Tafsir Al Qur'an

Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya bagi Hati (Tafsir QS. Al-Maidah Ayat 12–13)

Dalam QS. Al-Maidah ayat 12–13 dari juz keenam, Allah menjelaskan perjanjian besar yang diambil dari Bani Israil serta konsekuensi ketika perjanjian itu dilanggar. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi menjadi cermin bagi setiap muslim dalam menjaga komitmen kepada Allah. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang rahmat, kerasnya hati, hilangnya taufik, serta pentingnya ihsan dalam kehidupan.

 

 

Allah Ta’ala berfirman,

۞ وَلَقَدْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ ٱثْنَىْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ ٱللَّهُ إِنِّى مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيْتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 12)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah mengambil perjanjian yang sangat kuat dan tegas dari Bani Israil. Perjanjian itu bukan janji biasa, melainkan janji yang disertai penegasan dan kewajiban yang berat.

Allah juga mengangkat dari kalangan mereka dua belas orang pemimpin. Setiap pemimpin bertugas mengawasi kaumnya, mendorong mereka agar menjalankan perintah Allah, serta menagih komitmen mereka terhadap perjanjian tersebut.

Allah berfirman kepada para pemimpin yang memikul tanggung jawab besar itu, “Sesungguhnya Aku bersama kalian,” yaitu dengan pertolongan dan dukungan. Pertolongan itu sebanding dengan beban yang dipikul. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula pertolongan Allah bagi yang menunaikannya.

Kemudian Allah menyebutkan isi perjanjian tersebut. Jika mereka:

  • Menegakkan salat secara lahir dan batin, dengan memenuhi syarat, rukun, serta menjaga kesinambungannya.
  • Menunaikan zakat kepada yang berhak menerimanya.
  • Beriman kepada seluruh rasul-Nya, yang paling utama dan paling sempurna di antara mereka adalah Nabi Muhammad ﷺ.
  • Memuliakan para rasul, mengagungkan mereka, serta menunaikan hak-hak berupa penghormatan dan ketaatan.
  • Menginfakkan harta di jalan Allah dengan ikhlas, dari harta yang baik dan cara yang benar.

Maka Allah menjanjikan dua anugerah besar sekaligus:

Pertama, menghapus dosa-dosa mereka sehingga terhindar dari hukuman.

Kedua, memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sebagai kenikmatan yang kekal.

Namun jika setelah perjanjian yang begitu kuat—yang diperkuat dengan sumpah dan disertai janji pahala—mereka tetap ingkar, maka mereka benar-benar telah menyimpang dari jalan yang lurus. Penyimpangan itu dilakukan dengan sadar dan sengaja, sehingga mereka pantas kehilangan pahala dan mendapatkan hukuman.

Seakan-akan muncul pertanyaan: Lalu apa yang mereka lakukan? Apakah mereka menepati janji kepada Allah, atau justru mengkhianatinya?

 

Allah Ta’ala berfirman,

فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَٰقَهُمْ لَعَنَّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَٰسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱصْفَحْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)

Karena mereka melanggar perjanjian yang telah diambil atas mereka, Allah pun menimpakan beberapa hukuman besar.

Pertama, Allah melaknat mereka, yakni mengusir dan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya. Mereka sendiri telah menutup pintu-pintu rahmat itu dengan tidak menunaikan perjanjian yang menjadi sebab utama turunnya rahmat.

Kedua, Allah menjadikan hati mereka keras. Hati yang keras tidak tersentuh oleh nasihat, tidak tergerak oleh ayat-ayat Allah, dan tidak tersentak oleh peringatan. Janji surga tidak membuat mereka tertarik, dan ancaman neraka tidak membuat mereka gentar. Ini termasuk hukuman paling berat bagi seorang hamba: ketika hatinya tidak lagi menerima petunjuk, bahkan kebaikan justru berbalik menjadi keburukan baginya.

Ketiga, mereka mengubah kalimat dari tempatnya. Mereka ditimpa penyakit mengubah dan mengganti makna firman Allah, sehingga makna yang dikehendaki Allah dan rasul-Nya dipalingkan menjadi makna lain sesuai hawa nafsu mereka.

Keempat, mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Mereka telah diingatkan dengan Taurat dan wahyu yang Allah turunkan kepada Musa, namun sebagian ajaran itu mereka lupakan. Kelupaan ini mencakup dua hal:

1. Lupa terhadap ilmunya, sehingga ilmu itu hilang dan tidak lagi mereka miliki sebagai hukuman dari Allah.

2. Lupa dalam arti meninggalkan pengamalannya, sehingga mereka tidak diberi taufik untuk menjalankan perintah yang telah dibebankan kepada mereka.

Karena itu, pengingkaran Ahli Kitab terhadap sebagian isi kitab mereka atau terhadap peristiwa yang terjadi pada masa mereka sendiri menjadi bukti bahwa mereka telah melupakan bagian dari apa yang pernah diingatkan kepada mereka.

Kelima, pengkhianatan yang terus-menerus. Engkau, wahai Nabi Muhammad ﷺ, akan senantiasa mengetahui bentuk-bentuk pengkhianatan dari mereka, baik pengkhianatan kepada Allah maupun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Di antara pengkhianatan terbesar mereka adalah menyembunyikan kebenaran dari orang-orang yang menasihati mereka dan berbaik sangka kepada mereka, serta membiarkan diri tetap dalam kekafiran.

Sifat-sifat tercela ini tidak hanya berlaku bagi mereka, tetapi juga bagi siapa saja yang memiliki sifat serupa. Setiap orang yang tidak menunaikan perintah Allah dan melanggar komitmen yang telah diambil atas dirinya akan mendapatkan bagian dari hukuman-hukuman tersebut: terjauh dari rahmat, keras hati, terjatuh dalam penyelewengan makna, tidak diberi taufik kepada kebenaran, melupakan sebagian nasihat, dan akhirnya terjerumus dalam pengkhianatan. Kita memohon keselamatan kepada Allah dari semua itu.

Allah menyebut apa yang mereka lupakan sebagai “hazhzhan” (bagian atau keberuntungan), karena itulah keberuntungan terbesar. Adapun selain itu hanyalah keberuntungan dunia yang fana. Allah Ta’ala berfirman:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَـٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَـٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Lalu ia (Qarun) keluar kepada kaumnya dalam kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Wahai, seandainya kita memiliki seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh, ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’” (QS, Al-Qashash: 79)

Dan tentang keberuntungan yang hakiki, Allah berfirman:

وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Dan sifat itu tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS, Al-Fussilat: 35)

Firman Allah, “kecuali sedikit dari mereka,” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil yang menepati janji kepada Allah. Mereka itulah yang diberi taufik dan ditunjuki ke jalan yang lurus.

Kemudian Allah memerintahkan Nabi-Nya, “Maafkanlah mereka dan berlapang dadalah.” Maksudnya, janganlah membalas gangguan mereka selama masih ada ruang untuk memaafkan dan bersikap lapang. Sikap demikian termasuk ihsan.

Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.

    • Ihsan kepada Allah adalah beribadah kepada-Nya seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.
    • Adapun ihsan kepada sesama makhluk adalah dengan memberikan manfaat kepada mereka, baik manfaat agama maupun manfaat dunia.

 

Pelajaran Penting

1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci Rahmat

Perjanjian terbesar seorang muslim adalah syahadat dan komitmen menjalankan agama. Ketika salat ditinggalkan, zakat diabaikan, atau perintah Allah diremehkan, itu adalah bentuk pelanggaran terhadap “mitsaq” (perjanjian) dengan Allah.

Semakin kuat komitmen kita menjaga perjanjian itu, semakin dekat kita dengan rahmat dan pertolongan Allah.

2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung Jawab

Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku bersama kalian.” Kebersamaan Allah datang bersama amanah dan ketaatan.

Siapa yang memikul tanggung jawab agama—baik sebagai orang tua, pendidik, pemimpin, atau dai—lalu menunaikannya dengan benar, maka ia berhak mendapatkan pertolongan Allah sesuai kadar bebannya.

3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat Berbahaya

Salah satu hukuman terbesar bukanlah hilangnya harta atau kedudukan, tetapi kerasnya hati:

  • Nasihat tidak masuk.
  • Ayat tidak menggerakkan.
  • Ancaman tidak menakutkan.
  • Janji surga tidak memotivasi.

Seorang muslim harus takut terhadap gejala ini. Jika mulai sulit tersentuh oleh kebenaran, segera perbanyak istighfar, taubat, dan perbaiki ibadah.

4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi Kepentingan

Mengubah makna dalil agar sesuai hawa nafsu bukan hanya kesalahan ilmiah, tetapi dosa besar.

Di zaman ini, bentuknya bisa berupa:

  • Menafsirkan agama agar sesuai tren.
  • Membenarkan maksiat dengan dalih “konteks”.
  • Mengambil sebagian dalil dan meninggalkan yang lain.

Ini adalah penyakit umat terdahulu yang harus dihindari.

5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai Hukuman

Allah menyebut mereka “melupakan bagian” dari apa yang diingatkan kepada mereka. Ini pelajaran besar:

  • Ilmu bisa hilang karena maksiat.
  • Hafalan bisa lupa karena dosa.
  • Pemahaman bisa tertutup karena kesombongan.

Karena itu, menjaga amal sama pentingnya dengan menuntut ilmu.

6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang Rusak

Ketika hati keras dan ilmu tidak diamalkan, muncullah pengkhianatan:

  • Khianat terhadap amanah.
  • Khianat dalam rumah tangga.
  • Khianat dalam jabatan.
  • Khianat dalam dakwah.

Semua itu berakar dari pelanggaran terhadap komitmen kepada Allah.

7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan Kesabaran

Allah menyebut ajaran agama sebagai “hazzan” (keberuntungan). Artinya:

Keberuntungan terbesar bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas.

Keberuntungan terbesar adalah:

  • Bisa taat.
  • Bisa sabar.
  • Bisa istiqamah.
  • Bisa menerima kebenaran.

Itulah “hazzun ‘azhim” yang sesungguhnya.

8. Tetap Berbuat Ihsan Meski Disakiti

Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk memaafkan dan berlapang dada. Ini pelajaran luar biasa:

  • Seorang muslim tetap berbuat baik meski dizalimi.
  • Tetap menjaga akhlak meski disakiti.
  • Tetap memberi manfaat meski dikhianati.

Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.

 

Kesimpulan

Ayat ini bukan hanya kisah tentang Bani Israil. Ia adalah cermin bagi setiap muslim.

Siapa yang:

  • Menjaga perjanjian dengan Allah → mendapat rahmat dan surga.
  • Melanggar komitmen → terancam keras hati, tersesat, dan kehilangan taufik.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menepati janji kepada-Mu, yang menjaga salat dan zakat, serta istiqamah dalam iman dan amal saleh. Jangan Engkau jadikan hati kami keras setelah Engkau beri petunjuk, dan jangan Engkau cabut ilmu serta taufik dari diri kami karena dosa-dosa kami. Karuniakanlah kepada kami keberuntungan yang besar berupa kesabaran, keistiqamahan, dan kemampuan berbuat ihsan hingga akhir hayat kami.

 

Referensi:

Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic 

 

 

—–

 

Senin pagi, 6 Ramadhan 1447 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 9   +   1   =  

Back to top button