Bukan Mencari Tuhan! Nabi Ibrahim Sedang Menghancurkan Logika Syirik Kaumnya (Tafsir Surah Al-An’am ayat 74-80)
Lanjut lagi bahasan dari juz ketujuh, dari surah Al-An’am. Banyak orang memahami kisah bintang, bulan, dan matahari dalam QS. Al-An‘am seakan-akan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sedang “mencari Tuhan”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteksnya adalah dialog dan debat untuk membongkar kesyirikan kaumnya. Nabi Ibrahim tidak sedang ragu, tetapi sedang menuntun kaumnya dengan hujah yang mereka pahami: menunjukkan bahwa benda-benda langit yang terbit lalu terbenam adalah makhluk yang diatur, bukan Tuhan yang disembah.
Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga kejernihan logika dalam menilai apa yang layak disembah. Jika sesuatu hilang, berubah, lemah, dan tidak mengurus hamba—maka ia tidak pantas menjadi ilah (sesembahan). Karena itu, puncak kisah ini bukan pada “pencarian”, melainkan pada deklarasi berlepas diri dari syirik dan menghadap total kepada Pencipta langit dan bumi: “Inni wajjahtu wajhiya…”.
Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan Kaumnya
Allah Ta’ala berfirman,
۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-An’am: 74)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.
Allah Ta’ala berfirman: Ingatlah kisah Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, dengan memuji dan mengagungkannya dalam dakwahnya kepada tauhid serta dalam upayanya melarang dari kesyirikan.
Ketika ia berkata kepada ayahnya, “Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” Padahal berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula menimbulkan mudarat. Ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas apa pun.
Kemudian Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” Karena kalian menyembah sesuatu yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dan kalian meninggalkan ibadah kepada Pencipta kalian, Pemberi rezeki kalian, dan Pengatur seluruh urusan kalian.
Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat Kauniyah
Allah Ta’ala berfirman,
وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.
Makna firman-Nya, “Dan demikianlah”, yaitu sebagaimana Kami telah memberi taufik kepadanya untuk mentauhidkan Allah dan berdakwah kepada tauhid.
“Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”, maksudnya agar ia menyaksikan dengan mata hatinya berbagai tanda dan bukti yang tegas, serta dalil-dalil yang terang, yang terdapat di langit dan di bumi.
“Dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.” Karena dengan tegaknya dalil-dalil dan kuatnya bukti-bukti itu, lahirlah keyakinan yang sempurna dan ilmu yang mendalam tentang seluruh perkara yang menjadi tujuan iman.
Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan Kaumnya
Allah Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ
“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.” (QS. Al-An’am: 76)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.
“Ketika malam telah gelap menutupinya”, yaitu ketika malam menjadi gelap gulita.
“Ia melihat sebuah bintang”, kemungkinan besar adalah bintang yang sangat terang, karena penyebutan khusus terhadapnya menunjukkan bahwa ia lebih menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Oleh karena itu—wallahu a‘lam—sebagian ulama berpendapat bahwa bintang tersebut adalah Venus.
Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Ucapan ini disampaikan dalam rangka berdialog dan mengikuti alur berpikir kaumnya, seakan-akan ia berkata, “Baiklah, ini Tuhanku. Mari kita perhatikan, apakah ia memang layak menjadi Tuhan? Apakah ada bukti dan dalil yang menunjukkan bahwa ia pantas disembah?” Karena tidak sepantasnya orang yang berakal menjadikan sesuatu sebagai tuhan hanya berdasarkan hawa nafsu, tanpa hujah dan tanpa bukti.
“Ketika bintang itu terbenam”, yakni ketika bintang tersebut menghilang dan tidak tampak lagi.
Ia berkata, “Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam.” Maksudnya, sesuatu yang menghilang dan tidak tampak dari para penyembahnya tidak layak untuk disembah. Sesembahan yang benar seharusnya selalu mengurusi kepentingan hamba yang menyembahnya, mengatur seluruh urusannya setiap waktu. Adapun sesuatu yang dalam waktu lama menghilang dan tidak terlihat, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Tuhan?
Menjadikannya sebagai sesembahan hanyalah bentuk kebodohan yang paling nyata dan kesesatan yang paling batil.
Allah Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ
“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.” (QS. Al-An’am: 77)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.
“Ketika ia melihat bulan terbit”, yaitu ketika bulan muncul dan bersinar. Ia melihat bahwa cahaya bulan lebih besar dibandingkan cahaya bintang-bintang, dan berbeda dari yang lainnya.
Ia berkata, “Inilah Tuhanku,” sebagai bentuk mengikuti alur berpikir kaumnya dalam berdialog dengan mereka.
“Ketika bulan itu terbenam”, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.”
Dalam ucapan ini tampak betapa ia sangat membutuhkan petunjuk dari Rabbnya. Ia benar-benar menunjukkan ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Ia menyadari bahwa jika Allah tidak memberinya hidayah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Jika Allah tidak menolongnya dalam ketaatan, maka tidak ada penolong baginya.
Allah Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ
“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.
“Ketika ia melihat matahari terbit”, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar,” yakni lebih besar daripada bintang dan bulan.
Namun ketika matahari itu terbenam, saat itulah kebenaran semakin jelas dan kesesatan pun sirna. Maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”
Karena telah tegak dalil yang benar dan nyata, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka sembah. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua benda langit itu tidak layak menjadi sesembahan.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.
Maknanya: Aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.
“Dalam keadaan hanif”, yaitu lurus di atas tauhid, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesyirikan.
“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Dengan pernyataan ini, ia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk sepenuhnya kepada tauhid, dan menegakkan hujah yang jelas atas kebenaran tersebut.
Penjelasan yang telah disebutkan dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah pendapat yang benar, yaitu bahwa konteksnya adalah dialog dan perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya untuk menjelaskan batilnya penyembahan terhadap benda-benda langit dan selainnya.
Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah proses pencarian Ibrahim ketika masa kecilnya, maka pendapat tersebut tidak memiliki dalil yang kuat.
Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari Tuhan
Berikut adalah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dari kitab tafsinya.
Yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam pada saat itu sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya. Ia menjelaskan batilnya ajaran yang mereka anut, yaitu menyembah bangunan-bangunan suci dan patung-patung.
Pada kesempatan sebelumnya bersama ayahnya, ia telah menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah patung-patung di bumi, yang dibuat menyerupai malaikat-malaikat di langit. Mereka menjadikannya sebagai perantara agar dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Sang Pencipta Yang Mahaagung. Menurut anggapan mereka, diri mereka terlalu rendah untuk langsung menyembah Allah. Karena itu, mereka bertawasul dengan menyembah para malaikat, agar malaikat-malaikat tersebut memberi syafaat kepada mereka dalam hal rezeki, kemenangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Dalam peristiwa ini, Ibrahim juga menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka dalam menyembah bangunan-bangunan yang berkaitan dengan tujuh benda langit yang bergerak, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Benda yang paling terang dan paling bersinar menurut mereka adalah matahari, kemudian bulan, lalu Venus.
Maka Ibrahim pertama-tama menjelaskan bahwa Venus tidak pantas dijadikan tuhan. Ia hanyalah makhluk yang ditundukkan dan diatur dalam orbit tertentu. Ia tidak menyimpang sedikit pun ke kanan atau ke kiri, dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia hanyalah salah satu benda langit yang Allah ciptakan bercahaya, karena hikmah-hikmah besar yang Dia kehendaki. Ia terbit dari timur, bergerak hingga ke barat, lalu menghilang dari pandangan, dan muncul kembali pada malam berikutnya dengan pola yang sama. Sesuatu yang seperti ini jelas tidak layak untuk disembah.
Kemudian ia berpindah kepada bulan, dan menjelaskan hal yang sama sebagaimana ia jelaskan tentang bintang.
Lalu ia berpindah kepada matahari. Ketika ketiga benda langit tersebut—yang merupakan benda paling terang yang dapat dilihat mata—telah jelas tidak layak menjadi sesembahan dengan dalil yang tegas, maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” Maksudnya, aku berlepas diri dari menyembah dan loyalitas kepada benda-benda itu. Jika memang mereka adalah tuhan-tuhan, maka silakan kalian bersama-sama mencelakakanku dengan mereka tanpa memberi penangguhan sedikit pun.
Kemudian ia menegaskan, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maksudnya, aku hanya menyembah Pencipta semua benda itu, yang mengadakannya, menundukkannya, mengaturnya, dan menetapkan peredarannya. Dia-lah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, Rabb dan Ilah seluruh makhluk.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)
Bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil berada dalam posisi mencari-cari kebenaran pada saat itu, padahal Allah telah berfirman tentangnya:
۞ وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ
“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 51-52)
Allah juga berfirman,
إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
وَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl: 120–123)
Dan Allah berfirman:
قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.” (QS. Al-An‘am: 161)
Telah sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”
Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:
إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ
“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.”
Dan Allah berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)
Dan firman-Nya:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. Al-A‘raf: 172)
Makna ayat ini menurut salah satu pendapat sejalan dengan firman-Nya, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,” sebagaimana akan dijelaskan.
Jika demikian keadaan seluruh makhluk pada asal penciptaannya, maka bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil—yang Allah jadikan sebagai “seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik”—dalam posisi sedang mencari-cari kebenaran pada saat itu?
Justru ia adalah manusia yang paling layak memiliki fitrah yang lurus dan tabiat yang benar, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ada keraguan sedikit pun.
Di antara dalil yang menguatkan bahwa pada saat itu ia sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya—bukan sedang mencari kebenaran—adalah firman Allah Ta’ala berikutnya.
وَحَآجَّهُۥ قَوْمُهُۥ ۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ
“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am: 80)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-An’am ayat 80 sebagai berikut.
Ibrahim berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberiku petunjuk?” Maksudnya, apakah kalian masih juga memperdebatkanku tentang keesaan Allah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, padahal Allah telah membukakan hatiku, memberiku petunjuk kepada kebenaran, dan aku berada di atas dalil yang jelas? Lalu bagaimana mungkin aku berpaling kepada ucapan-ucapan kalian yang rusak dan syubhat-syubhat kalian yang batil?
Kemudian ia berkata, “Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu.” Ini juga menjadi bukti atas batilnya keyakinan mereka. Sesembahan yang mereka agungkan itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun. Ibrahim tidak takut kepadanya dan tidak memedulikannya. Seandainya sesembahan-sesembahan itu benar-benar memiliki kekuatan, maka silakan mereka mencelakakannya segera tanpa ditunda-tunda.
Adapun ucapannya, “kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu,” merupakan pengecualian yang terputus maknanya. Artinya, tidak ada yang mampu memberi mudarat atau manfaat selain Allah semata.
Lalu ia menegaskan, “Ilmu Rabbku meliputi segala sesuatu.” Maksudnya, pengetahuan Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh keadaan mereka; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.
Kemudian ia berkata, “Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” Maksudnya, tidakkah kalian merenungkan penjelasan yang telah aku sampaikan, sehingga kalian menyadari bahwa sesembahan-sesembahan itu batil, lalu berhenti dari menyembahnya?
Hujah yang disampaikan Ibrahim ini serupa dengan hujah yang disampaikan Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, kaum ‘Ad. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an,
قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ
“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)
إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍ ۗ قَالَ إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ
“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)
مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ
“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)
إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus“.” (QS. Hud: 56)
Kesimpulan
Dari seluruh dialog ini lahir kaidah besar:
Setiap yang lemah, berubah, hilang, diatur, dan tidak berkuasa — bukan ilah yang berhak disembah.
Karena itu Ibrahim menutup dengan deklarasi:
إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
“Aku menghadapkan diriku hanya kepada Pencipta langit dan bumi.”
Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam QS. Al-An‘am (74–80) menegaskan bahwa akar kesesatan kaumnya adalah kesyirikan: menyembah patung dan benda-benda langit sebagai perantara, padahal semuanya makhluk yang tidak kuasa memberi manfaat dan mudarat. Allah meneguhkan Ibrahim dengan “malakūt” langit dan bumi agar keyakinannya sempurna, lalu Ibrahim membantah keyakinan kaumnya dengan hujah yang terang: bintang, bulan, dan matahari terbit dan tenggelam, sehingga tidak layak jadi sesembahan. Maka Ibrahim menutupnya dengan bara’ (berlepas diri) dari syirik dan itsbāt (menetapkan) tauhid: hanya Allah Pencipta dan Pengatur semesta yang berhak diibadahi. Ini juga membantah anggapan bahwa Ibrahim pernah “mencari Tuhan”; yang benar, beliau menghancurkan logika syirik kaumnya melalui dialog yang cerdas dan tegas.
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْيَقِينِ
“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid dan memiliki keyakinan yang kokoh.”
Referensi:
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic
- Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic
—–
Selasa siang, 7 Ramadhan 1447 H
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



