Aku berjalan hingga berdiri di hadapan ‘Arsy. Aku menghadap Rabbku ‘Azza wa Jalla. Maka Allah membukakan untukku pujian-pujian yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya. Lalu aku bersujud.

Kemudian dikatakan kepadaku, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, niscaya engkau diberi. Berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima.’

Aku mengangkat kepalaku dan berkata, ‘Wahai Rabbku, umatku.’

Allah berfirman, ‘Mereka untukmu.’

Tidak ada seorang nabi yang diutus dan tidak pula malaikat yang didekatkan kepada Allah kecuali merasa iri terhadap kedudukanku saat itu. Itulah maqam mahmud (kedudukan terpuji).

Aku pun membawa mereka ke surga. Aku meminta agar pintu surga dibukakan, maka dibukakan untukku dan untuk mereka.

Mereka kemudian dibawa ke sebuah sungai yang disebut Sungai Al-Hayawan. Di tepinya terdapat mutiara yang tersusun indah. Tanahnya beraroma kasturi dan kerikilnya dari batu yaqut.

Mereka mandi di sungai itu, lalu warna tubuh mereka menjadi seperti warna penghuni surga, dan aroma mereka menjadi seperti aroma penghuni surga. Mereka pun menjadi seperti bintang-bintang yang bercahaya.

Namun di dada mereka masih terdapat tanda putih yang dengan itu mereka dikenali. Mereka disebut sebagai ‘orang-orang miskin penghuni surga (masaakin ahli Jannah).’”

 

Tiga Golongan Manusia Saat Amal Ditimbang

Jika amal perbuatan telah ditimbang pada hari kiamat, maka manusia terbagi menjadi tiga golongan:

Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya.

Mereka adalah orang-orang yang berbahagia dan beruntung.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ ﴾

“Barang siapa berat timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (QS. Al-Mu’minūn: 102–103)

Allah juga berfirman:

﴿ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ ۝ نَارٌ حَامِيَةٌ ﴾

“Adapun orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah Hawiyah. Tahukah kamu apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qāri‘ah: 6–11)

Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya.

  • Jika ia seorang muslim, maka ia akan masuk neraka. Setelah dibersihkan dan disucikan dari dosa-dosanya, ia akan dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke dalam surga.
  • Namun jika ia seorang kafir, maka ia akan kekal selamanya di dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam ayat Surah Al-Mu’minūn di atas.

Catatan:

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki amal kebaikan yang sah, karena syarat utamanya adalah iman. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا

Barang siapa beramal saleh dalam keadaan beriman, maka ia tidak akan takut dizalimi dan tidak akan dirugikan.” (QS. Ṭāhā: 112)

Amal orang kafir memang tetap dicatat dan dihitung. Mereka akan ditunjukkan amal-amal itu di hadapan khalayak ramai, agar semakin dipermalukan. Setelah itu, mereka pun disiksa karenanya.

Allah Ta’ala berfirman,

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا

Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,

إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ

“Sungguh, akan datang seseorang pada hari Kiamat, tubuhnya besar dan gemuk, tetapi di sisi Allah ia tidak lebih berat dari sayap seekor nyamuk.”

Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,

اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ

فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

Bacalah jika kalian mau: {Maka Kami tidak akan memberikan timbangan bagi mereka di hari Kiamat}.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca juga: Penutup Surah Al-Kahfi: Peringatan Keras dan Janji Mulia dari Allah

Ketiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang.

Mereka adalah Ashabul A‘raf (para penghuni A‘raf). Mereka berada di suatu tempat di antara surga dan neraka. Dari sana mereka dapat melihat kedua golongan tersebut.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ ۝ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴾

“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding pemisah. Dan di atas A‘raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dari tanda-tandanya. Mereka menyeru kepada penghuni surga, ‘Salamun ‘alaikum.’ Mereka belum masuk ke dalamnya, namun mereka sangat ingin (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–47)

Adapun akhir perjalanan penghuni A‘raf adalah masuk surga setelah itu.

Catatan:

Bagaimana pun rahmat Allah tetaplah mendahului murka-Nya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ – هُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ ، وَهْوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ – إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى »

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751)

 

Al-A’raf dan Keadilan Allah yang Sempurna

Al-A‘raf adalah tempat yang tinggi di antara surga dan neraka. Ia berupa dinding atau pembatas (suur) yang memisahkan keduanya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }

“Dan di antara keduanya ada pembatas.”

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-A‘raf adalah tempat yang menonjol dan tinggi, sehingga orang yang berada di atasnya dapat melihat penghuni surga dan penghuni neraka sekaligus. Kata “Al-A‘raf” sendiri berasal dari kata “‘urf” yang berarti sesuatu yang tinggi dan menonjol.

 

Siapa Ashabul A‘raf?

Mereka adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang.

  • Kebaikan mereka tidak lebih berat sehingga langsung masuk surga.
  • Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga masuk neraka.
  • Maka mereka ditempatkan sementara di Al-A‘raf.

Mereka:

  • Mengenali penghuni surga dan neraka dari tanda-tandanya.
  • Memberi salam kepada penghuni surga.
  • Takut ketika melihat penghuni neraka.
  • Berharap masuk surga.

Setelah Allah menyelesaikan keputusan di antara para hamba, Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya.

 

“Ya Allah, beratkanlah timbangan kebaikan kami, ampuni dan hapuskan keburukan kami. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Jangan Engkau tahan kami di Al-A‘raf. Masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”

 

Referensi:

 

—–

 

Rabu siang, 7 Ramadhan 1447 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 2   +   3   =  

Back to top button